Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Pak tua
Setelah selesai melakukan panggilan dari Fanny, aku langsung membersihkan kamar kecil di dekat garasi mobil. Kamar itu buat tukang kebun. Rasa lelah kini menghilangkan rasa takutku. Datanglah perasaan nyaman dan tenang mengingat kepergian Barra. Aku berdiri di teras rumah, kedua tangan aku renggang 'kan, segera ku hirup udara bersih di sekeliling rumahku. Suara kicau burung dan angin pagi membuat diriku kembali hidup seperti dulu lagi.
Aku mengerutkan dahi, kedua mata menatap seorang pria tua berjalan pincang, kedua tangannya memegang tas besar. Ia terus memasuki gerbang rumah yang tidak aku tutup.
“Siapa pria tua itu?”
Aku segera berjalan mendekati pria tua yang terlihat kesusahan berjalan memasuki halaman rumah. Pria tua tersebut menghentikan kedua kakinya saat melihatku berjalan mendekati dirinya. Aku mengulas senyum tipis, aku melihat raut wajah pria tua yang terlihat seram, dan beberapa bekas luka lama di pipi kanannya.
“Maaf. Kalau boleh tahu Bapak siapa ya?” Tanyaku sopan.
Pria tua tersebut menatapku sinis, kedua mata tajam menatap diriku dari atas sampai bawah. Aku merasa tidak nyaman melihat tatapan pria tua tersebut, aku berusaha mencairkan aura yang terasa suram. Tangan kanan aku mengulur ke teras rumah.
“Mari duduk dulu di sana, kita akan berbicara sambil minum teh.” Ajak 'ku sopan.
“Tidak perlu. Tunjukkan aku di mana kamar buat pengurus kebun.” Sahut Pak tua datar.
“Oh! Bapak adalah tukang kebun yang di bicarakan suami 'ku.”
“Ck. Suami.” Gumam Pak tua pelan.
“Maaf, Bapak tadi bicara apa, ya?” Tanyaku ingin mendengar ucapan Pak tua yang baru saja di ucapkan nya.
“Tidak ada.”
“Mari aku antar Bapak ke kamar.”
Aku membawa Pak tua dengan sopan menuju kamar kecil yang berada tepat di samping garasi mobil. Sepanjang perjalanan menuju kamar yang berjarak 50 meter dari halaman rumahku, aku dan Pak tua tidak ada berbicara satu sama lain.
Kedua kaki kami terhenti di depan teras yang memiliki ruangan berukuran 5x6 meter. Aku membuka pintu ruangan, bibir tersenyum canggung. “Ini adalah ruangan buat Bapak. Selimut dan yang lainnya sudah ada di dalam lemari kecil.” Ucapku memberitahu Pak tua.
“Terimakasih.” Sahut Pak tua berjalan melewati diriku yang masih berdiri di depan pintu kamar, Pak tua berbalik badan, kedua mata suram menatapku tajam. “Hati-hati. Jangan terlena dan terhanyut dengan semua barang mewah yang di berikan seseorang, meski terlihat tulus.”
“Maksud Bapak?” Tanyaku bingung.
“Tidak ada. Aku mau istirahat dulu.” Sahut Pak tua tak memberitahu diriku alasan kenapa dirinya bisa bilang seperti itu kepadaku.
Pak tua segera menutup pintu ruangan kamar miliknya, membiarkan aku sendiri berdiri di depan ruangan nya.
Aku berbalik badan, melangkahkan kedua kakiku, sesekali masih ku pandang pintu ruangan milik Pak tua yang sudah terkunci. Aku terus memandang sesekali ke belakang sampai aku berhenti di depan teras rumah. Karena merasa takut segera ku langkahkan kedua kaki masuk ke dalam rumah, dahi mengerut memikirkan ucapan Pak tua.
Kini aku berdiri di depan jendela kamar, kedua tangan aku lipat di depan dada, kepala menyandar di tiang jendela, kedua mata menatap luar jendela yang langsung tertuju pada halaman rumah, garasi mobil, gudang dan kamar kecil milik Pak tua. Aku menegakkan tubuhku saat melihat Pak tua keluar dari kamarnya, tangan kanan memegang parang kecil yang terlihat tajam.
“Mau kemana Pak tua, dan kenapa dirinya membawa parang?” Ucapku bertanya sendiri.
Aku terus menatap Pak tua yang ternyata ingin membersihkan rumput liar yang berada di halaman rumah dengan parang tajam miliknya. Aku menarik nafas lega setelah pikiran buruk hampir merasuki pikiran dan jiwaku. Saat aku terus memandang, Pak tua menolehkan pandangan tajam ke arahku. Aku pun terkejut melihat tatapan itu, segera ku balikkan badan, kedua kaki meninggalkan jendela kamar.
