Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Deru mesin mobil Rolls-Royce Phantom hitam yang halus namun bertenaga berhenti tepat di area jemputan utama depan Gedung Fakultas Hukum USC.
Keberadaan kendaraan ultra-mewah itu sontak menarik perhatian para mahasiswa yang berlalu-lalang di trotoar.
Pintu belakang terbuka, dan seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas mahal turun dengan langkah berwibawa.
Billy Davidson berdiri di samping pintu mobil yang terbuka. Wajahnya yang beberapa jam lalu mengeras penuh amarah kini melunak total, digantikan oleh seulas senyuman yang teramat hangat dan menawan.
Begitu melihat Lara berjalan keluar dari lobi gedung dengan langkah kaku, Billy segera merentangkan sebelah tangannya, menyambut sang istri seolah ia adalah hal paling berharga di dunia ini.
"Happy, honey?" tanya Billy lembut, menatap lekat-lekat mata Lara saat gadis itu sudah berdiri di hadapannya.
Lara memaksakan sebuah anggukan kecil. Bibirnya yang masih terasa perih di bagian sudutnya dipaksa untuk mengembang, membentuk senyuman manis yang tampak begitu meyakinkan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Bagaimana bisa tidak happy? Aku tiga jam penuh merindukan dirimu, Billy," jawab Lara, suaranya terdengar manja dan lembut.
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Lara tanpa jeda, terdengar seperti untaian kata tulus dari seorang istri yang kasmaran.
Namun di balik topeng itu, Lara tahu persis bahwa kalimat itu adalah sebuah naskah.
Itu adalah untaian kata yang sudah dilatih dan ditekan oleh suaminya sejak pertama kali dia dipaksa mengikuti kelas hukum ini beberapa bulan lalu.
Billy menuntut konfirmasi verbal atas kesetiaan dan kerinduan Lara setiap kali mereka berpisah, sebuah validasi untuk memuaskan ego dan kecemburuan patologisnya.
Jika Lara lupa atau terlambat mengucapkan kalimat 'ritual' itu, maka konsekuensinya adalah badai kekerasan baru di dalam mobil.
Senyum Billy semakin melebar mendengar jawaban patuh istrinya. Ia merengkuh pinggang Lara, menariknya mendekat lalu mengecup keningnya di depan publik. "Aku mencintaimu, sayang. Aku juga sangat merindukanmu."
Billy membukakan pintu mobil lebih lebar, mempersilakan Lara masuk terlebih dahulu sebelum ia memutari mobil dan duduk di sampingnya.
Begitu pintu tertutup rapat, menghalangi pandangan dunia luar dengan kaca film yang gelap, Billy menggenggam tangan Lara yang terasa dingin.
"Mau belanja kebutuhan dapur hari ini? Aku sengaja mengosongkan jadwalku siang ini untuk menemanimu," tanya Billy dengan cepat, nada suaranya berubah menjadi sangat perhatian.
Lara hanya mengangguk patuh. "Ya, ada beberapa bahan makanan yang sudah habis."
Mobil mewah itu pun perlahan bergerak, meninggalkan area parkir fakultas hukum dengan keanggunan yang sunyi.
...----------------...
Sementara itu, hanya beberapa meter dari tempat Rolls-Royce itu terparkir sebelumnya, sebuah sedan Audi hitam terparkir di bawah rindangnya pohon ek.
Di balik kemudi, Darion Vale Knight mencengkeram erat setir mobilnya. Buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Melalui kaca depan mobilnya, Darion menyaksikan seluruh adegan sandiwara itu dengan jelas. Ia melihat bagaimana Lara memaksakan senyumnya, bagaimana Billy menyentuh pinggang wanita itu dengan penuh kuasa, dan bagaimana Lara terpaksa tunduk pada pria yang telah meremukkan tubuhnya.
Bugh!
Darion menghantamkan tinjunya ke atas setir dengan frustrasi. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun menahan desakan emosi. Seandainya saja dia tidak teringat akan nasihat sang Mommy—tentang prinsip keluarga Knight yang terhormat bahwa seorang pria tidak boleh menjadi perebut bini orang atau pembinor—dia pasti sudah kehilangan seluruh akal sehatnya.
Jika bukan karena didikan moral yang kuat dan status hukum yang mengikatnya, Darion bersumpah ia akan langsung turun dari mobil, menerjang Billy Davidson, dan merebut Lara keluar dari cengkeraman pria brengsek itu saat itu juga.
