"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Puncak Penindasan di Malam Berdarah
Bab 25: Puncak Penindasan di Malam Berdarah
Hujan deras yang mengguyur ibu kota sejak sore hari belum juga reda. Suara hantaman air yang berisik di atas atap genting seolah menjadi latar musik bagi atmosfer mencekam yang sedang terbangun di dalam ruang tengah rumah mewah itu. Jarum jam dinding besar berlapis kuningan hampir menyentuh angka sebelas malam. Cahaya lampu gantung yang benderang terasa menyilaukan, menerangi tiga sosok yang sedang berdiri mengerumuni satu wanita hamil yang duduk bersandar di sofa dengan sisa-sisa kekuatan fisiknya.
Adrian berdiri dengan kedua tangan bertumpu di pinggang. Kemeja kerjanya sudah kusut, dua kancing teratasnya terbuka, menampilkan guratan urat leher yang menegang. Di sampingnya, Ibu Broto berdiri dengan wajah yang memerah padam karena amarah yang meluap-luap, sementara Santi berdiri setengah bersembunyi di belakang lengan Ibu Broto, menggenggam selembar tisu sembari menyeka air mata palsunya yang terus menetes.
Baru saja, Adrian menerima laporan bahwa Cabang Utama mereka di tengah kota terancam ditutup paksa oleh dinas kesehatan setempat karena adanya laporan keracunan makanan dari sekelompok konsumen yang menyantap menu masakan Santi siang tadi. Higienitas dapur industri yang tidak dipahami oleh seorang pelayan desa kini menjadi bom waktu yang meledak tepat di wajah Adrian.
Namun, alih-alih menyadari kebodohannya sendiri, Adrian yang sudah kalap oleh bayang-bayang kebangkrutan total memilih untuk menumpahkan seluruh frustrasinya kepada Hana.
"Bicara, Hana! Jangan cuma diam seperti patung!" bentak Adrian, suaranya menggelegar mengalahkan suara gemuruh guntur di luar rumah. "Kamu kan yang sengaja menyabotase dapur Cabang Utama?! Kamu sengaja menyuruh orang-orangmu atau mantan kokimu untuk memasukkan sesuatu ke dalam masakan Santi agar restoran itu hancur, kan?!"
Hana mendongak perlahan. Wajahnya yang semula putih kini tampak sewarna kertas filter yang mati. Sepasang matanya yang indah, yang biasanya memancarkan ketenangan yang anggun, kini terlihat begitu redup dan lelah. Di dalam rahimnya, rasa kram yang sejak seminggu lalu menghantuinya kini menjelma menjadi rasa sakit yang teramat tajam, seolah-olah ada pisau yang sedang memilin organ dalamnya dari dalam.
"Aku tidak melakukan apa pun, Adrian," sahut Hana dengan suara yang teramat perlahan, nyaris berupa bisikan yang jernih di tengah kebisingan rumah. "Penurunan omzet dan keracunan itu... adalah hasil murni dari kebodohanmu yang membawa seorang pelayan amatir untuk memegang dapur industri. Kamu yang menghancurkan warisan ayahku dengan tanganmu sendiri."
"Kurang ajar kamu ya, Hana!" sergah Ibu Broto, melangkah maju dua langkah hingga jaraknya hanya beberapa jengkal dari wajah Hana. Telunjuknya yang dihiasi cincin emas besar menunjuk-nunjuk tepat di depan hidung Hana. "Kamu ini istri macam apa, hah?! Suami lagi kesusahan, bukannya membantu atau prihatin, malah menyumpahi dan menghina! Sejak awal kamu memang tidak pernah suka melihat Santi membantu di sini! Kamu cemburu karena Santi lebih pintar menyenangkan hati Adrian, lebih cekatan, dan tidak mandul seperti kamu yang kehamilannya manja sekali!"
"I-ibu... sudah, Bu..." cicit Santi dari belakang dengan suara yang dibuat bergetar hebat, meremas ujung kaus ketatnya untuk menguatkan aktingnya sebagai korban yang teraniaya. "Jangan marahi Mbak Hana lagi... Santi ikhlas kalau Santi yang disalahkan... Santi rela kalau harus pulang ke kampung malam ini juga... Santi tidak tega lihat Mas Adrian ditindas terus oleh Mbak Hana di rumahnya sendiri..."
