NovelToon NovelToon
Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Kring kring kring!

Suara alarm dari ponsel retak milik Amir berbunyi nyaring memecah keheningan pagi.

Amir membuka matanya perlahan dan menatap langit-langit kamar kosnya yang terbuat dari asbes.

Tidak ada suara ketukan pintu yang kasar dari ibu mertuanya.

Tidak ada juga suara omelan melengking yang biasanya menyuruhnya mengepel lantai atau mencuci piring.

"Ternyata tidur tanpa beban pikiran itu senikmat ini."

Amir bergumam sambil merentangkan kedua tangannya dengan sangat lega.

Ia bangkit dari kasur busa tipisnya dan berjalan menuju cermin kecil yang menempel di dinding.

Pantulan di cermin menunjukkan seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun dengan rambut gondrong yang berantakan.

Wajahnya sebenarnya cukup tampan dengan rahang tegas, tapi tertutupi oleh kusamnya kulit akibat kepanasan setiap hari.

Kantung matanya juga terlihat hitam karena selama tiga tahun ini ia kurang tidur demi mencari uang tambahan.

"Kalau dipikir-pikir, pantas saja Siska berpaling pada pria kaya yang terawat."

"Penampilanku sekarang ini benar-benar mirip kuli bangunan yang tidak pernah mandi."

Amir tersenyum kecut melihat pantulan dirinya sendiri.

Tapi senyum itu segera berubah menjadi seringai penuh percaya diri.

"Itu adalah Amir yang dulu, Amir yang bodoh dan mau saja diinjak-injak."

"Hari ini aku akan menggunakan uang satu jutaku untuk mengubah sedikit penampilanku."

Amir segera bergegas ke kamar mandi umum di luar kamarnya.

Byur byur byur.

Suara guyuran air terdengar menyegarkan membasuh seluruh kotoran dan keringat di tubuhnya.

Selesai mandi, ia mengenakan kaos oblong bersih miliknya dan keluar dari kawasan kos-kosan.

Tujuan pertamanya adalah sebuah pangkas rambut pria yang berada tidak jauh dari jalan raya.

Kring.

Suara lonceng pintu berbunyi saat Amir melangkah masuk ke dalam barbershop yang cukup nyaman itu.

"Selamat pagi, Mas, silakan duduk di kursi nomor dua."

Seorang tukang cukur bertato menyapanya dengan ramah sambil menepuk kursi kulit berwarna hitam.

Amir mengangguk dan duduk di kursi tersebut.

"Mau potong model apa hari ini, Mas?"

"Tolong potong yang rapi saja, buat wajah saya terlihat lebih segar dan bersih."

Amir menjawab singkat menyerahkan urusan gaya rambut pada ahlinya.

Cetas cetas srek.

Suara gunting dan mesin pencukur rambut mulai bekerja dengan lincah di kepala Amir.

Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit, tukang cukur itu membersihkan sisa rambut di leher Amir dengan sikat halus.

"Sudah selesai, Mas, bagaimana menurut Anda?"

Amir menatap cermin di depannya dan sedikit terkejut melihat perubahannya.

Rambutnya kini dipotong model undercut yang rapi dengan bagian atas yang disisir rapi ke belakang.

Wajahnya yang kusam kini terlihat jauh lebih cerah dan ketampanannya mulai terpancar keluar.

"Sangat bagus, ini uangnya, kembaliannya ambil saja."

Amir menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah dan berjalan keluar dengan perasaan puas.

Langkah selanjutnya adalah membeli pakaian yang pantas agar ia tidak diremehkan orang lagi saat memancing nanti.

Ia berjalan menuju sebuah pusat perbelanjaan kelas menengah di pusat kota.

Amir masuk ke dalam sebuah toko pakaian pria yang sedang mengadakan diskon akhir pekan.

"Selamat datang, Kak, sedang cari kemeja atau celana?"

Seorang pramuniaga wanita menghampirinya dengan senyum manis.

"Saya cari kemeja kasual lengan pendek dan celana panjang bahan yang nyaman dipakai bergerak."

"Tolong carikan warna yang gelap agar tidak mudah kotor."

Pramuniaga itu dengan cekatan memilihkan beberapa potong pakaian dan menyerahkannya pada Amir.

Amir mencobanya di ruang ganti dan merasa pakaian itu sangat pas di tubuhnya.

Ia membeli dua potong kemeja kasual berwarna biru dongker dan hitam, serta dua potong celana panjang kargo.

Total belanjaannya menghabiskan uang sekitar empat ratus ribu rupiah.

Ia langsung memakai kemeja biru dongker dan celana kargo barunya dari toko tersebut.

Kini, penampilan Amir sama sekali tidak terlihat seperti gembel yang kemarin ditendang ke danau.

Ia terlihat seperti pemuda kantoran yang sedang menikmati hari libur dengan gaya santai namun elegan.

"Sekarang penampilanku sudah beres, saatnya fokus pada tujuan utamaku."

"Sistem, apakah aku bisa melakukan Check-in di mana saja dan kapan saja?"

Amir bertanya di dalam hatinya sambil berjalan keluar dari pusat perbelanjaan.

Layar transparan biru muda seketika muncul melayang di depan matanya.

