NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Rencana Dimulai

Di dunia seperti ini, menjadi terlalu pintar mungkin jauh lebih berbahaya daripada menjadi bodoh.

Kalimat itu terus berdiri di kepala Arya Pratama saat ia berjalan pulang dari Perpustakaan Daerah Kota Buana. Di sakunya ada catatan alamat SMA Negeri 1 Buana. Di tangannya ada buku latihan Tes Masuk Kelas Inovasi yang ia pinjam dengan kartu sementara.

Begitu sampai rumah, ia tidak langsung makan. Ia duduk di meja kecil ruang tamu, membuka buku itu, lalu menulis tiga kolom di halaman kosong.

Yang harus diketahui.

Yang boleh ditunjukkan.

Yang harus disembunyikan.

Itu bukan rencana belajar. Arya sudah tahu setelah membaca soal latihan. Jika seluruh tes hanya berisi penjumlahan, pecahan, logika dasar, dan beberapa pertanyaan sains yang salah kaprah, belajar bukan masalahnya.

Masalahnya adalah seberapa banyak ia boleh terlihat benar.

Budi Pratama keluar dari kamar sambil memegang gelas. Batuknya masih ada, tetapi tidak separah kemarin. Ia melihat buku di meja, lalu melihat wajah Arya yang terlalu serius.

"Kamu benar-benar mau daftar sekolah lagi, Nak?"

"Iya, Yah."

"Sekolah mana?"

Arya menggeser kertas catatannya. "SMA Negeri 1 Buana. Kelas Inovasi."

Gelas di tangan Budi berhenti setengah jalan.

"Itu sekolah terbaik di Kota Buana. Katanya anak-anak yang masuk sana... pintar sekali. Biayanya juga pasti berat."

"Ada jalur prestasi dan tes khusus. Kalau nilainya cukup, ada pembebasan biaya."

Budi duduk perlahan. "Kamu yakin? Ayah percaya kamu, tapi kejadian kemarin masih membuat Ayah khawatir..."

"Aku yakin."

Jawaban Arya terlalu tenang. Budi menatapnya lama, seperti baru menyadari ada sesuatu yang berubah pada anaknya sejak pulang membawa obat semalam.

Dulu Arya sering diam karena ditekan.

Sekarang diamnya seperti orang sedang menghitung jarak sebelum melompat.

"Kalau gagal?" tanya Budi.

Arya menatap buku latihan. Soal nomor pertama masih terbuka: 15 + 27.

"Aku tidak akan gagal."

Budi ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk. Ada lelah di wajahnya, juga takut. Orang miskin takut berharap terlalu tinggi, karena jatuh dari harapan lebih sakit daripada tetap di bawah.

Arya mengerti itu.

Malam itu ia mulai menyusun rencana. Ia membaca syarat pendaftaran dari brosur lama: fotokopi KTP orang tua, kartu keluarga, surat keterangan pindah atau berhenti sekolah, rapor terakhir, dan biaya administrasi tes. Jalur prestasi biasanya dipakai siswa juara lomba, tetapi Kelas Inovasi punya celah: calon siswa luar sekolah bisa masuk lewat Tes Seleksi Mandiri jika mendapat izin Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum.

Celah kecil.

Cukup.

Keesokan paginya, Arya pergi ke warnet dekat pasar untuk mengecek pengumuman terbaru. Komputer di sana lambat, keyboard beberapa hurufnya hilang, dan pemilik warnet butuh hampir lima menit untuk menghitung biaya satu jam dari harga Rp 4.000 per tiga puluh menit.

"Delapan ribu, Pak," kata Arya sebelum pria itu membuka kalkulator.

Pemilik warnet menatapnya. "Oh. Iya. Cepat sekali, Mas."

Arya tidak menanggapi. Ia membuka situs sekolah. Di halaman penerimaan, pengumuman Kelas Inovasi tertulis jelas: pendaftaran ditutup dua hari lagi.

Dua hari.

Ia menyalin jadwal, mencetak formulir, lalu pulang lewat jalan utama Kota Buana. Di sisi jalan, spanduk besar SMA Negeri 1 Buana terpampang di pagar: KELAS INOVASI, TEMPAT TERBAIK UNTUK OTAK TERBAIK.

Arya berhenti di depan spanduk itu.

