Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Notifikasi
Yu bangun dengan tekad baru.
Mulai hari itu, ia tidak akan membuka akun MakiGwMasukBui di ruang publik. Tidak di sofa, tidak di meja makan, tidak di dapur, apalagi ketika Zhen berada dalam radius lima meter. Ia juga mematikan preview notifikasi, mengganti ikon aplikasi, dan menyembunyikan WhatsApp bisnis di folder bernama Kalkulator.
Nama folder itu membuatnya merasa sedikit pintar.
Sampai sarapan.
Zhen membuat roti panggang dan telur orak-arik. Yu duduk di meja makan sambil membaca materi kuliah, ponsel tergeletak di samping piring. Ia sudah memastikan semua notifikasi sensitif mati. Semua aman.
Zhen duduk di seberangnya dengan kopi.
"Hari ini kelas sampai jam berapa?"
"Tiga."
"Aku ada meeting sampai dua empat puluh. Tunggu di lobby."
"Aku bisa pulang sendiri."
Zhen menatapnya.
Yu langsung memperbaiki. "Maksudku, aku bisa menunggu."
"Bagus."
Ia menggigit roti terlalu keras.
Beberapa detik kemudian, ponsel Zhen bergetar. Ia melirik layar, lalu mengetik sesuatu dengan satu tangan. Wajahnya tidak berubah.
Di ponsel Yu, tidak ada apa-apa.
Bagus.
Lalu Zhen meletakkan ponselnya di meja, mengambil kopi, dan berkata seolah sambil lalu, "Kamu tidur nyenyak?"
Yu tersedak telur.
"Kenapa tanya?"
"Lehermu."
Refleks, tangan Yu naik ke leher. Memang sedikit pegal karena tidur di sofa. Karena bahu Zhen. Karena ia manusia tanpa harga diri.
"Aku salah bantal."
"Bantal?"
"Sofa. Maksudku sofa."
"Sofa bukan bantal."
"Semalam dia bekerja sebagai bantal."
Zhen memandangnya lama sekali.
Yu baru sadar kalimat itu juga buruk.
Sebelum ia sempat memperbaiki, ponselnya menyala.
Satu notifikasi muncul di layar.
Kalkulator
Z: Lehermu sakit?
Dunia Yu berhenti.
Ia meraih ponsel terlalu cepat sampai garpunya jatuh ke lantai.
Trang.
Suara itu membuat Burger yang sedang tidur langsung mengangkat kepala.
Zhen menunduk melihat garpu, lalu melihat ponsel Yu yang sudah ia balik menghadap meja. Gerakannya tenang. Terlalu tenang.
"Ada apa?" tanyanya.
"Tidak."
"Garpu menyerang?"
"Iya."
"Agresif sekali peralatan makan di rumah ini."
Yu tertawa kaku. "Aku ambil garpu baru."
Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya berdecit. Saat membungkuk mengambil garpu, ponsel di meja bergetar lagi. Karena posisinya terbalik, layarnya tidak terlihat, tapi bunyinya cukup membuat seluruh jiwa Yu keluar dari tubuh.
Zhen mengambil kopinya.
Tidak melihat.
Atau pura-pura tidak melihat.
Yu tidak tahu mana yang lebih menakutkan.
Di dapur, ia membuka ponsel dengan tangan gemetar.
Z: Jangan panik.
Yu hampir menjatuhkan ponsel ke wastafel.
Jangan panik?
Bagaimana bisa seseorang mengirim jangan panik tepat saat ia panik? Apakah Z punya kamera di rumah ini? Apakah admin racing itu cenayang? Atau skenario paling mengerikan, apakah Zhen...
Yu menutup ponsel sebelum pikiran itu selesai.
"Kamu lama sekali mengambil garpu," kata Zhen dari meja.
"Aku memilih yang paling tidak agresif."
"Masuk akal."
Tidak. Tidak ada yang masuk akal.
Yu kembali duduk, menjaga ponsel tetap di pangkuan. Zhen tidak bertanya. Ia makan dengan tenang, memberi Burger sepotong kecil telur tanpa garam, lalu mengingatkan Yu membawa payung karena ramalan cuaca mengatakan hujan siang.
Semakin normal Zhen bersikap, semakin tidak normal detak jantung Yu.
Di kampus, Yu hampir tidak fokus.
Lily mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya. "Halo? Chua Yulin masih di bumi?"
"Aku hampir ketahuan."
