NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pagi yang terasa lain

Cahaya matahari pagi yang terik menembus celah gorden, menyinari kamar yang kini terasa begitu hening dan sesak oleh sisa-sisa kejadian semalam. Aleta terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat. Rasa berat dan lemas menjalar ke seluruh persendiannya, seolah tubuhnya baru saja melewati maraton yang tak berkesudahan.

Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar, Ingatan samar tentang malam itu—tentang rasa panas, paksaan, obat yang diberikan, dan keruntuhan harga dirinya—mulai kembali bagaikan pecahan kaca yang menusuk nuraninya. Aleta merasa mual. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya.

Aleta segera menyadari bahwa ia tidak sendirian.

Alden masih berada di sana, tertidur lelap tepat di sampingnya. Lengan pria itu melingkar erat di pinggang Aleta, menjaganya tetap di tempat, seolah takut jika Aleta mencoba untuk melarikan diri bahkan di dalam mimpi. Nafas Alden yang teratur terdengar sangat tenang, sangat kontras dengan badai emosi dan kehancuran yang kini menyelimuti batin Aleta.

Aleta menatap bahu pria itu, lalu turun ke jejak-jejak yang ditinggalkan di kulitnya sendiri. Ia menggigit bibir bawahnya sampai terasa perih, menahan jeritan frustrasi yang mendesak di tenggorokannya. Ia merasa kotor, merasa kehilangan jati dirinya, dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia kini sepenuhnya terkunci dalam jeratan Alden.

Alden bergerak sedikit, membuat lingkar lengannya semakin mengencang. Ia belum terbangun, namun senyum tipis yang tersungging di bibirnya menunjukkan bahwa bahkan dalam tidurnya, ia merasa puas dengan kemenangan yang ia raih malam tadi.

Aleta hanya bisa terbaring kaku, menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, menyadari bahwa fajar hari ini tidak membawa harapan, melainkan kenyataan pahit bahwa hidupnya kini telah berubah selamanya di bawah kendali pria yang tertidur di sampingnya.

🌍🌍🌍

Sadar akan kondisinya yang sama sekali tanpa busana, Aleta tersentak. Rasa dingin dari AC kamar seketika menyusup ke kulitnya yang sensitif, namun itu tidak seberapa dibandingkan dengan rasa malu dan jijik yang mendadak menghantam dadanya. Dengan gerakan yang gemetar dan sesingkat mungkin, ia menarik selimut tebal itu hingga mencapai dagunya, membungkus tubuhnya rapat-rapat seolah itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki sekarang.

Setiap inci kulitnya terasa seperti terbakar oleh ingatan tentang apa yang terjadi semalam. Ia meringkuk di sisi kasur, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari Alden, meskipun lengan pria itu masih membelenggunya dengan posesif.

Aleta memejamkan mata rapat-rapat, mencoba meredam isak tangis yang kembali mendesak ingin keluar. Ia merasa sangat terhina. tepat saat ia mencoba menggeser tubuhnya sedikit saja, lengan Alden justru semakin mengerat, menariknya kembali mendekat ke dada bidang pria itu.

"Jangan bergerak," gumam Alden dengan suara parau khas orang baru bangun tidur, matanya masih terpejam namun kewaspadaannya tetap tajam.

"Kamu tidak akan pergi ke mana-mana Aleta.."

Kata-kata itu menyadarkan Aleta sepenuhnya ia tak boleh lemah menghadapi Alden, ia harus mulai mengikuti ritme yang Alden ciptakan agar dapat sebuah kepercayaan.

Alden perlahan membuka matanya. Iris mata cokelat gelapnya yang tajam—yang biasanya selalu memancarkan aura dominasi—kini menatap tepat ke dalam mata karamel Aleta yang basah.

Tidak ada sisa kantuk di sana; Alden sepenuhnya sadar, seolah ia sudah menunggu momen ini sejak ia membuka mata.

