NovelToon NovelToon
His Royal Vow

His Royal Vow

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Penyesalan Keluarga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.

Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.

Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.

Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##11

Perjalanan menuju wilayah pedesaan Cotswolds menempuh waktu hampir tiga jam menyusuri jalanan berkelok yang diapit pepohonan rindang berdaun keemasan.

Musim gugur telah melukis pemandangan di luar jendela mobil dengan warna-warna hangat, namun atmosfer di dalam SUV lapis baja yang melaju paling depan itu tetap dingin dan hening.

Baxeena menyandarkan siku di tepi jendela, menopang dagunya sembari menatap hamparan padang rumput hijau yang dipagari batu-batu tua. Di sampingnya, Alistair duduk dengan postur tegap yang tak pernah mengendur.

Pangeran itu sibuk menatap layar tablet taktisnya, membaca laporan pergerakan tim intelijen internal yang secara berkala mengirimkan kabar terkait aktivitas Katherine di London.

Di mobil belakang, Violet bepergian bersama pengasuh dan dua orang pengawal pribadi. Sepanjang perjalanan, gadis kecil itu tidak henti-hentinya menatap layar ponselnya, bertukar pesan secara rahasia untuk memastikan skenario yang disusun ibunya berjalan tanpa kendala.

Ketika iring-iringan mobil akhirnya melintasi gerbang besi tinggi yang menandai area Cotswolds Estate—sebuah mansion megah bergaya arsitektur Georgia berbahan batu kapur kuning khas daerah tersebut—suasana seolah terlempar kembali ke abad ke-19. Bangunan itu berdiri di tengah pelataran seluas puluhan hektar, dikelilingi taman labirin, danau buatan, dan hutan pinus pribadi milik keluarga Blackwood.

Sopir membukakan pintu mobil begitu kendaraan berhenti tepat di depan tangga utama mansion.

Alistair turun terlebih dahulu, mengulurkan tangannya secara sopan untuk membantu Baxeena turun. Baxeena menatap uluran tangan tegap suaminya itu sejenak.

Di depan belasan pelayan mansion yang sudah berbaris rapi memberikan penghormatan, ia tidak punya pilihan selain menyambut tangan Alistair. Genggaman pria itu hangat, kuat, dan menggenggam jemari Baxeena dengan keteguhan yang membuat dada Baxeena berdesir tipis.

"Selamat datang kembali di Cotswolds Estate, Pangeran Alistair, Your Grace," menyapa seorang kepala pelayan tua bernama Greyson, membungkuk dalam-dalam.

"Terima kasih, Greyson," sahut Alistair dengan tata bahasa resminya. "Pastikan kamar utama dan kamar untuk Putri Violet telah siap. Kami membutuhkan ketenangan untuk akhir pekan ini."

"Segalanya telah disiapkan sesuai arahan Anda, Your Highness."

Violet turun dari mobil belakang dengan wajah yang mendadak kembali berbinar manis. Gadis itu berlari kecil menghampiri Alistair dan memeluk lengan ayahnya. "Ayah! Tempat ini indah sekali! Bisakah kita jalan-jalan di sekitar danau setelah ini?"

Alistair mengelus rambut putrinya pelan, lalu melirik Baxeena. "Tanyakan pada Mommy-mu. Jika mommy Baxeena tidak terlalu lelah dari perjalanan, kita bisa berjalan-jalan sebentar sebelum makan malam."

Violet memutar tubuhnya, menatap Baxeena dengan binar mata buatan yang dipaksakan. "Bolehkah, Mommy?"

Baxeena menyunggingkan senyum tipis, tatapannya menghujam tepat ke dalam iris mata Violet hingga membuat gadis kecil itu refleks menggeser pandangannya secara canggung.

Baxeena tahu betul apa yang sedang dicari Violet—lokasi danau adalah area yang paling jauh dari jangkauan sistem pengawas CCTV mansion utama, tempat terbaik untuk bertemu seseorang tanpa terdeteksi.

