Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Penjara Berselimut Sutra
Hari kedua di Pulau Raja dimulai tanpa Renard.
Itu seharusnya membuat Momo lega. Tidak ada mata amber yang menekan napasnya. Tidak ada suara rendah yang menjadikan tubuhnya milik seseorang hanya dengan satu kalimat. Tidak ada cincin ular yang berkilau di depannya seperti tanda bahaya.
Namun ketidakhadiran Renard justru membuat pulau itu terasa lebih luas dan lebih mengancam.
Pagi itu Albert mengetuk pintu kamar tepat pukul tujuh. Ia masuk setelah Momo menjawab, membawa nampan sarapan dan sepasang sandal datar. Wajahnya tetap kaku, tetapi kali ini ia menaruh nampan di meja tanpa mendekat terlalu jauh.
"Nona harus makan sebelum berjalan-jalan," katanya.
Momo menatapnya curiga. "Berjalan-jalan?"
"Tuan mengizinkan Nona melihat area utama."
"Mengizinkan," ulang Momo pelan. Kata itu membuat lidahnya pahit. "Jadi aku harus berterima kasih?"
Albert tidak menjawab sindirannya. "Nona juga tidak boleh melewati garis penjagaan."
"Kalau aku melewati?"
"Saya akan menghentikan Nona."
"Dengan sopan?"
"Jika memungkinkan."
Momo menatap pria itu lama. Albert tidak seperti Renard. Ia tidak memancarkan kegilaan dingin yang membuat kulit merinding. Tetapi justru karena wajahnya terlalu tenang, Momo tahu pria ini berbahaya dengan cara lain. Ia tipe orang yang akan meminta maaf sambil tetap mengunci pintu.
Momo makan sedikit, bukan karena menuruti perintah, melainkan karena ia butuh tenaga. Setelah itu ia membiarkan Albert membawanya keluar dari kamar.
Pulau Raja ternyata lebih besar dari yang terlihat dari jendela.
Bangunan utama berdiri seperti istana modern di punggung pulau. Dinding putih, jendela tinggi, balkon-balkon tertutup kaca, dan koridor panjang yang selalu bersih. Di lantai bawah ada ruang makan, ruang musik, ruang kerja yang pintunya dikunci, serta aula kecil dengan lukisan-lukisan laut. Semua indah. Semua mahal. Semua tidak memberi jalan keluar.
Momo berjalan sambil menghitung.
Dua pengawal di koridor timur.
Satu kamera di sudut langit-langit.
Tiga pintu menuju taman, semuanya memakai kunci elektronik.
Albert memperhatikannya, tentu saja. "Nona suka menghitung?"
"Aku suka tahu jumlah orang yang menghalangi jalanku."
"Jumlahnya berubah tiap jam."
"Terima kasih sudah memberi tahu."
"Itu bukan informasi yang membantu Nona kabur."
Momo menahan geram. "Kamu yakin?"
Albert menoleh sekilas. "Sangat yakin."
Di luar, udara pagi terasa lembap dan asin. Taman Pulau Raja dipenuhi tanaman yang dipangkas rapi, kolam dangkal, dan jalan batu yang mengarah ke beberapa sisi pulau. Dari tempat tinggi, Momo bisa melihat laut mengepung mereka seperti cincin raksasa.
Tiga sisi pulau berupa pantai.
Indah, dangkal di dekat tepi, tetapi setelah beberapa meter warnanya berubah gelap. Momo tahu arus seperti itu tidak ramah. Sisi utara lebih buruk. Tebing curam berdiri seperti tembok batu, disiram ombak dari bawah. Tidak ada tangga. Tidak ada jalan setapak yang jelas.
Di sisi timur ada dermaga.
Momo berhenti.
Di sana, sebuah speedboat putih tertambat. Dua pengawal berdiri di dekatnya. Salah satu memegang radio, yang lain menatap laut. Di pos kecil dekat dermaga, Momo melihat kotak kunci elektronik.
Albert berhenti satu langkah di belakangnya. "Dermaga terlarang."
"Aku belum bergerak."
"Nona baru memikirkannya."
Momo menggigit bibir. "Kamu bisa baca pikiran?"
"Tidak. Tapi semua orang yang ingin kabur akan menatap dermaga dengan cara yang sama."
"Berapa jauh ke daratan?"
"Terlalu jauh untuk berenang."
"Aku tidak bertanya apakah bisa berenang."
"Jawaban saya tetap sama."
Momo mengepalkan tangan. Di atas bangunan utama, ia melihat helipad. Tidak ada helikopter saat itu, tetapi tanda lingkaran putih di atap cukup untuk menunjukkan jalan keluar lain. Jalan keluar yang juga pasti dijaga.
