NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Pagi Yang Berbeda

Tahlilan terakhir untuk ayahnya telah selesai. Doa-doa sudah dipanjatkan, lantunan dzikir yang tadi memenuhi rumah kini perlahan menghilang, tergantikan oleh suara langkah kaki para tamu yang satu per satu pamit pulang.

"Innalillahi…”

Yang sabar ya, Nak…”

"Kami pamit dulu…”

Ucapan-ucapan itu terus terngiang di telinga Raya, meski kini rumah sudah kembali sepi.

Pintu ditutup pelan.

Klik.

Sunyi benar-benar jatuh.

Raya berdiri sejenak di ruang tamu, menatap kursi-kursi yang tadi penuh, kini kosong. Gelas-gelas bekas minum masih tersisa di meja. Karpet sedikit bergeser, tanda tadi banyak orang duduk di sana.

Rumah ini… terasa berbeda. Lebih lengang. Lebih dingin. Lebih kehilangan.

Langkahnya pelan menyusuri ruangan. Setiap sudut seperti menyimpan kenangan—tentang ayahnya, tentang kebersamaan yang kini tinggal cerita.

Dadanya sesak. Namun tidak ada air mata yang jatuh Seolah tangisnya sudah habis beberapa hari lalu.

Raya menarik napas panjang Sudah ya, Yah…” bisiknya lirih. "Aku harus melanjutkan hidup.”

Tangannya mulai bergerak. Ia merapikan gelas satu per satu, mengumpulkan piring, melipat karpet yang sedikit berantakan. Gerakan sederhana itu terasa seperti usaha kecil untuk mengembalikan kendali atas hidupnya.

Di sela-sela itu, pikirannya melayang.

Tentang ayahnya. Tentang akad nikah itu.

Tentang Kamil. Tentang satu hari yang seharusnya menjadi awal bahagia… tapi justru menjadi luka yang paling dalam.

Satu minggu. Baru satu minggu… tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Raya berhenti sejenak, tangannya menggenggam ujung meja. Masih sakit. Sangat. Tapi kali ini… dia tidak ingin tenggelam lagi.

Perlahan ia mengangkat wajahnya, lalu memanggil pelan,“Rakha… Rana… sini sebentar!”

Dari dalam kamar, terdengar langkah kaki kecil mendekat. Rakha keluar lebih dulu, disusul Rana yang masih mengusap matanya.

"Iya, Kak?” tanya Rakha pelan.

Raya menepuk tempat di sampingnya. "Duduk sini!”

Keduanya menurut. Mereka duduk berdekatan, seperti mencari rasa aman yang sama. Raya menatap mereka cukup lama. Adik-adiknya.

Alasan kenapa dia harus kuat.

"Kalian capek ya hari ini?” tanyanya lembut.

Rana mengangguk kecil. Rakha hanya diam.

Raya tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan mereka masing-masing.

"Dengerin Kakak baik-baik ya!”

Nada suaranya berubah—masih lembut, tapi kali ini lebih tegas.

"Kita sekarang… nggak punya Ayah di rumah lagi.” Suaranya sempat tertahan, tapi ia melanjutkan. “Tapi bukan berarti kita jadi lemah."

Rakha menunduk. Rana menggenggam tangan Raya lebih erat.

"Kalian harus jadi anak yang kuat. Yang rajin belajar. Jangan bikin Ibu sedih lagi.”

Air mata mulai menggenang di mata Rana.

"Kita harus buktiin…” lanjut Raya, suaranya bergetar namun penuh keyakinan,

"walaupun Ayah nggak ada di sisi kita… kita tetap bisa sukses.”

Rakha akhirnya mengangkat wajahnya. "Bisa ya, Kak?”

Raya langsung mengangguk, matanya tegas.

"Harus bisa.”

Ia mengusap kepala Rakha, lalu merangkul Rana.

"Kita bikin Ayah bangga dari sana… sama Ibu yang masih di sini.”

Tangis Rana pecah pelan, bersandar di bahu Raya. Rakha ikut mendekat, memeluk kakaknya.

Untuk beberapa saat, mereka bertiga hanya diam dalam pelukan.

Tidak ada kata-kata lagi. Tapi di dalam diam itu… ada janji. Janji untuk bertahan. Janji untuk kuat.

