NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Pura-pura Pingsan

Naomi tidak langsung menjauh.

Air matanya sudah membasahi punggung tangan Kelvin, tetapi laki-laki itu tetap diam. Ia tidak menarik tangan, tidak menyuruhnya berhenti menangis, tidak mengubah kesedihan Naomi menjadi sesuatu yang memalukan.

Ia hanya menunggu.

Menunggu ternyata jauh lebih menyakitkan daripada dipaksa.

Karena jika dipaksa, Naomi bisa marah. Bisa mundur. Bisa berkata Kelvin keterlaluan.

Namun Kelvin hanya menyediakan tempat.

Dan tempat itu membuat Naomi sadar, ia bahkan tidak tahu cara meminta hal paling kecil.

"Kelvin," panggilnya pelan.

"Hm?"

"Boleh..." Naomi berhenti, jari-jarinya meremas ujung sweter. "Boleh ambilkan tisu?"

Kelvin mengangkat mata.

Tidak ada kemenangan di wajahnya. Tidak ada komentar menyebalkan seperti akhirnya kamu minta juga.

Ia hanya mengambil kotak tisu di ujung meja, lalu mendorongnya pelan ke arah Naomi.

"Boleh."

Satu kata itu membuat tenggorokan Naomi semakin sakit.

Ia mengambil selembar tisu dan menunduk lebih dalam. "Terima kasih."

"Sama-sama."

Hening turun di antara mereka, tetapi kali ini tidak setajam tadi. Felix, yang sejak tadi diam seperti mengerti suasana, mendekat dan meletakkan dagu di paha Naomi.

Naomi mengusap kepala Felix dengan tangan yang masih gemetar.

"Lihat," kata Kelvin tiba-tiba.

Naomi mengangkat wajah dengan mata sembap.

"Dia saja minta dielus tanpa malu."

Naomi terdiam sebentar.

Lalu, entah karena tangisnya belum habis atau karena kalimat itu terlalu tidak tahu tempat, ia tertawa kecil.

Suara tawanya pecah dan basah.

Kelvin menatapnya beberapa detik, lalu sudut bibirnya naik sedikit.

"Sudah. Makan buburnya sebelum dingin."

"Kamu benar-benar tidak romantis."

"Aku sedang menyelamatkan sarapan."

Naomi mengusap pipi lagi. "Sarapanmu lebih penting daripada adegan sedihku?"

"Adegan sedihmu sudah cukup bagus. Kalau diteruskan, nanti aku kalah."

"Kalah apa?"

Kelvin mengambil sendoknya kembali. "Kalah menahan diri."

Sendok Naomi berhenti di udara.

Panas yang baru turun ke dada tiba-tiba naik ke pipi.

"Makan," kata Kelvin ringan, seolah ia tidak baru saja melempar kalimat berbahaya.

Naomi buru-buru menyuap bubur.

Ia hampir tersedak.

***

Sore harinya, Naomi berniat menghindari Kelvin dengan cara yang sangat dewasa.

Ia membawa buku ke ruang tengah, lalu duduk di lantai dekat sofa dengan alasan sinyal di kamar kurang stabil. Padahal sinyal kamarnya baik-baik saja. Alasan sebenarnya, ia tidak mau sendirian di kamar dengan lampu hangat yang membuat semua perasaan tampak terlalu jelas.

Kelvin keluar dari ruang kerja pukul lima lewat sedikit. Lengan kemejanya digulung sampai siku, rambutnya agak berantakan, dan ponsel masih menempel di telinga.

"Kirim malam ini," katanya pendek, lalu menutup panggilan.

Naomi pura-pura fokus pada buku.

"Belajar apa?" tanya Kelvin.

"Jerman."

"Halamanmu terbalik."

Naomi menunduk cepat.

Benar.

Ia membalik buku dengan gerakan sekaku robot. "Aku sedang latihan membaca dari sudut pandang berbeda."

Kelvin menatapnya.

"Kreatif."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Aku anggap pujian."

Kelvin berjalan mendekat. Naomi refleks memeluk buku ke dada.

Sejak pagi, setiap kali Kelvin berada dalam jarak dua langkah, otaknya langsung mengulang adegan air mata jatuh ke tangan laki-laki itu. Ia tidak tahu harus melihat mata Kelvin atau pura-pura sibuk. Dua-duanya sama-sama memalukan.

Kelvin berhenti di depan sofa.

"Latihan hari ini."

"Latihan apa?"

"Minta sesuatu."

Naomi langsung waspada. "Aku sudah minta tisu tadi pagi."

"Itu pemanasan."

"Pemanasan tidak perlu ada latihan inti."

"Menurut siapa?"

"Menurut korban."

Kelvin duduk di sofa, tepat di belakang Naomi. Suaranya turun lebih dekat. "Minta satu hal sekarang."

Naomi menelan ludah. "Aku mau belajar."

