NovelToon NovelToon
Skandal Di Balik Layar

Skandal Di Balik Layar

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Duda / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di Balik Meja Jati

Pukul sembilan tepat. Pintu ganda kayu mahoni berderit terbuka.

Langkah kaki Elsa bergema tipis. Pagi ini, Sang Dewi menanggalkan segala atribut mewahnya. Ia hanya mengenakan kemeja sutra putih longgar dan celana kulot senada. Tanpa gaun megah, keanggunannya justru terasa lebih murni, hampir mengintimidasi udara di dalam ruangan.

"Selamat pagi, semuanya," sapa Elsa. Suaranya lembut, terlatih untuk menenangkan ruangan.

Ajo berdiri perlahan. "Selamat pagi, Nona Elsa. Silakan duduk."

Saat Elsa menyeberangi ruangan dan mengambil tempat tepat di seberang Ajo, tatapan mereka berbenturan. Tidak ada kata-kata manis. Tidak ada senyum formalitas dari Ajo. Hanya ada sepasang mata tajam yang seolah sedang menguliti setiap detail kepalsuan di wajah Elsa. Di sisi lain, Elsa merasakan desiran aneh di dadanya; Ajo tidak menatapnya seperti pria lain yang memandangnya sebagai objek keindahan. Pria ini menatapnya seolah Elsa adalah sebuah teka-teki yang merepotkan.

Sesi reading berlangsung menegangkan. Ajo mengawasi setiap kata yang keluar dari bibir para pemain seperti seorang elang. Hingga pada halaman empat puluh lima, Ajo mengetukkan pena besi ke meja. Klak. Suaranya memotong dialog Elsa.

"Berhenti," potong Ajo kaku.

Ruangan mendadak seperti kehabisan oksigen. Para staf holding breath, tak percaya ada yang berani menginterupsi Elsa.

"Karaktermu di sini baru saja kehilangan segalanya, Elsa," ujar Ajo, suaranya berat dan bergetar rendah. "Tapi yang saya dengar barusan hanyalah nada sedih yang manja. Anda terdengar seperti wanita kaya yang menangisi gaunnya yang kotor, bukan seorang manusia yang harga dirinya baru saja dihancurkan hingga lumat."

Otot-otot di rahang Elsa mengetat. Darahnya mendadak mendidih—bukan karena amarah, melainkan karena kejut tajam di dadanya. Selama bertahun-tahun, sutradara selalu memujinya, mengiyakan apa pun yang ia lakukan asal wajah cantiknya tersenyum di kamera. Namun pria di depannya ini baru saja menelanjangi aktingnya tanpa ampun.

Alih-alih mundur, Elsa memajukan tubuhnya, menatap Ajo tanpa berkedip. "Anda ingin melihat harga diri yang hancur, Pak Ajo?" bisiknya, namun suaranya menjangkau setiap sudut ruangan.

Elsa menarik napas panjang. Matanya yang tadinya dingin mendadak tergenang oleh emosi yang pekat. Saat ia mengulang dialognya, suaranya tidak lagi terdengar merdu; ada getaran retak di sana, sebuah teriakan keputusasaan yang begitu kelam dan intim, hingga beberapa staf di belakang ruangan menggidikkan bahu.

Ajo terpaku. Pembuluh darah di jemarinya menegang saat memegang pena. Ia bisa merasakan emosi itu—itu bukan sekadar teknik akting. Elsa sedang merobek topengnya sendiri di depan semua orang dan melemparkan lukanya tepat ke muka Ajo.

Ketika sesi berakhir dan ruangan perlahan kosong, keheningan kembali merayap masuk, menyisakan bau kopi yang mendingin dan helai-helai naskah yang berserakan.

Elsa tidak segera pergi. Ia sengaja merapikan lembar demi lembar naskahnya dengan gerakan lambat, hingga hanya tersisa langkah kakinya yang mendekati meja Ajo.

"Anda sangat menyenangkan untuk diajak bekerja sama, Pak Ajo," ucap Elsa tipis. Ada nada sarkasme yang halus, namun matanya menatap Ajo tanpa benci.

Ajo menyandarkan punggungnya ke kursi leather, menatap Elsa yang kini berdiri hanya dibatasi oleh meja jati besar di antara mereka. "Saya tidak dibayar untuk menyenangkan orang, Nona Elsa. Saya di sini untuk memastikan film ini jujur."

"Jujur?" Elsa terkekeh pelan—sebuah tawa kecil yang terdengar getir. "Di industri di mana semua orang dibayar untuk berbohong, Anda mencari kejujuran?"

"Terutama dari seseorang yang lupa cara menjadi manusia karena terlalu sibuk menjadi 'Dewi'," balas Ajo pelan, namun kata-katanya menghantam tepat di dada Elsa.

Bukannya marah, Elsa justru tersenyum. Senyum kali ini amat berbeda dari senyumnya di depan puluhan kamera semalam. Senyum ini rapuh, letih, dan nyata.

"Kalau begitu, Pak Ajo..." Elsa menunduk sedikit, menyejajarkan pandangannya dengan Ajo, hingga Ajo bisa mencium samar aroma parfum melati dan kayu cendana dari tubuh wanita itu. "...semoga Anda siap dengan apa yang akan Anda temukan jika topeng ini benar-benar terlepas."

Jarak di antara mereka rapat. Udara di dalam ruangan terasa berat, sarat oleh ketegangan emosional dari dua jiwa kesepian yang baru saja saling menyadari rahasia tergelap masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!