NovelToon NovelToon
Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Terikat Janji dengan Mantan Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Percintaan Konglomerat / Dark Romance / Mantan / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ladies_kocak

Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.

Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.

Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.

Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Api cemburu

Malam itu, hujan mengguyur Jakarta, menyisakan udara dingin yang merayap menembus celah kaca jendela benteng Dharmawangsa. Zevanna berdiri di lobi utama dengan mantel wol hitam melingkari tubuhnya. Di hadapannya, Pak Haris berdiri dengan wajah serbasalah sambil memegang payung besar.

"Nona... maksud saya, Nyonya Zevanna, Tuan Muda sudah wanti-wanti banget kalau Anda nggak boleh keluar tanpa pengawalan khusus," ucap Pak Haris, suaranya dipenuhi keraguan.

"Aku tahu kok, Pak Haris. Dan aku nggak berniat kabur sama sekali," jawab Zevanna setenang mungkin, walau jantungnya sudah berdegup kencang di dalam dada. "Aku cuma perlu menyelesaikan satu urusan pribadi di Menteng. Dua pengawal di depan boleh ikut, tapi aku yang menentukan tempatnya."

Zevanna tahu betul ia lagi bermain api. Tapi ancaman Davin yang bakal nekat mendatangi rumah ini jauh lebih berbahaya. Ia harus memotong benang kusut itu malam ini juga. Biar Davin selamat dan dia bisa tenang.

Dengan berat hati, Pak Haris mengizinkan nyonyanya keluar dengan syarat cuma boleh sejam sebelum tuannya pulang. Tapi besar kemungkinan, tuannya saat ini sudah tahu apa yang terjadi. Mata-mata milik tuannya ada di mana-mana, apalagi semenjak nyonya tinggal di rumah yang mirip penjara ini. Pak Haris menghela napas berat, di dalam hati sibuk komat-kamit menghafal doa keselamatan buat dirinya dan sang nyonya. Nyonyanya ini benar-benar lagi membangunkan singa yang sedang tidur nyenyak.

Ketika mobil hitam yang membawa Zevanna membelah jalanan ibu kota yang basah, ia nggak sadar kalau beberapa kilometer di belakangnya, sebuah SUV hitam dengan kaca super gelap melaju dengan kecepatan stabil, menjaga jarak aman yang tak kasatmata. Di dalam SUV itu, Areksa Vareksa duduk dalam kegelapan sambil menggenggam tablet yang menampilkan titik GPS mobil Zevanna. Wajahnya datar, tapi cengkeraman jarinya pada pinggiran tablet kuat banget sampai buku-buku jarinya memutih.

“Kamu malah milih buat ketemu dia, Nana. Kamu kan tahu sendiri aku paling nggak suka kamu dekat-dekat sama cowok lain,” bisik Areksa pada kegelapan malam.

Kafe bernuansa klasik di kawasan Menteng itu kelihatan sepi pengunjung gara-gara cuaca buruk. Zevanna melangkah masuk, membiarkan dua pengawal Vareksa menunggu di dekat pintu masuk utama dengan sikap siaga.

Di sudut ruangan yang agak remang, seorang pria berjaket kulit cokelat dengan rambut sedikit acak-acakan langsung menoleh cepat. Davin. Teman masa kecilnya yang tumbuh bareng di panti asuhan itu langsung berdiri begitu melihat Zevanna mendekat.

"Nana!" Davin melangkah maju, mau meraih kedua tangan Zevanna. Tapi Zevanna dengan cepat mundur satu langkah dan melipat tangannya di dada.

"Jangan sentuh aku, Davin," ucap Zevanna dingin. "Aku ke sini bukan buat bernostalgia. Aku datang cuma mau minta kamu pergi dari Jakarta sekarang juga. Aku nggak mau kamu kena bahaya gara-gara Areksa. Dia makin gila sekarang."

