1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 ruang fondasi
Cahaya dari kalung angka 13 perlahan meredup.
Peta yang melayang di udara masih terlihat beberapa detik sebelum akhirnya berubah menjadi seberkas cahaya yang menunjuk ke arah pintu belakang ruang arsip.
"Itu jalannya," bisik Alea.
Mereka segera berlari mengikuti cahaya tersebut
Anehnya, makhluk bermata merah itu tidak mengejar.
Ia hanya berdiri di dekat Buku Hitam sambil memperhatikan mereka pergi.Tatapannya membuat bulu kuduk Alea merinding.
Seolah-olah...Makhluk itu tahu mereka akan kembali.
Di balik pintu arsip terdapat sebuah lorong batu yang sempit.Dindingnya lembap dan dipenuhi lumut.Tidak ada jendela,Tidak ada lampu.
Hanya cahaya dari kalung Alea yang menerangi jalan.Semakin jauh mereka berjalan, lorong itu semakin menurun.
Udara berubah semakin dingin.Suara tetesan air terdengar dari segala arah.
"Hotel ini... ternyata dibangun di atas tempat lain," gumam Keanu.
Liora mengusap dinding batu.
"Ini bukan pondasi hotel."
"Bangunan ini jauh lebih tua."
Beberapa meter kemudian, mereka menemukan sebuah pintu besi besar.Di atasnya terukir tulisan yang hampir hilang dimakan waktu.
RUANG FONDASI
Alea menelan ludah.
"Mungkin... semua jawaban ada di balik pintu ini."
Raka mengeluarkan kunci emas yang diberikan Aditya.
Saat kunci dimasukkan...Klik Pintu terbuka dengan sendirinya.Bau tanah basah langsung menyambut mereka ruangan itu sangat luas.
Di tengahnya berdiri sebuah meja batu berbentuk lingkaran Di atas meja terdapat sebuah buku tua yang terikat rantai besi.Di sampingnya ada enam lilin yang sudah padam.
Dan tepat di belakang meja...
Berdiri sebuah patung manusia tanpa wajah.Patung itu memegang timbangan.
Di salah satu sisinya terdapat enam batu hitam.
Di sisi lainnya...Kosong.
"Apa maksudnya ini?" tanya Dimas.
Belum sempat ada yang menjawab, Mira berjalan perlahan menuju meja batu.Ia menyentuh salah satu lilin.
Tiba-tiba...
Husss!
Api biru menyala sendiri Disusul lilin kedua.
Ketiga,Keempat,Keenam lilin kini menyala bersamaan.Ruangan langsung dipenuhi cahaya kebiruan.Rantai yang mengikat buku tua mulai bergetar.
Krek... Krek...
Dengan sendirinya, rantai itu terlepas.Buku perlahan terbuka.Halaman-halamannya bergerak sendiri hingga berhenti pada halaman pertama.
Di sana tertulis dengan tinta hitam:
«"Perjanjian Penjaga Karunia."»
Di bawahnya terdapat sebuah nama.
Surya Adinata.
Tanggalnya...
17 Juli 1986.
"Empat puluh tahun lalu..." bisik Alea.
Raka membaca isi perjanjian itu dengan suara pelan.
«'Aku menyerahkan hotel ini kepada Sang Penjaga agar menjadi tempat yang tak pernah sepi. Sebagai gantinya, setiap dua puluh tahun akan diberikan enam jiwa sebagai pembayaran.'»
Ruangan langsung hening.
Naya menutup mulutnya.
"Jadi..."
"Semua ini memang disengaja?"
Keanu mengepalkan tangannya.
"Hotel ini dibangun di atas pengorbanan manusia."
Tepat saat itu...
Halaman berikutnya terbuka sendiri.
Di sana terdapat dua kolom.
Korban Pertama (1986) — Enam nama.
Korban Kedua (2006) — Maya, Rio, Doni, Sinta, Arga, Niko.
Lalu...