Janji untuk tidak menyerah.

Setelah cukup lama, Raya perlahan melepaskan pelukan itu.

"Udah ya… sekarang istirahat. Besok masih libur, lusa kalian harus sekolah lagi. Jangan hiraukan apapun kata orang, kasian harus kuat!”

"Iya, Kak…” jawab mereka bersamaan, meski suara masih tersisa isak.

Raya tersenyum kecil, mengantar mereka kembali ke kamar.

Setelah pintu kamar adiknya tertutup, Raya kembali ke ruang tamu. Sunyi itu masih ada.

Tapi kali ini… tidak terasa semenakutkan tadi.

Ia duduk kembali di kursi, meraih tas kecil di sampingnya. Mengeluarkan beberapa lembar berkas—ijazah, fotokopi KTP, dan map berisi CV.

Tangannya masih sedikit bergetar. Tapi tidak lagi karena rapuh. Melainkan karena… bersiap.

"Cukup…” gumamnya pelan. “Nggak bisa terus begini…”Matanya menatap berkas-berkas itu dengan lebih tegas.

Lusa. Ia akan mulai melamar pekerjaan.

Memulai hidupnya lagi. Bukan hanya untuk dirinya. Tapi untuk mereka. Raya bangkit, merapikan semua berkas dengan rapi, lalu menggenggam map itu erat.

Langkahnya menuju kamar kini lebih mantap.

Di depan pintu, ia berhenti sejenak. Menoleh ke arah ruang tamu yang kini kosong. Lalu berbisik pelan—"Raya Aprillia Safitri nggak akan jatuh lagi…”

Dan kali ini, di balik matanya yang masih menyimpan luka… tumbuh sesuatu yang baru.

Tekad.

***

Pagi itu langit tampak cerah, sinar matahari masih lembut menyapa jalanan yang belum terlalu ramai. Udara Minggu terasa berbeda—lebih santai, lebih ringan. Kamil mendorong keluar sepedanya dari garasi, lalu menaikinya dengan semangat yang jarang ia rasakan beberapa hari terakhir.

Roda sepeda mulai berputar, membelah jalanan kota yang masih lengang. Angin pagi menerpa wajahnya, membawa aroma dedaunan basah dan sisa embun yang belum sepenuhnya menguap. Di sepanjang perjalanan, Kamil bersenandung pelan, lagu yang akhir-akhir ini sering ia putar—lagu yang mengingatkannya pada Amanda.

Sesekali ia tersenyum sendiri, membayangkan bagaimana nanti Amanda akan menyambutnya dengan wajah sedikit kesal karena ia datang terlalu pagi, lalu akhirnya ikut tertawa saat mereka mulai bersepeda bersama. Setelah itu, mereka pasti akan menuju tempat biasa—kafe kecil di sudut jalan yang jadi saksi banyak cerita mereka bersama teman-teman.

Kayuhan sepedanya terasa ringan. Untuk pertama kalinya sejak kepergian ibunya, hatinya tidak dipenuhi sesak. Seolah pagi itu memberinya jeda dari rasa kehilangan. Atau mungkin… karena ia tahu, ada Amanda yang selalu bisa membuatnya merasa lebih baik.

Tak butuh waktu lama, akhirnya Kamil sampai di depan apartemen Amanda. Setelah memarkir sepedanya dengan rapi di area parkir, ia langsung melangkah masuk ke dalam apartemen Amanda tanpa ragu.

Langkahnya ringan, penuh harap. Ia berdiri di depan pintu unit Amanda, menarik napas sebentar, lalu dengan cepat menekan bel.

Ting tong…

Kamil menunggu, matanya tertuju pada pintu di depannya. Biasanya, tak sampai beberapa detik, Amanda akan langsung membuka pintu—kadang dengan wajah masih mengantuk, kadang sudah rapi dengan senyum tipis yang selalu berhasil membuat harinya lebih baik.

Namun kali ini… tidak ada suara. Ia mengernyit, lalu menekan bel sekali lagi. Ting tong…Masih sama. Sunyi. Kamil mulai merasa ada yang aneh. Ia mengetuk pintu, sedikit lebih keras kali ini.

"Mand… Amanda?” panggilnya, suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia kira.

