ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Sore itu langit mendung kelabu, seolah ikut merasakan beratnya hati Adelia setelah diancam Adelin. Ia menyelinap keluar lewat pintu samping belakang—satu-satunya jalan yang tak pernah diawasi siapa pun—lalu berjalan cepat menuju rumah tetangga di sebelah kanan kediaman keluarga Yhosep. Hanya di tempat ini ia merasa tak perlu bersembunyi atau berpura-pura menjadi orang lain.
Belum sempat ia menekan bel, pintu kayu besar itu sudah terbuka. Julian Leonard berdiri di ambang pintu, masih memakai jaket kulit kesayangannya dengan rambut yang sedikit berantakan setelah latihan tinju. Wajahnya yang biasanya dingin langsung melemas saat melihat mata Adelia yang kembali merah.
"Aku sudah menunggumu," ucapnya pelan, lalu memberi jalan agar Adelia masuk. "Tama juga sudah di dalam. Dia membawa kue buatan ibunya."
Rumah keluarga Leonard terasa begitu berbeda dengan rumahnya sendiri. Di sini harum aroma kopi dan kue kering langsung menyambut, suara tawa terdengar hangat, dan tak ada tatapan tajam yang memandang siapa yang datang. Di ruang tengah, Tama Alvaro sedang duduk bersila di karpet sambil menata piring berisi kue cokelat. Begitu melihat Adelia, ia langsung tersenyum lebar.
"Duduklah sini, Del. Tenang saja, Bu Gita dan Pak Wira sedang pergi ke toko, jadi kita bebas bicara," kata Tama sambil menyodorkan segelas susu hangat.
Adelia duduk di samping Julian, baru kemudian menceritakan semuanya: tentang kunjungan Gyantara dan Sofia tadi pagi, bagaimana ia hampir ketahuan bersembunyi, dan ancaman tajam Adelin setelahnya. Ia juga menceritakan betapa lelahnya ia harus hidup dalam kebohongan, seolah keberadaannya adalah aib terbesar keluarga Yhosep.
Saat ia selesai bercerita, keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Julian mengepal tangannya erat di atas lutut, urat di lengannya terlihat jelas menahan amarah.
"Ini sudah keterlaluan," ucapnya dengan suara rendah namun bergetar. "Adelin tidak hanya memaksamu bersembunyi, dia juga mengancammu seolah kamu bukan adik kandungnya. Dan orang tuamu... mereka membiarkan semua ini terjadi tanpa sedikit pun merasa bersalah."
"Aku kadang berpikir untuk pergi saja," bisik Adelia pelan. "Tapi aku takut kalau aku pergi, mereka akan membenci Julian dan Tama karena dianggap membawaku lari. Atau mereka akan membuat masalah bagi kuliahku."
Tama menepuk bahu Adelia dengan lembut. "Dengar ya, Del. Kamu tidak sendirian. Aku dan Julian sudah tumbuh bersamamu sejak kecil. Kita berbagi mainan, berbagi rahasia, dan kita juga berjanji akan saling menjaga. Ancaman mereka tidak berarti apa-apa bagi kami."
"Benar," potong Julian tegas. "Ayahku, Wira Leonard, punya banyak kenalan di dunia hukum dan bisnis. Kalau sampai keluarga Yhosep berani menyentuhmu atau mengganggu masa depanmu, kami tidak akan diam saja. Aku akan menggunakan semua yang aku pelajari di jurusan hukum untuk membela hakmu."
Adelia menatap kedua sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. Selama ini ia merasa sendirian, seolah ia berjalan di jalan yang gelap tanpa ada satu pun cahaya. Namun di sini, di hadapan dua orang yang tulus menyayanginya, ia sadar bahwa ia tidak benar-benar sepi. Ada orang-orang yang melihat keberadaannya, menghargai dirinya, dan siap berdiri di sampingnya menghadapi apa pun.
"Terima kasih..." ucapnya lirih, air matanya jatuh namun kali ini bukan karena kesedihan semata. "Kalian adalah satu-satunya alasan aku masih bertahan sampai sekarang."
Julian tersenyum tipis, lalu menyodorkan tisu. "Jangan pernah lupa itu. Kamu berhak bahagia, Del. Berhak dikenal atas nama sendiri, berhak bermimpi, dan berhak dicintai apa adanya. Suatu hari nanti kita akan wujudkan itu semua."
Mereka menghabiskan sisa sore itu dengan bercerita dan tertawa, sejenak melupakan semua beban di rumah besar yang dingin itu. Tama menceritakan rencana ibunya, Adinda, yang akan membuka cabang butik baru, sedangkan Julian bercerita tentang persiapan kejuaraan tinju amatir yang akan ia ikuti bulan depan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, senyum di wajah Adelia terasa tulus dan ringan.
Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah warna menjadi ungu gelap, Adelia bersiap pulang. Sebelum ia melangkah keluar, Julian menahannya sebentar.
"Kalau ada apa-apa, kalau kamu merasa takut atau sakit, ketuk saja tembok pembatas di belakang kamarmu tiga kali. Aku pasti mendengar dan akan datang," bisiknya lembut. "Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu, kapan pun dan apa pun yang terjadi."
Adelia mengangguk mantap. Ia kembali ke rumahnya dengan hati yang sedikit lebih kuat. Ia sadar bahwa meskipun keluarganya sendiri menolaknya, ia memiliki sahabat sejati yang lebih berharga daripada darah sekalipun. Cahaya itu kini sudah ada di tangannya, dan ia tak akan membiarkannya padam lagi.