NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Setelah Cerai, Hartaku 300 Triliun!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Elara Chandrakanta

Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Peluru untuk Anya

Lalu mobil itu melaju pergi.

Dua hari kemudian, Anya Mulyadi muncul kembali.

Bukan lewat berita polisi. Bukan lewat pengumuman resmi. Ia muncul di tengah acara amal kecil yang diselenggarakan jaringan Liem untuk korban kecelakaan penerbangan, di sebuah aula privat tidak jauh dari Villa Teluk.

Keira hadir sebagai penyumbang utama. Rayhan ikut sebagai pelayan pendamping, membawa daftar tamu dan obat yang harus ia minum tepat waktu. Nathan datang tanpa undangan, tetapi dengan senyum yang membuat panitia tidak berani menahannya.

Acara itu hampir selesai ketika lampu panggung meredup untuk pemutaran video donasi.

Di detik itulah Anya menyerang.

Ia muncul dari sisi tirai dengan gaun perawat curian, rambut dipotong lebih pendek, wajah pucat seperti orang yang tidak tidur berhari-hari. Di tangannya ada pisau bedah kecil.

"Keira!"

Teriakan itu membelah aula.

Rayhan bergerak lebih dulu.

Ia mendorong nampan di tangannya sampai jatuh, lalu menubruk Keira dari samping. Pisau Anya hanya merobek lengan jasnya, tidak mencapai kulit Keira. Para tamu menjerit. Pengawal Liem langsung maju, tetapi Anya menekan pisau ke lehernya sendiri.

"Mundur!" jeritnya. "Kalau kalian mendekat, aku mati di sini dan semua orang akan tahu Keira membuatku begini!"

Keira berdiri tegak. "Kau membuat dirimu sendiri begini."

Anya tertawa. Matanya merah, napasnya kacau. "Semua milikku kau ambil. Rayhan, Mulyadi, panggung, bahkan simpati orang-orang."

Rayhan berdiri di depan Keira. "Anya, letakkan pisaunya."

Anya menatapnya, lalu wajahnya berubah hancur. "Kau masih melindunginya?"

"Iya," jawab Rayhan.

Satu kata itu membuat aula sunyi.

Rayhan melanjutkan, suaranya jelas meski tubuhnya masih lemah. "Aku mencintai Keira. Kesalahanku adalah terlalu terlambat mengatakannya, bukan karena perasaan itu baru muncul."

Keira menatap punggungnya.

Nathan juga menatap.

Senyumnya hilang.

Pengawal berhasil mematikan siaran kamera internal, tetapi beberapa tamu sudah merekam. Nathan berjalan mendekat dengan langkah tenang.

"Anya," katanya lembut, "kau ingin semua orang melihat Keira kejam? Aku bisa membantumu."

Keira langsung menoleh. "Nathan."

Terlambat.

Nathan menembakkan jarum kecil dari alat di tangannya ke lengan Anya. Gerakannya cepat, seperti orang yang sangat terlatih. Anya tersentak. Matanya membelalak, lalu napasnya berubah berat.

"Apa yang kau lakukan?" Rayhan mendesis.

"Eksperimen kecil," jawab Nathan dingin. "Obat stimulan saraf. Tidak lama. Tapi cukup untuk membuat topengnya selesai."

Anya menjerit.

Ia menyerang lagi, kali ini tanpa pola, tanpa takut terluka. Pengawal mencoba menahan, tetapi Anya menusuk lengan salah satu dari mereka dan berlari ke arah Keira dengan kekuatan yang tidak wajar.

Rayhan menahan tubuh Anya dari belakang. Anya menggigit lengannya sampai berdarah, lalu berhasil lepas.

Nathan melempar pistol kecil ke arah Keira.

Keira menangkapnya secara refleks.

"Pilih," kata Nathan. Matanya biru, dingin, dan penuh luka yang berubah busuk. "Rayhan terluka karena menahan dia. Anya akan terus menyerang sampai seseorang mati. Tembak dia, atau biarkan pria yang kau benci itu mati untukmu lagi."

Keira mengarahkan pistol ke lantai.

"Kau gila."

"Mungkin." Nathan tersenyum tanpa hangat. "Tapi aku ingin tahu. Saat semua topeng jatuh, siapa yang kau pilih?"

Anya menerjang.

Rayhan berdiri di jalurnya, tubuhnya jelas sudah hampir mencapai batas.

Waktu menyempit.

Keira mengangkat pistol.

Tembakan pertama mengenai bahu Anya.

Anya jatuh, tetapi masih berusaha bangun, matanya tidak lagi mengenali siapa pun. Mulutnya berbusa tipis, napasnya patah-patah. Obat Nathan membuatnya terperangkap dalam kegilaan dan sakit yang tidak bisa ia kendalikan.