Mata Lily langsung membesar. "Ketahuan apa?"
Yu menarik Lily ke sudut koridor dan berbisik secepat mungkin tentang notifikasi Kalkulator, pesan Z, garpu jatuh, dan Zhen yang duduk di seberangnya seperti manusia paling tidak berdosa di dunia.
Lily mendengarkan dengan ekspresi yang makin lama makin sulit.
"Pertama," kata Lily, "folder Kalkulator itu bodoh."
"Aku tahu."
"Kalau lo mau sembunyi, jangan pakai nama yang dipilih orang panik umur dua belas tahun."
"Aku panik."
"Kelihatan. Bahkan dari cerita ulangnya pun kelihatan."
Yu menunduk, merasa telinganya ikut panas.
Panas sampai lehernya.
"Kedua, Z aktif pagi-pagi dan nanya leher lo sakit tepat setelah lo tidur di bahu Zhen?"
Yu menutup wajah. "Jangan gabungkan kalimatnya begitu."
"Aku cuma baca data."
"Data bisa menyakiti orang."
"Ketiga," Lily mencondongkan badan, "lo yakin Zhen nggak lihat?"
Yu diam.
Itulah bagian terburuk.
Zhen mungkin tidak melihat. Mungkin ia hanya fokus pada kopi. Mungkin notifikasi itu cukup cepat ia ambil.
Tapi mata Zhen terlalu tajam untuk melewatkan layar yang menyala tepat di depan meja.
"Kalau dia lihat, dia pasti tanya," kata Yu, lebih untuk menenangkan diri.
Lily mengangkat alis. "Atau dia pura-pura nggak lihat karena dia sudah tahu."
"Lil."
"Oke, oke. Aku diam."
Namun kalimat itu sudah masuk ke kepala Yu dan menolak keluar.
Sore hari, Zhen benar-benar menjemput di lobby tepat pukul tiga lewat lima. Hujan deras turun di luar gedung. Ia membawa payung hitam yang sama, berdiri di dekat pintu kaca, dan beberapa mahasiswa masih mencuri pandang.
Yu berjalan mendekat dengan ponsel di dalam tas, seolah benda itu bom.
"Kamu pucat," kata Zhen.
"Kelas statistik."
"Kamu tidak ambil statistik semester ini."
"Trauma lintas mata kuliah."
Zhen menatapnya.
Yu menatap balik, berusaha terlihat normal.
Mereka berjalan ke mobil di bawah payung. Hujan memukul kain payung, membuat ruang kecil di bawahnya terdengar seperti dunia terpisah. Bahu mereka hampir bersentuhan, tapi Zhen menjaga jarak cukup tepat.
Di dalam mobil, Yu baru berani mengeluarkan ponsel.
Tidak ada notifikasi.
Ia menghela napas sangat pelan.
"Sudah aman?" tanya Zhen.
Yu membeku.
"Apa?"
"Seat belt," kata Zhen, menunjuk sabuk pengaman Yu yang belum terpasang. "Sudah aman?"
Yu menarik seat belt cepat-cepat. "Iya."
Zhen menyalakan mesin.
Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak membahas apa pun tentang notifikasi. Tidak bertanya tentang Kalkulator. Tidak menyinggung Z. Ia hanya menanyakan tugas Yu, lalu mengomentari bahwa dosen statistik yang tidak ia ambil terdengar menakutkan.
Yu hampir percaya ia selamat.
Malamnya, setelah Yu masuk kamar, Zhen duduk di ruang tengah dan membuka chat Z.
Di layar, pesan terakhirnya masih terbaca.
Jangan panik.
Ia mengetuk meja dengan jari sekali.
Yu benar-benar panik tadi.
Dan ia benar-benar membalik ponsel terlalu cepat.
Zhen menatap pintu kamar Yu. Di balik pintu itu, mungkin gadis itu sedang mengganti nama folder Kalkulator menjadi sesuatu yang lebih bodoh lagi.
Ia membuka kolom pesan, mengetik satu kalimat, lalu berhenti.
Belum.
Kalau terlalu cepat, Yu akan lari.
Zhen menghapus pesan itu.
Namun sebelum mematikan layar, ia melihat pantulan dirinya di kaca gelap ponsel dan menyadari sesuatu yang lebih merepotkan.
Ia tidak hanya ingin tahu kapan Yu akan mengaku.
Ia mulai menunggu cara Yu berusaha menyembunyikannya.