NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013: Pagar yang Tidak Bisa Dibeli

Pak Tua Karso tidak pulang.

Ia duduk di depan pagar rumah Bima seperti batu tua yang sengaja ditaruh di tengah jalan. Setiap ada tetangga lewat, ia mengulang cerita dengan versi yang makin basah.

"Cucu saya cuma bercanda. Anak itu sekarang ditahan. Keluarga Harto tega. Zaman sekarang saudara sendiri dimasukkan penjara."

Menjelang siang, dua orang sudah memberinya air mineral. Satu tetangga membawakan pisang goreng. Karso menerima semuanya sambil terus memukul dada sendiri, seolah rumah Bima adalah panggung dan gang kecil itu penonton bayaran.

Bima tidak keluar setiap kali ia berteriak. Ia duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka, menyalin rekaman pagi, memberi label waktu, lalu memasukkannya ke folder baru: Intimidasi Saksi.

Sementara itu, Bima meminta Ratna memotret posisi Karso setiap tiga puluh menit dari dalam rumah, bukan dari dekat pagar. Foto pertama menunjukkan Karso duduk. Foto kedua menunjukkan ia menerima makanan. Foto ketiga menunjukkan ia tertawa sebentar saat mengobrol dengan kerabatnya sebelum kembali menangis ketika ada warga lewat.

"Ini penting?" tanya Ratna.

"Penting. Kalau dia bilang dipaksa kelaparan atau diusir kasar, kita punya urutan. Drama hidup dari potongan. Bukti hidup dari urutan."

Ratna mengangguk, lalu menamai folder itu Karso_Pagar. Ia mulai terbiasa dengan perang tanpa pukulan yang tetap meninggalkan luka.

Ratna mengintip dari jendela. "Mas, dia makan pisang goreng sambil bilang mau mati di depan rumah kita."

"Bagus," kata Bima. "Berarti tidak darurat medis."

Bu Sri hampir tertawa, lalu menutup mulut karena merasa tidak pantas.

Pak Harto berdiri di dekat pintu. Wajahnya lebih tenang daripada kemarin. "Papa telepon Pak RT?"

"Telepon," jawab Bima. "Tapi jangan minta tolong dengan nada bersalah. Bilang ada orang mengganggu rumah, mengancam, dan mengumpulkan massa. Kita warga yang lapor gangguan, bukan terdakwa yang minta belas kasihan."

Pak Harto mengangguk. Ia menelepon Pak RT dengan suara gemetar di awal, tetapi makin jelas di akhir. Sepuluh menit kemudian, Pak RT datang bersama dua warga laki-laki.

"Pak Karso," kata Pak RT, "kalau ada urusan keluarga, jangan bikin keramaian begini."

Karso langsung menangkap kalimat itu. "Nah, Pak RT dengar! Ini urusan keluarga. Anak ini membuat keluarga besar malu. Saya cuma minta hati nurani."

Bima keluar membawa map tipis. Ia menyerahkan salinan tanda terima laporan kepada Pak RT, bukan kepada Karso.

"Pak RT, ini sudah masuk laporan polisi. Yang bersangkutan sedang diperiksa karena dugaan manipulasi video, fitnah, ancaman digital, dan penyebaran alamat. Hari ini Pak Karso datang meminta kami mencabut laporan, lalu mengancam mati di depan rumah. Saya minta lingkungan tidak ikut menekan korban. Kalau perlu, saya buat laporan tambahan."

Pak RT membaca tanda terima itu. Wajahnya berubah.

Dokumen resmi selalu punya berat yang tidak dimiliki air mata panggung.

"Pak Karso," kata Pak RT lebih tegas, "kalau sudah urusan polisi, jangan bikin tambah masalah. Pulang dulu."

Karso menunjuk Bima. "Kamu mengancam orang tua dengan polisi?"

"Bukan mengancam," jawab Bima. "Memberi informasi jalur hukum. Bapak bebas memilih. Pulang sebagai tamu yang tidak diterima, atau dibawa sebagai pelaporannya bertambah."

Beberapa tetangga yang tadinya kasihan mulai mundur. Pisang goreng di tangan Karso tiba-tiba tampak memalukan.

Sebuah motor polisi berhenti di ujung gang.

