"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."
***
"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."
Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.
***
"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kafa Kelepasan
Brak!
Sebuah vas bunga melayang menghantam dinding hingga pecah berkeping-keping.
Prang!
Suasana ruangan berubah mencekam. Tak ada satu pun anak buah yang berani mengangkat kepala.
Tristan berdiri dengan napas memburu. Rahangnya mengeras. Tatapan mata abu-abunya dipenuhi amarah.
"Brengsek!"
Tangannya menyapu seluruh barang di atas meja.nLaptop, map, hingga gelas kopi jatuh berserakan di lantai.
"Bagaimana mungkin rencana yang sudah berbulan-bulan saya susun hancur begitu saja!"
Tak pernah sebelumnya ia mengalami kegagalan sebesar ini. Selama menjalankan bisnis gelapnya di Indonesia, semua berjalan mulus.
Anak-anak berhasil dibawa. Tak ada yang mampu melacak. Namun kali ini, semuanya berakhir berantakan.
Sembilan anak berhasil diselamatkan. Tiga anak buahnya ditangkap polisi. Gudang persembunyian mereka terbongkar.
Dan semua itu.... karena satu orang. Andara.
Tristan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Ia benar-benar tidak menyangka. Awalnya, ketertarikannya pada Andara hanya karena paras gadis itu.
Cantik, lembut dengan senyum yang begitu hangat.
Saat pertama kali bertemu, Tristan bahkan mengira Andara hanyalah gadis berhijab biasa yang polos dan mudah ditebak. Namun ternyata, ia salah besar.
Gadis itu berani. Cerdas. Sabar. Dan memiliki akal yang jauh di luar perkiraannya.
Ia mampu mengumpulkan petunjuk sedikit demi sedikit. Menghubungkan setiap kejadian. Bahkan berhasil menemukan lokasi persembunyian mereka.
Tristan terkekeh pelan. Namun tawa itu sama sekali tidak terdengar menyenangkan.
"Menarik..." gumamnya lirih.
"Saya benar-benar meremehkanmu, Andara."
Max yang sejak tadi berdiri di samping pintu memilih diam. Ia tau, saat seperti ini lebih baik tidak banyak bicara.
Beberapa saat kemudian Tristan kembali duduk di kursinya. Ia menyalakan sebatang rokok. Mengembuskan asapnya perlahan.
Amarah di wajahnya memang mulai mereda. Namun sorot matanya justru berubah semakin berbahaya.
"Max."
"Iya, Tuan."
"Mulai sekarang jangan pernah lagi meremehkan gadis itu. Dia bukan lawan yang bisa dianggap sepele."
"Baik, Tuan."
Tristan tersenyum tipis. Senyum yang sulit diartikan.
"Aneh... Semakin dia menghancurkan rencana saya, semakin besar rasa penasaran saya padanya."
Max menatap Tuannya ragu. "Tuan... Apakah Anda masih ingin mendekatinya?"
Tristan mengangguk pelan. "Tentu. Lain kali, saya akan datang dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai musuh tapi sebagai seseorang yang membuatnya percaya."
Max terdiam. Ia memahami maksud ucapan itu. Namun ia juga tau... Andara bukan gadis yang mudah percaya pada orang asing lagi. Terlebih setelah semua yang baru saja terjadi.
Dan Tristan... untuk pertama kalinya menyadari bahwa gadis yang membuatnya tertarik itu bukan hanya cantik. Melainkan juga lawan yang mampu menggagalkan seluruh rencananya.
***
Keduanya kini sudah kembali berada di dalam mobil. Kafa menyalakan mesin mobil, tetapi belum langsung menjalankannya.
Suasana di dalam mobil terasa sunyi. Tatapan Kafa lurus ke depan, sementara jemarinya menggenggam kemudi cukup erat.
"Sekarang jelasin semuanya ke Kakak."
Andara menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. "Semua ini berawal waktu kita ketemu di kafe itu. Pas aku pergi gitu aja, Azlan nyusul aku. Dia hibur aku. Aku awalnya juga gak tau dia mau ngajak aku ke mana. Hingga akhirnya dia bawa aku ke sebuah rumah baca."
Kafa menoleh sekilas. "Rumah baca?"
Andara mengangguk. "Iya. Itu rumah baca yang aku bangun buat anak-anak jalanan."
Kafa mengernyit. "Sejak kapan?"
