Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perfect Shot!
"Satu, dua, tiga... aksi!"
Suara megafon sutradara menggelegar di area pasar malam buatan itu. Di tengah sorotan lampu syuting yang menyengat, seorang aktris cantik bergaun merah berlari sambil menangis, lalu pura-pura tersandung.
Di belakangnya, Alina Savina, memakai wig murah acak-acakan dan kostum badut separuh badan harus berakting terkejut, menjatuhkan gulali di tangannya, lalu ikut tersungkur demi menambah efek dramatis kekacauan di latar belakang.
Bruk!
Alina mendarat dengan lutut telanjang di atas paving blok yang kasar. Rasa perih langsung menusuk kulitnya, tapi dia tidak berani meringis. Dia tetap tiarap, menahan napas sampai terdengar teriakan yang paling ditunggunya malam ini.
"Oke, cut! Bagus, bungkus untuk adegan ini!" ucap sang sutradara.
Begitu kru mulai bubar untuk memindahkan kamera, Alina perlahan bangkit. Lututnya gemetar, meninggalkan bekas merah keunguan dan sedikit berdarah. Dia mengabaikan rasa sakit itu, buru-buru melepas kepala badut yang pengap dan menyeka keringat yang membanjiri wajahnya. Fokusnya hanya satu yaitu tenda koordinator figuran.
"Mbak Amel, permisi... uang honor saya untuk hari ini bisa diambil sekarang?" tanya Alina, napasnya masih memburu saat menghampiri meja koordinator.
Perempuan paruh baya bernama Amel itu mendongak, lalu menghela napas panjang sambil membolak-balik catatan di tabletnya.
"Alina, kan? Kamu baru main dua scene hari ini. Peraturannya kan kolektif, cair seminggu sekali dari agensi pusat." ucap Mbak Amel.
Wajah Alina seketika pias. Dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon dengan sangat.
"Saya mohon banget, Mbak. Adik saya... malam ini harus tebus obat jantungnya. Kalau telat sehari aja, dia bisa sesak napas parah. Tolong kebijakan dari Mbak Amel, potong administrasi juga enggak apa-apa, Mbak." mohon Alina.
Melihat gurat kelelahan yang teramat sangat di wajah Alina yaitu lingkaran hitam di bawah mata dan bibir yang pucat, Mbak Amel akhirnya mendengus pelan. Dia membuka dompetnya, menarik selembar uang seratus ribuan dan dua lembar dua puluh ribuan.
"Nih, seratus empat puluh ribu. Udah saya potong ya. Jangan bilang-bilang figuran yang lain, bisa protes mereka."
"Terima kasih banyak, Mbak! Terima kasih!" Alina membungkuk berkali-kali, menerima uang lecek itu seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di dunia.
Tanpa membuang waktu untuk mengganti baju badutnya yang gerah, Alina langsung menyambar tas ransel usangnya. Di dalam sana sudah ada jaket ojek online yang siap dia kenakan.
Ya, setelah jam syuting figuran selesai, malamnya Alina berganti profesi menjadi pengantar makanan demi menutup kekurangan biaya hidup mereka.
Dia berlari menuju motor bebek tua miliknya yang terparkir di pojok area studio. Setelah menghidupkan aplikasi di ponselnya yang layarnya sudah retak seribu, Alina langsung memakai jaket hijau tersebut di atas kaos oblongnya. Beruntung, sebuah pesanan makanan instan masuk. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempat Agra sering dirawat.
"Oke, satu rute lagi habis itu langsung ke apotek." gumam Alina pada dirinya sendiri, mencoba menyuntikkan semangat ke dalam tubuhnya yang sudah menjerit minta istirahat.
Jalanan ibu kota menjelang tengah malam mulai lengang, namun sisa-sisa hujan sore tadi membuat aspal menjadi basah dan licin. Pikiran Alina melayang pada Agra, adiknya yang baru berusia lima belas tahun.
Sejak orang tua mereka meninggal akibat kecelakaan tiga tahun lalu, Agra adalah satu-satunya alasan Alina tetap bertahan hidup. Namun, takdir begitu kejam. Agra didiagnosis menderita penyakit jantung bawaan yang kian hari kian menggerogoti tubuh kurusnya.
