Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 023
Di Bawah Hujan
"Kamu berhenti!"
Suara Sekar pecah di tengah hujan, tetapi Kevin tetap berjalan.
Aspal di depan Polsek sudah berubah licin. Cahaya lampu jalan terbelah menjadi garis-garis panjang di genangan kecil. Setiap kendaraan yang lewat memercikkan air ke tepi trotoar, membuat malam terdengar penuh desis dan klakson jauh.
Sekar mengejarnya.
"Kevin!"
Langkah Kevin sempat melambat.
Hanya sempat.
Lalu ia meneruskan langkah, seolah kalau berhenti satu detik saja, seluruh pertahanan yang ia bangun sejak tadi akan runtuh.
Sekar menggigit bibir. Sepatunya bukan sepatu untuk berlari di jalan basah. Rok seragamnya menempel di paha, rambutnya menutup sebagian mata, tetapi ia tidak peduli. Ia mengangkat tangan untuk menyibak rambut, lalu berlari lagi.
"Aku bilang berhenti!"
Kevin berhenti.
Bukan karena patuh.
Karena Sekar terpeleset.
Kakinya menginjak garis cat jalan yang licin. Tubuhnya oleng ke samping, telapak tangannya refleks mencari pegangan yang tidak ada. Dunia miring. Di satu detik itu, suara hujan mendadak jauh.
Sebelum lututnya menghantam aspal, sebuah tangan menyambar pergelangan tangannya.
Tarikan itu keras.
Sekar terhuyung maju dan menabrak dada Kevin.
Napas Kevin berat di atas kepalanya.
"Lo gila?" suaranya kasar, hampir berteriak. "Lo mau jatuh di jalan?"
Sekar memegang jaketnya. Kain hitam itu basah sampai dingin menembus jarinya.
"Kalau kamu berhenti dari tadi, aku nggak perlu lari."
Kevin menatapnya seperti ingin memarahinya lebih jauh. Tapi tangannya masih memegang pergelangan Sekar. Kuat. Terlalu kuat untuk seseorang yang katanya ingin pergi.
Sekar menurunkan pandangan ke tangan itu.
Kevin sadar. Ia melepasnya cepat.
Terlambat.
Sekar sudah melihat.
"Kamu masih takut aku jatuh," katanya.
"Siapa pun bakal nolong orang jatuh di depan mata."
"Bukan siapa pun." Sekar mengangkat wajah. Hujan membuat bulu matanya berat, tetapi matanya tetap menatap lurus. "Kamu."
Kevin memalingkan wajah.
Di belakang mereka, lampu Polsek tampak lebih jauh. Bryan dan Pak Arief ada di gerbang, samar di balik tirai hujan. Bu Wati menahan payung yang hampir terbalik angin. Mereka tidak mendekat. Mungkin Pak Arief mengerti, ada pertengkaran yang kalau diputus dari luar justru akan meninggalkan luka terbuka.
Kevin berjalan ke tepi ruko yang sudah tutup. Kanopinya sempit, hanya cukup untuk membuat hujan tidak langsung menghantam wajah. Sekar mengikutinya. Kevin berhenti karena tidak mungkin lagi pura-pura tidak tahu.
"Jangan ikut gue."
"Aku sudah ikut."
"Sekar."
"Mau marah? Marahlah."
Kevin menoleh tajam. "Lo pikir gue nggak marah?"
"Aku tahu kamu marah."
"Nggak. Lo nggak tahu." Ia menunjuk jalan di belakang mereka. "Gue bilang jangan ikut, lo tetap lari. Gue bilang pulang, lo malah hujan-hujanan. Gue bilang berhenti jadi pacar gue, lo jawab nggak. Lo nggak pernah dengar kalau gue ngomong soal hal yang paling penting."
"Karena kamu bicara untuk melukai diri sendiri."
"Gue bicara biar lo selamat."
"Dari apa?"
"Dari gue!"
Suara Kevin menghantam dinding ruko kosong.
Sekar diam.
Hujan mengisi jeda itu, deras dan tidak sabar.
Kevin tertawa pendek, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Air menetes dari dagunya. Bibirnya yang luka terbuka lagi, garis merah kecil bercampur hujan.
