NovelToon NovelToon
Janda Tampil Menarik

Janda Tampil Menarik

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Menjadi janda di usia muda bukanlah pilihan yang pernah diinginkan Maya. Setelah kehilangan suami tercinta karena sakit, ia harus menjalani kehidupan baru sebagai ibu tunggal yang membesarkan anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan pandangan sinis masyarakat, Maya berusaha bangkit dari keterpurukan yang hampir menghancurkan semangat hidupnya.

Berawal dari keputusan sederhana untuk kembali mencintai dirinya sendiri, Maya mulai merawat penampilan, membangun kepercayaan diri, dan membuka lembaran baru dalam hidupnya. Namun perubahan itu justru mengundang berbagai gosip dan prasangka. Banyak orang menganggap seorang janda tidak pantas tampil menarik dan percaya diri.

Tidak ingin menyerah pada penilaian orang lain, Maya membuktikan kemampuannya melalui dunia kerja. Dengan ketekunan dan kerja keras, ia berhasil meraih kesempatan yang mengubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Masa Lalu yang Membekas

Gemercik air hujan yang menghantam kaca jendela kamar membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di luar, malam telah larut, memeluk kota dengan kegelapan yang pekat. Maya masih terjaga, duduk di tepi tempat tidur berukuran sedang yang terasa terlalu luas untuknya seorang diri. Di sampingnya, Dika—putra kecilnya—telah terlelap dengan nyenyak, memeluk erat sebuah boneka beruang usang yang salah satu kancing matanya sudah lepas.

Maya memandangi wajah polos Dika. Gurat wajah anak itu begitu mirip dengan seseorang yang telah lama pergi. Mata yang teduh, hidung yang sedikit bangir, dan cara tidurnya yang selalu miring ke sisi kanan. Setiap kali menatap Dika, ada rasa hangat sekaligus linu yang menjalar di dada Maya.

Perlahan, Maya beranjak dari tempat tidur. Langkah kakinya sangat pelan, hampir tak terdengar, agar tidak mengejutkan buah hatinya. Ia berjalan menuju sebuah lemari kayu kecil di sudut kamar. Dari laci paling bawah yang terkunci, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah marun yang mulai berdebu.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Maya membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan pria berbahan kulit yang jahitannya sudah mulai mengelupas, beberapa lembar foto polaroid, dan sepasang cincin pernikahan yang sederhana. Maya mengambil salah satu foto polaroid. Di sana, seorang pria bermata hangat sedang merangkul pundaknya sambil tersenyum lebar ke arah kamera. Latar belakang foto itu adalah sebuah taman kota yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran.

*Andra.*

Nama itu terucap tanpa suara dari bibir Maya. Arus kenangan seketika menghantamnya tanpa ampun, membawanya kembali ke masa-masa beberapa tahun yang lalu. Masa ketika dunianya masih utuh, berwarna, dan penuh dengan tawa.

Dulu, hidup Maya terasa begitu sempurna. Andra adalah sosok suami yang penyayang, penuh perhatian, dan selalu menjadi garda terdepan pelindung hidupnya. Mereka tidak bergelimang harta, namun kebahagiaan seolah tidak pernah absen dari rumah kontrakan kecil mereka.

Maya masih ingat betul bagaimana Andra selalu pulang kerja dengan membawa martabak manis kesukaannya, bahkan ketika pria itu sendiri terlihat sangat lelah. Ia juga tidak bisa melupakan bagaimana paniknya Andra saat Maya pertama kali mengalami kontraksi menjelang kelahiran Dika. Pria itu menyetir sepeda motor dengan tangan gemetar, namun mulutnya tiada henti membisikkan doa dan kata-kata penenang untuk Maya.

"Kamu perempuan kuat, May. Aku akan selalu ada di samping kamu," bisik Andra kala itu, sambil mengecup kening Maya di ruang bersalin.

Janji itu terasa begitu nyata. Begitu kokoh. Hingga sebuah sore yang kelabu mengubah segalanya dalam sekejap mata.

Sebuah kecelakaan lalu lintas saat Andra dalam perjalanan pulang kerja merenggut pria itu dari pelukan Maya selamanya. Dunia Maya runtuh seketika. Hari-hari setelah kepergian Andra berubah menjadi lorong gelap yang sunyi dan menakutkan. Rasa kehilangan itu begitu masif, mencabik-cabik seluruh pertahanan jiwanya hingga ia sempat merasa tidak sanggup lagi untuk sekadar membuka mata di pagi hari.

Status sebagai janda di usia muda, sendirian membesarkan anak yang masih bayi, dan bayang-bayang trauma masa lalu membuat Maya menutup diri dari dunia luar selama bertahun-tahun. Kepercayaan dirinya terkikis habis. Ia merasa lemah, tidak berdaya, dan selalu dihantui ketakutan bahwa ia tidak akan pernah bisa bahagia lagi.

