NovelToon NovelToon
ONE PIECE : RETAKAN TAKDIR

ONE PIECE : RETAKAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Grand Line menyambut Ryden dan Elira dengan keanehan yang langsung terasa sejak hari pertama mereka memasuki wilayah lautan legendaris itu.

Kompas biasa yang selama ini mereka andalkan kini berputar tak menentu, memaksa Ryden mengandalkan insting dan sedikit pengetahuan navigasi khusus Grand Line yang pernah ia pelajari dari catatan-catatan lama yang ia kumpulkan selama enam tahun terakhir.

"Kenapa kompasnya berputar-putar seperti itu?" tanya Elira bingung, mengamati jarum kompas yang bergerak liar tanpa arah pasti.

"Grand Line punya medan magnet yang berbeda," jelas Ryden sambil memeriksa peta kasar yang mereka miliki. "Kita butuh Log Pose, bukan kompas biasa, untuk bernavigasi di sini. Sayangnya, kita belum punya satu pun."

Tanpa Log Pose yang seharusnya menjadi alat navigasi utama, mereka terpaksa mengandalkan arah angin dan insting semata, membawa kapal mereka secara acak menuju sebuah pulau yang tampak di kejauhan—pulau kecil dengan pemandangan yang aneh, bagian utara pulau tertutup salju tebal sementara bagian selatannya justru dipenuhi pasir gurun yang terik.

"Bagaimana bisa satu pulau punya dua musim ekstrem sekaligus?" Elira terheran-heran menyaksikan pemandangan yang mustahil secara logika normal itu.

"Selamat datang di Grand Line," Ryden tersenyum tipis, mengingat betul keanehan semacam ini memang menjadi ciri khas lautan legendaris ini—sesuatu yang sudah ia baca dan dengar sejak lama, namun tetap terasa menakjubkan menyaksikannya secara langsung.

Mereka merapat di sisi selatan pulau yang lebih hangat, mencari informasi dan perbekalan tambahan di sebuah desa kecil yang tampak damai. Namun ketenangan itu ternyata hanya ilusi sesaat—begitu mereka menginjakkan kaki di dermaga, seorang penduduk lokal langsung berlari mendekat dengan wajah panik.

"Kalian harus segera pergi!" serunya terengah-engah. "Bajak laut Kapten Rennard baru saja mendarat di sisi utara pulau kemarin, mencari 'harta karun leluhur' yang katanya tersembunyi di gua es. Mereka sudah menyandera beberapa penduduk desa kami sebagai pekerja paksa!"

Ryden dan Elira saling bertukar pandang. Nama Kapten Rennard sama sekali tidak familier bagi Ryden—konfirmasi lain bahwa dunia ini terus menyimpang jauh dari ingatan aslinya tentang kisah One Piece.

"Berapa banyak penduduk yang disandera?" tanya Ryden serius, insting lamanya untuk membantu yang tertindas kembali muncul meski ia berusaha menahan diri dari terlalu banyak campur tangan.

"Sekitar lima belas orang, termasuk anak-anak," jawab penduduk itu, air mata mulai menggenang di matanya. "Kami sudah mengirim permintaan bantuan ke pos Angkatan Laut terdekat, tapi mereka bilang butuh waktu beberapa hari untuk sampai ke sini."

Ryden menghela napas, menatap ke arah utara pulau yang tertutup salju tebal. Beberapa hari lalu, ia mungkin akan memilih untuk tidak terlibat, mempertahankan prinsipnya untuk tidak terlalu jauh mencampuri urusan yang bukan bagian dari perjalanannya. Namun sesuatu telah berubah dalam dirinya sejak bertemu Elira—sebuah kesadaran baru bahwa terkadang, menjadi kuat berarti juga bertanggung jawab untuk melindungi mereka yang lemah.

"Tunjukkan jalan menuju gua es itu," ucap Ryden akhirnya, tekad terpancar jelas di matanya yang merah menyala.

"Ryden, kau yakin?" Elira menatapnya khawatir, mengingat betul kondisi stamina Ryden yang belum sepenuhnya pulih sejak pertarungan berat beruntun sebelumnya.

"Lima belas nyawa tidak bisa menunggu bantuan Angkatan Laut selama berhari-hari," jawab Ryden tegas, mengecek Sistemnya sekilas—stamina sudah kembali penuh setelah perjalanan panjang menuju Grand Line, memberinya sedikit kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan baru ini. "Aku akan membantu mereka."

Elira mengangguk mantap, tekad yang sama juga terpancar di matanya. "Kalau begitu, aku ikut. Mungkin aku tidak bisa bertarung, tapi aku bisa membantu mengurus para sandera begitu mereka bebas."

Dengan bantuan penunjuk arah dari penduduk desa, mereka berdua bergegas menuju sisi utara pulau, menembus perbatasan cuaca ekstrem yang memisahkan gurun panas dan salju abadi—sebuah perjalanan singkat namun menegangkan menuju konfrontasi baru yang menanti di depan, dengan taruhan nyawa lima belas penduduk tak berdosa yang bergantung pada kekuatan Sang Peretak Ruang.

1
MALES NGETIK 3
mantap
Kasma Wati
lanjut👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!