seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehancuran Ajeng
*1 Minggu Kemudian, Kediaman Bupati Sanata*
Tujuh hari berlalu sejak malam itu di restoran enak. Tujuh hari yang terasa seperti setahun bagi keluarga Bupati.
Sayap timur kediaman bupati kini sunyi seperti kuburan. Gorden beludru tebal menutup rapat jendela kamar Tiara. Tidak ada cahaya matahari yang berani masuk. Hanya lilin pendek yang apinya hampir padam, meninggalkan bau asap dan bau basi dari nampan makanan yang sudah tujuh hari tidak disentuh.
Tiara duduk meringkuk di sudut ranjang kayu jati. Lututnya dipeluk erat dengan kedua lengan. Gaun sutra biru mudanya kusut seperti kain bekas. Rambutnya yang dulu selalu disanggul rapi kini kusut dan rontok. Wajahnya pucat pasi. Lingkaran hitam di bawah matanya tebal. Tubuhnya yang dulu berisi kini kurus, tulang selangkanya menonjol. Matanya kosong, tapi kalau menatap pintu, matanya berubah penuh ketakutan.
Dari luar pintu, suara Ajeng terdengar serak karena menangis semalaman.
"Tiara, nak... ibu mohon. Bukalah pintu ini. Makanlah sedikit saja. Ini bubur ayam hangat kesukaanmu," ucap Ajeng sambil menempelkan telinganya ke pintu. "Ibu tidak akan marah. Ibu janji."
Tidak ada jawaban. Hanya suara isakan yang tertahan.
"Tiara... ibu tahu kau terluka karena ucapan Hana di restoran itu. Tapi nak, jangan hukum dirimu sendiri seperti ini. Kau anak bangsawan. Kau anak bupati. Kau tidak boleh kalah hanya karena kata-kata seorang wanita licik itu."
Lama kemudian, suara Tiara terdengar dari dalam. Suaranya bergetar, pelan, seperti bisikan orang sekarat.
"Aku... aku memang tidak berguna, Ibu," gumam Tiara. Air matanya jatuh tanpa suara. "Hana benar. Aku cacat. Cacat akal, cacat harga diri. Aku hanya bisa bergantung pada nama Ayah. Kalau nama Ayah hilang, aku tidak ada apa-apanya."
"Tidak, nak! Jangan katakan begitu!" Ajeng membentur pintu dengan kedua tangannya. "Kau cantik, Tiara. Kau masih muda. Banyak bangsawan muda yang mau melamarmu!"
Tiara tertawa kecil. Tawa itu pahit dan membuat bulu kuduk merinding. "Melamar? Siapa yang mau melamar wanita yang dihina di depan umum? Siapa yang mau menikahi wanita yang gemetar hanya karena mendengar nama Hana? Tidak akan ada, Ibu. Tidak akan ada pria yang sudi memandangku lagi. Aku sudah selesai. Hidupku sudah selesai."
Ajeng terduduk lemas di depan pintu. Ia memeluk pintu itu dan menangis histeris. "Ampuni ibu, Tiara. Ini semua salah ibu. Ibu yang dulu ikut membuat hidup Hana menderita , dan Ibu yang dulu memaksa tidak mau merawat nya,sehingga dia dendam pada ibu dan kamu,,,hiks...hiks Karma ini... karma ini terlalu kejam untuk kita...".
Tiara hanya terdiam mendengar itu, hingga tiba-tiba pelayan datang dan menatap Ajeng dengan tatapan sinis.
" nyonya,,tuan bupati memanggil anda keruangan nya " beritahu pelayan itu,lalu dia pergi dari sana.
Ajeng menghapus airmata nya,dia berdiri dan terdiam sembari berjalan menuju ruangan suaminya.
" kenapa beberapa hari ini, suamiku bersikap dingin padaku,,bahkan dia tidak mau menyentuh ku " gumam Ajeng,entah kenapa perasaan nya tidak enak.
Di ruang kerja, Tuan Bupati duduk dengan dahi berkerut dalam. Di atas mejanya tergeletak gulungan kertas perceraian yang belum ditandatangani Ajeng istrinya.Tangannya mengepal. Wajahnya lelah, tapi matanya dingin.
Brakkkkkkkkkkkkkkkk
Pintu didobrak. Ajeng berlari masuk. Rambutnya acak-acakan, hanfu-nya tidak rapi. Ia langsung menatap suaminya,tapi tiba-tiba pandangan nya mengarah pada kertas diatas meja,, surat perceraian?.