Keira mendekat perlahan.

Anya menatapnya. Dalam satu detik pendek, kesadaran seperti kembali sedikit. Air mata mengalir dari sudut matanya.

"Sakit..." bisiknya.

Keira memejamkan mata.

Semua kebencian mereka, semua pisau, obat, fitnah, dan darah, berakhir pada satu perempuan yang kini bahkan tidak lagi mampu memilih tubuhnya sendiri.

"Ini bukan ampunan," kata Keira pelan. "Ini akhir."

Tembakan kedua terdengar lebih sunyi daripada seharusnya.

Anya berhenti bergerak.

Tidak ada sorak. Tidak ada kemenangan.

Hanya napas orang-orang yang tertahan dan bau mesiu tipis di udara.

Beberapa tamu menangis. Seorang panitia muntah di balik kursi. Bima yang datang sebagai pengisi acara berdiri kaku di dekat panggung, wajahnya putih, tetapi ia tetap menahan dua trainee agar tidak mendekat ke area berbahaya.

Kevin tiba beberapa menit kemudian dengan tim legal dan keamanan. Begitu melihat tubuh Anya ditutup kain, lalu melihat pistol di tangan Keira, wajahnya berubah keras.

"Kei."

"Dia sudah tidak menderita," kata Keira.

Kalimat itu terlalu tenang.

Kevin tidak memarahinya. Ia hanya melepas jasnya dan menutup bahu Keira, meski Keira tidak gemetar.

Nathan berkata, "Kau lihat? Dia bisa memilih."

Kevin menoleh kepadanya. "Satu kata lagi dan aku patahkan rahangmu."

Dalam dua puluh menit, aula dikosongkan. Rekaman tamu diamankan melalui pengacara Liem, polisi diberi laporan lengkap: Anya, buronan yang kabur dari pengawasan, menyerang dengan senjata tajam; Nathan Wijaya menggunakan stimulan tanpa izin yang memperburuk kondisi; Keira menembak dalam situasi darurat untuk menghentikan ancaman. Karena status Anya, saksi, dan rekaman internal, kasus itu langsung masuk jalur penyelidikan khusus.

Keira menjawab pertanyaan awal polisi tanpa suara bergetar.

Rayhan berdiri tidak jauh, lengan berdarah, mendengar setiap jawabannya.

Tidak sekali pun Keira menyebut dirinya korban.

Ia hanya menyebut fakta.

Nathan bertepuk tangan pelan sekali.

Rayhan menoleh kepadanya dengan mata gelap. "Kau merencanakan ini."

"Aku memberi Keira pilihan."

"Kau memaksanya membunuh."

Nathan menatap Keira. "Dia selalu bisa menolak."

Keira menurunkan pistol. Tangannya tidak gemetar, tetapi wajahnya terlalu tenang.

"Bawa Nathan ke ruang bawah," katanya kepada pengawal Liem.

Nathan tidak melawan.

Mungkin karena ia tahu Keira belum selesai.

Ruang bawah Villa Teluk dipakai sebagai ruang interogasi pribadi jaringan Liem. Dinding kedap suara, meja logam, kursi berat, kamera internal. Nathan duduk dengan tangan tidak diikat. Ia masih tersenyum ketika Keira masuk.

Rayhan ikut masuk, lukanya sudah dibalut kasar. Keira menatapnya.

"Duduk."

Rayhan menurut.

"Bukan di sana." Keira menunjuk kursi di tengah ruangan.

Rayhan duduk.

Keira mengambil tali dari meja, mengikat kedua tangannya ke sandaran kursi. Gerakannya tenang, hampir lembut, dan justru karena itu Rayhan merasakan sesuatu yang salah.

"Keira?"

"Diam."

Nathan memperhatikan dengan mata menyipit.

Keira menuang wine ke gelas, lalu duduk di pangkuan Rayhan.

Tubuh Rayhan menegang.

Nathan berhenti tersenyum.

Keira mengangkat gelas ke bibir Rayhan. "Minum."

Rayhan menatapnya, lalu minum sedikit. Ia tidak mengerti permainan ini, tetapi ia tahu Keira sedang berbicara kepada Nathan, bukan kepadanya.

Keira menyentuh rahang Rayhan, membuatnya menatap Nathan.

"Lihat baik-baik, Koh Nathan," katanya. "Kau ingin aku memilih? Aku pilih pria yang datang terlambat tapi tetap datang. Bukan pria yang saat aku paling membutuhkanmu, kau mundur."

Wajah Nathan berubah.

Itu pukulan yang tepat mengenai tempat lama.

"Kei."