"Tentu saja," sahut Baxeena santai, merapikan syal wol di lehernya. "Menghirup udara segar di sekitar danau sepertinya pilihan yang sangat menarik untuk memulai... liburan keluarga ini."

***

Dua jam kemudian, kabut tipis sore hari mulai merayap di atas permukaan danau buatan di balik mansion. Pepohonan pinus yang menjulang tinggi membiaskan bayangan panjang di atas air yang tenang. Suhu udara mendadak turun drastis, menyisakan desir angin yang membawa aroma tanah basah.

Alistair berjalan berdampingan bersama Baxeena di jalan setapak beralas batu koral. Beberapa meter di depan mereka, Violet berjalan mendahului dengan langkah riang yang sedikit dipaksakan, sesekali membungkuk berpura-pura mengamati bunga-bunga liar yang tumbuh di tepi air.

"Dia terlalu banyak menoleh ke arah hutan di sayap barat," bisik Baxeena pelan tanpa mengubah arah pandangannya. Suaranya mengalun tenang, memecah deru angin sore.

Alistair tidak memutar kepalanya, namun jemarinya menyenggol pelan jemari Baxeena yang tersembunyi di dalam saku mantel wolnya. "Tim pengawal rahasia sudah menyebar di balik hutan sejak satu jam lalu. Jika ada penyusup yang mencoba mendekatinya, mereka akan langsung mencegatnya sebelum mencapai tepi danau."

Baxeena melirik Alistair dari sudut matanya. "Kau sudah menduga ini?"

"Katherine tidak pernah bertindak tanpa motif keuangan atau publisitas," jawab Alistair datar, kini secara terang-terangan menyelipkan jemarinya ke dalam genggaman tangan Baxeena di balik mantel.

Baxeena sempat mencoba menarik tangannya, namun Alistair menggenggamnya makin erat dengan kehangatan yang membuat Baxeena akhirnya menyerah.

"Dia tahu anggaran rahasianya telah dibekukan," lanjut Alistair. "Satu-satunya cara baginya untuk menekan pihak kerajaan adalah dengan menciptakan drama penelantaran anak atau mengambil alih hak asuh Violet secara paksa di tempat yang jauh dari pengawasan istana."

"Dan kau menjadikan tempat ini sebagai umpan?" tanya Baxeena, alis cantiknya terangkat.

"Bukan aku," Alistair menoleh, menatap Baxeena dengan binar mata hazel-nya yang dalam dan hangat di bawah temaram sore. "Kau yang menyetujui ajakan Violet. Aku hanya mengekor langkah strategis dari istriku yang cerdas ini."

Baxeena mendengus pelan, menepis lembut tangan Alistair walau pipinya memanas tipis. "Berhentilah bersikap seolah-olah kau pria penurut, Alistair. Kau memanfaatkan posisiku untuk menyelesaikan masalah keluargamu."

Alistair terkekeh renyah—suara tawa rendah yang selalu berhasil meruntuhkan dinding pertahanan Baxeena. Pria tinggi besar itu menghentikan langkahnya, membuat Baxeena ikut terhenti di sampingnya.

"Aku memanfaatkan situasi ini untuk satu hal lain, Baxeena," bisik Alistair, melangkah mendekat hingga dada tegapnya hampir bersentuhan dengan bahu Baxeena.

"Apa?" tanya Baxeena galak, menatap mata suaminya dengan pandangan menantang.

"Untuk memastikan..." Alistair membungkuk sedikit, memangkas jarak di antara wajah mereka hingga Baxeena bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu di pipinya, "...bahwa di akhir pekan ini, kau tidak bisa lari ke mana-mana dariku."

Baxeena menahan napasnya. Jantungnya berdegup kencang, sebuah reaksi biologis konyol yang amat ia benci karena membuktikan bahwa tubuhnya masih merespons kehadiran Alistair dengan cara yang sama seperti belasan tahun lalu.

"Kau benar-benar tidak punya rasa malu, Pangeran," desis Baxeena, menunjuk dada Alistair dengan jari telunjuknya. "Ingat di mana posisi—"

Srakk!