Tak ada jawaban. Ia mencoba menempelkan telinganya ke pintu, berharap ada suara dari dalam—langkah kaki, atau mungkin suara televisi. Tapi yang ia dengar hanya keheningan.

Perasaan tidak nyaman mulai merambat di dadanya.

Kamil merogoh ponsel, cepat-cepat menghubungi Amanda. Nada sambung terdengar, satu kali… dua kali… lalu mati tanpa jawaban.

Ia menghela napas, kali ini lebih berat.

Pandangan Kamil kembali ke pintu itu—pintu yang biasanya selalu terbuka untuknya, kini terasa begitu asing. Kosong. Seolah tidak ada kehidupan di baliknya.

"Ke mana sih kamu, Mand…” gumamnya lirih.

Semangat yang tadi memenuhi dadanya perlahan menguap, tergantikan oleh rasa bingung… dan entah kenapa, sedikit gelisah yang mulai sulit ia abaikan.

Ia turun dari sepedanya, menuntunnya mendekat ke pintu masuk. Matanya menyapu sekitar, mencari-cari sosok yang ia kenal. Nihil.

Perlahan, senyum di wajahnya memudar.

Kamil merogoh ponselnya, mencoba menghubungi Amanda. Satu kali panggilan… tidak diangkat. Ia mencoba lagi. Masih sama—tak ada jawaban.

Perasaan yang tadi ringan, kini mulai digantikan oleh sesuatu yang tak nyaman.

"Amanda ke mana…?” gumamnya pelan.

Ia kembali menatap pintu apartemen itu, kosong. Tidak ada tanda-tanda kehadiran orang yang sejak tadi ia bayangkan sepanjang perjalanan.

Angin pagi yang tadi terasa menenangkan, kini justru terasa dingin. Kamil terdiam di sana, berdiri dengan sepeda di sampingnya, sementara harapan yang ia bawa sejak rumah perlahan berubah menjadi tanda tanya yang menggantung di dadanya.

Kamil masih berdiri di depan pintu itu, jemarinya sedikit gemetar saat kembali menekan layar ponselnya. Ia tidak ingin langsung berpikir macam-macam. Mungkin Amanda sedang mandi… atau ketiduran… atau—

Nada sambung kembali terdengar.

Satu kali…

Dua kali…

Tiga kali…

Klik.

"Hallo…” suara Amanda akhirnya terdengar, sedikit pelan, seperti baru saja bangun atau… seperti sedang menahan sesuatu.

Wajah Kamil sedikit berubah lega. “Mand, kamu di mana? Aku di depan pintu—”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba terdengar suara lain dari seberang sana. Suara laki-laki. Jelas. Dekat.

"Siapa yang nelpon, Sayang?”

Dunia Kamil seperti berhenti.

Ia membeku di tempatnya. Nafasnya tertahan. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum akhirnya berdegup jauh lebih kencang dari sebelumnya.

Di telinganya, suara itu terus terngiang.

Sayang…

Pegangan Kamil pada ponsel menguat tanpa sadar. Rahangnya mengeras, sementara pikirannya berusaha mencerna apa yang baru saja ia dengar.

Di ujung telepon, Amanda terdiam beberapa detik. Hening yang terasa begitu panjang dan menyakitkan.

"Kamil…” suara Amanda akhirnya terdengar lagi, kali ini lebih pelan. Tidak seperti biasanya. Tapi Kamil tidak langsung menjawab.

Tatapannya kosong menatap pintu di depannya—pintu yang selama ini ia anggap sebagai tempat yang hangat… kini terasa seperti tembok dingin yang memisahkan kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan.

"Di dalam… ada siapa, Mand…?” suaranya keluar lirih, nyaris seperti bisikan.

1
aku
semoga makin sukses ray 🤗
Salsa Billa
thor mana bisa sekli ucap talk 3 thor?
Barra Ayazzio: Iya betul, emang aturannya talak itu harus dijatuhkan bertahap, 1, 2, dan 3. Di sini author hanya menggambarkan betapa jahatnya Kamil, betapa dia ingin memperlihatkan kepada semuanya, kalau talak itu hak suami. Dia bisa langsung menjatuhkan talak, walaupun baru saja akad. Terimakasih komentarnya.😊
total 1 replies
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!