Maya mengusap permukaan foto polaroid di tangannya. Setetes air mata yang hangat lolos dari sudut matanya, jatuh tepat di atas kaca pelindung jam tangan usang milik almarhum suaminya.

"Andra... aku merindukanmu," bisik Maya, suaranya tercekat di tenggorokan. "Sekarang Dika sudah besar. Dia anak yang pintar dan penurut, persis seperti kamu."

Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap di relung hatinya. Belakangan ini, kesibukannya di Aruna Kreasi dan tantangan baru dari Pak Arga telah menyita seluruh fokus dan energinya. Kemajuan kariernya yang pesat dan apresiasi yang ia terima di kantor sempat membuatnya melupakan rasa perih yang biasanya selalu menemaninya setiap malam.

Apakah ia salah karena mulai merasa bahagia di tempat kerja barunya? Apakah ia egois karena perlahan-lahan mulai bisa menata hidupnya kembali tanpa bayang-bayang kesedihan Andra?

Maya mendekap kotak beludru itu di dadanya, membiarkan tangisnya pecah dalam kesunyian malam. Kamar yang dingin itu menjadi saksi bahwa di balik sosok "Bu Maya" yang tangguh, teliti, dan penuh percaya diri di ruang rapat Aruna Kreasi, masih ada seorang Maya yang rapuh, yang hatinya masih menyimpan luka menganga akibat kehilangan terbesar dalam hidupnya.

Luka itu belum benar-benar sembuh. Luka itu hanya terlapisi oleh rutinitas kerja dan tanggung jawab profesional yang baru.

Keesokan paginya, sisa-sisa kesedihan semalam masih membekas di wajah Maya. Meskipun ia sudah membasuh mukanya berulang kali dan memulas *make-up* tipis, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.

Saat tiba di kantor Aruna Kreasi, Maya mencoba mengalihkan pikirannya dengan langsung memeriksa tumpukan berkas laporan persiapan audit eksternal. Namun, entah mengapa, fokusnya hari ini sedikit terganggu. Beberapa kali ia melamun, menatap kosong ke arah layar komputer, teringat kembali pada kotak beludru merah marun di rumahnya.

"May? Kamu oke?" suara Dina memecah lamunan Maya.

Maya tersentak kecil, lalu menoleh ke arah rekan kerjanya yang sudah memutar kursi roda mendekat. "Eh, iya, Din. Aku oke. Cuma agak kurang tidur aja semalam."

Dina menyipitkan matanya, meneliti wajah Maya dengan saksama. Sebagai sahabat terdekat di kantor, Dina tahu bahwa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Maya, namun ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh.

"Jangan dipaksain, May. Laporan pra-audit kan udah beres kemarin berkat bantuan Pak Arga. Hari ini jadwal kita cuma sinkronisasi data internal aja. Kalau kamu capek, mending istirahat sebentar di pantri," saran Dina lembut.

"Iya, Din. Terima kasih ya. Aku selesaikan form yang ini dulu," jawab Maya dengan senyum yang dipaksakan.

Menjelang makan siang, Maya memutuskan untuk pergi ke pantri kantor untuk membuat teh hangat, berharap kafein dan aroma melati bisa sedikit menenangkan pikirannya yang kusut. Pantri saat itu sedang sepi karena sebagian besar karyawan memilih mencari makan di luar kantor.

Maya berdiri di depan meja konter, mengaduk tehnya perlahan. Bunyi denting sendok yang beradu dengan cangkir keramik berirama monoton, seolah menghanyutkan kembali kesadarannya ke masa lalu. Ia teringat bagaimana dulu Andra selalu membuatkannya teh manis hangat setiap kali ia mengeluh sakit kepala karena mengurus Dika yang rewel.

Tanpa disadari, setetes air mata kembali menggenang di pelupuk mata Maya. Ia segera menyekanya dengan ujung jari sebelum ada orang lain yang melihat.

"Bu Maya?"

Sebuah suara bariton yang berat dan tenang menginterupsi dari arah pintu pantri.

Maya terkejut setengah mati. Ia membalikkan badannya dengan cepat dan mendapati Arga sedang berdiri di sana, memegang sebuah tumbler hitam. Pria itu menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—ada kilat perhatian yang intens di balik ekspresi wajahnya yang biasanya kaku dan formal.

"Pak... Pak Arga," sapa Maya terbata-bata. Ia segera memperbaiki posisi berdirinya dan berusaha bersikap seprofesional mungkin, meskipun jantungnya kini berdegup kencang karena malu kepergiannya yang emosional hampir saja ketahuan.

