Hana Yasmin adalah lambang dari ketegaran wanita yang luar biasa. Enam tahun yang lalu terpaksa diusir dari rumah orang tuanya sendiri karena telah mengandung benih pria yang tidak dia kenal. Sebuah tragedi kelam merenggut paksa kesucianya. Trauma mendalam itu sempat meruntuhkan dunia Yasmin. Namun, takdir berkata lain. Bayi yang dititipkan dalam tahimnya lahir sepasang malaikat kecil laki-laki dan perempuan yang ia beri nama Fatir dan Fathia.
Yasmin berjuang sendiri membesarkan anak kembarnya itu hingga tumbuh menjadi anak yang cerdas, padahal masih usia 5 tahun dan sekolah TK. Yasmin yang bekerja di restoran bertemu Marco Bellini. Pria itu jatuh cinta kepadanya bahkan mengajak menikah dan berjanji untuk membesarkan si kembar, tapi rasa trauma membuat Yasmin tidak mudah untuk menerima.
"Yasmin, menikahlah denganku demi kamu dan anak-anak."
Apakah Yasmin akhirnya menerima Marco? Bagaimana kisah selanjutnya? Kita ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
"Bundaaaa..." seru Fatir dan Fathia setelah pintu terbuka, mereka berlari keluar lalu menghambur ke pelukan Yasmin.
Yasmin berjongkok menyejajarkan badanya, lalu mencium pipi kedua anaknya bergantian. Ia tersenyum lebar, menyimpan dulu pertanyaan tentang sol sepatu yang anak-anak kerjakan hingga membuat hatinya khawatir.
"Anak-anak Bunda lagi belajar apa?" Tanya Yasmin, karena Fathia masih memegang buku gambar, sementara Fatir pegang pensil warna.
"Lagi menggambar. Yang gambar keluarga ini Kak Fatir, terus aku gambar rumah, iya kan Kak?" Fathia menoleh Fatir.
"Benar Bunda... Ini gambar aku sama adik," Fatir menunjuk gambar dua anak laki-laki dan perempuan yang bergandengan khas gambar anak-anak TK, tapi karya kembar lebih bagus.
"Lalu ini siapa?" Yasmin menunjuk gambar pria yang menggandeng tangan wanita berjilbab.
"Yang ini gambar Bunda, terus... pria ini calon Ayah," polos Fatir mengejutkan Yasmin dan Marco.
Suasana tempat itu menjadi sepi, Yasmin melihat bu Endang yang sejak tadi hanya diam ternyata sedang menatap Marco tidak berkedip, entah apa yang bu Endang rasakan. Yasmin menarik napas panjang, kedua anaknya itu sudah mulai mengerti, tidak jarang menanyakan figur ayah.
Marco berdiri terpaku mendengar ucapan Fatir, seandainya semudah itu, ia ingin segera mengatakan sekarang. "Aku adalah Papa kamu" Namun, Marco hanya bisa menatap kehangatan dan celotehan si kembar seperti orang asing. Dari dasar hatinya yang paling dalam, ia ingin berada di tengah-tengah mereka dan merangkul ketiganya, tapi semua itu tidak mungkin.
Sementara bu Endang masih terus memandangi wajah pria bule itu, bergantian menatap Fatir dan Fathia tampak bingung. Mereka bukan hanya mirip, tapi bisa dibilang sama, hanya brewok si bule yang membedakan. Wanita 40 tahun itu merasa aneh, kenapa tiba-tiba ada pria yang datang dan mirip dengan kembar? Tidak mau mengganggu privasi mereka, bu Endang segera masuk ke kontrakan sendiri.
"Kak Fatir... ada Om Marko ternyata..." Seru Fathia ketika melepas pelukannya dari tubuh Yasmin, baru menyadari jika pria yang bertemu dengannya tadi siang berada di sini.
"Oh iya, pasti Om mau kenalan sama Bunda..." polos Fatir.
"Om, kesini mau mengantar barang Bunda kalian yang tertinggal di mobil," Jawab Marco memperlihatkan dua paper bag yang ia pegang.
Yasmin kaget menatap benda itu, karena kesal pada Marco yang ingin tahu tentang pribadinya, ia urun dengan cepat ternyata ketinggalan.
"Jadi, Om sama Bunda sudah kenal?" Tanya Fathia menoleh bundanya.
Yasmin yang hendak bertanya dari mana anak-anak mengenal Marco, tiba-tiba bungkam karena Fathia sudah bertanya duluan.
"Om ini pelanggan restoran di mana Bunda kalian bekerja, terus Om ajak pulang bareng. Eh, oleh-olehnya ketinggalan," papar Marco melirik Yasmin yang juga menatapnya, tapi terburu-buru mengalihkan pandangan.
"Fatir, Fathia... kalian masuk ya, Nak..." titah Yasmin. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada anaknya tapi nanti. Saat ini Yasmin ingin berbicara dengan Marco terlebih dahulu.
"Om-Om masuk dulu ya..." ucap Fatir tiba-tiba menarik tangan Marco, tentu saja Marco senang sekali lalu tersenyum lebar.
Yasmin yang berdiri di ambang pintu, raut wajahnya jelas menunjukkan keberatan, ia sama sekali tidak berniat mempersilakan laki-laki itu masuk. Selain takut Marco bukan orang baik-baik, juga khawatir orang akan beranggapan buruk tentangnya karena memasukkan laki-laki.
"Sayang... di kontrakkan ini Bunda tidak boleh memasukkan pria malam-malam begini sayang..." Yasmin segera memberi pengertian.
