NovelToon NovelToon
My Sweet Best Friend

My Sweet Best Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: salbiah pulungan

tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hujan dan kita

Suasana di taman kota itu terlihat sangat ramai.

Apalagi di sudut Rigecherta dan lainnya sedang tertawa sehabis naik wahana dan Skyler malah pusing hampir muntah.

Mereka benar benar bermain seharian. Naik beberapa wahana dan juga jajan sepuasnya sampai hari menjelang sore.

" Thanks for this day guys.." Milenia melambai riang dengan hati yang terasa benar-benar hangat. Kali ini benar-benar bermain. Satu hari penuh, bebas tanpa misi, tanpa komputer, dan tanpa beban. Mereka menghabiskan waktu dengan gembira dan kembali pulang ke rumah masing-masing.

Tivane di antar oleh Rigecherta dan yang lainnya dengan kendaraan masing-masing.

Saat di tengah jalan hujan tiba-tiba mengguyur kota dengan deras.

" Kita neduh dulu aja ya?!" Ucap Rigecherta membuat Tivane langsung mengangguk karena merasa air hujan juga hampir membasahi dirinya.

Rigecherta menepikan motornya di depan kios kosong dan turun di ikuti oleh Tivane.

" Dingin nggak?" Tanya Rigecherta duduk di samping Tivane. Kebetulan di depan kios itu ada kursi untuk duduk.

" Nih pake aja" Rigecherta melepaskan jaketnya dan menyampirkan nya di pundak Tivane.

" Kamu pake apa?" Tanya Tivane.

" Kaos aku masih aman karena di tutup jaket tadi. Kamu pake aja" ucap Rigecherta enteng membuat Tivane mengangguk kecil.

Kini keduanya duduk berdampingan di depan kios itu sambil menunggu hujan reda. Namun Rigecherta terlihat selalu mencuri pandang ke arah Tivane yang memakai jaketnya.

Gadis itu terlihat imut karena jaket Rigecherta kebesaran.

Tivane juga terlihat beberapa kali mengusap bahunya untuk mengusir dingin.

" Dingin banget ya?" Tanya Rigecherta sambil menggosok kedua tangannya dan menggenggam tangan Tivane untuk menyalurkan hangat.

" Makasih. Udah nggak terlalu dingin kok" jawab Tivane tersenyum ke arah Rigecherta.

" Sini!" Rigecherta langsung menarik Tivane ke dalam pelukannya. Merengkuh erat tubuh kecil itu ke dadanya agar hangat.

" Apa sih peluk-peluk? Dasar modus" ledek Tivane padahal malu.

" Biar hangat" jawab Rigecherta gemas sambil mengeratkan pelukan.

Tivane mendongak menatap wajah Rigecherta sambil membalas pelukan.

" Makasih ya my sweet best friend" ucap Tivane terkekeh kecil.

" Boyfriend!" Ralat Rigecherta menunduk gemas lalu menyatukan kening keduanya.

" Gemes banget sih anak orang" ucap Rigecherta gemas semakin erat memeluk Tivane.

" Iyalah. Ya kali anak setan" dengus Tivane sambil menatap lekat mata Rigecherta saat Rigecherta juga fokus menatap mata indah milik Tivane.

Mereka bertatapan beberapa saat. Rigecherta tanpa sadar terus memajukan wajah, memangkas jarak di antara keduanya. Lalu berhenti tepat di depan wajah Tivane nyaris tanpa jarak.

" Can i kiss you?" Tanya Rigecherta menatap dalam wajah Tivane.

Tivane tak menjawab namun ia memejamkan mata. Rigecherta langsung mengecup bibir Tivane dengan lembut dan dalam. Seolah memberikan kenyamanan untuk Tivane. Tautan bibir mereka bertahan beberapa menit sebelum akhirnya keduanya keduanya sama-sama menjauh dan gugup sendiri.

Rigecherta berdehem pelan dengan gugup lalu mengulum senyum.

Tivane sendiri mengalihkan pandang dengan pipi memerah.

" Ekhem.. u-ujannya kayaknya udah mulai reda deh" Tivane berdehem sambil menunjuk jalan. Hujan memang sudah sedikit reda. Namun masih lumayan deras.

" Em.. kamu serius mau balik sekarang?" Tanya Rigecherta menatap hujan sebentar lalu kembali mantap Tivane lekat.

" Ih.. jangan di liatin.. aku malu" rengek Tivane menutup wajah dengan kedua tangannya.

Rigecherta terkekeh dan mengelus kepala Tivane penuh sayang.

