No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran pernikahan kontrak
Nyonya Margaretha tersenyum lembut, lalu menoleh ke arah cucunya yang sedari tadi duduk tenang di sampingnya.
“Menikahlah dengannya. Cucuku akan memperlakukanmu dengan sangat baik, dia sudah memimpin perusahaan dan kamu akan hidup nyaman dengannya.”
Pria itu berdiri perlahan. Tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan setelan sederhana namun rapi. Wajahnya tampan dengan sorot mata hijau yang tenang dan dewasa. Ia menatap Valerie sejenak sebelum tersenyum ramah.
“Senang bertemu denganmu, Nona Valerie,” ucapnya sopan.
Valerie membalas senyum itu tipis.
“Senang bertemu dengan Anda Tuan Damian.”
Nenek Margaretha kembali menggenggam tangan Valerie.
“Menjadi menantu keluarga kami bukan hanya soal pernikahan, kami ingin bertanggung jawab atas masa depanmu.”
“Dengan menjadi bagian dari keluarga kami, kami bisa melindungimu, menjagamu, dan membiayai seluruh kebutuhanmu.”
Valerie terdiam beberapa saat. Ia dapat merasakan ketulusan dalam ucapan wanita tua itu. Namun, hatinya tetap tidak dapat menerima usulan tersebut. Lalu dengan sopan, Valerie menggeleng pelan.
“Terima kasih atas niat baik Nenek, saya benar-benar menghargainya.”
“Tapi saya tidak bisa menerima lamaran ini.”
Nenek Margaretha menatapnya lembut.
“Kenapa Nak, apa yang membuatmu menolak tawaran kami?”
Valerie menarik napas perlahan.
“Karena pernikahan, bukan sesuatu yang bisa dijalani hanya karena rasa terima kasih atau balas budi pada keluarga saya.”
“Saya masih berusia dua puluh satu tahun, sementara cucu Nenek sudah berusia tiga puluh dua tahun. Saya merasa jarak usia kami cukup jauh.”
“Selain itu, kami juga tidak saling mengenal satu sama lain. Menikah dengan seseorang yang baru pertama kali saya temui, saya merasa terlalu terburu-buru.”
Ruangan seketika hening.
Namun Damian tidak tampak tersinggung. Ia justru tersenyum kecil, seolah memahami alasan Valerie.
“Perkataanmu benar.” ujar Damian tenang. “Pernikahan memang tidak seharusnya diputuskan karena keterpaksaan.”
Mendengar itu, Valerie sedikit merasa lega.
Nenek Margaretha menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk.
“Aku mengerti, aku tidak akan memaksamu.”
Wanita itu kemudian mengambil sebuah kartu nama dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada Valerie.
“Ini nomor pribadiku.”
“Jika suatu saat kamu membutuhkan bantuan, hubungi aku kapan saja.”
Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah kartu ATM dan meletakkannya di atas meja.
Valerie langsung menggeleng.
“Maaf Nenek, saya tidak bisa menerimanya.”
Nenek Margaretha tersenyum lembut.
“Anggap saja ini bentuk rasa terima kasihku kepada kedua orang tuamu.”
“Mereka telah menyelamatkan hidupku, mereka juga telah mengorbankan nyawa mereka demi keluargaku.”
“Aku tidak bisa membalas pengorbanan mereka, tetapi setidaknya izinkan aku membantu putrinya.”
Valerie menunduk, matanya kembali memerah.
Nyonya Margaretha mengusap punggung tangannya dengan penuh kasih sayang.
“Pikirkanlah baik-baik.”
“Pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu.”
“Kamu tidak sendirian, Valerie. Mulai sekarang, anggaplah kami sebagai keluargamu juga.”
Valerie hanya mampu mengangguk pelan.
Tak lama kemudian, Nyonya Margaretha dan keluarganya bangkit berdiri. Pria berusia tiga puluh dua tahun itu kembali menatap Valerie dan tersenyum ramah.
“Kami pamit, sampai berjumpa lagi.”
Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka pun meninggalkan rumah Valerie. Pintu tertutup perlahan, rumah itu kembali sunyi. Valerie berdiri mematung sambil memandangi kartu nama dan kartu ATM yang masih berada di atas meja.
Valerie kembali menangis. Ia tidak membutuhkan uang itu, yang ia butuhkan hanyalah orang tuanya kembali berkumpul bersamanya.
•●✿●•
Beberapa hari kemudian, Valerie kembali menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa. Meski senyumnya masih tersisa, kehilangan kedua orang tuanya telah meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya. Sepulang dari kampus, Valerie berjalan bersama sahabatnya, Ariana Fernandez.