Suara patahan ranting kayu yang keras dari arah vegetasi hutan di dekat danau mendadak memotong kalimat Baxeena.

Dalam hitungan milidetik, refleks militer Alistair bekerja sempurna. Pria itu serta-merta menarik tubuh Baxeena ke belakang punggungnya, menyembunyikan wanita itu di balik perlindungan tubuh tegapnya. Tangan kanannya secara otomatis meluncur ke balik pinggang mantelnya, siap menarik senjata yang tersembunyi.

"Ayah!" seru Violet dari depan, langkahnya terhenti di dekat deretan pohon pinus.

Dari balik kegelapan celah pohon pinus, seorang wanita berbalut mantel kulit mahal berwarna hitam melangkah keluar. Rambut pirangnya yang ditata rapi sedikit berantakan kena angin sore, dan wajahnya dipenuhi amarah yang menyala-nyala.

Katherine. Mantan istri Alistair.

"Katherine?" suara Alistair merendah, sarat akan ketegangan dingin yang membuat atmosfer di sekitar danau seketika membeku. Pria itu tidak melepaskan posisinya yang menutupi Baxeena sepenuhnya.

Katherine menatap Alistair dengan pandangan benci, lalu beralih menatap Baxeena yang berdiri tenang di belakang bahu Alistair.

"Pangeran Alistair yang terhormat..." panggil Katherine dengan nada sarkastik yang tajam. "Kau membekukan seluruh rekeningku, mengancam pengacaraku, dan sekarang kau membawa wanita asing asal Los Angeles ini untuk menggantikan posisiku di depan putriku sendiri?!"

Violet berdiri terpaku di antara mereka, wajahnya mendadak pucat pasi saat melihat ibunya benar-benar muncul dari balik hutan—jauh lebih cepat dan lebih agresif daripada rencana yang mereka bicarakan di telepon.

"Kau telah melanggar perintah pembatasan wilayah hukum, Katherine," tegas Alistair, suaranya menggelegar tenang namun memiliki wibawa yang tak terpatahkan. "Memasuki properti pribadi kerajaan tanpa izin adalah tindakan kriminal. Para pengawal bisa menangkapmu detik ini juga."

Katherine tertawa sumbang, melangkah maju dua tapak. "Menangkapku? Di depan media yang sudah menunggu di luar gerbang mansion ini?! Coba saja, Alistair! Aku sudah memastikan wartawan mengambil gambar bagaimana kau dan wanita jalang ini mengisolasi Violet di pedesaan!"

Kata jalang yang terlontar dari mulut Katherine membuat garis rahang Alistair mengeras sempurna. Mata hazel-nya memancarkan aura membunuh yang amat pekat. Namun, sebelum Alistair sempat mengambil langkah maju untuk menindak wanita itu, sebuah tangan dengan jemari lentik mendorong bahu Alistair pelan dari belakang.

Baxeena melangkah keluar dari balik perlindungan Alistair.

Ia berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan keanggunan dan ketenangan yang luar biasa. Tatapan matanya yang dingin menatap Katherine dari atas ke bawah, menilai penampilan wanita di hadapannya itu dengan cemoohan yang tersirat halus.

"Wanita jalang?" ulang Baxeena, suaranya mengalun santai namun menusuk hingga ke tulang. "Tatanan bahasamu sungguh mencerminkan keputusasaanmu, Katherine."

Katherine menatap Baxeena dengan api kemarahan. "Tutup mulutmu! Kau tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini!"

"Aku tahu lebih dari yang kau bayangkan," potong Baxeena lugas, melangkah satu tapak mendekati tempat Violet berdiri. "Aku tahu tentang pemerasan anggaran rahasia senilai lima ratus ribu poundsterling yang kau lakukan bulan lalu. Aku tahu tentang rekening cangkang di Swiss yang kau gunakan untuk menampung uang hasil manipulasi putri kandungmu sendiri. Dan aku tahu betul... bahwa kedatanganmu ke sini sore ini bukanlah karena kau merindukan Violet, melainkan karena kau kehabisan uang untuk gaya hidup glamor mu di Paris."

