NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Bayarannya dan Janji yang Tak Bisa Diingkari

Suara langkah kaki petugas kepolisian yang memenuhi ruangan tua itu perlahan meredup seiring mereka membawa Paman Haris dan sisa anak buahnya keluar dalam keadaan terikat. Namun ketenangan yang seharusnya terasa setelah kejahatan terungkap dan keadilan mulai ditegakkan, justru terasa jauh dari jangkauanku. Mataku masih terpaku pada tulisan yang baru saja muncul di permukaan meja batu itu, kalimat yang seolah membekam seluruh harapan yang baru saja berkembang di dadaku "Takdir tidak pernah sepenuhnya berubah tanpa ada bayarannya. Pengorbanan terakhir masih menanti di ujung jalan."

Erlan menyadari keteganganku yang tak kunjung reda. Dia melepaskan pelukannya sejenak, lalu berbalik memastikan tidak ada orang lain yang tersisa di dalam ruangan selain kami bertiga yaitu aku, dia, dan Dimas yang masih berdiri diam memproses segala kejadian yang baru saja ia saksikan. Erlan kembali berjalan mendekat ke arah meja batu itu, jari-jarinya menyentuh huruf-huruf yang terukir dalam cahaya samar itu seolah berusaha menghapusnya atau mencari makna tersembunyi di baliknya.

"Kekuatan itu tidak meminta pembayaran materi atau kekuasaan," ucapnya pelan, suaranya terdengar berat seolah dia sedang menyusun potongan teka-teki yang selama ini ia hindari untuk dipikirkan. "Di catatan lama kakekku yang sempat kubaca sekilas dulu, tertulis bahwa setiap kali seseorang mencoba memutar waktu atau mengubah alur peristiwa yang sudah ditetapkan, ada keseimbangan yang harus dijaga. Jika nyawa yang seharusnya hilang kembali hidup, maka harus ada nyawa lain yang menggantikannya untuk menjaga keseimbangan alam semesta."

Dimas yang sedari tadi diam tiba-tiba melangkah mendekat, wajahnya tampak pucat. "Itu artinya... salah satu dari kalian yang kembali dari masa lalu itu harus kembali ke asalnya? Salah satu dari kalian harus kehilangan nyawa lagi agar dunia ini kembali seimbang?"

Kalimat itu menghantamku sekeras palu godam. Aku menatap Erlan, dan di saat itu aku melihat ketakutan yang paling dalam di matanya bukan takut akan kematiannya sendiri, melainkan takut akan kehilanganku sekali lagi. Dia segera menggeleng kuat seolah menolak kemungkinan itu ada, lalu menarikku kembali ke dalam pelukannya dengan erat seolah ingin menyatukan jiwa dan raganya denganku agar tidak ada yang bisa memisahkan kami lagi.

"Tidak akan terjadi," ucapnya tegas, namun suaranya sedikit bergetar. "Kita tidak akan membiarkan takdir yang kejam itu memutuskan segalanya. Kita berjuang untuk hidup kita sendiri, bukan untuk mati demi memenuhi aturan yang tidak masuk akal."

Malam itu kami pulang dalam keheningan yang berat. Meski Paman Haris sudah berada di tangan pihak berwajib, meski nama baik keluarga kami sudah mulai bisa diperbaiki, beban di pundak kami terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Kami tidak lagi berperang melawan manusia yang berniat jahat, melainkan melawan hukum alam yang tak terlihat dan tak bisa dibujuk rayu.

Keesokan harinya, berita tentang penangkapan dalang utama kejahatan korporasi dan persekongkolan lama itu menyebar luas di seluruh media. Paman Dika mengakui semua kesalahannya dan memberikan kesaksian lengkap tentang bagaimana Paman Haris memanfaatkannya sejak awal. Rian yang kini kondisinya sudah mulai stabil juga memberikan keterangan yang memperkuat semuanya. Orang tua aku dan Erlan akhirnya bisa bernapas lega mengetahui bahwa kebenaran akhirnya terungkap ke permukaan. Namun di antara kegembiraan dan kelegaan orang-orang di sekitar kami, hanya kami bertiga yang tahu tentang ancaman tersembunyi yang menggantung di atas kepala kami.

Siang harinya, aku kembali ke rumah tua di atas bukit sendirian. Aku ingin membaca kembali buku-buku harian itu dengan tenang, berharap ada petunjuk lain yang terlewatkan tentang cara membatalkan "hukuman" yang seharusnya kami terima. Saat aku sedang membalik halaman demi halaman dengan teliti, sebuah catatan kecil yang terselip di antara halaman terakhir buku harian kakek Erlan menarik perhatianku. Tulisan itu ditujukan khusus untuk "Pasangan Penjaga Keseimbangan yang Akan Datang".

