Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Cemburu yang Salah Alamat dan Pengkhianatan di Balik Layar
Di ruangan VIP lounge yang sama, suasana malam ini terasa jauh lebih pekat dan pengap oleh aroma alkohol berkadar tinggi. Javier Enrique terus-menerus menuangkan wiski ke dalam gelasnya, lalu menenggaknya dalam satu kali tegukan kasar. Napasnya memburu panas, wajahnya merah padam bukan hanya karena pengaruh minuman, melainkan karena kobaran amarah yang membakar dadanya sejak sore tadi.
"Sialan! Dallas bajingan! Berani-beraninya anak haram itu menyentuh apa yang menjadi milikku!" bentak Javier, membanting gelas kosongnya ke atas meja hingga memicu dentang keras.
"Javier, tenangkan dirimu. Kau sudah minum terlalu banyak," ucap Lucianna dengan suara lembut yang dibuat-buat. Tangannya mencoba mengelus lengan Javier, menempel erat seperti perangko di sisi pria itu sejak mereka meninggalkan hotel pagi tadi.
"Bagaimana aku bisa tenang, Luci?!" Javier menepis tangan Lucianna dengan kasar, membuat gadis white lotus itu tersentak kaget. Javier mengacak rambutnya frustrasi. "Bellamy... wanita bodoh itu berani mengabaikanku! Dia membuang seratus lima puluh miliar hanya untuk memberikan tanah itu pada Dallas! Di depan semua orang! Dia mempermalukanku!"
Tobias yang duduk di seberang mereka hanya menggelengkan kepala. "Aku juga tidak menyangka Bellamy bisa senekat itu. Tapi bukankah bagus kalau dia berhenti mengganggumu, Javier?"
"Bagus? Kau bilang bagus?!" Javier tertawa sinis, matanya berkilat penuh obsesi yang menggelap. "Selama delapan tahun dia berlutut di bawah kakiku! Dia selalu memohon perhatianku! Tapi sekarang... dia menatapku seolah-olah aku ini sampah di pinggir jalan! Aku tidak terima! Aku tidak sudi melihatnya tersenyum manis pada Dallas!"
Lucianna yang mendengar rentetan kalimat itu merasakan dadanya mendadak sesak. Rasa cemburu dan panik bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Semalam, Javier merenggut kesuciannya sambil meneriakkan nama Bellamy, dan malam ini, di depannya langsung, pria yang berjanji akan menikahinya ini justru mabuk parah hanya karena memikirkan wanita lain. Javier jelas-jelas cemburu dan ketakutan kehilangan Bellamy, meskipun egonya menolak untuk mengakui hal itu.
"Javier... lalu bagaimana denganku?" Lucianna mulai meneteskan air mata, memajukan tubuhnya untuk mencari perhatian. "Kau berjanji akan bertanggung jawab atas kejadian semalam. Kau bilang kau akan menikahiku. Tapi sekarang, kau malah terus-menerus memikirkan Nona Bellamy di depanku! Di mana posisiku di hatimu, Javier?!"
Javier melirik Lucianna dengan pandangan matanya yang buram dan dingin. "Luci, jangan sekarang. Kepalaku mau pecah. Singkirkan tanganmu dulu."
Kata-kata dingin itu menjadi pukulan telak bagi Lucianna. Rasa terhina dan kemarahan meledak di dadanya. "Kau kejam, Javier! Kau egois!"
Sambil terisak histeris, Lucianna bangkit berdiri, menyambar tas desainer miliknya, lalu berlari keluar dari VIP lounge dengan air mata yang mengalir deras.
"Luci! Tunggu!" Damian yang sejak tadi diam memperhatikan bangkit berdiri. Ia melirik Javier yang justru kembali menuangkan wiski ke gelasnya tanpa memedulikan kepergian Lucianna. "Javier! Kau benar-benar keterlaluan!"
Tanpa menunggu jawaban Javier, Damian segera berlari keluar untuk mengejar Lucianna.
Lucianna berlari menyusuri koridor remang-remang area luar klub, menuju taman samping yang sepi. Ia menyandarkan tubuhnya pada pilar marmer, menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa frustrasi atas posisinya yang terus-menerus digeser oleh bayang-bayang Bellamy.
"Lucianna!" Damian berhasil menyusulnya. Pria itu mencengkeram lembut bahu Lucianna, membalikkan tubuh gadis itu agar menghadapnya. "Tenanglah, Luci. Hapus air matamu."
"Bagaimana aku bisa tenang, Damian?!" Lucianna berteriak di depan wajah Damian, dadanya naik turun dengan emosi meluap. "Javier berjanji akan menikahiku! Tapi jiwanya, otaknya, seluruh perhatiannya masih tertinggal pada Bellamy! Kenapa semua orang selalu melihat Bellamy?! Apa kurangnya aku?!"
