Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5
Gerbang Adiprawira
"Sepuluh menit ternyata cukup untuk menyesali keputusan seumur hidup," gumam Laras.
Bram yang duduk di sebelahnya menoleh. "Kamu menyesal?"
Mobil taksi daring bergerak meninggalkan stasiun. Laras memandang jaket milik Bram yang masih membungkus tubuhnya, tas bertali simpul di pangkuan, lalu sepatu lusuh yang bagian depannya mulai terbuka.
"Aku sedang menghitung kemungkinan."
"Hasilnya?"
"Tiga puluh persen keluargamu mengusirku. Tiga puluh persen mereka pingsan karena kamu pulang membawa perempuan. Sisanya, mereka menginterogasiku sampai subuh."
"Ibu saya dokter bedah. Beliau tidak mudah pingsan."
"Berarti kemungkinan interogasinya naik."
Sopir di depan menahan tawa. Bram hanya menyandarkan kepala ke kursi, tetapi sorot matanya melunak.
Di luar jendela, Malang bergerak dalam warna sore yang sejuk. Warung, toko fotokopi, deretan rumah dengan pot tanaman di teras. Kota itu tidak tampak menakutkan. Justru ketenangannya membuat Laras merasa semakin tidak pantas berada di sana.
Ia sudah terbiasa datang ke tempat baru dengan nama pendek dan tas ringan. Jika suasana memburuk, ia bisa pergi sebelum orang lain sempat mengetahui masa lalunya. Kali ini ia menuju rumah seorang pensiunan jenderal, dibawa putranya yang baru dikenal beberapa jam, dengan rencana menikah yang terdengar lebih nekat setiap kali dipikirkan.
"Bram."
"Ya."
"Berhenti dulu di penginapan dekat rumahmu."
"Tidak."
Jawabannya datang terlalu cepat.
"Kamu bahkan belum bertanya alasanku."
"Saya tahu. Kamu ingin mandi, membeli pakaian, lalu masuk ke rumah saya dalam keadaan yang menurutmu lebih layak."
Laras menatapnya curiga. "Kamu bisa membaca pikiran?"
"Tidak. Kamu sudah melihat blusmu enam kali sejak naik mobil."
Ia langsung melepas tangan dari kancing yang hilang.
"Aku tidak mau keluargamu berpikir kamu mengambil perempuan dari jalan."
"Saya memang membawamu dari situasi buruk. Bukan berarti kamu lebih rendah daripada siapa pun di rumah saya."
"Keluarga baik-baik tetap melihat penampilan."
"Mereka akan melihat kamu lebih dulu."
"Itu justru masalahnya."
Bram diam sesaat. Mobil berhenti di lampu merah. Cahaya sore memperjelas gurat lelah di wajahnya, juga goresan kecil di rahang yang mungkin didapat semalam.
"Kalau saya menaruhmu di penginapan lain sendirian setelah kejadian tadi malam, saya bukan sedang menghormati pilihanmu," katanya. "Saya sedang membiarkanmu tidak aman. Kamu boleh tinggal di kamar tamu. Pintunya bisa dikunci dari dalam. Kalau setelah bertemu keluarga saya kamu tetap ingin keluar, saya antar ke tempat yang kamu pilih."
Laras tidak langsung menjawab.
Ia tidak suka penolakan. Namun Bram tidak mengurungnya. Ia memberi urutan yang masuk akal: lihat rumahnya, temui keluarganya, baru putuskan. Untuk seorang lelaki yang suka berkata tidak dengan wajah datar, ia ternyata cukup tekun meninggalkan jalan keluar.
"Baik," ujar Laras. "Tapi kalau ibumu melempar panci, kamu berdiri di depan."
"Ibu saya tidak pernah melempar panci."
"Kamu belum pernah pulang membawa calon istri tanpa kabar."
Kali ini sopir taksi benar-benar terkekeh. Bram berdeham dan memandang ke luar jendela.
***
Mobil memasuki kawasan yang jalannya lebih lebar dan teduh. Di ujung jalan ada pos keamanan dengan palang putih-merah. Beberapa rumah berdiri rapi di balik pagar rendah. Seragam yang dijemur, sepeda anak, serta papan nama keluarga pada pintu membuat Laras menyadari mereka telah tiba di kompleks perwira.
Petugas jaga mengenali Bram dan langsung memberi hormat.