"Lo lihat? Ini." Ia membuka kedua tangan, menunjuk dirinya dari rambut sampai sepatu basah. "Ini yang gue maksud. Gue marah, gue kasar, gue nggak punya cara ngomong yang bagus. Gue cuma bisa teriak. Cuma bisa bikin orang takut."
"Aku tidak takut padamu."
"Harusnya lo takut."
"Aku tidak mau."
"Kenapa keras kepala banget?"
"Karena kamu lebih keras kepala."
Kevin menatapnya dengan mata merah. "Ini bukan bercanda, Sekar."
"Aku juga tidak bercanda."
Sekar mendekat satu langkah. Ia bisa melihat napas Kevin naik turun tidak teratur. Bisa melihat jari-jarinya menggenggam dan membuka, seolah ia sedang melawan dorongan untuk menyentuh sekaligus mendorong.
"Kamu bilang kamu cuma bisa membuat orang takut," kata Sekar. "Tapi Bryan tidak takut padamu. Yola tidak. Steven tidak. Rio, yang dulu pernah melawanmu, sekarang justru berdiri di pihakmu. Pak Arief datang karena dia peduli. Bu Wati datang karena dia tidak ingin kamu sendirian."
"Mereka datang karena lo."
"Tidak semuanya tentang aku."
"Buat gue, iya."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Sekar berhenti.
Kevin juga membeku, seolah baru sadar apa yang ia ucapkan.
Hujan menabrak kanopi seng di atas mereka, menciptakan suara berisik yang membuat dunia terasa sempit. Namun di antara suara itu, napas Kevin terdengar jelas.
"Buat gue semuanya tentang lo," katanya akhirnya, lebih pelan. "Itu masalah paling besar."
Sekar merasakan jantungnya sakit.
Kevin menunduk. "Sebelum lo datang, hidup gue berantakan tapi gampang. Gue nggak peduli orang ngomong apa. Gue nggak peduli besok masuk sekolah atau nggak. Gue nggak peduli luka gue sembuh atau tambah parah. Tapi sejak lo datang, semua jadi berat."
"Berat?"
"Iya." Kevin mengangkat wajah. "Karena gue mulai peduli. Gue mulai mikir kalau gue dikeluarin sekolah, lo bakal sedih. Kalau gue berantem, lo bakal panik. Kalau gue nggak makan, lo bakal marah. Kalau gue hilang, lo bakal nyari."
Sekar tidak bisa bernapas sebentar.
"Itu bukan hal buruk."
"Buat orang lain mungkin nggak." Kevin tersenyum pahit. "Buat gue, itu bikin gue takut tiap hari."
"Takut dicari?"
"Takut ada orang yang bakal hancur kalau gue rusak."
Kata-kata itu membuat Sekar ingin menangis lagi.
Kevin melihat wajahnya, lalu ekspresinya kacau.
"Jangan begitu," katanya.
"Begitu apa?"
"Jangan lihat gue seolah gue pantas disayang."
Sekar maju lagi, kali ini lebih cepat.
Kevin mundur sampai punggungnya hampir menyentuh rolling door ruko. Ia tidak bisa mundur lagi. Sekar berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya satu lengan.
"Kamu pantas disayang."
"Sekar."
"Kamu pantas dikhawatirkan."
"Berhenti."
"Kamu pantas ditunggu."
"Gue bilang berhenti."
"Kamu pantas punya orang yang datang ke Polsek untukmu."
Kevin menutup mata keras.
Ketika ia membukanya, matanya sudah basah bukan hanya karena hujan.
"Gue nggak tahu caranya," bisiknya.
Sekar hampir tidak mendengar.
"Apa?"
"Gue nggak tahu caranya jadi orang yang lo tunggu." Suara Kevin patah di ujung. "Gue nggak tahu caranya pulang ke seseorang. Gue nggak tahu caranya dimarahin karena telat makan tanpa pengin kabur. Gue nggak tahu caranya dipercaya tanpa mikir kapan orang itu bakal nyesel."
Sekar mengangkat tangan.
Kevin langsung menegang.
Tangan Sekar berhenti di udara. Perlahan, sangat perlahan, ia menurunkannya bukan ke wajah Kevin, melainkan ke dada jaketnya. Hanya menyentuh kain basah, tidak memaksa lebih.
"Belajar," katanya.
Kevin menertawakan kata itu, tetapi air matanya jatuh bersamaan dengan hujan.
"Gampang banget lo ngomong."