Davin menatap Zevanna dengan raut terluka yang agak dibuat-buat. "Ikut aku aja yuk! Salsha juga menyuruhku buat jemput kamu. Aku tahu Areksa itu gila. Dia cuma memanfaatkan kelemahan keluargamu buat menguasai kamu. Dia itu sakit, Nana! Dia cuma mau menyiksamu!"

"Cukup, Davin!" desis Zevanna, matanya berkilat marah. "Kamu tuh nggak tahu apa-apa soal Areksa. Mending kamu menjauh dariku! Hiduplah bahagia sama Salsha. Kamu berhak bahagia tanpa perlu mikirin kebahagiaanku. Aku bisa jamin, Areksa nggak bakal menyiksaku kok."

"Tapi aku melakukan ini karena aku peduli sama kamu sebagai teman kecilku!" seru Davin setengah berbisik, wajahnya makin mendekat. "Areksa nggak pernah cinta sama kamu, Zev. Dia cuma menganggapmu kayak pemuas dendam aja. Ikut aku malam ini, ya? Aku sudah siapin tiket ke Singapura. Pengawal di depan bisa kita kecoh lewat pintu belakang..."

Brak!

Suara pintu kaca kafe yang didorong kasar langsung memotong kalimat Davin. Dua pengawal Vareksa yang berjaga di depan otomatis berdiri tegak dan membungkuk hormat dengan tubuh gemetar.

Sosok tinggi tegap dengan aura intimidasi yang pekat melangkah masuk. Areksa Vareksa. Kemejanya agak basah kena rintik hujan, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya memancarkan kilat liar yang jauh lebih mengerikan dibanding malam-malam sebelumnya. Itu tatapan mata seekor predator yang sadar wilayahnya baru saja diusik.

"Rencana kabur yang lumayan menarik ya, Saudara Davin," suara Areksa bergema rendah, memotong keheningan kafe kayak pisau tajam.

Davin mendadak pucat, tapi dia mencoba menegakkan punggung dan melangkah maju buat menutupi Zevanna dari pandangan Areksa. "Areksa Vareksa. Kamu nggak bisa seenaknya ngatur hidup Zevanna lagi. Dia bukan tawananmu!"

Areksa bahkan nggak sudi melirik Davin. Matanya terkunci mutlak ke arah Zevanna yang berdiri terpaku di belakang cowok itu. Langkah kaki Areksa yang mantap bergaung di atas lantai kayu kafe. Begitu dia berdiri tepat di depan Davin, tanpa aba-aba dan dengan gerakan yang cepat banget, tangan kanan Areksa langsung mencengkeram kerah jaket Davin, mendorong cowok itu sampai menghantam pilar beton di dekatnya dengan keras.

Bugh!

"Areksa, hentikan!" jerit Zevanna panik.

Areksa mendekatkan wajahnya ke telinga Davin yang lagi meringis kesakitan. "Kamu pikir kamu siapa, hm? Delapan tahun lalu aku biarkan kamu hidup cuma gara-gara Zevanna memohon-mohon ke aku. Tapi kalau kamu berani sebut namanya sekali lagi pakai mulut kotormu itu... aku pastikan namamu hilang dari kota ini besok pagi."

Dengan sentakan kasar, Areksa melepaskan Davin yang langsung jatuh terduduk di lantai sambil terbatuk-batuk memegangi lehernya. Areksa berbalik, menatap dua pengawalnya. "Bawa tikus ini keluar. Pastikan dia nggak bakal bisa menginjakkan kaki di pulau ini lagi."

"Baik, Tuan!" Kedua pengawal itu langsung menyeret Davin yang sudah nggak berdaya keluar lewat pintu belakang.

"Kalau kamu sampai menyakitinya, aku bakal makin benci sama kamu, Reksa. Sampai mati pun aku bakal benci kamu!" teriak Zevanna dengan napas terengah-engah.

Rahang Areksa mengeras, lalu dia tertawa sinis. "Kamu malah ngebela dia lagi? Pulang sekarang!" Pria itu berusaha menahan emosinya sambil menarik pelan tapi tegas tangan Zevanna. "Kita selesaikan di rumah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!