Dulu kata-kata seperti itu membuatnya ingin menunduk.

Sekarang ia hanya melihat sebuah pintu.

Di rumah, Budi sudah menyiapkan map berisi KTP dan kartu keluarga. Ia bahkan menyetrika kemeja putih lama Arya agar tampak layak dipakai ke sekolah baru.

"Ayah bisa antar besok," kata Budi.

"Ayah istirahat. Aku bisa sendiri."

"Anak daftar sekolah besar sendirian? Nanti orang pikir Ayah tidak peduli."

Arya terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi menghantam lebih keras daripada ejekan teman-temannya. Ayahnya tidak punya uang, tidak punya jabatan, tidak punya kenalan di sekolah elit. Tapi ia masih ingin berdiri di samping anaknya.

"Kalau Ayah batuk lagi, kita pulang," kata Arya.

Budi tersenyum. "Deal."

Malam sebelum pendaftaran, Arya menutup buku latihan setelah menyelesaikan semua soal tanpa coretan panjang. Ia sengaja menulis beberapa langkah yang lambat dan berputar seperti jawaban siswa dunia ini. Jika ia menjawab terlalu bersih, justru akan terlihat tidak normal.

Di halaman terakhir, ia menulis satu target: masuk dulu dengan cara yang cukup kuat untuk menutup pintu kasihan dan gosip.

Tetapi saat ia mengingat wajah kepala sekolah SMA Budi Utama, tawa siswa di koridor, dan tangan kasar Ayah di atas surat pemberhentian, ujung pulpennya menekan kertas lebih dalam.

Tidak.

Masuk saja belum cukup.

Ia harus masuk dengan cara yang membuat semua orang tahu, siswa buangan itu bukan datang untuk meminta belas kasihan.

Pagi berikutnya, Arya dan Budi berdiri di depan gerbang SMA Negeri 1 Buana. Bangunannya lebih besar, catnya lebih bersih, halaman depannya dipenuhi pohon rindang dan papan prestasi. Siswa berseragam rapi lewat dengan tas bagus dan wajah percaya diri.

Di pos satpam, petugas memeriksa formulir Arya dua kali. Begitu melihat kolom asal sekolah, wajahnya berubah.

"SMA Budi Utama?" Satpam itu melirik Arya, lalu surat pemberhentian di map. "Biasanya yang daftar Kelas Inovasi bukan dari kasus begini, Mas."

Budi langsung menunduk. "Kami hanya mau mencoba, Pak. Kalau memang tidak boleh, kami pulang."

Kalimat itu membuat dada Arya panas. Ia mengambil formulir dari tangan satpam, menunjuk bagian syarat seleksi mandiri.

"Di sini tertulis calon siswa luar sekolah boleh mendaftar selama membawa rapor terakhir dan surat status. Semua berkas saya lengkap."

Satpam membuka mulut, lalu membaca ulang kertas itu. Perlahan, wajahnya bingung. Ia memanggil staf penerimaan. Staf itu datang dengan ekspresi lelah, memeriksa berkas, lalu mengangguk.

"Boleh ikut tes. Nomor antrean ambil di dalam."

Arya menerima kembali mapnya. Itu bukan kemenangan besar. Hanya melewati meja pos satpam. Tetapi bagi Budi, yang tadi hampir minta maaf karena merasa tidak pantas masuk, langkah kecil itu membuat bahunya sedikit tegak.

Budi merapikan kerah baju Arya. "Bismillah, Nak."

Arya menatap gerbang itu.

"Bismillah."

Di meja penerimaan, staf meminta Arya menulis ulang nomor telepon Ayah karena angka tujuhnya dianggap mirip satu. Arya membetulkan tanpa protes, tetapi ia melihat formulir lain di tumpukan sebelah: beberapa calon siswa salah menulis tanggal lahir sendiri dan tetap diterima untuk verifikasi. Standar dunia ini lagi-lagi terlihat longgar. Justru karena itu, ia harus membuat jawabannya nanti tidak bisa dibantah.

Beberapa siswa yang lewat menatap map cokelat Arya. Tidak ada yang tahu bahwa map lusuh itu membawa surat buangan dan formulir kebangkitan sekaligus.

Lalu ia melangkah masuk dengan punggung tegak, seperti seseorang yang datang untuk mengambil kembali nama baiknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!