Keheningan di kamar itu terasa menyesakkan. Tatapan Alden menyusuri wajah Aleta, mulai dari matanya, turun ke bibirnya yang bengkak, hingga ke cengkeraman tangan Aleta pada selimut yang menutupi tubuhnya. Ada kepuasan yang dingin dan mengerikan di balik tatapan itu, seolah ia sedang mengamati hasil dari sebuah kepemilikan yang kini telah sah menurut versinya.

Aleta mencoba membuang muka, tidak sanggup menahan intensitas tatapan pria itu, namun Alden dengan lembut—tapi tegas—menggunakan tangannya yang bebas untuk menyentuh dagu Aleta, memaksa gadis itu untuk kembali menatapnya.

"Selamat pagi," bisik Alden, suaranya rendah dan serak, namun terdengar sangat santai, sangat kontras dengan Aleta.

Ia membiarkan ibu jarinya mengusap pipi Aleta, gerakan yang bagi orang lain mungkin terlihat penuh kasih sayang, Alden tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat akan kemenangan.

"Kenapa menatapku seperti itu?" lanjutnya, suaranya melembut namun tetap mengandung otoritas mutlak.

"Kamu tidak perlu takut lagi. Semalam, kamu sudah menunjukkan padaku bahwa kamu milikku. Dan sekarang, kenyataan itu tidak akan pernah berubah."

Alden menarik Aleta lebih dekat hingga tidak ada lagi ruang tersisa di antara mereka, mengabaikan selimut yang menjadi satu-satunya penghalang di antara kulit mereka. Alden menikmati bagaimana Aleta tidak bisa berbuat apa-apa selain menatap balik padanya, terjebak dalam tatapan yang menjanjikan bahwa tidak akan ada jalan keluar bagi gadis itu dari sisinya.

🌍🌍🌍

Keheningan di kamar itu terasa menyesakkan selama beberapa detik yang panjang. Aleta menatap balik ke arah mata cokelat gelap Alden. Rasa benci itu masih membakar dadanya, namun di balik tatapan kosongnya, sebuah kesadaran dingin mulai tumbuh. Ia menyadari satu hal krusial: perlawanan fisik dan isak tangis justru adalah "makanan" bagi obsesi Alden. Selama ia melawan, Alden akan selalu punya alasan untuk menguasainya lebih dalam.

Dengan tarikan napas panjang yang ia paksa untuk terdengar stabil, Aleta melakukan sesuatu yang tidak diduga oleh Alden. Ia tidak lagi memalingkan wajah, tidak lagi mencengkeram selimut dengan buku jari memutih. Sebaliknya, ia melonggarkan cengkeramannya pada selimut dan menatap balik dengan tatapan yang berusaha ia kosongkan—sebuah topeng kepatuhan yang sempurna.

"Kamu benar," bisik Aleta, suaranya parau namun tenang, tanpa sisa isakan.

Alden yang sudah bersiap menghadapi perlawanan atau tangisan Aleta, justru tertegun sejenak. Alisnya sedikit terangkat, ada kilatan keraguan di matanya—mencari kebohongan di balik tatapan Aleta.

Aleta tetap diam, membiarkan dirinya pasrah saat tangan Alden yang tadi mencengkeram dagunya kini membelai pipinya dengan lebih lembut.

"Anak pintar," gumam Alden, senyumnya kini terasa lebih rileks, namun tetap posesif.

"Aku tahu kamu akhirnya akan mengerti bahwa ini adalah tempat terbaik untukmu."

Aleta tidak menjawab. Ia justru menyandarkan kepalanya sedikit ke telapak tangan Alden, sebuah gestur kecil yang membuat pria itu merasa telah memenangkan segalanya. Di dalam hatinya, Aleta berteriak, namun di permukaan, ia membiarkan dirinya terlihat tenang.