"Udah lama. Nggak ada yang tau. Azlan juga taunya karena dulu pernah diam-diam ngikutin aku. Baru setelah itu dia jujur."
Kafa kembali diam. Ia membiarkan Andara melanjutkan ceritanya tanpa menyela.
"Hari itu aku sama Azlan sampai sore di sana. Pas kami mau pulang, kami dengar ada seorang ibu nangis histeris. Andai Kakak lihat kalau beliau benar-benar hancur. Anaknya hilang."
Andara menundukkan pandangannya. "Anak itu namanya Riri."
"Riri?"
"Iya. Dia pernah nolong aku waktu aku hampir ketabrak karena nyebrang sembarangan. Sejak kejadian itu aku jadi dekat sama Riri. Sama anak-anak di sana juga."
Kafa mendengarkan dengan saksama. Baru kali ini ia mengetahui kehidupan Andara yang selama ini tak pernah diceritakan kepadanya.
"Besoknya aku sama Azlan pergi ke kantor polisi. Di sana kami dikasih tau kalau ternyata bukan cuma Riri yang hilang. Udah ada 10 anak lain termasuk Riri. Semuanya dari keluarga sederhana. Dari situ aku mulai curiga makanya aku cari informasi sendiri. Selama beberapa hari aku terus mantau daerah itu. Sampai akhirnya aku sadar target berikutnya kemungkinan besar Raju."
(Buat yang bingung. Kok anak yang selamat 9 sedangkan yang diberi tau polisi itu ada 10. Aku jelasin ya. Anak yang hilang 10 termasuk Riri, Raju belum termasuk. Nah dari 10 anak hanya ada 8 yang lolos uji kesehatan. Ditambah Raju jadi 9. Aku harap kalian paham ya hehe)
"Anak penjual tisu itu?"
"Iya tapi anehnya beberapa hari nggak ada kejadian apa-apa. Justru itu yang bikin aku makin curiga. Kupikir mereka sudah sadar kalau ada yang sedang mengawasi. Makanya mereka menghentikan pergerakan dulu."
Kafa mengangguk pelan. "Lalu?"
"Makanya aku mutusin buat nyamar. Aku ganti penampilan. Supaya mereka nggak kenal. Andai Kakak nggak datang waktu itu mungkin aku tetap ngikutin mereka sendirian."
Andara tersenyum kecil. "Awalnya aku mau langsung cegah Raju diculik. Eh... malah ketemu Kakak. Jadi aku ubah rencana. Aku pikir lebih baik ikutin mereka. Untungnya ada mobil Kakak. Kalau nggak, aku juga bingung mau ngejar pakai apa."
Kafa akhirnya menghela napas panjang. Ia memejamkan mata beberapa detik sebelum kembali menatap Andara.
"Kamu tau nggak betapa khawatirnya Kakak tadi?"
Andara tersenyum tipis. "Tau. Tapi kalau aku nggak ngelakuin itu mungkin anak-anak itu udah dibawa keluar negeri."
Kafa menggeleng pelan. "Dara.... Kamu memang berhasil menyelamatkan mereka. Tapi Kakak hampir kehilangan kamu."
Kalimat itu membuat mata Andara langsung berkaca-kaca. Dadanya terasa hangat. Selama ini ia selalu berharap Kafa mengkhawatirkannya.
Dan hari ini ia benar-benar mendengarnya sendiri.
"Kakak... khawatirin aku?" tanyanya lirih.
Kafa mengangguk pelan. "Iya. Karena kamu adik Kakak."
Seketika senyum di wajah Andara memudar.nAda rasa kecewa yang kembali menyelinap di hatinya.
"Oh..."
"Ck. Tapi nggak apa-apa. Aku tetap senang kok."
Ia berusaha tersenyum, meski senyum itu tak lagi secerah sebelumnya.
Kafa kembali menghidupkan mobil. "Kita ke rumah sakit."
Andara langsung memprotes. "Eh, ngapain?"
"Obatin luka kamu."
"Jangan lebay, Kak. Ini nggak sakit kok."
"Tetap saja. Kamu mau bikin Abi sama Bunda khawatir? Lagian... Kemungkinan besar berita penyelamatan tadi sudah mulai tersebar."
Andara langsung menyeringai. "Berarti aku jadi seleb dadakan dong."
Tak ada balasan. Kafa tetap fokus mengemudi dengan wajah datar.
Senyum Andara perlahan menghilang. Ia mengembuskan napas kecil.