Aku duduk di kursi meja rias, kedua tangan memijat kepala yang terasa tegang. “Tenang Vivana! Semua ini hanya khayalan kamu saja. Tidak ada yang ingin berbuat jahat kepada kamu. Tenang.” Ucapku menenangkan diri sendiri.
Drrttt! Drrtt!
Benda pipih yang aku letakkan di atas meja rias berdering sangat kuat membuat aku terkejut dan menghentikan pikiran buruk ku. Aku segera mengambil ponsel, tangan kiri memijat lembut kepala yang terasa tegang. Aku menghela nafas lega saat mengetahui jika panggilan tersebut dari Fanny.
“Fanny.” Ucapku pelan, jari jempol tangan kanan menekan tombol hijau, meletakkan benda pipih di daun telinga kanan.
[“Assalamualaikum, Fanny.” Sahutku dari sebrang sini lemah.]
[“Kamu kenapa Vivana? Apa semuanya baik-baik saja, dan kenapa suara kamu begitu sangat lemah seperti tidak bersemangat. Apa kamu sakit, atau kamu…”]
[“STOP! Kamu cerewet banget, aku baik-baik saja, aku cuman merasa aneh dan bingung saja dengan semua gejala belakangan ini yang aku rasakan. Fanny! Bisakah kamu menjemput diriku hari ini?” Sahutku memutus ucapan Fanny yang terdengar cemas dan langsung meminta bantuan padanya.]
[“Papa dan Mamaku lagi pergi ke Jakarta karena ada urusan bisnis, mobil di rumah di pakai mereka dan aku hanya bisa di antar jemput sama Baskara. Mau minta tolong Baskara, Baskara juga lagi di Jakarta untuk menuntaskan pekerjaannya. Kalaupun bisa besok pagi.”]
[“Hem. Ya udah deh. Besok jemput aku, ya?”]
[“Siap. Besok pagi aku akan menjemput kamu.”]
[“Kalau begitu aku akhiri panggilan teleponnya. Aku mengantuk dan mau istirahat.”]
[“Baik. Assalamualaikum.”]
[“Wa’alaikumsalam.” Sahutku dari sini memutus panggilan telepon.]
Aku meletakkan benda pipih di atas meja rias. Aku berdiri. “Sebaiknya aku tidur siang dulu.” Ucapku, kedua kaki melangkah pergi menuju ranjang. Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang, kedua tangan aku letak di depan perut, kedua kelopak mata perlahan terpejam.
.
.
.
💤💤Di alam Mimpi.💤💤
Aku kini berdiri di tengah ruangan besar, kedua mataku menatap sekeliling rumah, aku mengerutkan dahi, alis menyatu jadi satu saat aku mengetahui ruangan ini adalah sebuah kamar. Kamar yang sedang aku tempati, bedanya kamar yang aku lihat berwarna biru tua dan kamar yang aku tempat berwarna putih pucat.
“Bukannya aku baru saja merebahkan tubuhku, dan kenapa kamarku tiba-tiba berubah warna menjadi biru tua.” Ucapku sendiri.
“Hahaha….Hahaaha….KEMBALIKAN.” Terdengar suara tawa cukup nyaring menggema di udara, ucapan yang selalu aku dengar dan masih selalu terngiang-ngiang di kedua telingaku.
Aku memutar seluruh badan, dan mata waspada aku arahkan ke sekeliling ruangan. “Apa yang harus aku kembalikan?”
“KEMBALIKAN...KEMBALIKAN.”
Suara kembali menggema di udara, memekakkan kedua telingaku, dan membuat seluruh bulu kuduk berdiri.
“Iya. Apa yang harus aku kembalikan pada kamu, dan kenapa kamu terus meneror diriku.” Sahutku berteriak.
Tubuhku seketika mematung, kedua mataku membulat sempurna saat dihadapan 'ku sudah berdiri setan wanita, puncak kepala di lumuri darah mengalir sampai wajah, wajah sebelah kanan rusak parah dan aku melihat jelas belatung bergerak masuk keluar dari luka yang membusuk di wajah sebelah kanannya.
“PEM…..BU…NUH. DIA....PEM…BUNUH.”
“Si-siapa yang pembunuh?” Tanyaku dengan nada suara gemetar.
“Hahaha…hahaha.”
Setan wanita itu tertawa cukup nyaring, perlahan ia terbang ke belakang. “KEMBALIKAN.” Ucapnya sekali lagi sebelum menghilang di dinding kamar.
Aku mengulurkan tangan kananku. “Tunggu. Siapa pembunuh dan apa yang harus aku kembalikan pada kamu. Tunggu.”
.
.
🍃🍃Keluar dari Mimpi.🍃🍃
Aku terus berteriak sampai aku kembali ke alam nyata. Aku segera duduk, keringat jagung mengalir dari kepala hingga ke wajah. Nafas memburu terlihat dari dada yang turun naik.
“Apakah wanita itu menghantui Anda?”
...Bersambung.......
makanya datang terus meneror
sereeeemmm