Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.
Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin
Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.
Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya
Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Sudah Di Mulai
** Tiga hari kemudian **
Pukul 06.15 pagi.
Pesawat yang membawa Fisya akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional, setelah menempuh perjalanan panjang dari Swiss.
Begitu pintu pesawat dibuka, Fisya menarik napas dalam.
Tiga hari di Swiss membuat hatinya sedikit lebih tenang karena Tina kini berada di tempat yang aman bersama Tante Isabel dan Bik Lili.
Namun ketenangan itu hanya bertahan sesaat, begitu kembali menginjakkan kaki di Indonesia, pikirannya kembali dipenuhi satu tujuan.
Menghancurkan Jason dan Kasandra dengan cara mereka sendiri
Di ruang kedatangan, Sebastian sudah berdiri menunggu dengan setelan jas hitam.
Begitu melihat Fisya, Sebastian langsung menghampiri.
"Selamat pagi, Bu Fisya."
"Pagi, Sebastian." Ucap Fisya
Sebastian memperhatikan wajah Fisya.
"Ibu terlihat lelah."
Fisya hanya tersenyum tipis.
"Perjalanan jauh memang melelahkan tapi aku tidak punya waktu untuk beristirahat."
Sebastian mengangguk.
"Koper biar saya saja."
Ia mengambil koper Fisya lalu berjalan menuju parkiran.
Tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan bandara.
Beberapa menit perjalanan berlangsung dalam keheningan.
Sebastian akhirnya membuka pembicaraan.
"Sekarang kita ke rumah atau ke kantor, Bu?"
Fisya menoleh ke luar jendela.
"Langsung ke kantor saja"
Sebastian sedikit terkejut.
"Ibu tidak ingin pulang dulu?"
"Tidak. Aku sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan, lagi pula aku ingin melihat bagaimana Jason bekerja selama aku tidak ada." Ucap Fisya
Sebastian hanya diam beberapa saat
"Mungkin setelah sampai kantor, aku akan cerita tentang sikap pak Jason selama bu Fisya tidak ada" batinnya
Lalu ia mengangguk pelan
"Saya mengerti bu"
Selama perjalanan, Sebastian beberapa kali melirik Fisya melalui kaca spion.
Wanita itu tampak tenang bahkan mungkin terlalu tenang.
Justru ketenangan itu membuat Sebastian yakin.
Fisya sedang menahan sesuatu yang besar.
Pukul 08.30 pagi.
Mobil memasuki halaman Alexander Group.
Para karyawan yang melihat kedatangan Fisya langsung berdiri.
"Selamat pagi, Bu Fisya"
"Pagi." balas Fisya dengan senyum tipis.
Ia langsung berjalan menuju ruangannya.
Ruangan itu masih bersih, semua dokumen tersusun rapi.
Sebastian meletakkan koper di sudut ruangan.
"Laporan selama tiga hari sudah saya siapkan."
Fisya duduk di kursinya.
"Bagaimana keadaan perusahaan? Apakah semua berjalan normal."
"Lalu Jason bagaimana?" Tanya Fisya
Sebastian tersenyum tipis.
"Beliau... Datang sesuka hati."
Fisya mengangkat alis.
"Maksudmu?"
"Tiga hari ini Pak Jason tidak pernah datang tepat waktu." Ucap Sebastian
"Kadang pukul sepuluh, kadang sebelas bahkan kemarin beliau baru datang setelah makan siang."
Tatapan Fisya berubah dingin.
"Alasannya?"
"Tidak jelas, beliau hanya mengatakan sedang ada urusan."
Fisya tersenyum tipis.
"Urusan dengan Kasandra."
Sebastian tidak menjawab namun ekspresinya seolah membenarkan dugaan itu.
Fisya membuka map laporan, matanya membaca satu per satu.
Semakin lama... wajahnya semakin dingin.
"Ada beberapa keputusan yang dia ambil tanpa persetujuanku." Ucap Fisya
"Iya bu, saya sengaja tidak mengubahnya karena saya menunggu Ibu kembali." Jawab Sebastian
Fisya mengangguk puas.
"Itu keputusan yang tepat."