Wajah Katherine seketika memucat. Matanya membelalak penuh horor. Fakta-fakta keuangan rahasia yang baru saja dibeberkan Baxeena secara mendetail adalah data tingkat tinggi yang seharusnya hanya diketahui oleh tim auditor terbaik.

Violet yang mendengarkan hal itu membelalakkan matanya. Gadis kecil itu menatap ibunya dengan raut tidak percaya. "Ibu... apa yang dikatakan Mommy Baxeena itu... benar?"

"Violet! Jangan dengarkan wanita ini! Dia berbohong!" seru Katherine panik, mencoba menggapai tangan Violet.

Namun Violet secara refleks mundur dua langkah, menjauh dari jangkauan ibunya. Kebenaran yang dihantamkan Baxeena kemarin sore di ruang piano dan diperjelas detik ini runtuh bersama seluruh kepercayaannya pada sang ibu kandung.

Baxeena menatap Katherine dengan tatapan penuh kemenangan yang tenang. "Panggilan pers yang kau sebutkan di luar gerbang tadi? Tim pengacara korporatku dari Los Angeles baru saja merilis dokumen gugatan tindak pidana pencucian uang atas namamu sepuluh menit lalu ke seluruh agensi berita utama di London. Dalam hitungan jam, bukan Alistair yang akan dicari media... melainkan dirimu."

Katherine gemetar hebat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan wanita istana yang pasif atau penurut, melainkan seorang pimpinan bisnis kelas dunia yang sanggup menghancurkannya tanpa perlu mengotori tangannya sendiri.

Dua orang perwira pengawal berseragam komando tiba-tiba muncul dari balik vegetasi hutan, melangkah cepat dan berdiri di kanan-kiri Katherine.

"Nyonya Katherine," panggil perwira itu tegas. "Anda diminta ikut bersama kami ke kantor kepolisian distrik untuk pemeriksaan hukum."

Katherine menatap Alistair dengan pandangan memohon, namun Sang Duke hanya berdiri membisu dengan wajah kaku dan dingin, memberikan persetujuan mutlak atas tindakan pengawalnya.

Dengan langkah lunglai dan keputusasaan yang nyata, Katherine akhirnya digiring pergi menyusuri celah hutan menuju kendaraan petugas yang sudah menunggu.

Suasana di tepi danau kembali diselimuti keheningan yang panjang.

Violet berdiri membeku di tepi air, menundukkan kepalanya saat tangisnya pecah tanpa suara. Seluruh manipulasi yang membungkus hidupnya runtuh dalam seketika.

Alistair hendak melangkah mendekati putrinya, namun Baxeena memberikan isyarat pelan dengan tangannya, menyuruh Alistair untuk memberi ruang. Baxeena melangkah mendekati Violet, membungkuk sedikit, lalu menepuk bahu gadis remaja itu dengan kehangatan yang amat tulus.

"Mengetahui kenyataan memang menyakitkan, Violet," kata Baxeena pelan, suaranya mengalun hangat tanpa sisa kekerasan. "Tapi setidaknya, mulai hari ini... tidak ada lagi orang yang bisa memanfaatkanmu."

Violet mendongak, menatap Baxeena melalui genangan air matanya. Tanpa diduga oleh siapa pun, gadis kecil itu mendadak menghambur dan memeluk pinggang Baxeena erat-erat, menyembunyikan wajahnya di balik mantel wol wanita itu sembari menangis terisak-isak.

Baxeena sempat menegang sejenak karena terkejut. Namun secara perlahan, lengannya terangkat melingkari bahu Violet, mengusap punggung gadis itu dengan kelembutan seorang ibu yang tak pernah ia sangka memiliki kapasitas untuk itu.

Di belakang mereka, Alistair berdiri menyaksikan pemandangan tersebut. Rasa haru dan cinta yang teramat besar membakar dadanya. Di bawah remang sore pedesaan Cotswolds, benteng es di antara mereka bertiga akhirnya benar-benar hancur.

