Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Satu Bulan Lagi
Setelah sore hujan itu, Ayu tidak lagi berusaha terlalu keras menghindari Raka.
Ia tetap sibuk. Restoran tetap ramai. Homestay mulai menerima tamu akhir pekan. Nenek Sari tetap memesan barang-barang kecil dari Shopee dan berpura-pura lupa memberi tahu Ayu. Tapi di sela semua itu, Ayu mulai membiarkan Raka berada di dekatnya tanpa mencari alasan untuk pergi.
Kadang Raka duduk di meja pojok restoran sambil menulis, sementara Ayu memeriksa stok bahan. Kadang ia membantu membawa kardus kerupuk ke gudang. Kadang ia hanya berdiri di halaman, mendengarkan Datuk Harun menjelaskan cara membedakan ayam yang suka kabur dan ayam yang hanya ikut-ikutan.
Pada minggu kedua, Raka sudah hafal bahwa Nenek Sari suka teh tanpa terlalu banyak gula, Datuk Harun selalu memeriksa gerbang sebelum tidur, dan Ayu akan mengerutkan hidung kalau ada orang menyebut mie sebagai pilihan makan siang.
"Mbak Ayu benar-benar tidak suka mie?" tanyanya suatu sore.
"Tidak."
"Semua jenis?"
"Semua jenis yang membuat orang bilang, `makan mie saja, gampang`."
"Itu alasan ideologis."
"Itu pengalaman hidup."
Raka tertawa. Ayu menyadari tawanya sekarang lebih mudah keluar.
Malam itu, setelah restoran tutup, ponsel Raka bergetar di atas meja. Layarnya menyala saat Ayu lewat membawa kotak sambal. Ia tidak berniat melihat, tapi nama pemanggil terbaca jelas.
Papa.
Wajah Raka berubah.
Perubahan itu kecil. Senyum yang baru saja ada menghilang. Bahunya menegang. Jarinya berhenti di atas layar, tapi ia tidak mengangkat.
Panggilan itu berhenti.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
Raka membalik ponsel, layar menghadap meja.
Terlambat sedikit. Ayu sempat melihat potongan pesan yang muncul di layar.
`Papa kamu tanya kapan pulang. Bagus butuh laptop baru, Cantika mau masuk bimbel. Jangan pura-pura sibuk terus.`
Tidak ada sapaan. Tidak ada pertanyaan apakah Raka sehat. Tidak ada kalimat yang terdengar seperti rindu. Hanya daftar kebutuhan yang dilemparkan ke orang yang bahkan tidak sedang berada di rumah.
Ayu segera mengalihkan pandangan, merasa bersalah karena tidak sengaja membaca. Tapi potongan kalimat itu telanjur tinggal di kepalanya.
Ayu pura-pura sibuk menata kotak, memberi ruang. Tapi Nenek Sari yang sedang menghitung uang kas di dekat mereka tidak punya bakat pura-pura tidak melihat.
"Kalau ada yang penting, angkat saja, Nak Raka."
Raka tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nek. Nanti saya balas."
Nada suaranya sopan, tapi ada pintu yang langsung tertutup.
Setelah Nenek masuk ke rumah, Ayu membawa dua gelas Teh Talua ke teras belakang. Raka duduk di sana, menatap sawah yang gelap. Laptopnya tertutup. Sofia tidur di kursi sebelahnya.
"Boleh duduk?" tanya Ayu.
Raka menoleh. "Ini rumah Mbak Ayu."
"Justru karena ini rumah saya, saya izin supaya terdengar sopan."
Raka tersenyum, kali ini lemah. "Boleh."
Ayu meletakkan satu gelas di dekatnya. Mereka duduk tanpa bicara beberapa saat. Dari kejauhan, suara jangkrik dan kodok bercampur. Udara dingin membuat uap tipis naik dari gelas.
"Kalau saya bertanya, Kak Raka boleh tidak jawab," kata Ayu akhirnya.
"Tentang telepon tadi?"
"Iya."
Raka memegang gelas dengan dua tangan. "Papa saya."
Ayu menunggu.
"Saya jarang mengangkat teleponnya."
"Karena bertengkar?"
"Tidak selalu." Raka tertawa pendek tanpa gembira. "Kadang karena kami tidak tahu harus bicara apa."