"Jika kalian membaca ini, berarti kalian telah membuktikan bahwa hati kalian lebih kuat daripada ambisi. Keseimbangan yang diminta bukanlah selalu berarti kematian fisik. Apa yang diminta adalah pengorbanan atas apa yang paling kalian hargai dan anggap sebagai jantung dari kehidupan kalian. Hanya dengan melepaskan 'hak istimewa' yang kalian miliki, keseimbangan itu akan pulih kembali. Namun berhati-hatilah: melepaskan hal itu mungkin terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan nyawa itu sendiri."

Aku duduk tertegun di bangku kayu tua itu. Apa yang dimaksud dengan "hak istimewa yang paling berharga"? Apakah kemampuan kami mengingat masa lalu? Apakah ingatan tentang semua kasih sayang dan penderitaan itu? Atau apakah hubungan yang baru saja terjalin di antara kami? Aku tidak bisa menemukan jawabannya dari tulisan itu saja.

Saat aku hendak pulang, aku melihat Erlan berdiri di ambang pintu, menungguku diam-diam sejak tadi. Wajahnya terlihat lelah namun matanya tetap menatapku penuh keputusan yang tak tergoyahkan. Dia berjalan mendekat dan menyerahkan selembar kertas yang sudah ditandatangani dengan tinta hitam pekat. Itu adalah salinan surat wasiat dan pernyataan pelepasan hak atas seluruh aset serta kekuasaan yang ia miliki di perusahaan dan keluarga.

"Kemarin malam aku berpikir panjang," ucapnya lembut namun tegas. "Hal yang paling berharga bagiku bukanlah harta, kekuasaan, atau bahkan ingatan tentang masa lalu. Yang paling berharga bagiku adalah keberadaanmu di sisiku. Dan jika harus memilih antara hidup bersamamu dengan tangan kosong, atau mempertahankan segalanya namun harus kehilanganmu... aku tidak akan ragu sedetik pun."

Air mata perlahan mengalir di pipiku. Aku menyadari bahwa Erlan telah salah mengerti makna tulisan itu. Dia mengira bayarannya adalah melepaskan segala kemewahan dan kekuasaannya. Namun naluriku mengatakan bahwa pengorbanan yang diminta jauh lebih dalam daripada sekadar harta benda. Dan ketakutan terbesarku adalah: jika aku harus memilih, apakah aku sanggup melepaskan satu-satunya hal yang membuat hidupku terasa berarti, perasaan cinta dan kebersamaan yang baru saja kami temukan kembali?

Malam itu, saat kami sedang duduk bersama di balkon rumahnya yang kini terasa damai namun penuh tekanan, ponselku berkedip menampilkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Pesan itu tidak berisi ancaman, melainkan sebuah peringatan yang membuat bulu kudukku meremang:

"Kalian berpikir keadilan semudah menandatangani kertas atau membuka kebenaran? Ingatlah, kalian mengambil kesempatan hidup dari tangan kematian. Sekarang, kematian datang menagih janji bukan dengan pedang, melainkan dengan pilihan yang akan menghancurkan hati kalian berdua selamanya. Pilihlah dengan bijak: Masa lalu yang abadi atau masa depan yang mungkin terjadi."

Erlan melihat pesan itu, dan kali ini dia tidak lagi berusaha terlihat kuat. Dia menarikku ke dalam pelukannya erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku seolah mencari kekuatan yang dia butuhkan. "Apa pun pilihan yang harus kita ambil, Dian... janjilah padaku kita akan menghadapinya bersama. Jangan pernah berpikir untuk menyelesaikannya sendirian demi melindungiku. Karena jika aku harus hidup di dunia ini tanpamu, maka itu sama saja dengan kematian yang paling lambat dan menyakitkan bagiku."

Aku mengangguk perlahan, namun di dalam hatiku badai kekhawatiran sedang berkecamuk hebat. Pesan itu bukan berasal dari manusia, dan bukan pula dari kekuatan kuno itu sendirian. Ada sesuatu yang masih mengawasi kami, sesuatu yang ingin melihat kami hancur bukan oleh kekuatan fisik, melainkan oleh keputusan yang kami buat dengan hati kami sendiri. Dan aku mulai menyadari satu hal yang mengerikan: mungkin benar, kami telah memenangkan perang melawan kejahatan manusia, namun perang terberat kami baru saja dimulai, perang melawan rasa takut kehilangan satu sama lain, dan pertarungan untuk tidak membiarkan rasa cinta kami menjadi alasan kehancuran itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!