NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius / Tamat
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

Alya adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35

Siang menjelang sore di Penthouse Lavender diisi dengan kesibukan yang jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Jika kemarin suasana di dalam ruangan dipenuhi oleh ketegangan militer dan desau peluru, hari ini sudut-sudut ruangan dihiasi oleh lembaran-lembaran katalog desain interior mewah, sampel warna kain kasmir impor dari Italia, serta sketsa digital tata ruang arsitektur kelas dunia.

Tuan Besar Abraham tidak main-main dengan ucapannya. Selepas makan siang bersama, pria tua itu langsung mendatangkan kepala arsitek pribadi keluarga Dirgantara—seorang desainer interior kenamaan asal Milan yang terbang khusus menggunakan jet pribadi hanya untuk merancang kamar bayi bagi cicit tunggal pewaris Dirgantara Group.

Alya duduk bersandar di sofa empuk ruang tengah, mengenakan gaun hamil rumahan berbahan katun organik berwarna *sage green*. Di pangkuannya terbuka sebuah album tebal berisi contoh kayu jati antik, kristal Swarovski untuk lampu gantung, hingga serat wol paling lembut untuk karpet kamar bayi.

Di sisi kanannya, Devan duduk dengan santai namun tetap siaga, sementara di sisi kiri, Tuan Besar Abraham sibuk menunjuk-nunjuk sebuah sketsa tata letak tiga dimensi di atas tablet transparan.

"Bagaimana, Alya? Kakek rasa tema kerajaan dongeng modern dengan nuansa warna putih gading dan emas muda sangat cocok untuk cicit Kakek," ujar Kakek Abraham antusias, menatap cucu menantunya penuh harap. "Lantai kamarnya harus menggunakan kayu ek murni yang dilapisi penghangat otomatis, dan jendelanya harus memakai kaca antipeluru berlapis ganda dengan filter ultraviolet khusus."

Alya tersenyum simpul, menggeleng pelan mendengar tingkat kemewahan yang luar biasa itu. "Kakek, ini kamar bayi, bukan benteng pertahanan militer. Kalau terlalu berlebihan, nanti bayinya malah bingung."

"Tidak ada kata berlebihan untuk seorang pewaris takhta Dirgantara!" sahut Kakek Abraham cepat dengan nada bercanda yang tegas. "Benar kan, Devan?"

Devan melirik sketsa digital di tablet itu, lalu mengangguk singkat. "Desainnya bisa diterima, Kakek. Tapi bagian sudut ranjang harus dilapisi bahan peredam benturan khusus, dan sistem sirkulasi udaranya harus terhubung langsung dengan pemurni udara medis independen."

Sang arsitek asal Milan yang berdiri di hadapan mereka hanya bisa mengangguk-angguk kagum sambil mencatat setiap instruksi detail dari CEO Dirgantara Group yang terkenal sangat perfeksionis itu.

> *[Wah... Wah... Wah...]*

> *[Dengar itu, Ibu! Ayah Siaga dan Kakek Tua benar-benar ingin mengubah kamarku menjadi markas elit masa depan!]*

> *[Tapi omong-omong, desain karpet wol putih itu bagus juga. Lumayan untuk tempatku merangkak nanti sambil menyusun strategi bisnis pertama!] *

Suara Baby El yang ceria dan penuh percaya diri bergaung di dalam batin Alya. Alya menahan senyumnya, mengelus perutnya yang membuncit manis di usia lima bulan.

"El bilang dia setuju dengan karpet wol putihnya," bisik Alya pelan kepada Devan dan Kakek Abraham.

Mendengar itu, Kakek Abraham langsung tertawa terbahak-bahak puas. "Ha-ha-ha! Dengar itu! Cicitku bahkan sudah punya selera estetika yang tinggi sejak dalam kandungan! Lanjutkan desainnya, Tuan Arsitek. Pastikan selesai dalam waktu satu minggu!"

---

Menjelang pukul empat sore, Kakek Abraham pamit pulang kembali ke mansion utama karena harus memimpin rapat dewan komisaris mingguan. Sebelum pergi, pria tua itu kembali memesankan puluhan kotak buah impor dan suplemen khusus untuk Alya, memastikan tidak ada kekurangan apa pun di Penthouse Lavender.

Setelah kepergian Kakek Abraham, suasana penthouse kembali tenang. Devan menarik kursi kerjanya mendekati sofa tempat Alya bersantai. Pria itu membuka laptopnya untuk melanjutkan beberapa dokumen penting yang tertunda, sesekali melirik dan memastikan istrinya merasa nyaman.