"Jangan panggil aku begitu." Suara Keira dingin. "Dulu aku menunggu. Kau tahu aku dalam bahaya, tapi kau memilih aman. Hari ini kau datang membawa obat dan pilihan palsu, lalu menyebutnya perlindungan."

Nathan berdiri. Pengawal langsung maju, tetapi Keira mengangkat tangan.

"Kau pikir kalau Rayhan hancur, aku akan berlari kepadamu?" Keira tertawa kecil. "Tidak. Aku hanya akan mengingat bahwa kau dan dia pernah sama-sama menyakitiku dengan cara berbeda."

Rayhan akhirnya memahami.

Semua ini sandiwara.

Keira duduk di pangkuannya, mengikat tangannya, memberinya wine, bukan karena ingin mempermalukannya. Ia sedang memotong harapan Nathan dengan pisau paling kejam.

Namun mengetahui itu tidak membuat dada Rayhan lebih ringan.

Karena saat Keira berdiri dari pangkuannya, wajahnya kosong. Seolah ia juga baru saja mengiris bagian dari dirinya sendiri.

Nathan tertawa pelan, tetapi suaranya pecah. "Kau kejam."

"Aku belajar dari orang-orang yang mencintaiku dengan cara salah."

Keira berjalan ke pintu.

"Biarkan dia pergi," katanya kepada pengawal. "Mulai hari ini, semua akses Nathan Wijaya ke Villa Teluk ditutup."

Nathan menatap punggungnya. "Ini belum selesai."

Keira tidak menoleh. "Untukmu mungkin. Untukku, selesai."

Pintu tertutup.

Ruang interogasi tinggal Rayhan dan bau wine.

Pengawal membuka ikatannya, lalu keluar atas perintah Keira.

Rayhan duduk sendiri beberapa saat. Luka di lengannya berdenyut. Di luar, Anya sudah mati. Nathan pergi. Keira baru saja menggunakan dirinya sebagai senjata untuk menolak pria lain.

Ia seharusnya lega.

Namun yang terasa hanya sakit.

Baru tadi, saat Keira duduk di pangkuannya, tubuh Rayhan sempat bereaksi bodoh. Bukan karena nafsu, melainkan karena ingatan lama tentang tiga tahun ia tidak pernah menerima kedekatan seperti itu darinya. Satu sentuhan di rahang, satu gelas wine di bibir, dan hatinya yang sudah babak belur masih sempat percaya.

Lalu ia sadar, semua itu bukan untuknya.

Ia hanya properti dalam perang Keira melawan Nathan.

Kesadaran itu tidak membuatnya marah. Justru membuatnya malu, karena bahkan setelah semua dosa, ia masih rakus pada satu detik pura-pura dicintai.

Luka gigitan Anya di lengannya berdenyut. Darah merembes lagi melalui perban kasar, tetapi Rayhan hampir tidak merasakannya.

Ketika Keira kembali beberapa menit kemudian untuk mengambil pistol yang tertinggal di meja, Rayhan mengangkat wajah.

Matanya basah.

"Bisa nggak," suaranya nyaris pecah, "sekali-kali kau juga sayang padaku?"

Keira berhenti.

Untuk pertama kalinya malam itu, topeng di wajahnya retak.

Namun hanya sesaat.

"Bersihkan darah di lenganmu," katanya.

Lalu ia pergi, meninggalkan Rayhan dengan pertanyaan yang tidak dijawab.

1
Diah Susanti
ini salah satu keahlian orang Indonesia, bisa mengetahui kehadiran seseorang yang dikenal dari suara kendaraannya. bahkan dari langkah kaki juga batuk/dehemannya😄😄😄
Tri Septi
pembalasan ya.....maaf aku kurang sreg😔🙏
Tri Septi
ayo nyalakan apinya 🔥🔥🔥🔥🔥 semangat 💪💪💪
Tri Septi
satu per satu kesalahan harus dipertanggung jawabkan 😇
Tri Septi
semoga keira selamat😯
Tri Septi
sudah terlambat ray🔥🔥🔥
Tri Septi
wah, keira 👍 lanjutkan Thor, makasih 🙏🙏
Tri Septi
taktik Rayhan setelah tahu keira siapa .... telat bro! 🔥
Tri Septi
ini baru permulaan 😆😆😆
Tri Septi
ternyata jago beladiri😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....orang kaya mah bebas ya, lanjut thor👍
Tri Septi
en in en......gimana kelanjutannya, tunggu episode berikut....😁🤣🤣🤣
Tri Septi
ayo mulai babak baru 👍😍
Tri Septi
lanjut Thor 👍 suka' 😍😍😍
Tri Septi
hemmmm....teh hijau sudah muncul🤔
Tri Septi
selamat datang kembali menuju kehidupan baru keira 😍😍😍
Tri Septi
aku mampir thor😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!