Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Penolakan Demi Penolakan
Pagi berikutnya, Kirana mulai mencari pekerjaan.
Ia menulis alamat satu per satu di buku catatan, menandai toko, butik kecil, kantor administrasi, sampai kedai kopi yang membuka lowongan kasir. Ia tidak memilih terlalu tinggi. Setelah tiga tahun di penjara, ia tahu dunia tidak akan langsung memberinya meja desain dan ruang kreatif. Untuk saat ini, ia hanya perlu penghasilan yang jujur.
Tempat pertama adalah toko perlengkapan rumah tangga.
Manajernya melihat CV Kirana, tersenyum saat membaca pengalaman lama di bidang penjualan, lalu wajahnya berubah ketika sampai pada kolom keterangan hukum.
"Kami butuh SKCK."
"Saya bisa jelaskan."
"Maaf, Bu. Ini kebijakan perusahaan."
Pintu pertama tertutup.
Tempat kedua adalah kafe.
Pemiliknya perempuan muda yang awalnya ramah. Ia bahkan memuji cara Kirana berbicara dengan pelanggan. Namun setelah meminta fotokopi dokumen, senyumnya menegang.
"Takutnya nanti kalau pelanggan tahu, usaha saya kena dampak."
"Saya tidak pernah melakukan kejahatan itu."
"Saya tidak bilang Ibu melakukan. Tapi orang-orang tidak peduli klarifikasi."
Pintu kedua tertutup.
Tempat ketiga, keempat, kelima, semuanya punya bentuk penolakan berbeda. Terlalu berisiko. Posisi sudah terisi. Nanti kami hubungi. Untuk sementara belum cocok. Kalimat-kalimat itu terdengar sopan, tetapi akhirnya menunjuk ke tempat yang sama: keluar.
Di sebuah kantor kecil distributor tekstil, seorang HR bahkan tidak repot merendahkan suara.
"Kami menjual ke butik-butik keluarga baik-baik," katanya sambil mengembalikan map Kirana. "Kalau staf kami punya riwayat pembunuhan, bagaimana kepercayaan klien?"
"Saya punya kemampuan administrasi dan paham bahan."
"Kemampuan bukan segalanya. Reputasi lebih penting."
Kirana keluar dari kantor itu dengan telinga panas. Di lift, dua pegawai yang tadi berada di ruang tunggu berdiri di belakangnya dan berbisik, mengira ia tidak mendengar.
"Cantik-cantik serem juga."
"Makanya jangan lihat wajah doang."
Kirana menatap angka lantai yang turun satu per satu. Ia tidak berbalik. Setiap penolakan hari itu mengajarinya satu hal: dunia senang meminta mantan narapidana berubah, tetapi tidak suka memberi ruang untuk membuktikannya.
Ia sempat masuk ke toko roti yang membutuhkan staf kemasan. Pemiliknya tidak bertanya soal kasus, tetapi meminta ia bekerja percobaan tanpa gaji selama sebulan. Saat Kirana menolak, pria itu berkata, "Dengan riwayat seperti itu, harusnya kamu bersyukur diberi kesempatan."
Kirana keluar tanpa membanting pintu.
Di tempat lain, sebuah laundry menerima CV-nya, lalu lima menit kemudian mengembalikan karena takut pelanggan kehilangan barang dan menuduh toko lalai. Di toko kosmetik, pegawai HR menyuruhnya menunggu satu jam, lalu mengirim pesan pendek dari dalam ruangan: maaf, posisi sudah terisi.
Menunggu ditolak lewat pesan dari jarak lima meter ternyata punya rasa malu sendiri.
Kirana mencoret nama-nama tempat itu di buku catatannya. Garisnya lurus, tegas. Setiap coretan bukan hanya kegagalan, melainkan peta tentang pintu mana yang tidak perlu ia ketuk lagi.
Menjelang sore, kaki Kirana lecet.
Ia duduk di halte, membuka dompet. Uangnya tinggal cukup untuk ongkos dua hari dan makan paling sederhana. Kartu bank dari Leon ada di tas, tetapi ia belum ingin menggunakannya. Bukan karena gengsi kosong, melainkan karena ia takut sekali mulai bergantung, ia akan lupa cara berdiri sendiri.
Ponselnya bergetar.
Leon: Sudah makan?
Kirana menatap pesan itu lama.
Ia mengetik, Sudah.
Lalu menghapusnya.
Belum, tulisnya akhirnya. Tapi nanti.
Balasan datang cepat.
Pakai kartu rumah tangga. Jangan keras kepala untuk urusan perut.
Kirana hampir tersenyum, lalu menahan diri.
Aku sedang cari kerja.
Ada kabar?
Belum.
Tidak apa-apa. Pulang sebelum terlalu malam.
Pesan itu sederhana, tetapi membuat tenggorokan Kirana terasa penuh. Tidak ada yang bertanya ia sudah makan saat ia berkeliling membawa CV. Tidak ada yang mengingatkannya pulang sebelum gelap. Perhatian kecil itu berbahaya karena mudah membuat orang lelah ingin bersandar.
Ia memasukkan ponsel dan berdiri lagi.
Satu tempat lagi.
Butik kecil di sudut ruko memasang tulisan "Dibutuhkan Staf Penjualan". Kirana masuk dengan harapan yang sengaja ia kecilkan. Pemiliknya memeriksa CV, lalu bertanya beberapa hal tentang ukuran pakaian, jenis kain, dan cara melayani pelanggan cerewet.
Kirana menjawab lancar.
Untuk beberapa menit, ia merasa mungkin kali ini berbeda.
Namun saat pemilik melihat dokumen, wajah itu berubah.
"Maaf."
Kirana bahkan belum mendengar alasannya, tetapi sudah tahu.
Di luar butik, langit mulai oranye. Ia berdiri di trotoar, menatap pantulan dirinya di kaca etalase. Perempuan di kaca itu memakai sepatu murah yang mulai kotor, membawa map CV yang sudutnya terlipat, dan berdiri seolah punggungnya tidak sakit.
Ia ingin menangis.
Namun di kaca, ia melihat sesuatu di belakang pantulannya.
Sebuah toko pakaian lain, lebih kecil, dengan manekin bergaun sederhana. Di pintunya tertempel kertas putih yang ditulis tangan.
Dicari pramuniaga. Bisa mulai segera.
Kirana menatap tulisan itu lama.
Kakinya sakit. Perutnya lapar. Hari hampir gelap.
Tetapi ia masih punya satu CV tersisa.
Ia merapikan rambut, menegakkan bahu, lalu berjalan menuju pintu toko itu.
Sebelum mendorong pintu, ia melihat pantulan dirinya sekali lagi. Wajahnya masih lelah, tetapi matanya tidak kosong. Hari itu belum memberinya pekerjaan, namun belum berhasil membuatnya berhenti. Untuk Kirana, itu sudah kemenangan kecil. Dan kemenangan kecil tetap harus dijaga, sekecil apa pun bentuknya. Ia melangkah.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