NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Sepanjang perjalanan pulang, Raka tidak bicara.

Maya duduk di sampingnya, masih memikirkan pesan dari perempuan bernama Sabrina. Ia tidak bertanya. Ia merasa tidak punya hak bertanya, meski status mereka sudah suami istri. Pernikahan mereka terlalu baru, terlalu aneh, terlalu banyak dimulai dari keadaan darurat.

Namun diam Raka membuat udara di mobil berat.

Bima menyetir dengan wajah tegang. Ia jelas menyadari sesuatu, tapi tidak berani ikut campur.

Maya akhirnya membuka suara.

“Mas Raka marah?”

“Ya.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Maya menoleh. “Karena video tadi?”

“Itu salah satunya.”

“Lalu yang lain?”

Raka menatap jalan di depan. “Yudha.”

Maya terdiam.

Ia tidak menyangka nama itu akan keluar.

“Yudha hanya teman lama.”

“Dia melihatmu seperti bukan hanya teman.”

Maya hampir tertawa karena kaget. “Mas Raka melihatnya kurang dari lima menit.”

“Cukup.”

“Cukup untuk menilai orang?”

“Cukup untuk menilai laki-laki yang masih menyimpan sesuatu.”

Maya menatap profil wajahnya. Garis rahangnya tegang, matanya dingin. Ia tampak seperti sedang menahan diri agar tidak melakukan sesuatu yang tidak perlu.

“Dulu kami satu kelas,” kata Maya pelan. “Dia ketua kelas. Kadang membantu saya meminjam buku perpustakaan. Itu saja.”

“Dia belum menikah?”

“Saya tidak tahu.”

“Kamu tidak tahu atau tidak mau tahu?”

Maya mengerutkan kening. “Mas Raka, saya bahkan baru bertemu dia lagi setelah puluhan tahun.”

Raka tidak menjawab.

Maya mulai kesal.

“Kalau begitu saya juga boleh bertanya siapa Sabrina?”

Bima batuk kecil di depan.

Raka menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Maya sebenarnya ingin menarik kembali pertanyaan itu, tapi harga dirinya menahan.

“Dia teman lama,” jawab Raka.

“Seperti Yudha?”

“Tidak.”

Jawaban itu membuat dada Maya sedikit turun.

“Oh.”

Raka melihat perubahan wajahnya.

“Dia anak Pak Surya, pemilik Surya Dharma Group. Dulu keluarga kami sering bekerja sama.”

“Dan dia menulis seolah saya tidak boleh percaya diri.”

“Sabrina terbiasa bicara seenaknya.”

“Mas Raka terbiasa membiarkannya?”

Raka diam.

Maya menyesal begitu kalimat itu keluar. Ia terdengar seperti istri yang cemburu. Padahal apa haknya? Mereka menikah karena anak dalam kandungan, bukan karena saling memilih sejak awal.

“Maaf,” katanya cepat. “Saya tidak seharusnya bertanya.”

“Kamu istriku.”

Maya menatapnya.

Raka berkata datar, “Kamu boleh bertanya.”

Jantung Maya berdetak pelan tapi dalam.

“Kalau begitu, apakah dia pernah menjadi calon istri Mas Raka?”

Bima tampak ingin menghilang dari kursi pengemudi.

Raka menjawab setelah beberapa detik.

“Orang-orang pernah mengira begitu.”

“Mas Raka?”

“Tidak.”

Maya tidak tahu kenapa ia merasa lega.

Raka menambahkan, “Aku tidak pernah melamarnya. Tidak pernah menjanjikan apa pun. Tapi Sabrina dan keluarganya mungkin punya harapan.”

“Dan sekarang saya mengganggu harapan itu.”

“Kamu bukan gangguan.”

Maya menatap tangannya sendiri. “Bagi perempuan seperti dia, mungkin saya terlihat begitu.”

Raka mengulurkan tangan, mengambil ponsel Maya dari pangkuannya.

“Apa yang Mas lakukan?”

Ia membuka kamera depan, mengarahkannya ke Maya.

“Lihat.”

Maya melihat wajahnya di layar. Masih ada sisa pucat. Matanya tampak lelah, tapi anting mutiara kecil itu memberi cahaya lembut.

“Apa yang harus saya lihat?”

“Perempuan yang tadi berdiri di depan satu ruangan dan mengakui pekerjaannya tanpa menunduk.”

Maya diam.

“Kalau Sabrina merasa terganggu olehmu, itu masalahnya. Bukan kekuranganmu.”

Maya menelan sesuatu yang hangat di tenggorokan.

Mobil berhenti di lampu merah.

Raka mengembalikan ponsel.

“Tapi Yudha tetap tidak kusukai.”

Maya hampir tertawa.

“Mas Raka tidak perlu menyukai teman sekolah saya.”

“Bagus.”

“Tapi saya juga tidak perlu menyukai Sabrina.”

Raka memandangnya.

Untuk pertama kali malam itu, ketegangan di wajahnya berkurang.