"Itu bukan minta. Itu kabur."

"Aku mau... air."

"Gelasmu masih penuh."

Naomi menatap gelas di meja.

Pengkhianat.

Kelvin menyandarkan siku ke lutut, jaraknya cukup dekat sampai Naomi bisa mencium aroma sabun dan sedikit kopi dari kemejanya.

"Minta hal yang benar-benar kamu mau."

Naomi merasa telinganya panas.

Yang benar-benar ia mau?

Ia mau Kelvin berhenti menatapnya seperti itu. Ia mau Kelvin terus menatapnya seperti itu. Ia mau besok tidak datang. Ia mau kontrak itu hilang begitu saja tanpa mereka harus menyebut kata selesai.

Ia mau terlalu banyak.

Itu berbahaya.

"Aku..." Naomi menarik napas.

Kelvin menunggu.

"Aku pusing."

Satu detik.

Dua detik.

Naomi menutup mata dan menjatuhkan tubuhnya pelan ke samping.

Sangat pelan.

Begitu pelan sampai bahkan Felix yang sedang tidur di karpet sempat mengangkat kepala dengan ekspresi bingung.

Kelvin menangkap bahunya sebelum tubuhnya menyentuh lantai.

"Naomi."

Naomi tetap memejamkan mata.

Ia bahkan mengatur napas supaya terdengar lemah.

Kelvin diam.

Lalu, dengan suara yang terlalu tenang, ia berkata, "Pingsan biasanya tidak memilih posisi jatuh yang aman."

Naomi hampir membuka mata.

Tidak boleh.

Sudah telanjur.

Kelvin menghela napas. Ada sesuatu seperti tawa tertahan di suaranya. "Baiklah."

Ia mengangkat Naomi ke sofa.

Naomi kaku seketika.

Tangan Kelvin menyangga punggung dan lututnya dengan hati-hati. Tidak ada gerakan berlebihan. Namun tubuh Naomi tetap panas dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Ia dibaringkan di sofa. Sebuah bantal diselipkan di bawah kepalanya. Kelvin menarik selimut tipis dari sandaran, menutup tubuhnya sampai dada.

Naomi tetap memejamkan mata.

"Pasien pingsan," kata Kelvin pelan, "denyut nadinya cepat sekali."

Naomi menggigit bagian dalam pipi.

"Mungkin karena dekat dokter palsu," gumamnya tanpa sadar.

Hening.

Lalu suara Kelvin terdengar tepat di atasnya.

"Oh, sudah sadar?"

Naomi membuka mata.

Kelvin sedang menatapnya dengan wajah datar, tetapi matanya jelas menahan tawa.

Naomi menarik selimut sampai hidung. "Aku belum sadar."

"Kamu baru bicara."

"Orang pingsan bisa bicara dalam hati."

"Tadi keras."

"Itu efek samping pingsan."

Kelvin akhirnya tertawa pelan.

Suara itu membuat dada Naomi hangat dengan cara yang berbahaya.

Ia jarang mendengar Kelvin tertawa seperti itu. Tidak malas, tidak mengejek, hanya ringan. Seolah ruang tengah, sofa, selimut tipis, dan kebohongan kecil Naomi cukup untuk membuat hari yang berat menjadi normal.

"Baik," kata Kelvin. "Kalau begitu pasien harus istirahat."

"Kamu jangan duduk di situ."

"Kenapa?"

"Nanti aku tidak bisa pingsan dengan tenang."

"Jadi masih pingsan?"

Naomi menatap langit-langit, malu setengah mati. "Sudah tanggung."

Kelvin duduk di karpet dekat sofa, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat Naomi tahu ia ada.

Felix berjalan mendekat dan menjatuhkan tubuh di sisi lain sofa.

Selama beberapa menit, tidak ada yang bicara.

Naomi memegang ujung selimut. Malu masih ada, tetapi rasa takutnya sedikit berkurang. Kelvin tidak memaksanya mengaku apa yang ia mau. Ia hanya mengubah kepanikannya menjadi sesuatu yang bisa ditertawakan bersama.

Namun ketika matahari turun dan cahaya ruang tengah berubah lebih redup, ingatan tentang besok kembali pelan-pelan.

Besok adalah hari terakhir.

Tidak ada yang menyebutnya.

Kelvin tidak mengatakan kontrak. Naomi tidak mengatakan selesai.

Malam itu, mereka masuk ke kamar masing-masing setelah makan sederhana dan menonton setengah episode drama yang tidak benar-benar ditonton siapa pun.

Naomi berbaring di bawah lampu hangat yang belum ia matikan.

Di seberang koridor, celah bawah pintu kamar Kelvin juga masih menyala.

Sudah lewat tengah malam.

Dua kamar itu tetap terang, seolah keduanya sama-sama takut gelap akan membuat besok datang lebih cepat.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!