"Siap, selamat sore, Kapten. Baru kembali dari Surabaya?"
"Sore. Ya."
Tatapan petugas itu meluncur sepersekian detik ke arah Laras, lalu segera kembali lurus. Terlatih, tetapi tidak cukup cepat untuk luput dari pengamatan.
"Tamu, Kapten?"
Bram membuka pintu mobil lebih dulu, mengambil tas Laras, dan menjawab tanpa ragu, "Calon istri saya."
Laras yang baru menapak trotoar hampir tersandung sepatu sendiri.
Petugas jaga berkedip. "Siap. Selamat datang, Bu."
Bu.
Satu sapaan itu menempel di telinga Laras seperti pakaian yang terlalu besar. Belum ada akad, belum ada izin, bahkan keluarganya belum tahu. Namun di bawah tatapan orang-orang kompleks, Bram sudah menempatkannya di sisi yang tidak bisa diperlakukan sembarangan.
"Terima kasih," jawab Laras, berusaha menjaga suaranya tetap normal.
Mereka melanjutkan dengan berjalan kaki karena rumah keluarga Bram berada tak jauh dari pos. Taksi sudah pergi. Setiap langkah membuat keberanian Laras menipis.
Dua ibu yang sedang menyiram tanaman mengangguk kepada Bram. Seorang pria tua di teras melambaikan tangan. Beberapa tatapan berhenti pada jaket besar yang dikenakan Laras dan tas kecil yang dibawa Bram.
Tidak ada yang berkata buruk. Itu justru lebih membuatnya gelisah. Di tempat seperti ini, kabar mungkin bergerak lebih cepat daripada kendaraan.
"Rumah yang mana?" tanyanya.
Bram menunjuk ujung jalan. Sebuah rumah berarsitektur Jawa modern berdiri di balik pohon sawo kecik. Pagarnya tidak tinggi, tetapi halamannya luas. Sebuah mobil hitam terparkir di samping. Pada dinding dekat gerbang terpasang papan nama `Keluarga Adiprawira`.
Langkah Laras berhenti.
Semua keberanian yang muncul saat menghadapi penculik di kereta tiba-tiba lenyap di depan papan nama sederhana itu.
Di kereta, ia tahu siapa yang salah dan apa yang harus dilakukan. Di sini, tidak ada pelaku yang bisa ditunjuk. Hanya ada keluarga terhormat yang mungkin akan menanyakan asal-usulnya, dan seorang perempuan tanpa KTP yang bahkan tak tahu nama ibu kandungnya.
"Aku berubah pikiran," katanya.
Bram ikut berhenti. "Soal menikah?"
"Soal masuk sekarang. Beri aku satu malam di penginapan. Besok aku datang dengan pakaian yang benar dan cerita yang lebih rapi."
"Cerita yang lebih rapi atau kebohongan yang lebih aman?"
Pertanyaan itu tepat sasaran. Laras mengatupkan bibir.
Bram menurunkan tasnya, lalu berdiri di hadapan Laras tanpa menghalangi jalan mundur.
"Dengar. Kamu tidak harus menceritakan semua malam ini. Cukup sebutkan hal yang siap kamu katakan. Sisanya bagian saya."
"Mereka orang tuamu."
"Karena itu saya yang akan bicara."
"Kalau mereka menyuruhku pergi?"
"Saya ikut keluar."
Laras menatapnya.
Tidak ada nada romantis, tidak ada usaha membuat kalimat itu terdengar besar. Bram mengucapkannya seperti fakta bahwa matahari akan tenggelam sebentar lagi.
Sebelum Laras sempat merespons, bunyi bel sepeda terdengar dari belakang.
Seorang remaja berseragam olahraga mengayuh cepat sambil membawa bola di keranjang depan. Ia melewati mereka, mengerem mendadak, lalu menoleh sampai hampir kehilangan keseimbangan.
"Om Bram?"
"Pelan, Gilang."
Mata Gilang berpindah dari Bram ke Laras, turun ke tangan Bram yang membawa tas perempuan, lalu kembali ke jaket yang dikenakan Laras.
Rasa ingin tahu meledak di wajah remaja itu.
"Ini siapa?"
Bram belum sempat menjawab. Gilang seperti sudah menemukan kesimpulan sendiri. Ia menginjak pedal sekuat tenaga, melesat melewati gerbang rumah sambil berteriak.
"Ibuuu! Om Bram bawa pacar pulang!"