NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Perjalanan Sunyi Menuju Tanah Leluhur

Bab 34: Perjalanan Sunyi Menuju Tanah Leluhur

​Gemuruh mesin bus ekonomi tua bermerek Sinar Bakti itu menderu kasar, menyemburkan asap hitam pekat ke udara terminal yang bising dan berdebu. Di dalam kabin bus yang pengap dan berbau solar campur keringat, Hana duduk di dekat jendela baris tengah. Tubuhnya yang ringkih menyandar layu pada sandaran kursi kulit tiruan yang sudah robek di beberapa bagian, menampakkan busa kuning yang kotor.

​Di pelukannya, sebuah tas kain lusuh berukuran besar didekap erat-selayaknya seorang ibu yang sedang melindungi bayinya yang baru lahir. Di dalam tas itu, tersimpan pakaian-pakaiannya yang masih menyisakan bau amis air cucian piring siraman Ibu Broto, berpadu dengan sisa lembaran buku resep almarhum ayahnya yang basah dan ternoda minyak kotor.

​Hana menatap keluar jendela kaca yang berdebu tebal. Jakarta, kota yang dahulu ia datangi dengan sejuta harapan bersama Adrian, kini perlahan-lahan menjauh di balik cakrawala senja yang memerah bagai darah. Gedung-gedung pencakar langit yang megah bertransformasi menjadi barisan ruko, kemudian berganti menjadi hamparan pohon-pohon jati yang meranggas di sepanjang jalur pantura.

​Setiap kali bus berguncang melewati lubang jalanan, perut bawah Hana berdenyut nyeri yang teramat sangat. Luka pasca-keguguran yang dipaksa berjalan dan berdiri selama berjam-jam di pengadilan kini mulai menuntut haknya untuk dirawat. Rasa ngilu itu menjalar hingga ke punggungnya, membuat peluh dingin sebesar biji jagung terus bercucuran dari dahi Hana yang pucat pasi.

​“Mbak Hana... terima kasih ya atas ruko dan nama restorannya.”

​“Pergi kamu, perempuan pembawa sial!”

​Suara seringai Santi dan teriakan kasar Ibu Broto terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang menyiksa batin. Hana memejamkan matanya rapat-rapat, namun air mata hangat justru mengalir kian deras melewati pipinya yang kaku dan tirus. Rasa sakit karena dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai, ditambah rasa bersalah yang teramat mendalam kepada almarhum ayahnya karena gagal menjaga ruko warisan satu-satunya, terasa jauh lebih menyiksa ketimbang rasa perih di rahimnya.

​Ia telah kalah. Ia telah dirampok secara hukum. Di kota itu, ia tidak lagi memiliki siapa-siapa, tidak memiliki rumah, bahkan tidak memiliki nama dagang yang diciptakan oleh ayahnya sendiri. Hana merasa dirinya seperti sebutir debu yang ditiup angin kencang—terombang-ambing tanpa arah, kotor, dan tak berharga.

​Waktu terus bergulir lambat di tengah deru bus yang monoton. Malam berganti pagi, dan pagi kembali menjelma menjadi sore yang lengang ketika bus tua itu akhirnya memasuki wilayah Jawa Tengah, mendekati sebuah kecamatan kecil di kaki Gunung Lawu.

​Udara dingin pegunungan mulai menyusup masuk melalui celah-celah jendela bus, sedikit mengusir hawa pengap yang menyiksa Hana sepanjang perjalanan. Namun, kondisi fisik Hana sudah berada di ambang batas terjauhnya. Kesadarannya timbul tenggelam; pandangannya berkunang-kunang, dan tubuhnya terasa sangat panas karena demam tinggi yang mulai menyerang akibat infeksi batin dan kelelahan fisik.

​"Terminal Karangpandan... Terminal Karangpandan! Yang turun sini, silakan kumpulkan barang bawaannya!" seru kondektur bus dengan suara serak.