"Kamu pikir lucu?" Suara Kafa terdengar tenang, tetapi jelas menunjukkan ia belum benar-benar tenang.
Andara langsung menggaruk tengkuknya. "Iya... Maaf."
Mobil terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan sebuah apotek yang masih buka. Tanpa mengatakan apa pun, Kafa langsung memarkirkan mobilnya.
Ia melepas sabuk pengaman lalu turun begitu saja. Andara hanya memperhatikan punggung laki-laki itu dari dalam mobil.
"Kak Kafa kalau lagi datar gitu malah tambah ganteng." gumamnya pelan sambil menopang dagunya.
Tak lama kemudian ia terkekeh sendiri. "Ih, Andara. Situasi begini masih aja sempat-sempatnya ngegombal. Noh lihat Kak Kafa lagi mode serius."
Meski begitu, senyumnya kembali mengembang. Setidaknya, hari ini ia tau satu hal. Di balik wajah datar dan sikap dingin Kafa, ada seseorang yang benar-benar takut kehilangan dirinya.
Beberapa menit kemudian, Kafa kembali dengan membawa satu kantong berisi obat-obatan, kasa steril, plester, dan antiseptik.
Begitu masuk ke mobil, ia langsung duduk di kursi pengemudi. "Bibirnya sini."
Andara berkedip. "Hah?"
"Bibir."
"Oh..." Andara sedikit memajukan tubuhnya.
Jarak mereka kini sangat dekat. Tanpa sadar, Andara terpaku. Matanya tak berkedip menatap wajah laki-laki yang begitu ia cintai.
Garis rahangnya. Bulu matanya. Sorot matanya yang teduh. Semuanya terasa begitu sempurna di mata Andara.
Sementara itu, Kafa membuka botol antiseptik lalu menuangkannya ke kapas. "Perih dikit."
Belum sempat Andara menjawab, kapas itu sudah menyentuh sudut bibirnya. "Ssshh... Perih, Kak."
"Ck, tadi bilang nggak apa-apa, nggak sakit." Cibirnya.
Andara hanya nyengir kecil. Bukannya mengalihkan pandangan, ia justru terus memandangi wajah Kafa.
Kafa kembali membersihkan luka di sudut bibir dan pipinya dengan sangat hati-hati. Gerakannya begitu pelan. Seolah takut membuat Andara semakin kesakitan.
"Maaf."
Andara mengernyit. "Kenapa minta maaf?"
"Kakak gagal jagain kamu. Malah kamu yang nyelamatin Kakak."
Andara langsung menggeleng. "Justru aku yang nyeret Kakak ke sana. Kakak nggak salah."
"Kamu tetap terluka."
"Cuma lecet dikit."
"Tetap saja. Bagaimana kalau lebih dari ini?" Suara Kafa terdengar pelan, tetapi penuh penyesalan.
Andara menatapnya beberapa saat. Lalu tersenyum kecil. "Kak...Kakak tau nggak?"
"Apa?"
"Aku senang."
Kafa menoleh heran.
"Karena hari ini pertama kalinya Kakak benar-benar khawatir dan takut kehilangan aku."
Kafa terdiam.
Andara tersenyum usil meski sudut bibirnya masih terasa perih. "Kalau tiap aku luka Kakak bakal segini perhatiannya kayaknya besok-besok aku luka lagi aja, deh."
Kafa langsung menghela napas panjang. "Dara."
"Hehe... Canda."
Suasana kembali hening. Kafa melanjutkan mengoleskan salep pada luka kemerahan di pipi Andara, lalu menempelkan plester kecil di sudut bibirnya.
Saat pekerjaannya hampir selesai, tangannya perlahan terhenti. Tatapannya jatuh pada wajah Andara yang sejak tadi memandanginya tanpa berkedip.
Andara pun balas menatap. Tak ada satu pun yang berbicara. Hanya keheningan yang memenuhi ruang sempit di dalam mobil.
Beberapa detik berlalu. Kafa mengembuskan napas pelan. Tanpa sadar, jemarinya terangkat. Ia mengusap pelan pipi Andara yang masih memerah akibat pukulan tadi.
Sentuhan itu begitu lembut. Begitu singkat. Harusnya... sentuhan itu tidak pernah terjadi.
Selama ini, Kafa selalu berusaha menjaga batas di antara mereka.
"Sakit?" tanyanya lirih, sementara ibu jarinya masih menyapu perlahan pipi Andara.
Andara hanya menggeleng pelan. "Nggak."
