Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Menyesuaikan Diri
Tante Lian datang pukul sembilan tepat, membawa tas kain cokelat dan aroma herbal yang samar.
Senja menunggu di ruang keluarga kecil dengan perasaan seperti anak sekolah yang akan diperiksa guru. Rayhan duduk di kursi seberang, tablet di tangan, tetapi sejak tadi belum benar-benar membaca apa pun. Pak Hadi berdiri dekat pintu.
Perempuan itu berusia sekitar enam puluh, rambutnya disanggul sederhana, kacamata tipis bertengger di hidung. Wajahnya tidak tampak seperti dokter klinik modern, tetapi langkahnya mantap. Begitu melihat Rayhan, dia menggeleng kecil.
"Kamu masih saja suka memanggil orang dengan cara memerintah, ya?"
Senja terkejut.
Pak Hadi menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Rayhan hanya berkata, "Pagi, Tante Lian."
"Pagi." Tante Lian meletakkan tasnya di meja. "Mana pasiennya?"
"Aku bukan pasien," kata Senja pelan sebelum sempat menahan diri.
Tante Lian menoleh kepadanya, lalu tersenyum. "Bagus. Orang yang masih bisa protes biasanya belum terlalu parah."
Senja tidak tahu harus menjawab apa.
Rayhan meletakkan tablet. "Dia hampir pingsan di sanggar."
"Rayhan," Senja menahan suara.
"Kurang makan. Kurang tidur. Alergi kemarin."
"Aku bisa menjelaskan sendiri."
Rayhan menatapnya. "Jelaskan."
Tante Lian mengangkat tangan. "Sudah, sudah. Kalau kalian mau bertengkar, tunggu saya pulang. Sekarang duduk yang benar, Senja."
Nada itu hangat, tetapi tidak bisa dibantah.
Senja duduk di sofa. Tante Lian mengambil pergelangan tangannya, dua jari menekan nadi dengan ringan. Sentuhannya tidak membuat takut. Berbeda dari pemeriksaan medis yang cepat dan dingin, Tante Lian menunggu lama, seolah mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain.
"Tidurmu sering putus?" tanyanya.
Senja berkedip. "Iya."
"Perut mudah mual kalau stres?"
"Iya."
"Tangan kaki sering dingin?"
Senja menatap Rayhan tanpa sadar, lalu cepat menunduk. "Iya."
Tante Lian berpindah ke pergelangan tangan lain. "Kamu lahir prematur?"
Pertanyaan itu membuat Senja terdiam.
Kata prematur pernah disebut Papa Liem beberapa kali saat dia kecil, biasanya ketika dia sakit lebih lama dari Serena. Tubuhmu memang lemah dari bayi, jangan merepotkan.
"Katanya begitu," jawab Senja.
"Bukan salahmu." Tante Lian berkata tanpa mengangkat wajah. "Anak prematur memang sering punya dasar tubuh lebih sensitif. Kalau hidupnya banyak tekanan, makan tidak teratur, tidur buruk, tubuh cepat protes."
Kalimat sederhana itu membuat tenggorokan Senja mengencang.
Bukan salahmu.
Seumur hidup, tubuh lemahnya sering terdengar seperti beban. Hari ini, untuk pertama kalinya, seseorang mengucapkannya seperti fakta yang tidak perlu disalahkan.
Rayhan memperhatikan perubahan wajah Senja.
Tante Lian lalu meminta melihat lidah, menanyakan siklus bulanan, nafsu makan, kebiasaan minum, dan latihan tari. Semua pertanyaannya langsung, tetapi tidak membuat Senja merasa dipermalukan. Ketika pembahasan menyentuh tubuh perempuan, Rayhan berdiri.
"Aku keluar."
"Duduk," kata Tante Lian tanpa melihatnya. "Kamu suaminya. Kamu perlu tahu apa yang boleh dan tidak boleh kamu abaikan."
Rayhan berhenti.
Senja merasa wajahnya panas.
Tante Lian menepuk punggung tangan Senja. "Tidak ada yang memalukan. Tubuh perempuan bukan rahasia kotor."
Rayhan duduk kembali, kali ini pandangannya tidak menekan Senja. Dia menatap meja, memberi ruang sejauh yang bisa dilakukan orang seperti dia.
Setelah pemeriksaan selesai, Tante Lian membuka tasnya. Ada beberapa kantong kecil berisi ramuan kering, botol minyak, dan catatan dosis.