“Itu adil.”

Sesampainya di apartemen, Wati sudah menyiapkan makan malam. Maya sebenarnya masih kenyang karena emosi, tapi setelah melihat tatapan Raka, ia duduk juga. Mereka makan dalam diam yang tidak lagi setegang tadi.

Setelah makan, Raka menerima telepon dari ibunya.

Maya tidak sengaja mendengar dari ruang tamu.

“Ya, Ma.”

Jeda.

“Benar.”

Jeda panjang.

“Aku menikah resmi.”

Maya menahan napas.

Suara perempuan di seberang tidak terdengar jelas, tapi nada Raka berubah lebih rendah.

“Dia hamil.”

Diam.

Maya merasa jantungnya jatuh ke perut.

Ia tahu keluarga Raka harus diberi tahu. Tapi mendengar sendiri membuatnya takut. Bagaimana kalau ibunya menghina? Bagaimana kalau keluarga Wijaya menuntut tes DNA, meminta ia pergi, atau menyuruh Raka menikahi Sabrina saja?

Raka menoleh dan melihatnya berdiri di dekat koridor.

Maya ingin pergi, tapi terlambat.

Raka berkata ke telepon, “Aku akan membawanya bertemu Mama setelah kondisinya lebih stabil. Jangan datang mendadak. Dia butuh istirahat.”

Jeda.

“Kalau Mama ingin marah, marah padaku. Jangan padanya.”

Mata Maya panas.

Ia cepat masuk kamar sebelum Raka selesai menelepon.

Di kamar, ia duduk di tepi ranjang. Tangannya menempel di perut.

“Kamu dengar?” bisiknya pada janin yang belum terasa. “Ayahmu galak sekali.”

Pintu terbuka.

Maya langsung menarik tangannya, seperti tertangkap melakukan sesuatu memalukan.

Raka masuk membawa segelas air dan vitamin.

“Minum.”

Maya menerima. “Mama Mas Raka marah?”

“Kaget.”

“Itu berarti marah halus.”

“Dalam keluarga kami, kalau marah, Mama tidak halus.”

Maya hampir tersenyum, tapi kekhawatiran masih lebih besar.

“Dia pasti kecewa.”

“Karena aku tidak memberi tahu sebelum menikah? Ya.”

“Karena saya?”

Raka berdiri di depannya.

“Jangan memutuskan perasaan orang lain sebelum bertemu.”

Maya menatap gelas di tangannya.

“Saya hanya realistis. Ibu mana yang senang anak laki-lakinya menikah mendadak dengan janda lima puluh tahun yang hamil karena… karena kejadian seperti itu?”

Raka berlutut di depannya.

Gerakan itu membuat Maya membeku.

Pria seperti Raka tidak seharusnya berlutut di depan siapa pun, apalagi di depan perempuan seperti dirinya.

“Dengar,” katanya.

Maya menahan napas.

“Aku yang memutuskan menikah. Aku yang membawa kamu ke rumah ini. Aku yang akan bicara dengan keluargaku. Kamu tidak perlu berdiri sendirian di depan mereka.”

“Tapi kalau mereka meminta Mas memilih?”

“Aku sudah memilih.”

Maya tidak mampu menatapnya terlalu lama.

Raka mengambil gelas dari tangannya, meletakkannya di meja.

“Tidur.”

“Mas Raka tidur di mana?”

Pertanyaan itu keluar spontan.

Sejak kemarin, Raka tidur di ruang kerja. Maya baru menyadari betapa anehnya pernikahan mereka: satu kamar besar, tapi suaminya tidak menyentuh ranjang.

Raka menatapnya.

“Kamu ingin aku tidur di sini?”

Wajah Maya langsung merah. “Saya hanya bertanya.”

“Aku tidur di ruang kerja supaya kamu nyaman.”

“Oh.”

Raka berdiri.

“Kalau kamu butuh sesuatu, panggil.”

Ia berjalan ke pintu.

Maya melihat punggungnya. Tinggi, tegap, selalu seperti tidak membutuhkan siapa pun.

“Mas Raka.”

Ia berhenti.

“Terima kasih sudah datang tadi.”

Raka tidak berbalik.

“Aku terlambat.”

“Tidak. Saya sempat menjawab sendiri.”

Baru saat itu ia menoleh.

Maya tersenyum kecil. “Tapi setelah Mas datang, saya tidak gemetar lagi.”

Mata Raka berubah.

Sesuatu yang gelap dan hangat lewat di sana.

“Jangan mengatakan hal seperti itu kalau kamu ingin aku tetap tidur di ruang kerja.”

Maya tidak langsung paham.

Ketika paham, wajahnya terbakar.

Raka keluar dan menutup pintu.

Maya menarik selimut sampai menutupi wajah.

Malam itu ia sulit tidur.

Bukan karena takut pada Ratna.

Bukan karena Sabrina.

Tapi karena untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa pernikahan ini mulai berbahaya dengan cara yang sama sekali berbeda.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!