NovelToon NovelToon
Ibu Susu Sang CEO

Ibu Susu Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12.

"Violet, apakah semua makanan yang dibelikan oleh asisten pribadiku adalah makanan kesukaanmu?" tanya Romeo.

Violet dengan polos dan juga jujur menjawab, "saya gak pernah pilih-pilih makanan. Saya akan memakan semuanya."

Yasa akhirnya bisa menghembuskan nafas lega.

Sebelumnya dia merasa kesulitan bernafas.

Takut kalau sampai Romeo yang sudah kembali ke mode normal sampai membuat perhitungan dengannya.

Yasa tahu, saat Romeo dalam keadaan sekarat.

Romeo mempercayakan perusahaan ini padanya.

Yasa tahu, kalau Romeo kecewa pada dirinya.

Tapi, Yasa hanya seorang asisten pribadi.

Berbeda dengan lawannya Samuel yang memiliki darah keturunan keluarga Handoyo.

"Oke, kalau begitu makanlah! Aku akan rapat dulu sekarang!" titah Romeo.

Sebelum berpamitan dia reflek mengelus-elus pucuk kepala Violet.

Sontak saja Violet mendongak dan menatap ke arah Romeo.

Dan pandangan kedua orang itu pun beradu.

Lagi dan lagi, Violet buru-buru memalingkan pandangannya ke arah lain.

"Makan yang banyak! Mungkin setelah ini aku akan membutuhkan banyak tenaga lagi," ucap Romeo lagi sebelum pergi.

Violet malah mematung.

Dia masih teringat dengan jelas, rasa sakit akibat hisapan kuat Romeo.

Yasa ingin membantu Romeo berdiri.

Namun dengan tegas, Romeo langsung menolak.

"Aku bisa sendiri!" titah Romeo dengan nada ketus.

Sementara Yasa hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.

"Tuan maafkan saya!" celetuk Yasa sesaat setelah keluar dari ruangan.

"Memangnya apa salahmu?" tanya Romeo sinis tanpa menoleh, dia tetap saja berajalan meninggalkan Yasa yang mematung.

Yasa sudah tidak bisa dibuat berkata-kata lagi.

Lantas dia pun memilih untuk mengejar langkah kaki Romeo.

Ruang rapat yang biasanya dipenuhi dengan obrolan ringan, kini sepi dan ketegangan terasa menyelimuti udara.

Samuel, yang telah menggantikan posisi Romeo selama ini, terlihat gusar dan gelisah.

Keringat mulai membasahi dahi lelakinya itu, karena selama ini dia telah melakukan banyak korupsi di perusahaan.

Saat pintu ruang rapat terbuka, Romeo muncul dengan tongkatnya, menapak perlahan namun pasti.

Semua mata tertuju padanya, dan secara instan, ekspresi di wajah para dewan direksi berubah drastis menjadi pucat pasi dan takut.

Ada yang tidak berani menatap langsung, ada pula yang tunduk cemas.

Romeo, meskipun terbatas gerakannya, tetap menunjukkan aura kepemimpinan yang kuat.

Dia menatap satu persatu anggota dewan, membuat mereka semakin menyesali perbuatan korup yang dilakukan di balik pengelolaan Samuel.

Ketegangan itu semakin terasa ketika Romeo mulai berbicara dengan suara tegas dan berwibawa, mengungkapkan bahwa dia telah mengetahui segala kecurangan yang terjadi selama dia tidak ada.

Saat Samuel, sepupu Romeo, duduk di kursi rapat dengan tatapan gelisah, tangannya bergerak-gerak tidak karuan di atas meja.

Ruang rapat yang sebelumnya dipenuhi suara bisikan tiba-tiba menjadi sunyi. Ketegangan menggantung di udara, seolah-olah tiap desah napas bisa terdengar jelas.

Romeo memandang satu per satu anggota dewan direksi, matanya yang tajam seolah mampu menembus jiwa mereka.

"Saya mendengar banyak hal terjadi selama saya tidak ada," suaranya rendah namun jelas, membuat beberapa anggota dewan menegang.

Samuel mencoba menampilkan senyum yang dipaksakan, mencoba menutupi rasa cemasnya.

"Romeo, sepupuku, bagaimana kesehatanmu? Kita semua sangat khawatir dan—"

"Simpan khawatirmu, Samuel," potong Romeo, matanya tidak pernah lepas dari Samuel.

"Aku di sini untuk membersihkan kekacauan yang terjadi. Aku tidak butuh simpati, aku butuh transparansi dan kejujuran."

Sejenak, ruangan itu kembali senyap.

Suara klik tongkat Romeo di lantai terdengar begitu nyaring saat dia melangkah perlahan mendekati meja Samuel.

Ketakutan semakin jelas terlihat di wajah-wajah yang hadir, terutama di wajah Samuel yang kini terlihat pucat pasi.