Alya meletakkan katalog desain interior di atas meja. Pikirannya mendadak melayang, menerawang jauh ke belakang. Perjalanan hidupnya selama beberapa bulan terakhir terasa bagaikan mimpi yang bergerak terlalu cepat. Dari seorang gadis biasa yang berjuang menghadapi pengkhianatan keluarga angkatnya, diremehkan oleh Tante Melinda dan Alexander Group, hingga kini duduk di puncak kemewahan sebagai Nyonya Muda Dirgantara yang memegang kekuasaan triliunan Rupiah.

"Devan..." panggil Alya lirih, memecah keheningan sore.

Devan seketika menghentikan ketikan di keyboard-nya. Ia mendongak, menatap Alya dengan sorot mata yang langsung melembut. "Ada apa, *Wifey*? Kamu lelah? Mau pindah ke kamar tidur?"

Alya menggeleng pelan, meraih tangan besar Devan dan menggenggamnya erat. "Tidak... Aku hanya sedang berpikir. Dulu, sewaktu pertama kali aku tahu aku hamil dan terjebak dalam kekacauan keluarga Alexander, aku pikir hidupku benar-benar sudah hancur."

Devan terdiam. Jemari kasarnya balas menggenggam tangan Alya dengan erat, memberikan kehangatan yang menenangkan. Pria itu tahu betul luka masa lalu yang ditinggalkan oleh keluarga angkat istrinya.

"Aku tidak pernah membayangkan," lanjut Alya dengan senyuman tipis di bibirnya, "bahwa di balik badai yang begitu mengerikan, aku justru menemukanmu... dan menemukan malaikat kecil ini di dalam rahimku."

Devan beranjak dari kursinya, berlutut di samping sofa Alya, lalu menempelkan keningnya di punggung tangan istrinya. Suaranya terdengar sangat dalam dan tulus.

"Akulah yang seharusnya bersyukur, Alya," bisik Devan serak. "Sebelum kamu datang ke dalam hidupku, Penthouse ini hanyalah sebuah tempat tinggal yang dingin, sunyi, dan hampa. Kamu dan anak kita adalah cahaya yang meruntuhkan seluruh tembok es di hatiku. Apapun masa lalu yang menyakitimu... biarlah terkubur selamanya. Sekarang dan selamanya, tidak ada seorang pun di dunia ini yang berani membuatmu menderita lagi."

> *[Sweet... Romantis sekali Ayah Siaga kita sore ini!]*

> *[Tapi tenang saja, Ayah, Ibu! Kalaupun ada lagi musuh bodoh yang berani mencoba mengganggu kedamaian kita, aku sendiri yang akan memberikan 'kejutan spiritual' dari dalam perut Ibu!]*

Alya terkekeh pelan mendengar celoteh batin bayinya yang selalu berhasil mencairkan suasana. Ia mengusap rambut hitam Devan dengan penuh kelembutan. "Iya, aku tahu, Devan. Aku percaya padamu."

---

Namun, kedamaian di Penthouse Lavender sore itu tiba-tiba diusik oleh sebuah dering panggilan telepon dari ponsel pribadi Devan yang tergeletak di atas meja kerja.

Bukan panggilan biasa. Nada dering khusus yang berdering itu adalah protokol darurat tingkat tinggi yang hanya digunakan oleh jaringan intelijen internal Dirgantara Group di luar negeri.

Devan bangkit dari posisinya, berjalan menuju meja kerja dengan langkah tenang namun sorot matanya langsung berubah tajam. Ia mengangkat gagang telepon terenkripsi itu. "Bicara."

"Tuan Muda," suara agen intelijen di seberang terdengar sangat serius dan tergesa-gesa. "Kami mendeteksi adanya pergerakan mencurigakan yang terkait dengan sisa-sisa aset tersembunyi Edward Vance di Zurich."

Mendengar nama Edward Vance disebut kembali, otot-otot di rahang Devan langsung mengeras. Aura dingin sang kaisar bisnis seketika memenuhi ruangan. "Bukannya jaringan keuangannya sudah dibekukan secara permanen minggu lalu?"

"Benar, Tuan Muda. Rekening utama dan perusahaan cangkangnya di Eropa sudah lumpuh. Tetapi, tim pelacak kami menemukan satu brankas fisik rahasia di sebuah bank Swiss yang ternyata menggunakan nama samaran lain. Di dalam brankas tersebut, tersimpan sebuah dokumen penting berupa surat perjanjian kerja sama rahasia antara Edward Vance dengan seseorang di Jakarta."

> *[DEG!]*

Alya yang mendengar nada bicara Devan yang mulai meninggi, merasakan debaran jantungnya berdegup lebih kencang. Di dalam rahimnya, Baby El yang tadinya santai mendadak menghentikan aktivitasnya, memancarkan sinyal gelombang kewaspadaan tinggi.