" Yaudah kita pulang aja. Kelamaan di luar juga nanti kamu masuk angin." Rigecherta berdiri di ikuti oleh Tivane.

Motor Rigecherta melaju dengan Tivane masih menggunakan jaket Rigecherta di boncengan.

Motor perlahan berhenti saat di depan rumah Tivane.

" Makasih ya" ucap Tivane sambil melepas helm dan memberikan nya pada Rigecherta.

" Sama-sama " ucap Rigecherta sambil merapikan rambut Tivane yang sedikit berantakan.

" Mau mampir?" Tanya Tivane.

" Nggak usah. Kamu masuk aja. Aku masih ada kerjaan dikit di rumah" jawab Rigecherta lembut membuat Tivane mengangguk dan berlari ke arah pintu rumah.

" Byee Rige! Hati-hati!" Ucap Tivane saat sudah di ambang pintu dan memberikan flyng kiss membuat Rigecherta membalas balik dengan wajah memerah dan melajukan motornya ke rumah.

Rigecherta sampai di rumahnya dan langsung mandi.

" Rige!" Panggil ibu Rigecherta - Risa - wanita itu terlihat duduk di ruang tamu sambil menonton TV.

" Iya mah, Rige turun." Jawab Rigecherta terlihat menuruni tangga dengan tangan membawa laptop.

" Kamu udah makan?" Tanya Risa.

" Udah ma!" Jawab Rigecherta mengangguk dan duduk di sofa depan samping ibunya.

" Habis pulang main ya?" Tanya Risa sambil memakan cemilan di meja.

" Iya mah. Sekalian nemenin Vane main sama yang lainnya" jawab Rigecherta sambil mencomot cemilan yang ada di meja.

" Gimana hubungan kamu sama Vane?" Tanya Risa membuat Rigecherta tersenyum-senyum sendiri.

" Ya.. nggak gimana-gimana sih ma" jawab Rigecherta sedikit menunduk.

" Apalah? Senyum-senyum sendiri" ledek Risa sambil terkekeh kecil.

" Udah ah ma. Aku mau revisi tulisan dulu bentar" jawab Rigecherta membuat Risa mengangguk dan menepuk pundak Rigecherta dengan kekehan geli.

" Ciee yang lagi kasmaran" ucap Risa membuat Rigecherta tertawa pelan.

~ note ~ Rigecherta Memnag terkenal kalem dan lumayan cuek. Tapi jika di depan orang yang ia sayang, seperti Tivane dan ibunya. Image itu tak berarti apa-apa.~~

" Dengar-dengar kalian ada masalah soal kelulusan ya?" Tanya Risa menatap layar tv dengan santai.

" Kok mama tau?" Tanya Rigecherta menatap ibunya heran.

" Tau aja. Kan kalian heboh banget pas berangkat. Eh pulangnya kayak pada capek gitu " jawab Risa santai.

" Iya sih. Mama kan serba tau" ucap Rigecherta mengangguk paham. Lalu tersenyum sendiri saat melihat pesan masuk dari Tivane.

" Jangan terlalu larut ya tidurnya. Mama mau tidur dulu. Udah ngantuk" ujar Risa sambil menepuk pelan pundak Rigecherta sebelum pergi ke kamar.

" Good night mah" ucap Rigecherta menatap ibunya yang memasuki kamar lalu kembali menatap handphone di tangannya.

Tivane: lagi sibuk banget ya?

Rigecherta: nggak kok. Cuma revisi dikit-dikit.

Tivane: novel ya? Sumpah aku masih nggak nyangka penulis favorit aku itu kamu.. emang pacar aku terus the best deh.

Rigecherta: aku terinspirasi juga kerena kamu. Aku pengen kamu tetep suka aku walau nggak ingat siapa aku. Dan aku pengen kamu happy lewat karya-karya aku.

Tivane: so sweet banget deh.

Rigecherta: kok belum tidur? Udah malam loh.

Tivane: kamu sendiri belum tidur.

Rigecherta: nanti. Masih mau update lagi kayaknya. Kamu tidur aja duluan sana. Nanti sakit.

Tivane: aku juga belum ngantuk. Masih mau nonton Drakor.

Rigecherta: tidur sayang! Atau mau aku kelonin? Kalo mau aku berangkat sekarang.

Tivane: nggak usah gila ya. Iya-iya aku tidur. Tapi nonton satu dulu.

Rigecherta: yaudah. Tapi jangan terlalu malem tidurnya. Ntar kau samperin. Kalo kamu belum tidur aku cium.

Tivane: Rige gila! Nggak usah aneh-aneh nanti aku tidur kok.