Deggggggggggggggg
Ajeng membeku,dia menatap suaminya dengan menggeleng tidak percaya,setelah itu dia berlutut dan memeluk kaki tuan bupati.
"Tuan! Hamba mohon! Jangan lakukan ini! Jangan ceraikan hamba! Hamba istri Tuan selama dua puluh tahun! Hamba ibu dari Tiara!" ratap Ajeng. Air matanya membasahi ujung jubah Bupati,seolah mengerti sikap suaminya,dia menangis dan takut di buang.
Bupati menatap istrinya tanpa emosi. "Ajeng, sudah cukup. Aku sudah memikirkannya selama tujuh hari tujuh malam. Sejak Hana kembali ke Sanata, keluarga ini tidak pernah tenang. Kau dan Tiara selalu menjadi sumber masalah. Kalian yang dulu memfitnah Hana sebagai anak haram,bahkan kamu melarang ku untuk menolong nya,dan berani mengancam ingin menceraikan aku !dan Sekarang dendamnya datang. Aku tidak mau keluarga besar bupati hancur karena dendam itu."
deggggggggggggggg
"Jadi Tuan lebih memilih menyelamatkan nama keluarga daripada istri dan anak sendiri?!" teriak Ajeng, suaranya pecah.
"Aku menyelamatkan keluarga ini dari kehancuran!" bentak Bupati. Ia berdiri dan menendang meja. "Hana tidak akan menyentuhku selama aku tidak mengusiknya. Tapi kalau kau dan Tiara tetap tinggal di sini, Hana akan menganggap kalian masih bagian dari keluarga yang harus dia habisi. Aku akan memulangkan mu ke rumah orangtuamu di distrik utara. Kau bisa tinggal di sana sampai tua. Untuk Tiara, dia akan tetap tinggal bersamaku. Itu keputusan final. Tidak bisa diganggu gugat!"
Ajeng jatuh terduduk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Tuan... Tuan kejam... Tuan tidak punya hati..."
Bupati berbalik dan tidak menoleh lagi. " Ajeng.tangan tangani surat cerai itu ! Dan pengawal Siapkan kereta untuk lusa. Aku tidak mau melihat wajahnya lagi di kediaman ini."setelah mengatakan itu bupati pergi dari sana.
Ajeng menangis histeris,dia memeluk tubuhnya yang bergetar,ini terasa mimpi, keluarga nya dulu selalu bahagia dan tidak pernah ada masalah,,tapi sejak kemunculan Hana semuanya berubah.
" Hana meski ibu pernah menyakiti mu,, perbuatan mu ini sudah sangat keterlaluan,,kamu sangat kejam pada ibu yang melahirkan mu,,kamu telah berhasil menghancurkan hidup ibu mu Hana " gumam nya,dia menangis disana sepanjang malam.
Sedangkan Di luar, di dapur dan lorong pelayan, para pelayan berkumpul dan berbisik-bisik. Wajah mereka tidak kasihan. Justru ada rasa puas di mata mereka.
" apa tadi kalian melihat Nyonya Ajeng. Dulu dia angkuh sekali. Setiap lewat selalu menuduh kami mencuri. Sekarang berlutut dan menangis seperti pelayan rendahan dihadapan tuan bupati ," bisik seorang pelayan muda.
"Memang pantas.itu adalah karma untuk nya,,sekarang tuan bupati akan menceraikan nya,,kita akan hidup lebih baik di kediaman bupati ini "
" tapi Kasihan Nona Tiara. Katanya setiap malam dia teriak-teriak memanggil nama Hana sambil memeluk bantal. Pasti Dia trauma."
"Trauma? Syukur. Biar dia tahu rasanya dihina di depan umum. Dulu dia yang paling sering menertawakan Nona Hana kurus dan miskin di hadapan banyak orang."
Tidak ada yang menolong. Tidak ada yang mengetuk pintu Tiara dengan tulus. Semua orang di kediaman itu merasa lega melihat penderitaan Ajeng dan Tiara. Mereka menyebutnya karma.
Di dalam kamar gelap, Tiara masih meringkuk. Ia berbisik pada dirinya sendiri, suaranya bergetar seperti daun kering yang tertiup angin.
"Aku cacat... aku tidak berguna... tidak ada pria yang mau... wajahku jelek sekarang... Hana benar... aku tidak ada apa-apanya dibanding dia...aku tidak mau hidup lagi,,aku sudah tidak sanggup,,aku membenci diriku sendiri " teriaknya,dia memukul kakinya yang buntung,dan menangis terisak disana.
Lilin padam. Kamar menjadi gelap gulita. Hanya isakan Tiara yang menggema, seperti ratapan arwah penasaran.