Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Fitnah yang Mulai Menyebar
Vira mengembuskan napas pelan. "Baik. Aku kasih kamu kesempatan sekali lagi."
"Terima kasih, Ra. Terima kasih." Yanti mengangguk berkali-kali. Meski begitu, di balik wajah penuh syukurnya, ia diam-diam mencibir.
Vira tidak menjawab. Ia bangkit dari kursinya lalu masuk ke kamar.
Sesampainya di dalam, ia membasuh wajah di wastafel sebelum duduk di depan meja rias.
"Di kehidupan ini, aku akan merawat diriku sendiri dengan baik," gumamnya pelan. "Daripada terus menghabiskan uang untuk Daril tiap bulan, lebih baik kupakai untuk memanjakan diri. Aku gak akan membiarkan siapa pun memanfaatkanku lagi."
Ia meraih botol pelembap dan tabir surya yang biasa dipakainya setiap hari.
Namun, saat tangannya menyentuh deretan skincare itu, dahinya langsung berkerut.
"Lho...?"
Ia menghitung satu per satu.
"Krim siang, krim malam, pelembap, sama serumku... kok berkurang?"
Padahal ia ingat betul membeli masing-masing tiga buah sekaligus agar hemat ongkos kirim. Yang dibuka baru satu, sementara dua sisanya ia simpan di meja rias.
Sekarang... masing-masing tinggal satu.
Tatapan Vira perlahan mengarah ke pintu kamar.
"Yanti?"
Ia menggeleng pelan.
"Bukan suudzon. Tapi memang gak ada orang lain yang mungkin mengambilnya."
Mustahil ada pencuri yang nekat masuk rumah hanya untuk mencuri skincare.
Vira hampir saja beranjak keluar, tetapi urung.
"Tidak. Aku gak boleh gegabah. Kalau langsung kutuduh, dia pasti bakal ngeles. Aku harus cari bukti."
Beberapa saat kemudian, Vira keluar dari kamar.
"Yanti."
"Iya, Ra?" sahut Yanti sambil menghampiri.
Vira menyodorkan selembar uang dua puluh ribu rupiah.
"Tolong beliin dua es kelapa muda, ya. Tempatnya belok kiri dari rumah, lurus aja. Tempetnya di sebelah kanan jalan, setelah warung makan."
"Iya." Yanti menerima uang itu.
"Siang-siang begini malah disuruh keluar," gerutunya dalam hati. "Kulitku nanti gosong kena matahari."
"Pakai motor aja biar cepat," ujar Vira seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Yanti.
"Iya, Ra."
Tak lama kemudian, suara motor menjauh.
Begitu yakin Yanti sudah pergi, Vira langsung menuju kamar sepupunya itu. Ia membuka pintu perlahan, lalu mulai memeriksa setiap sudut ruangan.
Meja nakas kosong. Laci pertama kosong.
Tatapannya beralih ke lemari pakaian. Saat membuka laci paling bawah, matanya langsung membulat. Di sana tersusun rapi beberapa kotak skincare yang sangat dikenalnya.
Vira mengambil satu per satu. "Dasar kang ngutil."
Jemarinya mencengkeram kotak-kotak itu erat. Amarahnya nyaris meledak. Namun ia kembali memaksa dirinya tenang.
"Belum. Ini belum cukup. Kalau sekarang kutuduh, dia pasti bilang semua ini dia beli pakai uangnya sendiri."
Tatapan Vira berubah tajam.
"Aku butuh bukti yang benar-benar gak bisa dia bantah."
***
Sementara itu, Yanti akhirnya tiba di tempat penjual es kelapa muda. Baru saja ia memarkirkan motornya, suara beberapa ibu yang sedang membeli es terdengar jelas.
"Kalian dengar gak? Katanya Vira sudah gak perawan."
"Hah? Yang benar?"
"Bu Mirna yang ngomong. Memang gak bilang secara gamblang, tapi ya intinya begitu. Katanya hubungan Vira sama Daril sudah kelewatan."