[Tuan hanya bisa melakukan Check-in satu kali dalam sehari]

[Lokasi Check-in sangat mempengaruhi kualitas dan kelangkaan hadiah yang akan didapatkan]

[Semakin elit atau magis lokasi memancingnya, semakin besar peluang mendapatkan Item atau Keahlian tingkat tinggi]

Amir mengelus dagunya perlahan mencerna informasi berharga dari Sistem.

"Jadi kalau aku Check-in di selokan depan kos, hadiahnya pasti sangat sampah."

"Aku harus mencari tempat memancing yang dipenuhi oleh orang-orang berduit dan ikan yang besar."

Amir merogoh saku celananya dan membuka aplikasi pencarian di ponsel retaknya.

Jari-jarinya mengetikkan kata kunci kolam pemancingan paling mahal di kotanya.

Hasil pencarian teratas menunjukkan sebuah nama yang sangat terkenal, yaitu Galatama Tirta Emas.

Itu adalah kolam pemancingan eksklusif tempat para pengusaha dan pejabat kota menghabiskan waktu luang mereka.

Biaya pendaftarannya saja cukup mahal, dan ikan di dalamnya adalah monster-monster air tawar berukuran raksasa.

"Galatama Tirta Emas, tempat ini sepertinya sangat cocok untuk menguji keberuntunganku hari ini."

"Selain itu, aku mungkin bisa mendapatkan koneksi orang kaya jika menjual ikan hasil tangkapanku secara langsung pada mereka nanti."

Amir memesan ojek online dari ponselnya dan menunggu di pinggir jalan.

Vroom!

Sebuah motor matic berhenti di depannya beberapa menit kemudian.

"Sesuai aplikasi ya, Mas, tujuannya ke Galatama Tirta Emas?"

Tanya tukang ojek itu sambil menyerahkan helm berwarna hijau.

"Iya Pak, tolong agak cepat ya karena saya tidak sabar ingin memancing."

Motor pun melaju membelah kemacetan jalanan kota menuju pinggiran kawasan elit.

Sekitar setengah jam perjalanan, Amir akhirnya tiba di depan sebuah gerbang kayu besar yang terlihat sangat mewah.

Terdapat papan nama besar bertuliskan Galatama Tirta Emas dengan lampu neon yang menyala terang.

Amir membayar ongkos ojeknya dan berjalan memasuki area pemancingan tersebut dengan langkah percaya diri.

Matanya langsung disuguhi pemandangan kolam pemancingan yang sangat luas dan bersih.

Air kolamnya berwarna hijau kecoklatan, menandakan kedalaman yang cukup lumayan.

Di sekeliling kolam terdapat saung-saung kecil beratap rumbia yang berjejer rapi dilengkapi dengan kursi empuk.

Banyak pria paruh baya yang memakai pakaian bermerk sedang duduk santai sambil memegang joran pancing mahal.

"Wah, tempat ini benar-benar surganya para pemancing berduit."

Amir bergumam pelan sambil berjalan menuju meja resepsionis di sudut bangunan utama.

"Selamat siang, Mas, ada yang bisa saya bantu?"

Seorang petugas resepsionis wanita berpakaian seragam rapi menyapanya.

"Siang, saya mau mendaftar untuk ikut memancing hari ini, apakah masih ada lapak yang kosong?"

Amir bertanya sambil mengeluarkan dompetnya yang kini sudah sedikit menipis.

"Masih ada beberapa lapak kosong, Kak."

"Untuk tiket hariannya sebesar dua ratus ribu rupiah, sudah termasuk pelet umpan dasar satu bungkus."

1
Wega Luna
mir jangan jauh jauh ke segitiga Bermuda,laut selatan menunggumu tuh🤭🤭
💫Penjelajah Novel💫
Thor. kolo bisa jangan 1× mancing 1× dapet langsung balik. kolo bisa banyakin mancingnya
kiyoe: terimakasih atas masukan nya kak
total 1 replies
Author Melda
Gilaak bab 1 nya langsung nyesek kak 😭 Amir yatim piatu jadi menantu gak dianggap, eh dibuang ke danau pula. Tapi pas bangkit sama sistem mancingnya itu keren banget plot twistnya! Semangat terus kak kiyoe, mancing mania mantap! 🎣
kiyoe: heheh terimakasih kak author Selpi atas dukungan nya
total 1 replies
Wega Luna
mir ,mancing ditempat ku ada danau ajaibnya,danau pasir putih yg keluar dari tanah seperti lumpur Lapindo,, dikelilingi bukit ular dan perumahan Citraland Surabaya, pemandangan keren,
kiyoe: wuih keren
total 3 replies
Wega Luna
banyakin saldo mancing nya terus ditukar dengan uang beli Bugatti ,,,direalita Buggati lebih mahal dari Lamborghini🤣🤣🤣🤣kalo perlu beli Ferrari yg konon belinya ribet banget tapi berkelas karena belum tentu setiap pengusaha bisa beli Ferrari,,,🤭🤭🤭🤭
Wega Luna
💪💪💪 semangat para mancing mania,🏃🏃🏃tau GK Thor aku baca novel mu ini sambil mancing di kolam pemancingan😄
kiyoe: nanti kalau udah Mateng kabarin othor yak kak 🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!