Sebastian lalu bertanya pelan.
"Bu."
"Iya?" Jawab Fisya
"Setelah semua yang Ibu ketahui... Langkah Ibu selanjutnya apa?"
Fisya menutup map perlahan, ia menatap keluar jendela dan beberapa detik berlalu tanpa suara.
Akhirnya ia berkata pelan.
"Menunggu."
Sebastian sedikit bingung.
"Menunggu?"
"Iya karena mangsa yang merasa aman, akan melakukan kesalahan lebih banyak."
"Semakin banyak kesalahan mereka dan semakin mudah aku menghancurkan mereka."
Sebastian tersenyum kecil.
"Itu sebabnya Ibu tidak langsung membongkar semuanya?"
Fisya mengangguk.
"Mereka masih berpikir aku tidak tahu apa pun."
"Biarkan mereka tetap berpikir seperti itu, terlalu cepat membuka kartu hanya akan membuat mereka waspada." Lanjut Fisya
Sebastian semakin kagum.
"Dalam tiga hari ini..."
"...Pak Jason beberapa kali bertanya keberadaan Ibu."
Fisya tersenyum tipis.
"Apa jawabanmu?"
"Saya bilang saya tidak tahu." Jawab Sebastian
"Bagus Jawab mu" ucap Fisya
Sebastian mengangguk.
"Tapi beliau sepertinya tidak percaya."
Fisya hanya tersenyum.
"Tidak apa-apa, biarkan dia terus curiga."
Pukul 09.40.
Suara langkah kaki terdengar dari luar.
Tak lama kemudian... pintu ruangan Fisya terbuka.
Jason masuk sambil merapikan jasnya namun langkahnya langsung berhenti.
Di depan matanya...
Fisya sedang duduk santai di kursinya sedangkan Sebastian berdiri di samping meja.
Jason benar-benar tidak menyangka.
"Kamu... Sudah ada dikantor?"
Fisya mengangkat wajah perlahan.
"Kenapa mas terkejut?"
Jawaban singkat itu membuat Jason semakin gelisah.
"Aku tidak terkejut! Kok kamu tidak memberi kabar?"
Fisya menatap Jason beberapa detik.
"Memangnya setiap aku pergi harus melapor?"
Jason langsung tersenyum canggung.
"Bukan begitu sayang"
"Aku hanya khawatir sama kamu dan Tina"
Fisya tersenyum tipis.
"Benarkah?"
"Iya sayang, selama tiga hari ini aku mencari kamu." Jawab Jason
Fisya menatap tajam wajah suaminya.
"Dan benarkah mas mencariku..."
"... Atau mencari sesuatu yang lain?"
Jantung Jason berdetak lebih cepat.
"Maksudmu apa sayang?"
Fisya menggeleng.
"Tidak ada, mungkin mas salah dengar."
Jason mulai merasa tidak nyaman, Fisya benar-benar sudah berbeda tidak lembut seperti dulu lagi sekarang ia terlalu dingin, terlalu sulit ditebak.
Sebastian hanya berdiri diam memperhatikan.
Jason mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Kamu pergi ke mana sih sebenarnya?"
"Ada urusan." Jawab Fisya singkat
"Urusan apa?" Tanya Jason lagi
Fisya menutup laptopnya.
"Urusan pribadi."
Jason mengepalkan tangannya di balik saku celana karena ia tidak menyukai jawaban itu.
"Kenapa kamu juga membawa Tina?"
"Dia anakku sudah seharusnya aku membawanya pergi" ucap Fisya
"Di mana Tina sekarang?" Tanya Jason lagi penuh penekanan
Fisya menjawab tanpa ragu.
"Di tempat yang aman."
Jason mengernyit.
"Tempat aman?"
"Iya, aku hanya ingin dia jauh dari orang-orang yang tidak tulus menyayanginya." Ucap Fisya dengan lantang
Ucapan itu membuat Jason menelan ludah.
Apa Fisya sedang menyindirnya?
Atau...
Itu hanya kebetulan?
Jason mencoba tersenyum.
"Kamu terlalu berlebihan Fisya, semua orang menyayangi Tina."