"Bertahanlah sedikit lagi, Lara..." bisik Darion dengan suara parau, menatap nanar ke arah Rolls-Royce yang kini menjauh dan menghilang di belokan jalan Los Angeles.
"Aku bersumpah akan menyeretnya ke pengadilan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan menuju supermarket kelas atas di kawasan Beverly Hills dan jalan pulang ke kondominium berlangsung tanpa hambatan fisik.
Billy bersikap sangat manis sepanjang jalan, seolah-olah pukulan bertubi-tubi yang ia layangkan semalam hanyalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah terjadi.
Begitu tiba di rumah, Billy langsung pamit ke ruang kerja lantai atas untuk menerima panggilan bisnis penting dari rekan kerjanya di New York.
Lara memanfaatkan waktu tersebut untuk segera menata barang belanjaan.
Di dapur minimalis yang sunyi, ia dengan telaten mengatur dan menata kulkas dengan bahan-bahan segar yang mereka beli tadi—sayuran hijau, daging premium, dan beberapa botol susu.
Saat Lara sedang menjinjing sekotak buah beri untuk dimasukkan ke dalam kompartemen atas kulkas, tiba-tiba sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggangnya dari arah belakang.
Aroma parfum maskulin yang familier namun mengintimidasi langsung menyeruak masuk ke indra penciumannya. Tubuh Lara menegang seketika, insting bertahannya langsung aktif.
"Honey..." bisik Billy dengan suara serak, menempelkan dagunya di bahu Lara.
Sebelum Lara sempat merespons, Billy mengulurkan tangannya ke depan wajah Lara, menyodorkan sebuah kotak beludru hitam berukuran kecil yang terbuka.
Di dalamnya, berkilau sebuah kalung berlian mewah berkadar karat tinggi yang memantulkan cahaya lampu dapur dengan begitu menyilaukan.
"Suka?" tanya Billy pelan, disusul dengan sebuah kecupan yang mendarat di pipi Lara, tepat di dekat memar yang tersembunyi di balik rambutnya.
Lara mematung di tempatnya berdiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena romantisnya kejutan itu, melainkan karena rasa muak yang menjalar di dinding lambungnya. Ia memaksakan sebuah senyuman di wajahnya yang kaku, lalu berbalik perlahan untuk menghadap suaminya.
"Suka. Terima kasih, Billy," jawab Lara sambil tersenyum, menatap perhiasan mahal itu dengan binar mata yang ia buat seolah-olah dipenuhi rasa takjub.
Lara menatap kalung pemberian suaminya itu dengan senyuman getir yang tersembunyi.
Hadiah.
Ya, benda berkilau berharga ribuan dolar ini adalah upah, sebuah kompensasi materi yang selalu ia dapatkan setelah dirinya dijadikan samsak tinju oleh Billy.
Rutinitas itu telah dihafal di luar kepala oleh Lara selama dua tahun pernikahan ini.
Billy menuduhnya berselingkuh, memukulinya hingga babak belur, berlutut meminta maaf dengan air mata, memaksanya bercinta untuk menyalurkan hasrat egoisnya, dan keesokan harinya ditutup dengan pemberian hadiah mewah sebagai tanda 'perdamaian'.
Bagi Billy, berlian dan emas bisa menghapus rasa sakit dari tulang-tulang yang memar.
Namun, itu tidak berjalan mulus dalam tiga bulan terakhir. Lara telah menemukan celah pertahanan baru untuk melindungi tubuhnya dari sentuhan pria gila ini.
Dalam sembilan puluh hari terakhir, Lara selalu menolak ajakan intim Billy dengan satu alasan klasik yang tidak bisa dibantah oleh pria mana pun: dirinya sedang berada dalam siklus bulanan alias menstruasi.
Lara sengaja beralasan kepada Billy bahwa tekanan mental dan stres yang ia alami—menjadi penyebab kenapa menstruasi itu tidak pernah berakhir dan terus memanjang selama tiga bulan berturut-turut.
Billy, yang tidak paham betul mengenai detail medis biologi wanita, mempercayai alasan tersebut meskipun sering kali ia meledak marah akibat frustrasi seperti yang terjadi semalam.
Sejujurnya, jika ditarik garis waktu ke belakang, Billy sebenarnya sudah tidak menyentuh dirinya dalam hal intim sejak sangat lama.
Lama sekali. Mungkin terakhir kali mereka melakukan hubungan suami istri secara utuh adalah sejak satu tahun yang lalu.
Hal itu bisa terjadi karena sebelum memasuki fase tiga bulan terakhir ini, Billy selalu disibukkan dengan proyek ekspansi bisnisnya di luar kota.
