Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Pertama Bergabung
Setelah kejadian itu, aku berhenti jadi anak yang sama.
Bukan dalam artian dramatis seperti di sinetron—aku masih bangun pagi, masih bantu Bapak jahit sepatu, masih pura-pura dengar waktu guru di sekolah menjelaskan pelajaran yang rasanya tidak ada gunanya. Tapi ada sesuatu yang berubah caranya aku melihat gang-gang di Karang Wetan. Dulu aku melihatnya sebagai rumah. Sekarang aku mulai melihatnya sebagai peta—siapa dikuasai siapa, jalur mana yang dilewati Broto tiap malam, jam berapa polisi patroli lewat dan jam berapa mereka "tidak ada di tempat".
Aku juga mulai memperhatikan orang-orang yang selama ini cuma jadi latar di gang-gang itu.
Ada Ujang, anak jalanan seumuran denganku, yang tidur berpindah-pindah sejak orang tuanya kena gusur dan berpisah entah ke mana. Ujang punya satu bakat aneh: ia bisa masuk-keluar dari tempat mana saja tanpa terlihat, dan tahu setiap sudut gang lebih baik daripada orang yang lahir di situ.
Ada juga Yanto, umurnya sekitar dua puluh lima, mantan buruh pabrik tekstil yang dipecat sepihak karena ikut-ikutan protes soal gaji yang telat tiga bulan. Ia besar, pendiam, dan punya cara bicara yang membuat orang percaya tanpa perlu berteriak.
Aku tidak mendekati mereka dengan rencana besar. Awalnya sederhana saja—aku mulai membagi info. Kalau aku dengar Broto akan lewat gang tertentu malam itu, aku kasih tahu Ujang, dan Ujang menyebarkannya lebih cepat dari radio manapun. Kalau ada preman kecil yang coba memalak pedagang baru, aku dan Yanto akan "kebetulan" berdiri di situ, tanpa bicara apa-apa, cukup berdiri, sampai preman itu berpikir dua kali.
Kami belum punya nama. Belum punya aturan. Tapi tanpa disadari, kami sudah mulai jadi sesuatu.
---
Titik yang membuat semua ini terasa nyata terjadi waktu seorang ibu bernama Bu Marni datang ke rumah kami larut malam, menangis, karena anak gadisnya, Nurul, diganggu oleh salah satu orang suruhan Broto yang mabuk di dekat kios. Bu Marni sudah lapor ke RT, ke kelurahan, bahkan sempat ke kantor polisi—dan seperti biasa, semua jawaban yang ia dapat adalah janji-janji yang tidak pernah ditepati.
Malam itu aku tidak berpikir panjang. Aku kumpulkan Ujang dan Yanto, dan untuk pertama kalinya aku bicara bukan sebagai anak yang minta tolong, tapi sebagai orang yang mengajak.
"Kita nggak bisa nunggu mereka yang harusnya lindungi kita, beneran lindungi kita," kataku. "Jadi mulai sekarang, kita lindungi diri kita sendiri. Kita jaga gang ini. Kita jaga orang-orang di sini. Kalau ada yang macam-macam, kita nggak akan diam kayak dulu."
Yanto mengangguk pelan. Ujang, seperti biasa, cuma menyeringai—tapi kali ini seringainya beda. Ada sesuatu yang menyala di matanya, sesuatu yang kukenali karena aku merasakannya juga.
Malam itu, kami bertiga mendatangi orang suruhan Broto itu bukan dengan kekerasan besar-besaran seperti yang mungkin dibayangkan orang—cukup dengan jumlah, dengan sikap tidak gentar, dan dengan satu pesan yang jelas: Karang Wetan bagian ini, mulai sekarang, ada yang jaga.
Ia pergi malam itu juga dan tidak pernah kembali ke kios Bu Marni.
---
Kabar soal kejadian itu menyebar cepat, seperti biasanya kabar menyebar di gang-gang sempit. Sebagian orang bilang kami nekat, cari mati, bakal kena masalah lebih besar. Tapi sebagian lain—orang-orang yang selama ini cuma bisa diam sambil menahan amarah—mulai mendekat, menawarkan bantuan kecil-kecilan. Ada yang mau jadi mata-telinga. Ada yang menawarkan tempat sembunyi kalau dibutuhkan. Ada yang cuma bilang, "Kalau butuh apa-apa, bilang aja."
Malam itu, waktu aku duduk di gang buntu dekat bantaran kali—tempat sembunyi favoritku sejak kecil—aku sadar sesuatu. Ini bukan cuma soal balas dendam ke Broto atau ke Komisaris Baskoro. ini soal sesuatu yang lebih besar: orang-orang kecil di Karang Wetan tidak butuh pahlawan tunggal. Mereka butuh cahaya yang bisa mereka pegang sendiri-sendiri, yang bisa mereka bagi ke tetangga, yang tidak akan padam cuma karena satu orang jatuh.
Malam itu juga aku mengucapkan nama itu untuk pertama kalinya, ke Ujang dan Yanto, setengah bercanda, setengah serius.
"Kita namain aja... Lentera."
Ujang tertawa kecil. "Kayak nama warung."
"Nama warung yang nggak akan mereka lupa," jawabku.
Yanto tidak bicara apa-apa. Ia cuma mengangguk sekali, pelan, seperti seseorang yang baru saja menandatangani sesuatu yang lebih besar dari sekadar kata-kata.
---
*(Bersambung ke Bab 4)*