"Bahkan katanya Vira sudah gak perawan jauh sebelum pacaran sama Daril."
"Ya ampun. Apa itu benar? Jangan-jangan cuma fitnah."
"Bisa jadi. Mirna mungkin sakit hati karena Daril diputusin Vira."
"Gak tahu juga, sih. Soalnya cuma omongan. Gak ada buktinya."
"Iya. Tapi tetap aja bikin penasaran."
"Kalau Pak Kades dengar kabar ini, apa mereka masih mau melamar Vira buat Hartato?"
"Entahlah. Yang jelas sekarang gosip ini sudah mulai menyebar ke mana-mana."
"Kasihan Hartato kalau benar. Udah lama naksir Vira, giliran mau melamar malah dapat perempuan yang katanya bekas."
Yanti yang mendengar semua itu langsung tersenyum tipis. Sebuah ide licik muncul di kepalanya.
Ia melangkah mendekati kerumunan ibu-ibu.
"Vira memang... agak begitu orangnya."
Semua kepala langsung menoleh ke arahnya.
"Maaf, kamu siapa ya?" tanya salah seorang ibu. "Kayaknya saya belum pernah lihat."
"Iya. Saya kenal hampir semua orang kampung sini, bahkan kampung sebelah. Tapi wajah kamu baru."
Yanti tersenyum sopan. "Saya sepupunya Vira."
"Oh..."
Para ibu saling pandang.
"Terus maksudmu Vira agak begitu itu apa?" tanya salah seorang dari mereka.
Yanti pura-pura ragu. "Sebenarnya saya gak enak ngomongin keluarga sendiri."
Ia menunduk sesaat. "Tapi saya juga gak mau ada orang lain yang jadi korban."
"Maksudnya?"
"Saya sudah hampir dua minggu tinggal di rumah Vira." Yanti menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Beberapa kali tengah malam saya bangun karena haus. Waktu itu saya dengar suara dari kamar Vira... kayak..." Ia berpura-pura malu. "...kayak orang lagi berhubungan suami istri."
Para ibu saling berpandangan. Mata mereka membesar.
"Terus, waktu paginya saya juga pernah lihat leher Vira ada bekas merah-merah."
Ia sengaja berhenti sejenak. "Dan... seingat saya, suara laki-lakinya gak selalu sama."
"Hah?"
"Apa itu benar?" tanya seorang ibu tak percaya.
"Kamu ini sepupunya, kok malah buka aib keluargamu sendiri?"
"Iya. Mana buktinya? Kalau cuma ngomong, semua orang juga bisa."
Yanti menundukkan kepala. Bahunya mulai bergetar.
"Bukti apa yang bisa saya kasih?" ucapnya lirih. "Ponsel saja saya gak punya. Kalau mau menghubungi orang tua di kampung, saya harus pinjam ponsel Vira."
Air matanya mulai mengalir. "Terus... meski saya sepupunya, saya cuma dianggap pembantu."
Beberapa ibu kembali saling berpandangan.
"Kalau saya bangun kesiangan sedikit, langsung dimarahin," lanjut Yanti. "Kalau makan, saya disuruh makan di dapur. Kalau masakan saya gak sesuai seleranya, langsung dimuntahkan."
Yanti mengusap air matanya. "Dia juga sering bilang saya bodoh, orang kampung, dan gak tahu diri."
Tangis Yanti semakin menjadi. "Tapi saya tetap bertahan. Bapak saya di kampung lagi sakit dan butuh biaya berobat."
Seorang ibu mulai tampak iba. "Memangnya dia sampai mukul kamu?"
Yanti mengangguk pelan. "Iya."
"Hah?"
✨"Kepercayaan dibangun bertahun-tahun, tetapi bisa dihancurkan oleh satu pengkhianatan."
..."Musuh yang paling berbahaya bukanlah orang yang menyerang dari depan, melainkan orang yang tinggal serumah, memanfaatkan kepercayaan, lalu menghancurkanmu lewat kebohongan."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