Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan Salim
Tiga hari berlalu tanpa kabar dari Salim, dan setiap hari yang lewat terasa semakin berat bagi kami semua—bukan cuma karena ketidakpastian soal keputusannya, tapi karena rasa was-was yang mulai menyelinap diam-diam ke dalam setiap pertemuan kami, sesuatu yang belum pernah kami rasakan sebelumnya di antara sesama anggota inti.
Aku mencoba tidak menekannya, meski Yanto beberapa kali menyarankan agar kami "jaga jarak dulu" dari Salim sampai keadaan lebih jelas—saran yang kutolak, karena aku tahu, memperlakukan Salim seperti tersangka sebelum ia benar-benar berbuat sesuatu hanya akan mempercepat keretakan yang justru ingin dihindari.
Pada hari keempat, Salim sendiri yang datang mencariku, wajahnya masih menyisakan lelah, tapi matanya kali ini terlihat lebih mantap dari sebelumnya.
"Aku udah mikir masak-masak, Rangga," katanya, duduk di depanku di gudang kosong yang biasa jadi tempat kami berkumpul. "Aku mau ngomong ini di depan semua orang, bukan cuma ke kamu."
---
Malam itu, kami berkumpul lebih lengkap dari biasanya—Yanto, Ujang, Sari yang baru datang dari kampung nelayan, bahkan beberapa perwakilan dari kawasan lain yang kebetulan sedang berada di Karang Wetan. Salim berdiri di tengah mereka, tubuhnya yang biasanya tegap kini terlihat sedikit lebih kecil, seperti seseorang yang bersiap menanggung beban berat dari kata-kata yang akan diucapkannya.
"Aku mau jujur sama kalian semua," katanya, suaranya sedikit bergetar di awal. "Minggu lalu, orang-orangnya Bupati dateng ke aku, nawarin uang gede buat aku mundur, atau kasih info soal kita. Aku sempet kepikiran nerima, karena aku capek, karena aku takut buat keluarga aku sendiri."
Ruangan itu hening, semua mata tertuju padanya, sebagian dengan raut terkejut, sebagian lagi—terutama yang sudah tahu lewat aku—menunggu dengan tegang.
"Tapi aku nggak nerima," lanjut Salim, suaranya mulai lebih mantap. "Bukan karena aku nggak takut. Aku masih takut. Tapi aku sadar, kalau aku nerima tawaran itu, aku bakal ngkhianatin bukan cuma kalian, tapi juga diri aku sendiri, dan semua alasan kenapa aku mau gabung sama Lentera dari awal."
---
Ia menatap satu per satu wajah di sekelilingnya, sebelum melanjutkan. "Aku minta maaf, karena aku sempet mikirin itu diam-diam, bukannya langsung cerita ke kalian. Tapi aku janji, mulai sekarang, aku nggak akan nyimpen apa-apa lagi sendirian. Kalau aku takut, aku bakal bilang aku takut. Kalau aku capek, aku bakal bilang aku capek. Karena aku sadar, itu yang bikin Lentera beda dari mereka—kita nggak biarin orang tenggelam sendirian sama ketakutannya."
Hening sesaat sebelum Ujang, yang biasanya paling santai di antara mereka, berdiri dan memeluk Salim singkat, tanpa banyak kata—gestur yang jarang ia lakukan, tapi terasa lebih bermakna daripada kalimat panjang apa pun.
"Kita semua pernah takut, Bang," kata Ujang, melepaskan pelukannya. "Yang penting kita nggak takut sendirian."
Yanto, yang sebelumnya paling waspada terhadap Salim, akhirnya melangkah maju dan menepuk pundaknya. "Makasih udah jujur. Itu lebih berat daripada kelihatannya."
---
Malam itu, aku berdiri di tengah mereka semua, merasakan sesuatu yang jauh lebih kuat daripada sekadar lega—rasa bahwa kepercayaan yang sempat retak justru menjadi lebih kokoh setelah diuji dan dihadapi secara terbuka, bukan disembunyikan sampai membusuk diam-diam.
"Mulai sekarang," kataku, menatap semua yang hadir, "aku mau kita bikin ini jadi kebiasaan, bukan cuma buat Salim. Siapa pun di antara kita yang ditawarin sesuatu, diancam, atau mulai ragu—kita cerita, bukan kita simpen sendiri. Karena musuh kita udah cukup pintar buat cari celah kelemahan kita satu-satu. Satu-satunya cara kita nggak kalah dari itu, adalah kalau kita nggak pernah biarin ada yang sendirian ngadepin ketakutannya."
Sari, yang duduk di sudut ruangan sambil mencatat seperti biasa, mendongak dan tersenyum tipis. "Kalau ini beneran jalan, ini bakal jadi aturan keempat kita, ya? Setelah lindungi, jangan meras, jaga rahasia."
Aku tersenyum kecil, meski hatiku masih menyimpan berat dari hari-hari terakhir ini. "Aturan keempat: nggak ada yang sendirian ngadepin ketakutan."
---
Malam itu ditutup dengan suasana yang jauh lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya, tapi aku tahu, di balik kehangatan itu, ancaman dari luar tidak akan berhenti hanya karena kami berhasil melewati ujian ini. Kalau upaya membeli Salim gagal, aku yakin Hardian dan Baskoro akan mencoba celah lain—entah lewat orang lain di antara kami, atau lewat cara yang bahkan belum pernah kami bayangkan sebelumnya.
Tapi untuk malam itu, aku memilih membiarkan diriku merasakan sedikit kelegaan, duduk bersama orang-orang yang sudah jadi lebih dari sekadar rekan seperjuangan bagiku—mereka sudah jadi keluarga, dalam artian yang mungkin lebih dalam daripada yang pernah kupahami sebelum semua ini dimulai.
---
*(Bersambung ke Bab 25)*