Rigecherta: yaudah good night. Mimpiin aku ya.

Tivane: dih nggak mau. Mau mimpiin Ni-Ki aja. Wlee.

Rigecherta: iya. I love you to. Sleep well Tivane.

" Apaan sih? Cowo nggak nggak jelas." Tivane tersenyum-senyum sendiri melihat handphone di tangannya.

" Tapi dia lucu banget.." rengek Tivane guling-guling an di kasur.

" Chat Milenia deh" tangan Tivane langsung membuka kontak bernama Milenia di handphone nya.

Tivane: oy! Lagi apa?

Milenia: nggak ngapa-ngapain. Lagi lihat-lihat berita. Ada apa?

Tivane: mau nanya dong. Siapa sih yang nyuruh kalian buat bongkar kasus di sekolah kami.

Milenia: ini sebenarnya rahasia. Tapi karna lo, yaudah gue kasih tau. Namanya Tante Clarisa. Lo kenal?

Tivane terdiam membaca pesan dari sahabatnya itu.

Tivane masih terdiam di atas kasurnya dan ia melihat figura di atas meja belajarnya. Ia memperhatikan foto ia dan ketiga temannya itu mengenakan baju serba hitam dan rambut sama-sama di kuncir. Itu adalah foto mereka pas pertama kali menyelesaikan misi.

Pesan kembali masuk ke handphone nya mambuat Tivane meraih benda tersebut.

Milenia: Vane, mumpung kita udah satu kota. Lo mau join lagi nggak sama kami?

Tivane: emang kalian pada pindah ke sini? Gue mau aja sih.

Milenia: masuk aja. Kita juga pada mau lanjut sekolah di sini.

Tivane: oke gue join lagi.

Milenia: welcome back.

Tivane melihat Milenia memasukkannya ke grup Blake heart yang baru. ~ it's girl of Blake heart ~

Tivane: btw motif apa yang membuat Tante Clarisa nyuruh kalian?

Luci: nggak tau pasti sih, tapi dia bilang dia dendam.

Ella: iya. Katanya guru kalian itu pernah bikin dia hancur.

Milenia: cuma itu sih yang di bilang sama dia. Ada apa emang?

Tivane: nggak ada sih. Penasaran aja.

Ella: Len, kita ada misi baru nggak?

Milenia: buat seminggu ini kayaknya nggak ada. Kita bisa urus kuliah lanjut di sini.

Tivane: kita satu univ ya nanti. Rigecherta sama temen-temen nya juga nanti pada ikut kayaknya.

Luci: oke.

Ella: sip.

Milenia: wokey.

Tivane tersenyum lalu meletakkan handphone nya di atas nakas. Ia beralih mengambil laptop, ingin menonton Drakor.

Beberapa saat kemudian, saat film lagi sedih-sedih nya handphone nya berdering.

" Iya halo?" Ucap Tivane dengan suara serak karena sedang menangis.

" Kenapa suaranya gitu? Habis nangis? Kenapa? Apanya yang sakit?" Cecar Rigecherta terdengar khawatir.

" Hah? Oh. Enggak kok, ini lagi nonton Drakor. Sedih banget.." adu Tivane dengan suara serak.

" Kenapa belum tidur?" Nada Rigecherta kembali.

" Belum ngantuk" jawab Tivane sambil mengelap air mata nya.

" Tidur sayang!" Ucap Rigecherta lembut namun tegas.

" Iya bentar lagi" Tivane masih terus menonton film di laptopnya.

" Tutup laptopnya, matiin lampu, abis itu tidur!" Suruh Rigecherta dengan nada pelan.

" Iya sayang bentar lagi. Udah mau siap kok" kekeh Tivane.

" Udah jam setengah satu yang..." Rigecherta rasanya ingin menghampiri gadis itu dan memeluk nya erat agar tidur.

" Iya.. nanggung tinggal dikit lagi kok" lagi-lagi Tivane keras kepala.

" Fine. Aku datang ke rumah kamu" ancam Rigecherta.

" Iya iya aku tidur" Tivane langsung mematikan laptopnya dan menidurkan diri.

" Jangan di matiin sampe sampe kamu tidur." Rigecherta menguap. Sebenarnya ia sudah lumayan mengantuk. Namun ia masih ingin memastikan Tivane tidur dulu.

Mereka tertidur dengan handphone masih terhubung dan terdengar nafas masing-masing dari handphone.

1
jaybi
buat visual dan foto kenangannya ada di Instagram aku ya guys.. namanya: Salbiah
jaybi
jangan lupa tinggalin komentar kalian yaa😊😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!