Kafa menatap luka itu beberapa saat. Raut wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Jemarinya masih mengelus antara bibir dan pipi Andara.
Perlahan, Kafa mendekat dan entah mengapa terjadi begitu saja.
Cup!
Kafa mengecup singkat pipi Andara yang memerah.
"Maaf..." Ucapnya begitu menyadari dirinya terlalu larut dalam emosi, Kafa segera menarik tangannya.
Ia mengembuskan napas panjang, lalu mengalihkan pandangan. "Kita pulang."
Andara memegang pipinya yang baru saja dikecup Kafa. Jantungnya berdetak tidak keruan. Kecupan singkat itu saja sudah cukup membuatnya membeku beberapa saat.
"Apa ini... mimpi?" gumamnya pelan sebelum akhirnya ikut mengenakan sabuk pengaman.
Sepanjang perjalanan pulang, tak ada satu pun yang membuka suara. Keheningan memenuhi isi mobil. Andara beberapa kali melirik ke arah Kafa. Namun laki-laki itu tetap fokus menatap jalan, kedua tangannya menggenggam kemudi erat.
Tak sekali pun ia menoleh. Tak sekali pun ia berkata apa-apa. Sesampainya di rumah, mobil perlahan memasuki halaman. Begitu mesin dimatikan, Andara langsung melihat tiga sosok yang sudah berdiri di teras.
Abi. Bunda. Dan Azra.
Rupanya berita tentang penyelamatan sembilan anak korban penculikan oleh Andara dan Kafa sudah lebih dulu tersebar luas. Rekaman para wartawan bahkan telah viral di berbagai media sosial.
Andara menundukkan kepalanya. Ia sudah membayangkan akan dimarahi habis-habisan.
Perlahan ia turun dari mobil. "Abi..."
Belum sempat berkata apa-apa, Azzam langsung menarik putrinya ke dalam pelukan.
Andara membeku.
Tak lama kemudian, Aira ikut memeluk keduanya. Air mata perempuan itu sudah lebih dulu mengalir.
"Bunda..."
Suasana seketika berubah haru. Pelukan itu berlangsung beberapa saat sebelum akhirnya Azzam melepaskannya. Tangannya mengusap kepala Andara dengan lembut.
"Maafin Andara, Bi... Bunda..." Suara Andara bergetar.
Ia benar-benar merasa bersalah telah mempertaruhkan nyawanya tanpa sepengetahuan mereka.
Azzam tersenyum tipis sambil menggeleng. "Ssst... Abi bangga sama kamu."
Mata Andara langsung membulat. "Hah?"
"Kamu mempertaruhkan dirimu demi menyelamatkan anak-anak yang bahkan bukan keluarga kita. Itu bukan keputusan yang mudah. Abi bangga karena kamu punya hati yang begitu besar."
"Tapi..." Wajah Azzam berubah sedikit serius. "Lain kali, jangan lakukan sendirian. Janji sama Abi."
Andara langsung mengangguk berkali-kali. "Iya, Bi."
Aira mengusap air matanya. "Yuk, masuk dulu. Kamu pasti capek. Bunda udah siapin makanan hangat."
Andara mengangguk sambil tersenyum kecil.
Di sisi lain, Kafa menutup pintu mobil. "Bunda, Kafa pamit pulang dulu."
Aira menoleh. "Loh, kenapa buru-buru?"
"Ada janji sama Giska, Bun."
"Oh..." Aira mengangguk pelan. "Yaudah, hati-hati di jalan."
"Iya, Bun."
Kafa membungkukkan badan singkat kepada Azzam dan Aira sebelum berbalik menuju mobilnya.
"Kak..." Suara Andara menghentikan langkahnya.
Kafa berhenti. Namun ia tidak langsung menoleh.
"Ada apa?" Suaranya terdengar datar.
Andara menggenggam erat tali tasnya. "Makasih udah nolongin aku hari ini."
Beberapa detik berlalu. Kafa akhirnya menoleh sekilas. "Bukan. Kakak cuma melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
Setelah mengucapkan itu, ia kembali masuk ke dalam mobil. Mesin mobil menyala..Andara hanya berdiri memandangi mobil itu hingga perlahan keluar dari halaman rumah.
Entah mengapa... ia merasa ada sesuatu yang berbeda pada sikap Kafa malam ini. Seolah-olah laki-laki itu sedang berusaha menjaga jarak. Atau... sedang menghindari sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum mampu pahami.
mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