Dengan tangan yang gemetar, Yasa menyerahkan tumpukan laporan koran yang sudah usang dan yang baru kepada Romeo.

Mata Romeo membelalak saat dia membandingkan kolom angka dalam laporan tersebut.

Di ruang rapat yang sunyi, suara kertas laporan yang dipegang Romeo seolah bergemuruh.

"Aku gak menyangka, beberapa bulan menggantikan posisiku sebagai CEO pemilik perusahaan, kau sudah korupsi sebanyak itu Samuel!" ucap Romeo dengan suara yang berusaha dikendalikan.

Amarahnya nyaris memuncak, tapi dia berusaha untuk tetap tenang di depan Yasa dan beberapa anggota dewan yang hadir.

Tak berselang lama, Yasa berjalan ke arah proyektor.

Dia nampak memasukkan USB disana.

Di layar monitor besar, video cctv memperlihatkan Samuel sedang melakukan hal tak senonoh dengan sekretarisnya di sebuah ruangan yang mewah.

Terlihat jelas keduanya melakukan hal yang menjijikkan dan  tertawa bersama.

Semua orang di ruangan itu menatap layar, beberapa dengan raut muka yang terkejut, lainnya dengan kekecewaan.

Romeo menatap Yasa, matanya menunjukkan rasa kecewa yang mendalam tapi masih terlihat datar.

"Lanjutkan, Yasa. Tunjukkan bukti lainnya," perintahnya.

Yasa, yang juga terlihat pucat, mengangguk dan memainkan video selanjutnya.

Dia berharap Romeo tidak ikut menyeretnya dalam kasus Samuel, karena Yasa memang tidak terlibat sama sekali.

Suasana di ruang rapat semakin tegang, udara seakan mengental dengan kekecewaan dan pengkhianatan yang terungkap.

Romeo duduk kembali, tangannya terkepal di atas meja, menatap tajam ke arah layar, sementara bayangan pengkhianatan sepupunya terus bergulir di depan mata.

"Aku sudah memanggil polis? Atas tuduhan korupsi dan melakukan hal yang memalukan di perusahaanku," kata Romeo.

Hal itu membuat Samuel langsung berjalan ke arah Romeo dengan wajah memohon.

"Aku mohon! Jangan lakukan, namaku akan menjadi buruk dan keponakanmu Felix juga akan menanggung akibatnya!" Samuel memasang wajah menyedihkan, tapi Romeo terlihat

acuh.

"Tolong Romeo kita ini keluarga! Aku akan mengganti semua kerugian, tolong pikirkan keponakanmu Felix."

Tak berselang lama, pintu terbuka dan menampilkan beberapa orang berseragam polisi yang masuk ke dalam ruang rapat.

Suasana ....

Suasana ruang rapat itu menjadi riuh, karena bukan hanya polisi saja yang masuk ke dalam.

Melainkan beberapa wartawan dari beberapa media ternama yang ikut masuk ke dalam ruang rapat.

Kedua tangan Samuel nampak terkepal.

Dia yang sebelumnya menatap Romeo dengan tatapan memohon, tatapannya langsung berubah sinis seketika.

Sementara Yasa sendiri masih ketar ketir.

Dia tidak menyangka kalau Romeo akan bertindak sejauh ini.

Dia tahu, kalau Romeo adalah sosok yang sangat disiplin dan tidak pernah pandangan bulu.

Tapi dengan memasukkan sepupunya sendiri langsung kedalam penjara, bahkan mempermalukannya.

Sungguh Yasa tidak pernah terpikirkan hal yang sejauh itu.

Dia juga mengingat, kalau sebelumnya mendapatkan amanat untuk menjaga perusahaan dan mengawasi Samuel.

"Kenapa selain memanggil polisi? Kau juga memanggil beberapa wartawan dari media ternama?" Samuel bertanya dengan gigi yang digertakkan.

Romeo masih bersikap acuh tak acuh dan tidak menanggapi ucapan Samuel.

Bebarapa dewan direksi nampak berwajah pucat seraya menatap Samuel dengan tatapan dalam.

"Kalian bisa membawa semua bukti ini dan bisa membawanya ke kantor polisi!" titah Romeo, wajahnya terlihat sangat dingin dan datar.

Auranya juga sangat kuat.

Bahkan seorang jendral polisi yang ikut datang ke perusahaan milik Romeo nampak menatap Romeo dengan tatapan takut.

Saat jenderal polisi dan bawahannya ingin memborgol tangan Samuel, Samuel menolak dan menatap polisi itu dengan tatapan sinis.

"Kau jadi orang jangan gak tau diri! Tanpa bantuan koneksi dariku, kau pikir kau bisa menduduki posisi seperti sekarang ini," ucap Samuel dengan nada rendah tepat ditelinga jenderal polisi itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!