Di bagian paling bawah...
Perlahan muncul tulisan baru.
Korban Ketiga (2026)
Satu per satu nama mulai ditulis oleh tinta yang bergerak sendiri.Alea Pramesti,Naya Andini.,Raka Mahendra.
...
Alea langsung menutup buku itu sekuat tenaga
Namun sudah terlambat.
Nama mereka telah tercatat,Ruangan Fondasi mendadak bergetar.
Sesaat setelah nama keenam siswa itu selesai tertulis, tinta hitam di halaman perjanjian mulai bergerak kembali.
Perlahan membentuk sebuah kalimat baru.
«"Perjanjian belum lengkap."»
Di bawahnya muncul satu baris lagi.
«"Dibutuhkan satu tanda tangan."»
Alea mengernyit.
"Tanda tangan siapa?"
Belum sempat ada yang menjawab, buku tua itu membalik ke halaman terakhir.
Di sana terdapat ruang kosong.
Di bagian bawah halaman hanya ada satu garis panjang, tempat seseorang harus menandatangani.
Di samping garis itu muncul tulisan merah.
«"Ahli waris."»
Semua mata langsung tertuju kepada Raka.
Raka menelan ludah.
"Kenapa... lihat aku?"
Mira melangkah pelan mendekatinya.
"Karena..."
"...kamu adalah keturunan terakhir keluarga Mahendra."
"Rio juga keluarga Mahendra."
"Dan keluarga kalian memiliki hubungan dengan Hotel Karunia jauh sebelum tragedi itu terjadi."
Raka menggeleng keras.
"Nggak mungkin."
"Keluargaku cuma keluarga biasa."
Tiba-tiba terdengar suara pintu besi terbuka sendiri.
Pak Bima masuk sambil terengah-engah.
Wajahnya penuh luka dan debu.
"Jangan sentuh buku itu!"
Semua menoleh.
Pak Bima berjalan menghampiri mereka.
"Ayah Rio..."
"...bukan tamu hotel."
"Dia adalah arsitek yang membantu membangun Hotel Karunia."
Ruangan kembali hening.
Raka mematung.
"Ayahku?"
Pak Bima mengangguk.
"Setelah tragedi pertama tahun 1986, sebagian bangunan hotel rusak."
"Ayahmu diminta memperbaiki fondasinya."
"Tapi tanpa sengaja..."
"...ia menemukan ruang ini."
"Ayahmu berusaha menghancurkan perjanjian."
"Namun sebelum berhasil, ia menghilang tanpa jejak."
Mata Raka berkaca-kaca.
"Jadi... Ayah selama ini tahu?"
Pak Bima mengangguk pelan.
"Ibumu menyembunyikan semuanya untuk melindungi mu."
Saat itu juga, Rio muncul di samping Raka.
Wajahnya tampak jauh lebih tenang.
"Ayah memang mencoba menghentikan kutukan."
"Tapi beliau gagal."
"Karena perjanjian tidak bisa dihancurkan."
"Hanya bisa..."
Rio berhenti sejenak.
"...diganti."
Alea memandangnya.
"Diganti?"
Rio mengangguk.
"Harus ada seseorang yang mengambil alih posisi Sang Penjaga."
"Kalau tidak..."
"...kutukan akan terus meminta enam korban setiap dua puluh tahun."
Suasana menjadi sunyi.
Semua mulai memahami arti ucapan Rio.
Kutukan itu tidak bisa dimusnahkan.
Hanya bisa dipindahkan.
Tiba-tiba Buku Perjanjian kembali terbuka sendiri.
Di halaman terakhir muncul satu kalimat baru.
«"Satu Penjaga untuk enam kehidupan."»
Lalu, tanpa ada yang menyentuhnya, pena hitam tua yang berada di atas meja perlahan melayang.
Pena itu bergerak sendiri...
Dan berhenti tepat di depan Alea.
Seolah...
Memintanya membuat pilihan.