Arga melangkah masuk ke dalam pantri, mendekati mesin kopi yang berada tak jauh dari posisi Maya. Ia tidak langsung berbicara. Suasana pantri mendadak terasa sangat intens dan menegangkan.

"Saya perhatikan sejak rapat koordinasi singkat tadi pagi, Anda kurang fokus," ujar Arga sambil menekan tombol pada mesin kopi. Suaranya terdengar datar, namun tidak ada nada kemarahan atau teguran di dalamnya. "Apakah ada masalah dengan berkas audit yang kemarin?"

"Tidak, Pak. Semua berkas sudah aman dan sesuai dengan arahan Bapak," jawab Maya cepat, pandangannya tertuju pada lantai pantri, enggan menatap langsung mata tajam bosnya.

Arga menerima cangkir kopinya yang sudah penuh, lalu memutar tubuhnya menghadap Maya. Ia bersandar pada konter pantri, melipat kedua lengannya di dada. "Kalau bukan masalah pekerjaan, berarti ada hal lain yang sedang mengganggu pikiran Anda."

Maya menelan ludah. Ia merasa terdesak oleh perhatian Arga yang begitu jeli. Pria ini terlalu pintar untuk dibohongi dengan alasan "kurang tidur" biasa.

"Maaf, Pak. Saya hanya... sedikit kelelahan," kilah Maya, masih mencoba bertahan di balik dinding profesionalismenya.

Arga diam sejenak, menatap lekat-lekat gurat kesedihan yang samar namun mendalam di wajah Maya. Sebagai seorang pria yang tajam dalam membaca karakter orang, ia tahu betul bahwa sorot mata Maya saat ini bukanlah sorot mata orang yang sekadar lelah karena pekerjaan. Itu adalah sorot mata seseorang yang sedang menanggung beban emosional yang berat dari masa lalu.

"Bu Maya," kata Arga, nadanya melunak, kehilangan sebagian besar otoritas formalnya sebagai direktur. "Fleksibilitas yang saya berikan kepada Anda bukan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan dari rumah. Itu juga berlaku jika Anda membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Jika ada masalah personal yang sekiranya membutuhkan jeda, Anda bisa mengajukan cuti satu atau dua hari."

Maya mengangkat kepalanya, menatap Arga dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ia tertegun mendengar perhatian yang begitu tulus dari pria yang terkenal dingin dan berjarak dengan bawahannya itu.

"Terima kasih atas pengertiannya, Pak Arga," ucap Maya, suaranya sedikit bergetar. "Tapi saya benar-benar tidak apa-apa. Saya hanya... terkadang kenangan lama suka datang tiba-tiba tanpa permisi. Tapi saya jamin, ini tidak akan mengganggu profesionalisme kerja saya di proyek ini."

Arga mengangguk singkat. Ia memahami batasan yang dipasang oleh Maya, dan ia tidak berniat melanggarnya. "Saya tahu Anda profesional, Bu Maya. Anda sudah membuktikannya berkali-kali. Saya hanya tidak ingin Anda memaksakan diri memikul semuanya sendirian hingga ambruk."

Kata-kata Arga menembus langsung ke lubuk hati Maya. *Memikul semuanya sendirian.* Kalimat itu adalah rangkuman dari seluruh kehidupan Maya selama beberapa tahun terakhir sejak kepergian Andra.

"Saya permisi kembali ke meja kerja saya, Pak," pamit Maya dengan suara lirih, tidak sanggup lagi berlama-lama berada di bawah tatapan Arga yang seolah bisa membaca seluruh kerapuhan jiwanya.

Arga menatap punggung Maya yang berjalan menjauh meninggalkan pantri. Ada perasaan asing yang mendesir di dada pria itu—sebuah dorongan protektif yang sudah lama tidak ia rasakan terhadap siapa pun. Di matanya, Maya bukan lagi sekadar aset berharga bagi perusahaan, melainkan seorang wanita dengan kedalaman rasa dan ketangguhan luar biasa yang perlahan-lahan mulai mengusik ketenangan hatinya sendiri.

Sementara itu, Maya kembali ke mejanya dengan perasaan yang berkecamuk. Di satu sisi, bayang-bayang masa lalu bersama Andra masih terasa begitu pekat dan membekas di hatinya. Namun di sisi lain, perhatian dan dukungan tak terduga dari Arga hari ini entah mengapa memberikan secercah kehangatan baru yang perlahan mulai mengikis rasa dingin di hatinya yang telah lama membeku.

Maya menarik napas dalam-dalam, menatap layar komputernya kembali. Ujian berikutnya telah tiba, dan kali ini, ia harus belajar untuk berdamai dengan masa lalunya demi bisa menyongsong masa depan yang baru.

1
Rian Moontero
mampiiirr😍
Aurora23: makasih supportnya😍
total 1 replies
Aurora23
yukk di baca guyss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!