Damian menatap wajah menangis Lucianna dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi dalam dan gelap. "Kau tidak kekurangan apa pun, Luci. Javier saja yang terlalu buta. Pria bodoh itu... dia jelas-jelas sudah jatuh cinta pada Bellamy tanpa dia sadari, dan dia hanya menggunakanmu sebagai pelarian rasa frustrasinya."
"Cinta...? Javier mencintai Bellamy?" Lucianna tertawa getir, air matanya semakin deras. "Lalu untuk apa dia menyentuhku semalam? Kenapa dia menghancurkan harga diriku?!"
"Karena dia bajingan," bisik Damian, suaranya merendah. Tangannya perlahan naik, menghapus sisa air mata di pipi Lucianna dengan ibu jarinya. "Jangan menangis demi pria seperti dia, Luci. Kau terlalu berharga untuk diabaikan."
Lucianna tertegun, menatap lekat mata Damian yang kini memancarkan gairah dan kepemilikan yang sangat kuat—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Javier yang selalu bersikap angkuh. "Damian... kau..."
Sebelum Lucianna sempat menyelesaikan kalimatnya, Damian tiba-tiba maju dan merengkuh pinggang kecil gadis itu dengan posesif. Tanpa peringatan, Damian menundukkan kepalanya dan membungkam bibir Lucianna dengan sebuah ciuman yang sangat intens, menuntut, dan penuh dengan gairah yang selama ini ia pendam diam-diam.
"Mmph—" Lucianna sempat meronta lemah, namun kekuatan fisik Damian terlalu mendominasi.
Aroma maskulin Damian dan kehangatan ciumannya yang membakar perlahan meruntuhkan akal sehat Lucianna yang sedang didera rasa sakit hati. Alih-alih menolak, rasa dendamnya pada Javier justru memicu adrenalinnya untuk membalas ciuman Damian tidak kalah brutalnya. Mereka berpagutan di kegelapan koridor sepi itu, saling melumat dan memuaskan dahaga emosi masing-masing.
Damian melepaskan pagutan mereka sejenak, napasnya memburu panas di ceruk leher Lucianna. "Ikut aku ke kamarku, Luci. Aku akan membuatmu melupakan bajingan itu."
Lucianna hanya mampu mengangguk pasrah saat Damian menarik tangannya menuju area kamar hotel suite pribadi milik keluarga Lorakalyn yang berada di gedung yang sama. Begitu pintu kamar tertutup dan dikunci dengan bunyi klik yang keras, Damian langsung mendorong tubuh Lucianna ke atas ranjang mewah, menindihnya tanpa memberikan jeda sedikit pun untuk berpikir.
Malam itu, pengkhianatan terbesar di dalam lingkaran persahabatan mereka terjadi dengan begitu panas dan brutal. Damian menyerang tubuh Lucianna dengan kebuasan yang belum pernah dialami gadis itu sebelumnya. Berbeda dengan Javier yang semalam bersikap kasar karena delusi amarah, perlakuan Damian malam ini murni karena nafsu besar dan keinginan untuk menguasai wanita milik sahabatnya.
"Ah... Damian... lebih... lebih cepat..." Lucianna mengerang, mencengkeram punggung kokoh Damian hingga meninggalkan bekas cakaran merah.
Di tengah desahan, erangan, dan jeritan kepuasan yang memenuhi kamar tidur yang temaram itu, Lucianna merasakan sensasi yang luar biasa berbeda. Milik Damian terasa jauh lebih besar, kokoh, dan bertenaga jika dibandingkan dengan milik Javier semalam. Setiap hujaman yang Damian berikan terasa begitu dalam hingga menyentuh titik paling sensitif di dalam dirinya, membuatnya melayang ke langit ketujuh berulang kali.
"Kau menyukainya, Luci? Katakan padaku siapa yang sedang menyentuhmu sekarang?!" geram Damian di sela-sela pacuan tubuhnya yang semakin cepat dan bertenaga.
"Kau... Damian... Ah! Damian, terus... jangan berhenti!" jerit Lucianna puas, melupakan total statusnya sebagai calon tunangan Javier. Rasa nikmat jasmani yang luar biasa membuatnya memohon mutlak di bawah kungkungan Damian, meminta pria itu terus menghujamnya tanpa ampun sepanjang malam suntuk hingga fajar menyingsing kembali.
...****************...
Sementara di VIP lounge bawah, Javier Enrique tergeletak tidak sadarkan diri di atas sofa dengan beberapa botol wiski yang sudah kosong berserakan di lantai. Ia tertidur dalam kondisi mabuk berat yang menyedihkan, didera oleh mimpi buruk tentang Bellamy yang sedang berjalan menjauh meninggalkannya demi mengejar Dallas.
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