Hasutan lembut yang keluar dari mulut Santi di tengah situasi yang panas itu bagai menyiramkan bensin murni ke dalam kobaran api di dada Adrian. Ego kelelakiannya yang terluka parah akibat kegagalan bisnis merasa harus membela "wanita penurut" yang telah menyerahkan tubuhnya di kamar tamu bawah kemarin malam.
Adrian melangkah maju, mencengkeram bahu Hana dengan kasar, memaksa istrinya yang sedang menahan sakit itu untuk berdiri dan menatapnya. "Lihat itu, Hana! Lihat bagaimana ketulusan Santi! Dia yang berjuang membantuku, sementara kamu cuma bisa menjadi benalu yang menyumpahi kehancuranku! Mulai besok, aku tidak mau melihatmu mencampuri urusan keuangan atau rumah ini lagi! Kalau restoran ini sampai bangkrut karena doa busukmu, aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu dan anak di dalam kandunganmu itu!"
DEG.
Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Adrian terasa seperti sebilah belati berkarat yang ditusukkan tepat ke jantung Hana, lalu diputar dengan kejam tanpa belas kasihan. Anak di dalam kandunganmu itu... Adrian, ayah kandung dari bayi yang sedang ia pertahankan dengan seluruh sisa hidupnya, tega melontarkan kutukan sekejam itu hanya demi membela sekumpulan ular di rumah ini.
Rasa kecewa yang teramat mendalam, kesedihan yang mengering, dan rasa perih yang bertumpuk-tumpuk selama berminggu-minggu di pojokan rumah ini mendadak meledak menjadi sebuah benturan psikologis yang masif di dalam tubuh Hana. Pertahanan fisiknya runtuh sepenuhnya.
"Akhh..."
Sebuah rintihan kesakitan yang sangat pekat keluar dari tenggorokan Hana. Genggaman tangan Adrian di bahunya terlepas saat tubuh Hana mendadak lemas dan merosot jatuh ke atas lantai marmer yang dingin. Kedua tangan Hana dengan panik langsung berpindah mendekap perut buncitnya yang kini terasa bergejolak hebat, seolah-olah ada sesuatu yang dipaksa lepas dari dalam tubuhnya.
"Hana! Jangan akting ya! Berdiri!" bentak Adrian yang mengira Hana hanya mencoba mencari simpati untuk menghindari kemarahannya.
Namun, Ibu Broto yang berdiri di sampingnya mendadak menghentikan makiannya. Sepasang matanya melotot menatap ke arah bagian bawah daster sutra putih yang dikenakan oleh Hana.
Dari sela-sela paha Hana yang terduduk lemas di atas lantai marmer, sebuah cairan kental berwarna merah pekat mulai mengalir keluar dengan cepat. Warna merah darah itu tampak begitu kontras dan mengerikan di atas ubin marmer putih yang bersih, merembes dengan rakus, membasahi daster sutra putih bagian bawah milik Hana hingga berubah menjadi merah darah yang pekat.
"A-Adrian..." bisik Ibu Broto, suaranya mendadak bergetar ketakutan, langkah kakinya langsung mundur beberapa langkah. "Itu... itu darah, Le..."
Santi yang melihat genangan darah segar yang mulai melebar di lantai marmer langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Wajah kelicikannya seketika berubah menjadi pucat pasi karena ketakutan yang nyata. Ini di luar skenarionya. Ia hanya ingin menyingkirkan posisi Hana dari hati Adrian, bukan memicu sebuah tragedi berdarah yang mengerikan seperti ini.
Hana menundukkan kepalanya, menatap cairan merah yang membasahi telapak tangannya yang gemetar. Rasa sakit fisik yang luar biasa menusuk dari pinggang hingga ke selangkangannya membuat pandangan matanya mulai mengabur dilingkari warna hitam. Namun, di sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis, Hana tidak berteriak, tidak menangis histeris. Ia hanya menatap Adrian dengan sepasang mata yang teramat jernih, dingin, dan kosong—sebuah tatapan dari seorang wanita yang seluruh rasa cinta dan harapannya telah mati total malam itu juga.
"Anakku..." bisik Hana dengan suara yang teramat lirih sebelum tubuhnya ambruk sepenuhnya di atas genangan darahnya sendiri, kehilangan kesadaran di bawah tatapan panik dan ketakutan dari aliansi pengkhianat di hadapannya.