Fisya menatap lurus ke mata Jason.
"Tidak."
"Tidak semua."
Keheningan kembali memenuhi ruangan dan Jason menatap Sebastian
"Kenapa kamu tidak keluar dari ruangan ini, aku sedang bicara dengan istriku" tegas Jason
"Aku yang menyuruh Sebastian tetap disini karena ia asisten ku" ucap Fisya dengan nada lebih tinggi
Jason terdiam dan menatap Sebastian dengan penuh amarah
"Brengsek kamu Sebastian" batin Jason
Beberapa detik kemudian Fisya berdiri, ia berjalan perlahan mendekati Jason jarak mereka kini sangat dekat.
Jason bisa merasakan tatapan dingin istrinya.
"Mas." Panggil Fisya
"Iya?" Jawab Jason sambil menelan ludah
"Menurutmu apakah semua rahasia bisa disimpan selamanya?" Tanya Fisya
Jason membeku.
"Tentu... Tergantung rahasianya."
Fisya tersenyum tipis.
"Aku juga berpikir begitu, lambat atau cepat..."
"...setiap rahasia pasti menemukan jalannya sendiri kan mas Jason"
Jason memaksa tertawa.
"Kamu aneh hari ini sayang"
"Mungkin tapi aku merasa senang." Ucapnya cepat
Jason mengernyit.
"Senang?"
"Iya karena akhir-akhir ini, aku belajar banyak tentang manusia. Mas" Jawab Fisya
"Ada orang yang terlihat setia padahal pengkhianat, ada juga yang terlihat baik padahal menyimpan racun."
"Dan ada pula... Orang yang terlalu percaya dirinya tidak akan pernah ketahuan."
Ucapan itu membuat wajah Jason perlahan memucat.
Sebastian yang berdiri di belakang hampir tersenyum.
Fisya memang tidak menyebut nama siapa pun namun setiap kalimatnya terasa seperti pisau yang diarahkan tepat ke dada Jason.
Jason berusaha tetap tenang.
"Kalau begitu... Aku kembali ke ruangan dulu."
Fisya mengangguk santai.
"Silakan."
Jason berbalik meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup...
Ia langsung mengusap keringat di dahinya.
"Kenapa, aku merasa Fisya sudah tahu semuanya?"
Di dalam ruangan, Sebastian menoleh kepada Fisya.
"Ibu sengaja memancing beliau?"
Fisya tersenyum tipis.
"Belum, kalau aku benar-benar memancing, dia pasti sudah kehilangan kendali."
Sebastian mengangguk.
"Lalu sekarang?"
Fisya kembali duduk.
"Sekarang... Aku hanya ingin mempermainkan dia sebelum menghancurkan nya"
***
Di sisi lain...
Jason masuk ke ruangannya dengan wajah tegang dan tangannya langsung mengambil ponsel.
Ia segera menghubungi Kasandra.
("Kas! Ada yang tidak beres...")
("Ada apa?") Suara Kasandra terdengar dari seberang.
("Fisya sudah kembali Kas! Dan aku merasa dia berubah") Ucap Jason
Kasandra terdiam beberapa saat.
("Berubah bagaimana?")
Jason menatap kosong ke arah jendela kantornya.
("Aku tidak tahu tapi setiap dia bicara, aku merasa seolah-olah dia sudah mengetahui seluruh rahasia kita.")
Kalimat itu membuat Kasandra ikut membeku.
("Semua rahasia kita maksud mu?")
("Iya Kas!") Jawab Jason
("Apa dia membahas masalah setahun yang lalu? Masalah penukaran bayi? Dan masalah kematian papanya?") Tanya Kasandra penasaran
("Tidak dia tidak membahas itu tapi ucapan nya itu menyimpan rahasia yang ia sudah ketahui") ucap Jason
("Jangan jadi bodoh kamu Jason, Fisya sedang mempermainkan kita, kita harus waspada, jangan sampai kita terpancing") ucap Kasandra
Jason langsung menutup telponnya dan ia masih mencerna semua ucapan Fisya
"Ya Kasandra ada benarnya, mulai sekarang aku harus waspada"