NovelToon NovelToon
Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Bangkit Sistem Penghakiman, Semua Penjahat Berlutut!

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Darma

"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.

Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.

Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.

Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Tersangka Palsu — Herman si Jagal

Hari kedua puluh dua, daftar 47 usaha makanan menyusut menjadi 12.

Andi Prasetyo yang membuat daftar itu terlihat seperti orang yang baru memenangkan perang kecil melawan spreadsheet. Di layar komputernya, nama-nama usaha tersusun dengan kolom supplier, jenis plastik, kapasitas bahan basah, jarak dari Jalan Pahlawan, dan riwayat pemesanan.

"Plastik dari TKP bukan barang minimarket," kata Andi. "Distributor utamanya cuma tiga. Dari tiga itu, yang mengirim ke radius Distrik Surya tinggal dua belas usaha."

Dimas mendekat. "Mana yang paling mencurigakan?"

Andi menekan keyboard.

Satu nama disorot.

Rumah Jagal Herman — Pasar Surya Indah.

Di bawahnya, data muncul: pemilik Herman, 45 tahun, tukang jagal sapi dan kambing, pernah dipenjara tiga tahun untuk penganiayaan, punya akses rutin ke pisau besar, plastik industri, darah hewan, ruang potong, dan freezer.

Dimas bersiul pelan. "Kalau Tuhan membuat tersangka, bentuknya seperti ini."

Raka tidak ikut tersenyum.

Di atas kertas, Herman memang terlalu cocok.

Terlalu cocok bisa berarti benar.

Atau berarti jebakan untuk polisi yang lelah.

Yudha membaca berkas, lalu memberi perintah. "Kita periksa. Legal. Jangan pakai emosi."

Rumah Jagal Herman berdiri di sisi belakang Pasar Surya Indah. Pagi masih muda, tapi lantainya sudah basah. Bau darah hewan, besi, asap rokok, dan daging mentah menggantung di udara. Pisau-pisau besar tergantung di dinding. Plastik tebal ditumpuk di sudut, sama jenisnya dengan plastik dari TKP.

Herman sendiri besar, berbahu lebar, kulitnya gelap terbakar matahari. Di lengan kanannya ada tato tengkorak tua yang tintanya mulai pudar.

Saat melihat polisi, wajahnya langsung mengeras.

"Ada apa, Pak? Saya bayar retribusi pasar. Semua izin ada."

Dimas menunjukkan surat. "Kami perlu memeriksa tempat ini terkait penyelidikan pembunuhan. Kerja sama."

"Pembunuhan?" Herman tertawa kasar. "Saya potong kambing, bukan orang."

Kalimat itu membuat beberapa pekerja pasar menoleh.

Raka memperhatikan semuanya: cara Herman berdiri, napasnya, tangannya yang tegang dekat pisau, dan mata yang lebih marah daripada takut.

Mata Dosa aktif.

【Herman — Indeks Dosa: 58/100】

Ada dosa.

Tapi tidak pekat seperti aura di kamar Siska.

Raka menahan kesimpulan.

Tim memeriksa lantai, meja potong, pisau, tumpukan plastik, tempat sampah, dan freezer. Semua yang mereka temukan membuat Herman terlihat makin buruk. Pisau sangat tajam. Plastik cocok. Bercak darah ada di mana-mana, meski untuk rumah jagal, darah bukan hal aneh. Di salah satu sudut, Dimas menemukan bekas noda yang sudah digosok.

"Kenapa dibersihkan beda dari area lain?" tanya Dimas.

Herman mulai berkeringat. "Itu darah sapi lama. Bau. Saya bersihkan. Salah?"

"Nanti lab yang jawab."

Herman mengumpat.

Di pasar, kabar menyebar lebih cepat daripada radio. Orang-orang mulai berbisik bahwa Herman si jagal membunuh perempuan. Wajah Herman makin merah. Ia terlihat seperti pria yang siap meledak, dan itu justru membuatnya semakin cocok sebagai tersangka di mata semua orang.

Dimas memborgolnya setelah Herman mendorong salah satu anggota yang hendak mengambil sampel pisau.

"Saya tidak bunuh siapa-siapa!" teriak Herman. "Kalian cari kambing hitam karena saya pernah masuk penjara!"

Raka mendengar kalimat itu.

Kambing hitam.

Ironis, keluar dari mulut tukang jagal.

Di ruang interogasi Satreskrim, Herman duduk dengan tangan mengepal di meja. Ia menolak menjawab dengan rapi. Setiap pertanyaan dibalas marah. Setiap bukti sirkumstansial membuatnya makin panik.