Biaya rawat jalan, obat-obatan khusus yang tidak dicover penuh, belum lagi biaya sewa kontrakan sepetak mereka, semuanya menumpuk di pundak sempit Alina yang baru berusia dua puluh dua tahun.
"Alina, kamu harus kuat. Sedikit lagi," bisiknya di balik helm.
Dia menghentikan motornya di depan restoran cepat saji, mengambil pesanan berupa paket burger dan kopi besar, lalu memasukkannya ke dalam tas wadah di bagian belakang motor. Tujuan pengantaran yaitu sebuah kawasan apartemen mewah di pusat kota.
Sesampainya di lobi apartemen yang berkilau mewah, Alina sempat merasa minder dengan pakaiannya yang agak kotor terkena debu lokasi syuting tadi. Dia menitipkan kartu identitasnya di pos satpam, lalu naik ke lantai dua puluh satu menggunakan lift khusus karyawan.
Ting.
Alina melangkah keluar, menyusuri koridor berkarpet tebal yang senyap. Dia menemukan pintu nomor 2108. Dia mengetuk pintu kayu ek tebal itu dengan sopan.
"Permisi, pengantar makanan." panggil Alina.
Pintu terbuka beberapa detik kemudian. Seorang pria muda dengan pakaian kasual namun bermerek mahal muncul. Dia tampak terburu-buru.
"Ah, ini uang pasnya, ya. Ambil aja kembaliannya," kata pria itu sambil menyodorkan selembar uang seratus ribuan, lalu menyambar kantong makanan dari tangan Alina. Sebelum Alina sempat mengucapkan terima kasih, pintu sudah ditutup kembali dengan rapat.
Alina menatap lembaran uang di tangannya. Ongkos kirimnya hanya dua puluh ribu, berarti dia mendapat tip ekstra. Lengkungan senyum tipis akhirnya terukir di wajah lelahnya.
"Lumayan bisa buat tambahan beli susu tinggi kalori buat Agra." ujar gadis itu.
Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 11.45 malam. Alina bergegas turun ke parkiran bawah tanah lewat lift barang.
Tubuhnya sudah sangat lelah, pandangannya bahkan beberapa kali sempat mengabur karena kurang tidur selama tiga hari terakhir. Dia hanya tidur dua sampai tiga jam sehari di sela-sela mengantri giliran syuting dan menyusuri jalanan kota.
...****************...
Di sisi lain Lampu-lampu sorot berdaya ribuan watt yang menggantung di langit-langit studio terpadu Alexander Media menyala serentak, menciptakan ilusi siang hari yang sempurna di dalam ruangan kedap suara tersebut.
Di tengah-tengah set dekorasi yang dirancang menyerupai ruang kerja seorang bangsawan Eropa abad ke-19, berdiri Leon Gennadi Alexander.
Dia sedang tidak menjadi dirinya sendiri. Saat kamera berukuran raksasa itu bergerak mendekat tanpa suara, Leon adalah Duke Nicholas, seorang penguasa tiran yang patah hati.
Tatapan matanya yang tajam mengunci lawan mainnya yaitu seorang aktris papan atas peraih penghargaan internasional dengan intensitas yang begitu kuat hingga atmosfer di dalam studio terasa mencekam.
"Jika dunia ini melarangku memilikimu," ucap Leon, suaranya rendah, serak, namun bergetar oleh emosi yang tertahan dengan sangat presisi.
"Maka aku akan menghancurkan dunia ini, beserta seluruh aturan konyol di dalamnya."
Satu detik. Dua detik. Air mata tunggal jatuh melewati rahang tegas Leon yang tercukur rapi.
"Oke, cut! Sempurna! Perfect shot!" teriakan sutradara memecah keheningan yang sempat menyelimuti seluruh kru yang menahan napas sejak tadi. Tepuk tangan riuh langsung membahana di seluruh penjuru studio.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
kuraanggg terus
kelamaan nunggu bsok thor😭😭😭😭
apa lagi perasaan wanita yg lemah lembut kaya lelembut wehhh melot duluan
gak sabar nunggu leon bucin akut 🤣🤣🤣