"Tidak gampang. Tapi kamu tidak perlu langsung bisa."
"Terus kalau gue gagal?"
"Kita ulangi."
"Kalau gue gagal lagi?"
"Kita ulangi lagi."
"Kalau gue nyakitin lo?"
Sekar terdiam sedetik.
Kevin menangkap jeda itu, wajahnya langsung mengeras. "Lihat? Lo juga takut."
"Aku takut," kata Sekar.
Kevin seperti ditampar.
"Aku takut kamu pergi," lanjut Sekar. "Aku takut kamu memutuskan sendiri bahwa kamu tidak pantas. Aku takut kamu menutup semua pintu sebelum aku sempat mengetuk. Aku takut kamu lebih percaya kata orang daripada tanganku yang sedang memegangmu."
Ia menggenggam jaket Kevin lebih kuat.
"Tapi aku tidak takut mencintaimu."
Kevin memandangnya.
Seluruh kemarahan di wajahnya runtuh perlahan, menyisakan anak laki-laki basah kuyup yang terlalu lama memikul dunia dengan bahu sendirian.
Ia mengangkat tangan, ragu-ragu, lalu menyentuh punggung tangan Sekar yang menggenggam jaketnya.
Sentuhan itu ringan.
Sekar menahan napas.
Namun sebelum ia sempat merasa lega, Kevin menarik tangannya lagi.
"Jangan bikin gue berharap," katanya lirih.
"Kenapa?"
"Karena kalau gue berharap, terus lo pergi, gue nggak tahu harus jadi apa."
Sekar menggeleng. "Aku tidak pergi."
"Semua orang bilang begitu sebelum pergi."
Kalimat itu jatuh seperti batu.
Sekar akhirnya mengerti. Ini bukan hanya tentang Polsek. Bukan hanya tentang gosip. Bukan hanya tentang rambut biru, nilai berantakan, atau tangan yang sering mengepal. Ini tentang setiap orang yang pernah meninggalkan Kevin lalu membuatnya percaya bahwa ditinggalkan adalah keadaan paling masuk akal dalam hidupnya.
Sekar ingin memeluknya.
Tapi Kevin masih memandangnya seolah pelukan pun bisa menjadi janji palsu.
"Kalau kata-kataku tidak cukup," kata Sekar pelan, "aku akan pakai cara lain."
Kevin mengerutkan dahi.
"Cara apa?"
Sekar tidak menjawab.
Ia hanya menatap punggung tangan Kevin yang lecet, tangan yang tadi menyelamatkannya sebelum jatuh, tangan yang selalu ia pakai untuk mendorong dunia menjauh dari Sekar tapi tidak pernah tahu cara menerima genggaman.
Kevin mengikuti arah pandangnya.
"Jangan lakukan hal aneh," gumamnya, masih mencoba terdengar galak.
Sekar mengangkat mata.
"Kalau kamu berani pergi lagi," katanya, "aku juga berani melakukan hal yang lebih aneh."
Untuk pertama kali sejak Polsek, Kevin tampak benar-benar bingung.
Sebuah motor lewat terlalu dekat di sisi jalan. Ban depannya menghantam genangan, memercikkan air kotor ke arah trotoar.
Kevin bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
Ia menarik Sekar ke balik tubuhnya, satu lengan terangkat untuk menahan cipratan. Air mengenai punggung jaketnya, membuat kain itu semakin berat. Sekar berdiri di belakangnya, terlindung, masih menggenggam ujung jaket yang sama.
Kevin membeku.
Sekar juga.
Tidak ada kata yang bisa menutupi gerakan itu. Ia baru saja menyuruh Sekar menjauh, baru saja mengatakan dirinya berbahaya, tetapi tubuhnya tetap memilih berdiri di depan Sekar saat air kotor datang.
"Lihat?" suara Sekar hampir tenggelam oleh hujan. "Bahkan saat kamu marah, tubuhmu tetap memilih melindungiku."
Kevin tidak menjawab. Bahunya naik turun satu kali, berat.
Di balik kebingungan itu, ada retakan kecil. Bukan sembuh, belum. Tetapi cukup untuk membuatnya tetap berdiri di depan Sekar, tidak lagi melangkah menjauh.
Hujan terus turun.
Sekar tidak melepaskan jaketnya.
Kevin tidak menyuruhnya pulang lagi.