NovelToon NovelToon
Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Triplet : Tawanan Obsesi Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BumbleBee

Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prolog

​Senyum pria itu tidak sekadar melebar—itu adalah seringai predator yang telah menyudutkan mangsanya. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan sepatah kata pun, Alena menyentak tatapannya. Dingin, menusuk, bertumpu pada sisa-sisa keberanian yang nyaris habis.

​“Tapi dengarkan aku, Monster,” desis Alena. Suaranya serak, tajam bagai belati, bahkan saat air mata masih mengalir deras di pipinya. “Kalau dia mati... aku pastikan kau hanya akan memeluk mayatku. Kau juga akan kehilanganku.”

​Pria itu membeku. Keheningan yang mencekam merayap di antara mereka, sebelum akhirnya tawa pelan—berat, parau, dan terdengar gila—pecah dari bibirnya.

​“Ancaman yang sangat indah, Sayang,” bisiknya, melangkah mendekat hingga bayangannya yang raksasa menelan tubuh Alena di atas ranjang. Ia menatap gadis itu dengan binar kegilaan yang murni, seolah-olah Alena adalah mahakarya yang akhirnya berhasil ia rebut dari dunia.

​Ia membungkuk, menumpu kedua tangannya di sisi kepala Alena. “Tapi kau salah satu hal. Kematianmu pun... adalah hak milikku. Kau tidak bisa mati tanpa izin dariku.”

​Aroma tembakau mahal, kulit, dan aura bahaya yang pekat menguar, mencekik udara di sekitar mereka. Tali di pergelangan tangan Alena dilonggarkan kasar—memberinya ruang untuk bergerak, namun menyisakan jeratan merah yang membakar kulitnya. Sebuah ilusi kebebasan yang kejam.

​“Mulai detik ini,” bisiknya tepat di depan bibir Alena, “setiap tarikan napasmu adalah pinjaman dariku.”

​“Kau milikku. Jiwa, raga, bahkan setiap tetes darahmu.”

​Itu bukan sekadar klaim. Itu adalah vonis mutlak. Alena bungkam, dadanya naik-turun dengan kasar. Di dalam rongga dadanya, badai emosi berkecamuk hebat—benci, takut, amarah yang membakar dan sesuatu yang jauh lebih mengerikan, kengerian yang mulai terasa candu.

​Jemari kokoh pria itu mencengkeram dagu Alena, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam sepasang manik matanya yang gelap tanpa dasar.

​“Sedikit saja kau menyerah pada rasa sakit ini,” bisiknya serak, jemarinya mengusap bibir Alena hingga memerah, “aku akan membuatmu lupa bagaimana cara mengeja kata 'bebas'.”

​Alena memejamkan mata erat-erat. Pria itu terkekeh rendah, menikmati getaran ketakutan yang menjalar di tubuh Alena bagai melodi yang paling indah di telinganya. Rasa takut gadis ini adalah bahan bakarnya.

​Dengan gerakan lambat yang sengaja menyiksa, pria itu merenggut kancing kemejanya hingga terlepas satu per satu. Di bawah temaram lampu, tubuhnya dipenuhi bekas luka—jejak-jejak distopia dari masa lalu brutal yang membentuk iblis di hadapan Alena saat ini.

​Ia menunduk, bibirnya menyapu daun telinga Alena, membisikkan janji yang terdengar seperti kutukan.

​“Aku tidak akan menghancurkanmu, Alena. Aku hanya akan menguliti seluruh warasmu, sampai kau merangkak memohon agar aku tidak pernah melepaskanmu.”

​Sebelum Alena sempat memuntahkan makiannya, bibir pria itu membungkamnya.

​Ciuman itu kasar, gelap, dan mematikan. Tidak ada ruang untuk kelembutan, tidak ada ruang untuk negosiasi. Itu adalah invasi. Pria itu menghisap habis sisa oksigen Alena, meremukkan segala bentuk perlawanan fisik dengan dominasi yang mutlak. Alena mencakar, meronta, namun setiap pemberontakannya justru memicu gairah yang lebih liar dan berbahaya dari pria itu.

​Setiap sentuhan kasar yang membakar kulitnya, setiap bisikan posesif yang meracuni pikirannya, terasa seperti paku yang menyegel peti mati kebebasannya.

​Ruangan itu berubah menjadi medan perang yang sunyi, dipenuhi napas memburu, desahan tertahan, dan kegilaan yang lepas kendali. Malam merentang tanpa akhir. Dan di balik keputusasaan itu, Alena merasakan retakan besar dalam jiwanya. Sesuatu di dalam dirinya patah, runtuh, dan berasimilasi dengan kegelapan pria itu.

​Ia tidak hanya kehilangan kendali atas tubuhnya yang kini disatukan secara paksa tanpa batas dalam badai obsesi yang brutal. Ia kehilangan dirinya sendiri. Kesuciannya direnggut, ditumbalkan di atas altar kegilaan pria tersebut.

​Saat badai itu mereda, menyisakan keheningan yang dingin, pria itu menatap Alena. Wajah gadis itu basah oleh peluh dan air mata kehancuran. Dengan gerakan yang kontradiktif—nyaris lembut namun posesif—ia menyelipkan untaian rambut Alena ke belakang telinga.

​“Lihat diri mu sekarang,” bisiknya dengan senyum kemenangan yang paling mengerikan. “Kau diciptakan dari rusukku, Alena. Menolakku sama saja dengan bunuh diri.”

​Tubuh Alena bergetar hebat di bawah kungkungan dada bidang pria itu. Bukan lagi karena dinginnya malam, melainkan karena kesadaran brutal yang menghantamnya.

​Mulai malam ini, ia telah mati.

​Ia bukan lagi wanita yang memiliki hari esok. Di dalam kamar yang berbau darah dan tembakau ini, ia telah lahir kembali, sebagai boneka cantik yang terperangkap abadi dalam sangkar emas milik seorang monster yang menato namanya langsung di atas jiwanya yang hancur.

1
lyani
jodoh tapi tak bersatu
lyani
ciyeeeee yg perhatian
lyani
🤣
lyani
iy bnr
iis nuriyah
lanjut kak seru🥰🥰🥰
BumbleBee: siap kakak😍
total 1 replies
lyani
wihhhh
lyani
🤣
lyani
kamu jahat Alena..kesian ntu megan😄
lyani
sampai release lagi pun saya masih penasaran....berusaha mengingat kejadian yg menimpa ayah Alena bang iky
lyani
tujuan jelas utk menjauhkan Luna dari paula
lyani
hentikan mulut beracunmu Luna
lyani
kagak ada yg sanggup
lyani
bodyguard gratisan
lyani
🤣
lyani
CK
lyani
kabur dari tugas y🤣
lyani
jangan tutupi rasamu Ar
lyani
Pau yg malang
lyani
fokus Meg... jadilah yg terbaik dari versi dirimu sendiri
lyani
ada yg nukar suratnya nggak si?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!