NovelToon NovelToon
Harga Turun Sejuta Kali

Harga Turun Sejuta Kali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Kaya Raya
Popularitas:173
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad

Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol

Lalu dunia berubah

Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah

Rp 350000 Rp 350 MILIAR

Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri

Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu

Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5: Resign dan Kehidupan Baru

"Bibi, mulai hari ini kita pindah."

Bibi Lestari memegang kantong plastik berisi cabai dan tahu goreng di depan kamar kos. Bintang yang baru pulang sekolah berhenti di sampingnya, tali tasnya hampir putus, sepatu kirinya menganga seperti mulut ikan.

"Pindah ke mana, Kak?" tanya Bintang lebih cepat daripada Bibi.

Raka menunjuk Fortuner hitam yang berhenti di mulut gang. Mobil itu dikirim Hendra pagi ini bersama seorang staf legal dan satpam komplek. Di kursi belakang sudah ada map sertifikat sementara, tanda terima bank, serta kunci vila utama Bukit Amerta.

Tetangga yang sedang menjemur pakaian langsung menoleh.

Bibi menurunkan kantong plastik pelan-pelan. "Raka, mobil siapa itu?"

"Mobil sewaan untuk antar kita. Rumahnya milik saya. Dokumennya sah. Hendra Salim dari Mutiara Emas Properti akan kirim tim untuk bantu urus pindahan."

Bibi tidak bergerak.

Raka tidak memaksa. Ia membuka map, menunjukkan surat pemesanan, bukti pembayaran, dan salinan identitas yang sudah diverifikasi. Ia tahu uang tiba-tiba lebih menakutkan daripada kemiskinan yang akrab. Orang miskin terbiasa curiga pada keberuntungan karena biasanya ada lubang di bawahnya.

"Saya tidak mencuri, Bi. Tidak pinjam lintah darat. Tidak pakai uang orang jahat."

Bibi menyentuh kertas itu seolah takut terbakar. "Kamu dapat dari mana?"

"Dari kesempatan yang datang setelah saya akhirnya berhenti membiarkan orang menginjak kepala saya. Saya belum bisa jelaskan semua. Tapi Bibi boleh tanya Hendra, boleh cek bank, boleh lihat notaris."

Bintang menatap Raka dengan mata berbinar. "Kak, rumahnya ada kamar sendiri?"

"Ada. Kamu pilih sendiri."

Anak itu langsung melompat. Bibi menahan tangis. Harapan terlalu lama tidak mampir ke hidup mereka, dan satu kalimat Raka sudah cukup membuat dadanya bergetar.

Dua jam kemudian, mereka berdiri di depan vila utama. Bintang berlari melewati ruang tamu, berhenti di depan kolam, lalu kembali karena takut dimarahi.

"Boleh lihat semua?"

"Semua," kata Raka. "Tapi jangan lari dekat kolam."

Bibi Lestari duduk di sofa besar dan menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Raka pura-pura tidak melihat, memberi waktu agar martabat perempuan yang membesarkannya tidak runtuh di depan anak kecil.

Ponsel Raka bergetar. Herman.

Raka mengangkat.

"Di mana kamu?" suara Herman langsung menggertak. "Seragam belum kamu kembalikan. Jangan kira karena kemarin kamu bikin sandiwara di kantor properti, saya takut. Datang ke Restoran Taman sekarang. Tanda tangan surat pengunduran diri dan minta maaf kepada manajemen. Kalau tidak, saya buat laporan kamu mencuri inventaris."

Raka menatap kunci vila di tangannya.

"Saya datang satu jam lagi."

"Bagus. Pakai baju yang pantas, jangan seperti orang pasar."

Raka menutup telepon.

[Misi harian tersedia: Putuskan Rantai Lama. Objektif: mengakhiri hubungan kerja lama dengan posisi dominan dan menegaskan batas kepada penindas. Hadiah: akses Toko Sistem Level 2 setelah misi Balas Dendam selesai dipercepat sebagian.]

Satu jam kemudian, Raka masuk Restoran Taman melalui pintu depan. Pintu belakang karyawan ia tinggalkan tanpa menoleh. Ia memakai kemeja putih bersih yang dibeli staf Hendra dalam perjalanan, celana gelap, dan jam sederhana. Tidak mencolok, tetapi cukup untuk membuat beberapa pelayan saling pandang.

Wulan melihatnya dari kasir. "Raka?"

"Saya datang ambil gaji dan menyerahkan seragam."

Herman keluar dari ruang manajer dengan senyum sinis. Di tangannya ada surat yang sudah disiapkan.