Fatir dan Fathia mengangguk patuh, tentu saja tidak mau mengecewakan bundanya.
"Fatir... Fathia... Om pulang dulu ya..." ucap Marco dengan berat hati. Ia usap kepala Fatir dan Fathia lalu pergi dan berjanji suatu saat akan datang lagi.
"Dada Om..." ucap si kembar bersamaan hanya bisa memandangi pria tinggi dan gagah itu melambaikan tangan dan senyum ramah.
Yasmin mengajak anak-anak masuk, lalu mengunci pintu. Sebelum memberikan paper bag kepada si kembar, ia periksa dulu pemberian dari Marco. Coklat, roti basah, beberapa macam snack dan susu. Setelah yakin tidak ada yang mencurigakan ia berikan kepada mereka.
"Wah... makanannya banyak sekali," seru keduanya. Mereka keluarkan makanan ke atas tikar.
"Wah, besok-besok tidak usah buat bekal, Bun," Fathia menghitung jenis makanan untuk beberapa hari, bisa buat bekal tidak perlu membawa uang jajan.
Yasmin justru sedih melihat anak-anaknya. Selama ini ia tidak pernah membelikan jajanan seperti itu.
"Iya, kalian makan, tapi yang coklat nggak boleh dimakan malam ini ya..." Yasmin selama ini merawat gigi mereka hingga tidak ada yang berlubang, walau sikat gigi sebelum tidur kadang masih ada yang nyelip.
"Aku makan ini ya, Bunda..." Fatir ambil box yang isinya ayam goreng krispy pemberian Susana.
"Aku juga," Fathia pun ambil makanan yang sama dan satu lagi ia berikan kepada bundanya.
"Bunda nanti makan masakan pagi saja, sekarang kalian makan dulu ya..." titah Yasmin, minta anak-anaknya untuk menghabiskan, lalu ke kamar mandi, ia ingin segera mengguyur tubuhnya yang terasa lengket.
Selesai mandi, anak-anak sudah selesai makan, Yasmin ngobrol bersama mereka.
"Sayang... Sebelum berangkat kerja, Bunda selalu pesan apa sama kalian?" tanya Yasmin sedih.
"Tidak boleh kemana-mana," jawab si kembar serentak.
"Terus... kenapa kalian melanggar?" Yasmin menatap kedua anaknya satu persatu.
Fatir dan Fathia seketika menunduk, mereka yakin jika bunda sudah tahu dari om Marco jika ia menyemir sepatu.
"Maaf Bun, Fatir yang ajak Fathia menyemir sepatu. Kami hanya ingin membantu Bunda..." jawab Fatir berkaca-kaca. Dia yang sudah berani melanggar tapi juga harus berani mengakui walau dengan perasaan takut mengecewakan bunda.
"Fatir... Fathia... Bunda tidak ingin kalian melakukan ini lagi ya, Nak. Tugas mencari uang biar menjadi tanggung jawab Bunda. Jadi apa tugas kalian yang sebenarnya?"
"Belajar, bermain, dan tidak pergi kemana-mana tanpa Bunda," jawab mereka cepat.
"Nah. Anak-anak pintar..." Yasmin mengusap kepala buah hatinya dengan penuh kasih sayang.
"Bunda tahu kalau kami menyemir pasti Om Marco yang cerita," tebak Fatir karena hanya pria itu yang tahu rahasia ini.
"Tidak, kalian kenal Om Marco saat menyemir tadi?" Yasmin seketika ingat ekpresi wajah Marco, tersenyum lebar ketika melihat anak-anaknya keluar tadi.
"Iya Bun, Om Marko baik mau antar pulang, tapi kami nggak mau," papar Fatir.
"Oh iya Bun, hasil menyemir tadi kami dapat uang loh..." Fathia berdiri lalu berlari-lari kecil ke kamar, tidak lama kemudian kembali dan memberikan uang receh hasil dari keringatnya.
Yasmin menatap uang yang entah berapa jumlahnya meneteskan air mata. Ia tidak menyadari jika anak-anaknya ternyata tahu kesulitannya.
"Uang ini buat kalian jajan, sekarang kita bobo ya..."
Mereka pindah dari ruang tamu kecil itu lalu ke kamar tidur.
Pagi harinya si kembar sudah mengenakan baju seragam dan sarapan roti dan susu pemberian Marco malam tadi.
Tok tok tok.
"Ada tamu Kak," ucap Fathia berhenti mengunyah.
"Pasti bu Retno mau marah-marah lagi minta uang, sebelum bunda selesai mandi, bagaimana kalau uang boleh nyemir kita kasih bu Retno," usul Fatir.
"Setuju..."
Fatir ambil uang dalam plastik itu lalu melangkah ke arah pintu diikuti Fathia, mereka pikir dengan uang itu bisa menyelesaikan masalah dan tidak membuat bunda sedih.
"Eh, kami kira Bu Retno mau minta uang kontrakan," Fatir tertawa kecil ketika pintu terbuka ternyata tamunya orang lain.
"Om, masuk. Kalau malam-malam Bunda tidak menerima tamu laki-laki, tapi kalau pagi-pagi boleh," ucap Fatir menarik tangan tamunya.
...~Bersambung~...
sbar dong Marco dia itu GK mudah percaya ma orang tau yass itu orang nya hati2 percaya ma orang..
hadeh siapa tuh cewe jangan jangan yang nyari marco lagi😌
entah lah hanya emak yg tau