> *[Ibu... ada bau-bau masalah lama yang belum tuntas!]*

> *[Seseorang di Jakarta... siapa lagi musuh busuk yang sempat bekerja sama dengan si brengsek Edward Vance selain kelompok yang sudah kita hancurkan? Jangan-jangan masih ada sisa-sisa kecoa yang bersembunyi di sudut kota ini!]*

Devan mengerutkan keningnya, menatap lurus ke luar jendela *panoramic* penthouse. "Siapa nama pihak kedua yang menandatangani perjanjian kerja sama itu di Jakarta?"

"Dari salinan dokumen digital yang berhasil kami curi dari brankas Zurich, nama yang tertera adalah... **Melinda Alexander**."

*KRAK!*

Pulpen logam di tangan Devan seketika bengkok akibat cengkeraman tangannya yang terlampau kuat.

Tante Melinda—bibi tirinya Alya yang selama ini dikenal serakah dan telah dijebloskan ke tahanan kejaksaan atas kasus penggelapan dana yayasan—ternyata menyimpan sebuah rahasia besar yang belum terungkap sepenuhnya. Sebelum kejatuhannya, wanita tua itu rupanya telah menjual sebagian aset rahasia keluarga Dirgantara kepada Edward Vance demi ambisi menghancurkan Alya!

"Tuan Muda, dokumen perjanjian itu berisi rincian rencana sabotase jangka panjang terhadap lini bisnis utama Dirgantara Group, termasuk peta jalur logistik medis dan dokumen kepemilikan tanah di pulau Cendrawasih," lanjut agen intelijen tersebut. "Apakah kami harus segera mengeksekusi interogasi ulang terhadap Melinda Alexander di tahanan?"

Devan menarik napas dalam-dalam, menekan amarahnya agar tidak terpancar di hadapan Alya, meskipun matanya menyala dengan kemarahan yang membara.

"Simpan seluruh dokumen asli itu sebagai bukti tambahan untuk memperberat masa hukumannya," perintah Devan dengan suara dingin bagaikan es. "Pastikan dia mendekam di sel isolasi paling ketat seumur hidupnya tanpa ada celah sedikit pun untuk mengajukan banding. Dan perluas penyisiran... cari tahu apakah dia memiliki kaki tangan lain di luar yang masih berkeliaran di Jakarta."

"Baik, Tuan Muda! Perintah dilaksanakan!"

Devan menutup sambungan telepon tersebut. Pria itu berdiri kaku sejenak di dekat jendela sebelum akhirnya berbalik melangkah pelan menghampiri Alya. Ia melihat wajah Alya yang sedikit memucat setelah mendengar nama Melinda disebut.

Devan langsung berlutut di depan sofa, merengkuh tangan Alya dan menatapnya dengan penuh ketenangan.

"Jangan khawatir, Alya," bisik Devan lembut, seolah membaca kecemasan di mata istrinya. "Melinda sudah berada di tempat di mana dia tidak akan pernah bisa melangkah keluar seumur hidupnya. Dokumen itu hanya sisa-sisa sampah dari masa lalu yang tidak akan bisa menggoyahkan kita sedikit pun."

Alya mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya ke bahu Devan. Ia tahu bahwa bayang-bayang masa lalunya bersama keluarga Alexander memang sempat meninggalkan luka, namun di dalam pelukan pria ini, tidak ada lagi rasa takut yang tersisa.

> *[Tenang saja, Ibu! Bekas-bekas kecoa masa lalu itu sudah tidak punya gigi lagi untuk menggigit!]*

> *[Biarkan mereka membusuk di penjara. Kita punya masa depan triliunan Rupiah dan pulau pribadi yang menunggu untuk kita jelajahi!]*

Alya tersenyum simpul di balik pelukan hangat Devan. Badai demi badai telah mereka lewati bersama, dan kini, tidak ada satu kekuatan pun di muka bumi yang mampu merusak kebahagiaan keluarga kecil Dirgantara.

1
dewi
kereeen
Ayu Rahayu
/Drool//Drool/
Riza Syamsi Y
aku mampir thor, semangat💪💪💪 untuk berkarya
Rina ylna: Terima kasih kk
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Devan and Alya 😄🙏 welcome to the world the new baby boy 🤭🙏
LanLan.CNL
semangat ya kak💪
LanLan.CNL: makin keren
total 1 replies
M. T🌻
keren juga, kalau punya bayi kayak gitu🤭
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya....
Ariany Sudjana
musik klasik bisa jadi stimulus yang bagus bagi perkembangan otak janin
beybi T.Halim
keren👍👍👍👍
beybi T.Halim
yaa jgn nama juga laa.,bisa hubby,ayah.,ayang beb🤭kannn gak sopan manggil nama doank
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!