"Akhirnya sadar juga. Tanda tangan di sini. Isinya kamu mengundurkan diri karena melakukan pelanggaran pelayanan, tidak menuntut gaji, dan meminta maaf kepada tamu VIP."

Raka mengambil surat itu, membaca cepat, lalu merobeknya menjadi empat bagian.

Suara sobekan itu membuat dapur mendadak sepi.

Wajah Herman merah. "Kamu berani?"

Raka menaruh amplop berisi seragam di meja.

"Ini seragam. Gaji lembur saya tiga minggu, service charge bulan ini, dan potongan yang Anda ambil tanpa dasar. Transfer hari ini. Kalau tidak, pengacara saya kirim somasi."

Herman tertawa keras, seperti butuh suara besar untuk menutupi panik.

"Pengacara? Kamu?"

Raka membuka ponsel dan memutar rekaman suara Herman tadi pagi yang mengancam membuat laporan palsu. Wajah beberapa karyawan berubah.

"Saya juga punya jadwal shift, pesan WA perintah lembur, dan bukti potongan. Kalau Anda mau lanjut, kita lanjut di Disnaker dan polisi."

Herman merampas ponsel, tetapi tangan Raka lebih cepat menangkap pergelangannya.

Ramuan Fisik Dasar membuat genggaman itu seperti penjepit baja. Herman meringis.

"Lepas!"

"Jangan sentuh barang saya."

Raka melepasnya. Herman mundur, malu karena pelayan yang biasa ia bentak kini membuatnya menahan sakit di depan semua orang.

"Kamu pikir jadi kaya sehari bisa melawan saya?"

"Saya tidak perlu kaya untuk melawan orang yang memotong gaji karyawan." Raka mengambil surat kosong dari meja, menulis pengunduran diri singkat dengan pena restoran. "Tapi karena sekarang saya punya uang, saya bisa membuat perlawanan itu mahal untuk Anda."

Manajer restoran, Pak Darma, muncul dari belakang. Ia selama ini membiarkan Herman mengatur lantai. Sekarang, setelah nama Hendra Salim dan pembelian vila beredar di grup internal, nada suaranya berubah.

"Raka, kita bisa bicarakan baik-baik. Herman mungkin terlalu emosional."

"Pak Darma, saya hanya minta hak saya dibayar. Dan saya ingin Wulan serta karyawan lain tidak dipotong seenaknya. Kalau hari ini selesai, saya tidak bawa masalah ini keluar."

Wulan menatapnya dengan mata basah. Beberapa pelayan mulai berani mengangguk.

Herman menggeram. "Kamu ancam manajemen?"

Ia maju terlalu dekat.

Raka menamparnya.

Bukan tamparan membabi buta. Satu kali, bersih, tepat di pipi kanan. Suaranya memantul sampai meja dekat jendela. Herman terhuyung dan memegang wajahnya, matanya kosong karena tidak percaya.

"Itu untuk uang lima puluh ribu yang Anda suruh saya pungut," kata Raka dingin. "Kalau mau balas, lakukan sekarang. Ada CCTV."

Herman tidak bergerak.

Pak Darma langsung memberi instruksi ke kasir untuk menghitung semua hak Raka. Dalam lima belas menit, transfer masuk. Tidak besar. Tetapi uang itu adalah penutup pintu lama.

Saat Raka keluar, Wulan menyusul.

"Terima kasih. Tapi kamu yakin aman? Herman pendendam."

"Bagus," jawab Raka. "Orang pendendam biasanya ceroboh."

Di dalam mobil, Mimpi memberi notifikasi.

[Putuskan Rantai Lama selesai. Toko Sistem Level 2 terbuka. Item baru: Pocket Space 1 meter kubik, Manual Wing Chun Dasar, Paket Ramuan Dasar.]

Raka membeli semuanya.

Cahaya dingin masuk ke telapak tangan, lalu hilang. Ruang kecil tak terlihat terbuka di kesadarannya. Manual Wing Chun mengalir seperti potongan gerak. Paket ramuan membuat tubuhnya kembali panas.

[Status diperbarui: Fisik 38.]

Raka mengepalkan tangan.

Di vila, Bibi Lestari sedang menata pakaian lama ke lemari yang terlalu besar. Bintang tertidur di kamar baru dengan seragam sekolah di samping bantal.

Raka berdiri di halaman belakang, mulai berlatih gerakan pertama Wing Chun di bawah lampu taman.

Satu pukulan. Satu langkah. Satu napas.

Minggu depan, ia tidak hanya akan datang ke pertunangan Vera.

Ia akan datang dengan bukti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!