°°°

Malam harinya, keheningan yang damai menyelimuti kamar utama mansion Cotswolds. Api dari perapian batu membiaskan pendar keemasan diatas dinding kayu ek dan tempat tidur king-size yang dilapisi selimut bulu tebal.

Violet sudah tertidur lelap di kamarnya setelah ditenangkan dan diberikan segelas susu hangat oleh Baxeena.

Baxeena baru saja selesai mengeringkan rambutnya di depan cermin rias ketika pintu kamar mandi terbuka. Alistair melangkah keluar hanya mengenakan celana kain hitam dan kaus polos berwarna kelabu yang menempel pas di tubuh berototnya.

Pria itu tidak berjalan menuju sofa. Ia melangkah mantap mendekati Baxeena, berdiri di belakang kursi rias wanita itu. Matanya menatap bayangan Baxeena di dalam cermin dengan sorot yang teramat dalam dan penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih untuk hari ini, Xeena," bisik Alistair, suaranya mengalun lembut, meresap ke dalam keheningan malam. "Kau telah menyelamatkan putriku... dan kau menyatukan kembali apa yang hampir hancur."

Baxeena meletakkan sisirnya di meja, memutar kursinya sedikit untuk menatap Alistair secara langsung. "Aku tidak melakukannya untukmu, Alistair. Aku melakukannya karena anak itu berhak mendapatkan kebenaran."

Alistair menyunggingkan senyum tipis yang amat tampan—senyuman tanpa topeng formalitas kerajaan. Pria itu membungkuk sedikit, bertumpu pada kedua sandaran kursi Baxeena, menyudutkan wanita itu dalam jarak yang teramat intim seperti yang biasa ia lakukan.

"Apapun alasanmu..." bisik Alistair, menatap bibir Baxeena yang merah alami. "...kehadiranmu di sini adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku."

Baxeena menatap mata suaminya, merasa pertahanan galaknya perlahan-lahan luluh oleh kehangatan Alistair. "Jangan bersikap terlalu manis, Pangeran. Aku belum sepenuhnya memaafkan kesalahan masa lalumu."

"Aku tahu," sahut Alistair pelan, mendekatkan wajahnya hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Napas hangat mereka menyatu di udara malam. "Dan aku bersedia menghabiskan sisa hidupku untuk membuatmu memaafkanku... dimulai malam ini."

Sebelum Baxeena sempat membalas dengan kata-kata galaknya, Alistair telah mendaratkan kecupan yang lembut, hangat, dan sarat akan kerinduan yang terpendam selama Empat Belas tahun tepat di atas bibir Baxeena—sebuah ciuman yang mematikan seluruh keraguan dan menyalakan kembali api cinta yang tak pernah benar-benar padam di antara mereka.

...----------------...

Happy Reading 🌷

1
pika shu
lanjut thor
Rosdianah 🌷: sebentar ya kak🫶
total 1 replies
Asriani Rini
Demoga biolet bisa membedakan mama yg tulus dan mana yg jahat
Rosdianah 🌷: benar kaa
total 1 replies
nayla tsaqif
Tp ttp aja,, kamu punya ank dr jalang itu pak ali,, jadinya jijik liat kamu bekas jalang,, harusnya baxee janda dulu biar bekas orang jg,, biar impas😩
Rosdianah 🌷: nah iya lagi, harusnya dibikin janda dulu ya🤣🤣🤭
total 1 replies
Adiba Azahra
Haloooo kak izin mengikuti dan nyimak yaaa dari awal hahaha 🙏😁👍 semangat terus pokok nya 😍👍
Rosdianah 🌷: okay ka🫶
total 3 replies
Mia Camelia
ehmm rencana apa sih yg di bikin violet dan katrine 🤔🤔🤔
Mia Camelia
violet baru nonggol udah pingin jitak aja🤣🤣🤣🤣
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭
nayla tsaqif
AJ besanan ama mantan nih,,, 😌
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!