Ditambah lagi, waktu dan pikiran Billy banyak tersita untuk membantu mengatasi trauma gila kakak iparnya, Catalina Davidson, yang terus-menerus merongrong perhatian Billy pasca kematian kakaknya.
Kesibukan Billy yang sering keluar kota membuat pria itu jarang berada di rumah.
Sialnya, setiap kali Billy pulang dan memiliki waktu luang, Lara akan dengan sengaja memanipulasi kalendernya dan mengatakan bahwa dirinya sedang menstruasi di saat yang tidak tepat bagi Billy.
Kebohongan tentang menstruasi itu dimulai secara bertahap untuk menghindari kecurigaan.
Pada bulan pertama, Lara beralasan menstruasinya memanjang selama satu minggu penuh dari biasanya.
Memasuki bulan kedua, ia menaikkan fasenya menjadi dua minggu.
Pada bulan ketiga, ia berdalih pendarahannya terjadi selama satu bulan penuh. Dan sekarang, alasan menstruasi itu telah berjalan hingga hampir tiga bulan tanpa henti.
Lara benar-benar tidak mau lagi disentuh oleh pria gila ini.
Setiap kali kulit Billy bergesekan dengan kulitnya dalam konteks intim, jiwanya berteriak histeris menahan rasa muak yang teramat sangat. Ia lebih baik menerima satu atau dua pukulan fisik akibat penolakan itu daripada harus menyerahkan tubuhnya untuk digagahi oleh pria yang telah menghancurkan hidupnya.
"Pakailah malam ini saat kita makan malam, honey," ucap Billy, meletakkan kotak perhiasan itu di atas meja bar dapur lalu menepuk pelan pinggang Lara sebelum melangkah kembali menuju ruang kerjanya.
Setelah memastikan langkah kaki Billy benar-benar menjauh dan suara pintu ruang kerja di lantai atas terdengar menutup, Lara langsung mengembuskan napas panjang yang tertahan di dadanya.
Bahunya merosot turun.
Dengan gerakan cepat dan waspada, Lara mengambil kotak perhiasan mewah berisi kalung berlian itu. Ia berjalan menuju ruang tengah, membuka sebuah laci di dalam lemari kayu, dan menyimpan kotak perhiasan tersebut di tumpukan paling belakang—menyatu dengan belasan kotak perhiasan mewah lainnya yang bernasib sama; perhiasan berdarah hasil permintaan maaf suaminya.
Setelah menyembunyikan kotak itu, Lara langsung melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam kamar mandi utama di dalam kamarnya. Ia mengunci pintu dari dalam, memastikan selot pintunya terpasang dengan rapat.
Lara berjalan mendekati wastafel, lalu membuka kabinet kecil tersembunyi di balik cermin.
Dari dalam sana, di balik tumpukan obat-obatan pribadi, ia mengeluarkan sebuah kantung kosmetik kecil.
Di dalamnya, sudah ia siapkan beberapa lembar pembalut wanita dan sebuah botol kecil berisi pewarna makanan berwarna merah tua—sebuah formula yang telah ia racik agar memiliki kekentalan dan warna yang menyerupai darah segar.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun terlatih, Lara mengambil selembar pembalut. Ia membuka botol pewarna makanan tersebut, lalu meneteskan beberapa tetes cairan merah pekat itu tepat di bagian tengah pembalut, membiarkannya meresap hingga membentuk noda pendarahan yang sangat meyakinkan.
Lara melakukan kebohongan besar ini dengan sangat baik dan rapi selama ini.
Setiap kali Billy menuntut bukti atau ketika Billy memeriksa tempat sampah kamar mandi secara acak—karena sifat curiganya yang ekstrem—pria itu selalu menemukan pembalut bernoda merah ini, yang membuatnya percaya bahwa istrinya memang benar-benar sedang mengalami gangguan siklus bulanan yang parah.
Lara menatap pembalut bernoda merah buatan itu di tangannya dengan tatapan mata yang dingin dan kosong.
Demi Tuhan, suaminya yang terkenal cerdas dalam dunia bisnis dan selalu curiga pada setiap gerak-geriknya, ternyata bisa ia bohongi dengan sangat baik menggunakan trik sederhana ini selama setahun terakhir.
Trik menjijikkan namun efektif ini adalah satu-satunya perisai yang tersisa bagi Lara untuk menjaga sisa harga diri tubuhnya yang menolak untuk dimiliki oleh iblis bernama Billy Davidson.
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