"Plastik itu dipakai ratusan pedagang!"

"Pisau saya untuk kerja!"

"Darah di lantai? Ini rumah jagal, Pak! Mau cari darah di mana, toko bunga?"

Dimas menekan. "Kamu kenal Siska?"

"Tidak!"

"Pernah ke area lokalisasi Distrik Surya?"

"Banyak laki-laki pernah ke sana! Itu dosa saya, ya, tapi bukan bunuh orang!"

Mata Dosa menyala lebih dalam.

Raka melihat aura Herman. Kotor, kasar, penuh bekas kekerasan lama. Ada dosa penganiayaan yang memang pernah membuatnya masuk penjara. Ada kebiasaan mabuk, hutang, dan marah yang buruk.

Tapi warna auranya merah kusam dan berat.

Aura di bantal Siska dingin, hitam, lengket seperti minyak tua.

Tidak cocok.

Raka menatap meja.

Kalau ia diam, Herman mungkin ditahan lebih lama. Tim bisa merasa sudah bergerak maju. Media mungkin suka. Publik suka tersangka yang terlihat seperti monster.

Tapi keadilan bukan memilih wajah yang paling mudah dibenci.

Setelah interogasi, Raka meminta bicara dengan Yudha di ruangannya.

"Bukan dia, Komandan."

Yudha menutup map perlahan. "Berdasarkan apa?"

"Buktinya cocok, tapi pola pelaku tidak. Herman kasar, impulsif, mudah meledak. Pelaku kita rapi, sabar, mengatur CCTV, membungkus dengan cara bersih. Aura..." Raka berhenti sebelum kata itu keluar terlalu jauh. "Jejak emosinya berbeda dari kamar Siska."

Yudha menatapnya. "Insting tidak cukup di pengadilan."

"Saya tahu. Beri saya waktu mencari dasar."

Yudha diam beberapa detik. "Berapa lama?"

"Malam ini."

Raka keluar dan langsung menelepon Kribo.

"Aku butuh alibi Herman. Malam Jumat, saat Siska terakhir terlihat. Cari media sosial keluarga, lokasi, foto, apa pun yang legal dulu."

"Legal dulu," gumam Kribo. "Kalimat yang menyakiti reputasiku."

Dua jam kemudian, Kribo mengirim belasan foto.

Pesta pernikahan keponakan Herman di kota sebelah. Herman ada di sana, memakai batik cokelat, duduk dekat panggung dangdut, terlihat jelas di beberapa foto dan video. Stempel waktu cocok dengan malam Siska terakhir pergi bersama pelanggan tetapnya. Perjalanan pulang-pergi membuatnya hampir mustahil berada di kamar Siska pada waktu yang sama.

Andi memverifikasi metadata.

"Foto asli," katanya. "Lokasi cocok. Waktu cocok. Bisa jadi alibi kuat."

Dimas membaca laporan itu dengan rahang kaku.

"Sial."

Yudha mengeluarkan perintah. "Lepaskan Herman setelah sampel resmi dicatat. Kita tidak punya dasar menahan."

Di ruang tahanan sementara, Herman menatap mereka dengan mata merah. "Saya bilang bukan saya. Kalian lihat tato, pisau, masa lalu, langsung pikir saya pembunuh."

Dimas tidak menjawab.

Raka berdiri di sisi pintu. "Kamu tetap akan diperiksa untuk hal lain kalau lab menemukan pelanggaran rumah jagal. Tapi untuk Siska, kamu bukan target utama lagi."

Herman mendengus, tapi marahnya sedikit turun. "Anak muda itu lebih jujur dari sebagian polisi."

Dimas menatap tajam.

Herman segera diam.

Ketika Herman pergi, suasana kantor turun. Dua hari habis mengejar jalur yang salah. Timer sistem terus bergerak di kepala Raka.

Hari keempat dari dua puluh.

Dimas memukul map pelan ke meja. "Kita kembali ke nol."

"Tidak," kata Raka.

Semua orang menoleh.

Raka menunjuk layar daftar usaha.

"Kita tahu pelaku memakai plastik yang sama. Kita tahu dia berbau rempah. Kita tahu dia bukan Herman. Dari dua belas usaha, satu sudah tereliminasi. Tinggal sebelas. Itu bukan nol. Itu lingkaran yang makin kecil."

Yudha menatapnya lama.

Lalu sudut mulutnya naik tipis.

"Bagus. Besok kita buat lingkaran itu lebih kecil lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!