Ia menyimpan semuanya di kepala.
Pantai tiga sisi. Tebing utara. Dermaga timur. Helipad di atap. Kamera di koridor. Kunci elektronik. Jadwal pengawal berubah tiap jam.
Penjara, pikir Momo.
Penjara yang memakai sutra, marmer, dan pemandangan laut sebagai selimut.
Menjelang siang, rasa perih di lengan kirinya kembali mengganggu. Bekas suntikan itu memerah karena semalam ia menggaruknya tanpa sadar. Momo menyembunyikan lengan di balik tubuh, tetapi Albert melihat.
"Nona, tunggu sebentar."
Ia memberi isyarat kepada seorang pelayan. Tidak sampai lima menit, pelayan itu datang membawa kotak kecil berwarna biru pucat.
Albert menyerahkannya kepada Momo. "Salep Mawar Biru."
Momo tidak menerimanya. "Apa lagi ini?"
"Untuk bekas suntikan."
"Dari kamu?"
"Tuan menyuruh saya memberikan ini."
Nama Renard tidak disebut, tetapi bayangannya langsung masuk ke kepala Momo. Pria itu tahu lengannya sakit. Tentu saja tahu. Di pulau ini mungkin tidak ada sudut yang luput dari matanya.
Momo menatap bekas suntikan di lengannya. Tiba-tiba ia teringat ibu jari Renard di bawah bibirnya, tangan besar yang menahan pergelangannya, suara rendah yang berkata ia miliknya. Salep ini bukan kebaikan polos. Ini cara lain pria itu menyentuhnya tanpa hadir, meninggalkan sesuatu di kulitnya lalu memaksa tubuhnya merasa lebih baik.
Rasa marahnya naik, tetapi lengan kirinya tetap berdenyut meminta pertolongan.
"Aku tidak mau."
Albert menaruh kotak itu di bangku taman. "Kalau begitu saya letakkan di sini."
"Kamu tidak akan memaksa?"
"Perintahnya memberi, bukan mengoleskan."
Momo menatap kotak itu seolah benda kecil tersebut bisa menggigit. Tutupnya berkilau lembut, ada lambang mawar biru di atasnya. Terlalu cantik untuk obat luka. Terlalu lembut untuk sesuatu yang datang dari pria seperti Renard.
Ia tetap tidak mengambilnya.
Namun saat sore turun dan kulit lengannya makin panas, Momo akhirnya membuka kotak itu. Salep di dalamnya berwarna biru bening, hampir seperti gel. Baunya ringan, seperti bunga setelah hujan. Ia mengoles sedikit. Rasa dingin menyebar perlahan, menenangkan perih yang sejak pagi mengganggu.
Momo membenci fakta bahwa salep itu bekerja.
Senja datang dengan warna jingga di permukaan laut.
Albert memberi jarak beberapa meter ketika Momo duduk di bangku batu dekat pantai selatan. Untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia bisa mendengar suara dunia tanpa dinding di sekelilingnya. Ombak. Daun palem. Burung laut. Tetapi kebebasan itu palsu. Di belakangnya ada pengawal. Di depannya ada laut yang terlalu luas.
Momo menatap Gelang Sakura di pergelangan tangannya. Setengah. Terkunci. Cantik dan kejam.
"Ama," bisiknya, sangat pelan. "Tunggu aku."
Saat itulah ia mendengar suara statis.
Krrk.
Momo menoleh.
Di ujung bangku, sedikit tertutup lipatan jaket hitam milik salah satu pengawal, ada walkie-talkie. Mungkin tertinggal. Mungkin sengaja diletakkan. Layarnya menyala redup.
Krrk.
Lalu suara pria terdengar.
Bukan Renard. Bukan Albert.
Suaranya tenang, agak parau, seperti seseorang yang berbicara sambil tersenyum tipis.
"Target dalam kondisi stabil. Lanjutkan pemantauan."
Tubuh Momo menegang.
Target?
Ia menatap benda itu, lalu perlahan meraihnya. Jari-jarinya hampir menyentuh tombol ketika suara itu muncul lagi, lebih rendah.
"Jangan sampai dia tahu jalur utara."
Jantung Momo jatuh.
"Siapa kamu?" bisiknya, meski ia tahu pria itu mungkin tidak mendengar.
Walkie-talkie mendesis.
Di belakangnya, langkah Albert mendekat cepat.
Momo menggenggam benda itu lebih erat, mata terpaku pada layar kecil yang berkedip.
Jika Renard adalah orang yang mengurungnya, lalu siapa pria yang memantau dari balik suara ini?