Ia menatap halaman yang setengah gelap. Di bawah lampu teras, Raja berbaring dengan kepala di atas kaki depan, tenang tapi waspada.
"Mama saya meninggal waktu saya SMP. Namanya Ratna. Setelah itu rumah berubah. Papa saya, Bambang Widodo, menikah lagi dengan Sri Mulyani. Dari luar, semuanya terlihat wajar. Laki-laki ditinggal istri, menikah lagi, ada yang mengurus rumah."
Ayu menahan napas.
"Tapi sejak Sri masuk, saya seperti tamu di rumah sendiri. Lemari mama dipindahkan. Foto-fotonya diturunkan satu per satu. Uang rumah dipegang Sri. Papa sibuk kerja. Lalu ada Bagus dan Cantika, anak kembar Sri. Mereka masih kecil waktu itu. Semua perhatian pergi ke mereka."
"Papa Kak Raka membiarkan?"
"Mungkin tidak merasa. Atau merasa tapi memilih tidak melihat." Raka mengusap sisi gelas. "Saya tidak dipukul. Tidak diusir. Tidak ada drama besar seperti di sinetron. Justru itu yang susah dijelaskan. Saya hanya... selalu menjadi sisa."
Kata terakhir itu jatuh pelan, tapi berat.
Ayu menatap profil Raka. Lampu teras membuat bayangan kacamatanya jatuh di pipi. Laki-laki yang selalu menjawab sopan, selalu menawarkan bantuan, selalu meminta maaf bahkan saat tidak salah, ternyata tumbuh dengan rasa harus mengecil agar tidak mengganggu.
Dan dari pesan tadi, Ayu juga mengerti satu hal lagi. Ketika keluarga itu membutuhkan sesuatu, Raka tetap dianggap ada. Tapi saat Raka yang membutuhkan tempat pulang, tidak ada yang benar-benar mencarinya.
Ayu paham rasa itu.
"Jadi Kak Raka menulis?"
"Awalnya supaya punya uang sendiri. Saya tidak mau minta pada Sri. Waktu kuliah di Yogyakarta, saya menulis malam-malam. Novel online. Pembaca pertama cuma sedikit, tapi lama-lama cukup untuk bayar kos, makan, kuliah, sampai S2."
"Hebat."
Raka menggeleng. "Waktu itu rasanya bukan hebat. Rasanya cuma bertahan."
Ayu mengerti kalimat itu terlalu baik.
"Saya juga merantau bukan karena berani," katanya pelan. "Kadang kita pergi karena kalau tetap di tempat lama, kita tidak tahu harus bernapas di mana."
Raka menoleh. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling melihat.
Tidak ada sentuhan. Tidak ada kata manis. Tapi sesuatu di antara mereka bergerak lebih dekat.
"Mungkin itu sebabnya saya langsung suka tempat ini," kata Raka. "Di sini, orang tidak perlu berebut ruang untuk dianggap ada."
Ayu tersenyum kecil. "Di sini orang berebut sambal."
Raka tertawa, dan beban di bahunya turun sedikit.
Hari-hari berikutnya berjalan lebih lembut. Ayu tidak lagi hanya melihat Raka sebagai tamu penulis dari Jakarta. Ia mulai melihat anak laki-laki yang kehilangan ibunya, mahasiswa yang menulis sampai larut agar tidak bergantung pada rumah yang tidak lagi terasa rumah, dan pria dewasa yang masih gugup setiap kali diberi perhatian sederhana.
Pada minggu ketiga, Ayu sedang menyiapkan daftar belanja ketika notifikasi platform masuk.
Raka Pratama mengajukan perpanjangan masa inap.
Durasi: 30 malam tambahan.
Ayu menatap layar. Jantungnya memukul sekali, keras.
Beberapa menit kemudian, Raka turun dari kamar. Ia berdiri di dekat meja kasir seperti hendak menghadapi sidang.
"Mbak Ayu."
"Iya, Kak?"
"Saya tahu reservasi awal saya satu bulan." Raka merapikan posisi kacamatanya. "Tapi kalau kamarnya belum dipesan orang lain, saya ingin memperpanjang."
Ayu pura-pura melihat kalender di tablet, meski ia sudah tahu kamar nomor tiga masih kosong bulan depan.
"Berapa lama?"
Raka menatapnya, lalu tersenyum canggung.
"Satu bulan lagi, boleh?"