"Saya akan buatkan jamu ringan dan ramuan Tionghoa yang aman. Bukan untuk menggantikan dokter. Kalau alergi kambuh atau sesak, tetap ke rumah sakit. Ini untuk membantu tidur, pencernaan, dan pemulihan tenaga."
Pak Hadi langsung mencatat.
"Makanan?" tanya Rayhan.
"Hangat, teratur, tidak terlalu pedas. Jangan sering kopi. Jangan latihan perut kosong. Setelah latihan, minum air hangat, bukan es."
Senja berkata pelan, "Aku tidak sering minum es."
Tante Lian meliriknya. "Tapi kamu sering melewatkan makan."
Senja diam.
Rayhan menatapnya.
"Jangan lihat dia seperti menginterogasi tersangka," tegur Tante Lian.
Pak Hadi benar-benar hampir tertawa kali ini.
Rayhan menghela napas tipis. "Aku hanya mendengar."
"Wajahmu tidak terdengar seperti mendengar. Wajahmu terdengar seperti vonis."
Senja menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Rayhan melihatnya. Sangat sebentar. Untuk alasan yang tidak masuk akal, teguran Tante Lian tidak terasa menjengkelkan seperti biasanya.
Mungkin karena Senja hampir tersenyum.
"Ada pantangan lain?" tanya Rayhan.
"Ada." Tante Lian menatapnya lurus. "Jangan membuat dia stres setiap hari."
Ruangan hening.
Senja langsung menunduk lebih dalam.
Rayhan menatap Tante Lian. "Itu resep medis?"
"Resep akal sehat."
Pak Hadi berdeham kecil.
Tante Lian mulai menulis catatan. "Senja, tubuhmu bukan mesin. Kamu penari, jadi seharusnya paling tahu tubuh punya bahasa. Kalau dia lelah, dia bicara. Kalau kamu terus memaksanya diam, suatu hari dia akan berteriak."
Senja menggenggam ujung rok. "Aku terbiasa menahan."
"Kebiasaan bukan berarti benar."
Kalimat itu pelan, tapi masuk jauh.
Setelah pemeriksaan, Tante Lian meminta melihat dapur dan pantry untuk memastikan bahan ramuan tidak bercampur dengan alergen. Pak Hadi mengantarnya. Rayhan dan Senja tertinggal di ruang keluarga.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Akhirnya Rayhan berkata, "Mulai besok, sarapan sebelum sanggar."
Senja mengangkat wajah. "Itu perintah?"
"Ya."
Matanya redup sedikit.
Rayhan berhenti, lalu menambahkan dengan kaku, "Dan... permintaan."
Kata itu keluar seperti benda asing dari mulutnya.
Senja menatapnya.
Rayhan mengalihkan pandangan ke taman. "Kalau kamu pingsan saat menari, Ko Jefri-mu itu akan menyalahkanku."
Senja seharusnya kesal karena dia lagi-lagi memakai alasan orang lain. Namun setelah mendengar kata permintaan tadi, dadanya tidak bisa sepenuhnya tetap keras.
"Aku akan sarapan," jawabnya.
Rayhan mengangguk singkat.
Tante Lian kembali beberapa menit kemudian sambil membawa catatan baru. Dia menyerahkan satu kantong ramuan kepada Pak Hadi, lalu satu botol minyak kecil kepada Senja.
"Untuk perut kalau mual. Gosok sedikit saja. Jangan kebanyakan."
"Terima kasih, Tante."
Tante Lian menatap wajah Senja lama, lalu menyentuh pipinya sekilas dengan punggung jari seperti seorang bibi yang sudah mengenalnya lama.
"Pelan-pelan saja, Nak. Tidak semua rumah langsung terasa seperti rumah pada hari pertama."
Senja menahan napas.
Rayhan yang berdiri di sampingnya mendengar kalimat itu juga.
Ketika Tante Lian pamit, dia menepuk lengan Rayhan. "Jaga dia baik-baik. Jangan cuma jago menyuruh."
Rayhan tidak menjawab.
Namun setelah Tante Lian pergi, dia mengambil catatan pantangan dari meja, memotretnya, lalu mengirimkannya kepada seseorang.
Beberapa detik kemudian, ponsel Pak Hadi berbunyi.
Instruksi baru masuk.
Menu Nyonya, mulai hari ini, mengikuti catatan Tante Lian.
Senja melihat Pak Hadi membaca pesan itu, lalu melihat Rayhan yang sudah kembali memasang wajah datar.
Pria itu tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tetapi untuk pertama kalinya, aturan baru di rumah ini tidak terasa seperti pagar.
Rasanya lebih seperti selimut tipis yang diletakkan tanpa suara di atas bahunya.