Bripka Wanto turun dengan helm masih di tangan. Bima memang mengirim pesan singkat berisi situasi, rekaman, dan permintaan patroli lingkungan. Ia tidak meminta polisi menyeret Karso. Cukup hadir. Kadang negara tidak perlu berteriak; seragam saja cukup mengubah suara orang.

Pak Wanto berjalan mendekat. "Ada gangguan?"

Pak RT cepat menjelaskan. Karso yang tadi meraung langsung mengecilkan suara.

"Saya cuma kakek yang sedih, Pak."

Pak Wanto menatapnya datar. "Sedih boleh. Mengancam saksi dan korban tidak boleh. Kalau keberatan dengan laporan, pakai penasihat hukum. Jangan duduk di depan rumah orang."

Karso membuka mulut, menutupnya lagi.

Bima menambahkan, "Pak, saya tidak minta beliau ditangkap hari ini. Saya hanya minta dibuat catatan patroli dan imbauan tertulis kalau bisa. Supaya besok tidak ada yang bilang kejadian ini tidak pernah ada."

Pak Wanto menatap Bima sebentar. Ada sedikit senyum di ujung bibirnya. "Anda memang rapi."

"Saya belajar dari orang yang suka memotong video, Pak. Kalau tidak rapi, kita dipotong duluan."

Catatan patroli dibuat di teras rumah. Pak RT ikut menandatangani sebagai saksi lingkungan.

Pak RT juga meminta dua warga yang sejak pagi menonton untuk memberi keterangan singkat. Awalnya mereka saling pandang, takut terseret. Bima tidak memaksa. Ia hanya berkata, "Bapak-Ibu tidak perlu membela saya. Cukup tulis apa yang dilihat: datang jam berapa, bicara apa, mengancam apa."

Kalimat itu membuat mereka lebih berani. Satu warga menulis bahwa Karso menyebut akan mati di depan rumah. Warga lain menulis bahwa ada orang merekam dan memancing simpati. Dua catatan kecil itu sederhana. Di mata Bima, nilainya lebih tinggi daripada seratus komentar kasihan.

Karso akhirnya berdiri dengan gerakan lambat, wajahnya gelap.

Sebelum pergi, ia mendesis, "Kamu pikir menang karena ada polisi?"

Bima mendekat sampai hanya pagar yang memisahkan mereka. Suaranya tetap rendah.

"Saya tidak butuh Bapak takut polisi. Saya butuh Bapak mengerti bahwa drama bukan hukum. Cucu Bapak membuat fitnah. Om Darmawan mencoba membeli laporan. Bapak datang menekan korban. Semuanya punya catatan."

Karso pergi tanpa pisang gorengnya.

Tetangga bubar lebih cepat daripada mereka berkumpul. Yang tadi memberi air mineral pura-pura menyapu halaman sendiri. Yang tadi berbisik kasihan sekarang membahas cuaca.

Sebelum Pak Wanto pergi, ia memberi satu nasihat praktis: jangan melayani tamu yang datang tanpa undangan, jangan membuka pagar jika ada kamera liar, dan segera hubungi RT atau polisi bila ada ancaman baru. Bu Sri menuliskannya di balik kertas SOP rumah.

"Sekarang rumah kita seperti kantor," katanya pelan.

Bima menjawab, "Untuk sementara, iya. Sampai orang belajar bahwa rumah ini bukan tempat mereka latihan drama."

Sore itu, SBE muncul saat Bima memindahkan file catatan patroli ke folder kasus.

[Serangan mediasi paksa digagalkan.]

[Poin +1.500]

[Integritas jalur hukum terjaga.]

Bima duduk di meja makan. Pak Harto meletakkan teh di depannya.

"Papa tadi tidak diam," kata Bima.

Pak Harto tersenyum lelah. "Masih gemetar."

"Gemetar tidak apa-apa. Yang penting tidak mundur."

Ratna mengangkat gelasnya. "Untuk keluarga yang mulai punya SOP."

Bu Sri akhirnya tertawa benar-benar.

Namun ponsel Bima bergetar sebelum tawa itu selesai. Pesan dari Pak Wanto masuk.

Terlapor Siska, Melati, dan Fifi akan diperiksa konfrontasi besok. Pihak keluarga membawa pengacara. Siapkan saksi dan bukti asli.

Bima membaca pesan itu, lalu menaruh gelasnya.

"Besok," katanya, "mereka berhenti menangis di pagar. Mereka mulai menangis di depan berkas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!