Ya, anggap saja aku sudah menyerah, batin Aleta. Aku akan membiarkanmu merasa di atas angin, sampai saat kau lengah dan aku mendapatkan kesempatan untuk mencabut segalanya darimu.

"Aku lapar," ucap Aleta pelan, memecah keheningan dengan permintaan yang terdengar sangat wajar, seolah kejadian semalam hanyalah sebuah bab yang sudah selesai.

Alden tertawa kecil—sebuah suara yang terdengar lebih puas dari sebelumnya. Ia mengecup kening Aleta sebelum bangkit dari ranjang, benar-benar merasa bahwa perisai pertahanan Aleta telah hancur sepenuhnya.

"Aku akan menyiapkan sesuatu untukmu," ujar Alden sambil melangkah menuju pintu.

"Tetaplah di sini. Jangan mencoba melakukan apa pun yang membuatku harus menyesal karena tidak menguncimu."

🌍🌍🌍

Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang halus. Begitu suara langkah Alden menjauh di koridor, topeng ketenangan Aleta perlahan retak. Matanya yang tadi terlihat kosong kini berkilat dengan determinasi yang tajam. Ia menarik selimutnya, menatap sekeliling ruangan dengan teliti, mencari celah, kunci, atau apa pun yang bisa ia gunakan untuk keluar dari sangkar emas ini.

Aleta menyangga tubuhnya dengan siku, mencoba bangkit dari ranjang, namun rasa sakit yang tajam langsung menusuk dari bagian bawah tubuhnya. Ia meringis tertahan, napasnya tersengal karena sensasi linu yang luar biasa setiap kali ia mencoba menggerakkan pinggul. Seolah-olah setiap otot di tubuhnya telah ditarik paksa hingga batas maksimal, menyisakan rasa pegal dan nyeri yang membuat seluruh badannya terasa remuk.

Setiap gerakan terasa seperti siksaan. Aleta memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa sakit di bibirnya sedikit mengalihkan perhatiannya dari rasa sakit di sekujur tubuh. Ia ingin menangis, ingin menyerah dan membiarkan dirinya terkulai begitu saja di atas kasur, Tapi bayangan wajah Alden yang akan segera kembali memaksanya untuk bertahan.

Tidak, aku tidak boleh lemah sekarang, batin Aleta, memaksa dirinya untuk tetap fokus.

Dengan sisa tenaga yang sangat minim, ia merangkak pelan menuju tepi ranjang. Kakinya yang gemetar menyentuh lantai yang dingin, mengirimkan sensasi menggigil yang kontras dengan panas yang masih tersisa di kulitnya akibat efek obat semalam. Ia berdiri dengan berpegangan pada tiang ranjang, tubuhnya bergoyang tidak stabil. Setiap langkah terasa begitu berat, seperti ada beban tak kasat mata yang terus menariknya kembali jatuh.

Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi masih dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, napasnya memburu di setiap langkah. Sesampainya di dalam, ia mematung sejenak di depan cermin. Penampilannya benar-benar kacau—rambut berantakan, bekas kemerahan di leher, dan tatapan mata yang terlihat lelah namun memiliki bara kebencian yang masih menyala redup.

Saat ia memutar keran shower, suara gemericik air menjadi satu-satunya pelarian. Aleta berdiri di bawah guyuran air dingin, membiarkannya membasuh tubuhnya, seolah-olah ia mencoba menghapus setiap jejak sentuhan Alden dari kulitnya. semakin air itu membasahi tubuhnya, semakin ia menyadari bahwa luka di batinnya jauh lebih dalam daripada rasa sakit fisik yang ia rasakan sekarang.

Ia menyandarkan dahi ke dinding kamar mandi yang dingin, membiarkan air terus mengalir di atas punggungnya, mengumpulkan sisa-sisa keberanian terakhir sebelum ia harus kembali ke kamar dan menghadapi "perannya" di hadapan Alden.

🌍🌍🌍

Jangan lupa like yaaa😉

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!