Ariana sesekali berusaha menghiburnya dengan cerita-cerita ringan, agar Valerie tidak terus larut dalam kesedihan. Namun langkah Valerie terhenti, ketika melihat sebuah mobil hitam mewah terparkir di depan gerbang kampus. Seorang pria bersandar santai di samping mobil itu.
Damian Robert.
Begitu melihat Valerie, pria itu berjalan mendekat.
“Selamat sore Nona Valerie, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,”
Valerie tampak terkejut.
“Membicarakan apa?”
Damian tersenyum.
“Ini bukan tempat yang tepat untuk membahasnya, silakan ikut denganku...”
Ariana melirik Valerie, seolah meminta izin.
“Aku ikut.”
Damian berdeham, lalu tersenyum kepada Ariana.
“Maaf Nona, pembicaraan kami bersifat privasi. Saya harap Nona tidak salah paham.”
Ariana memasang wajah masam.
“Baiklah, kebetulan aku orangnya pengertian. Silakan lanjutkan Tuan.”
Mobil itu kemudian melaju meninggalkan kampus, dan berhenti di sebuah kafe yang tenang. Damian memesan beberapa makanan dan minuman untuk Valerie.
“Aku sudah memesankan makanan, Nona Valerie silakan dinikmati.” katanya singkat.
Valerie hanya mengangguk. Setelah suasana hening beberapa saat, Damian akhirnya membuka pembicaraan.
“Aku akan bicara terus terang.”
Valerie menatapnya.
“Aku tidak tertarik pada pernikahan, aku juga tidak ingin mencintai siapapun.”
“Nenekku sudah lama memaksaku menikah, dan aku sangat lelah terus menolak permintaannya.”
Valerie mengernyit bingung.
“Lalu?”
Damian menyandarkan tubuhnya.
“Aku ingin menawarkan pernikahan kontrak.”
Valerie membeku.
“Kepadaku?”
Damian mengangguk.
“Kita menikah selama dua tahun, lalu tinggal di rumah yang sama.”
“Kita menjalankan status sebagai suami dan istri di depan keluarga. Setelah dua tahun, kita bisa bercerai.”
Valerie menatapnya tidak percaya.
“Konyol.”
Damian mendorong sebuah map ke arah Valerie.
“Aku akan memberikan kompensasi kepadamu.”
“Villa, mobil, Mansion, rekening bulanan, dan sejumlah uang yang cukup untuk menjamin kehidupanmu.”
Valerie segera menggeleng.
“Tidak.”
“Aku tidak mau.”
“Pernikahan bukan sebuah transaksi, aku tidak bermimpi menikah untuk uang.”
Damian tidak marah, ia justru mengeluarkan berkas lain dan meletakkannya di hadapan Valerie.
“Ini laporan keuangan keluargamu.”
Valerie terdiam.
Damian melanjutkan.
“Tabungan kedua orang tuamu yang bekerja sebagai dokter, sudah mulai menipis. Ini semua tidak akan cukup untuk memenuhi biaya kuliahmu, biaya hidupmu, pajak rumah, dan lain sebagainya.”
Valerie menggenggam berkas itu dengan tangan gemetar.
“Aku bisa memenuhinya dengan bekerja.”
“Kamu masih kuliah, dan pekerjaan paruh waktu tidak akan mampu menutupi semua kebutuhanmu.”
Damian menatap Valerie dengan serius.
“Aku tidak akan menyentuhmu, aku tidak akan memaksamu melakukan apa pun diluar kontrak dalam pernikahan itu.”
“Tidak akan ada hubungan suami istri, Tidak akan ada perasaan di antara kita.”
“Kehidupanmu akan tetap berjalan seperti biasa, kamu tetap kuliah, kamu tetap bisa pergi kemana pun.”
“Kamu bebas, selama tidak membuat reputasi keluargaku buruk.”
“Kita hanya berbagi rumah, dan menjalani status pernikahan di atas kertas.”
Valerie terdiam lama, pikirannya mulai kacau. Ia tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Beberapa minggu lalu, ia masih hidup bahagia bersama kedua orang tuanya. Kini, ia harus memikirkan biaya hidup, kuliah, dan masa depannya seorang diri.
Damian kembali berbicara.
“Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu, tapi ini bisa menjadi solusi untuk kita berdua.”
“Kamu mendapatkan keamanan finansial.”
“Sedangkan aku dapat memenuhi keinginan nenekku.”
“Kita sama-sama diuntungkan dalam pernikahan ini.”
Valerie menunduk, air matanya hampir jatuh. Ia membenci kenyataan bahwa dirinya berada dalam posisi yang sulit. Namun ia juga tahu, untuk saat ini, ia tidak memiliki pilihan. Beberapa menit kemudian, Valerie mengangkat kepalanya.
“Benarkah... kamu tidak akan mengharapkan apa pun dariku?”