​Hana tersentak dari tidur ayamnya. Dengan segenap sisa kekuatannya, ia merangkul tas kain lusuhnya, lalu berdiri dengan lutut yang bergetar hebat. Setiap langkah yang ia ambil untuk menuruni tangga besi bus terasa bagai menginjak tumpukan pecahan kaca.

​Begitu kakinya menyentuh tanah berdebu Terminal Karangpandan, angin sore yang kering langsung menerpa wajah pucat Hana. Langit senja di kaki gunung itu berwarna jingga pekat, sunyi, sangat berbeda dengan hiruk-pikuk Jakarta yang menyesakkan dada. Namun, kesunyian ini justru terasa semakin mencekam bagi Hana yang pulang membawa luka yang menganga lebar.

​Terminal itu sangat sepi, hanya ada beberapa tukang ojek pangkalan yang duduk di atas motor mereka sembari merokok, serta beberapa pedagang asongan yang mulai membereskan dagangannya.

​Hana menyeret langkah kakinya keluar dari area terminal. Ia berniat berjalan kaki menuju rumah joglo milik Paman Harjo—satu-satunya kerabat dari pihak ayahnya yang masih tersisa dan memilih hidup sederhana di desa. Jarak dari terminal ke desa itu sekitar dua kilometer melewati jalanan aspal berbatu yang menanjak di antara hamparan sawah dan ladang sayur.

​Satu langkah... dua langkah...

​Setiap jengkal langkah yang ia ayunkan terasa semakin berat. Tas kain di dekapannya terasa seberat bongkahan batu besar yang menekan dadanya hingga ia kesulitan untuk menghirup oksigen. Pandangan mata Hana perlahan mulai mengabur; hamparan sawah hijau di sisi kanan dan kirinya tampak berputar-putar dengan cepat. Kepala Hana berdenyut kencang bagai dihantam palu bertubi-tubi.

​"Ayah... Hana minta maaf..." bisik Hana dengan suara yang teramat lirih, nyaris tak terdengar di antara desau angin pegunungan yang dingin. "Hana tidak bisa menjaga warisan Ayah... Hana gagal..."

​Fisik Hana akhirnya menyerah sepenuhnya pada rasa sakit batin yang terlampau masif. Di bawah langit senja yang kian meredup, tubuh ringkih Hana yang dibalut daster katun abu-abu kotor itu mendadak lemas. Pandangannya menjadi gelap gulita seutuhnya.

​BRUK.

​Hana jatuh terjerembab di pinggir jalan berdebu yang sepi, tidak jauh dari saluran irigasi sawah. Tas kain lusuhnya terlepas dari dekapannya, membuat beberapa lembar kertas resep ayahnya yang robek terlempar keluar, berserakan di atas rumput liar yang kering. Hana tergeletak tak berdaya di sana, pingsan dalam kesendirian yang teramat tragis di tanah kelahirannya sendiri.

​Setengah jam berlalu, kegelapan malam mulai turun menyelimuti lereng gunung. Jalanan setapak itu semakin sepi, hanya diterangi oleh sisa-sisa cahaya lampu minyak dari kejauhan.

​Dari arah ujung jalan, terdengar suara derit sepeda tua yang dikayuh perlahan. Seorang pria paruh baya mengenakan caping bambu dan baju lurik khas petani Jawa berjalan menuntun sepedanya yang dipenuhi tumpukan rumput segar untuk pakan ternak. Pria itu adalah Paman Harjo.

​Paman Harjo menghentikan langkah kakinya ketika matanya menangkap siluet tubuh seseorang yang tergeletak di bahu jalan, tepat di samping tumpukan kain yang berserakan.

​"Lho... Sopo iku? Kok ono wong turu ning kene? (Siapa itu? Kok ada orang tidur di sini?)" gumam Paman Harjo dengan dahi berkerut cemas.

​Ia menyandarkan sepedanya di pohon lamtoro terdekat, lalu berjalan tergesa-gesa mendekati tubuh yang tergeletak itu. Begitu ia berlutut dan membalikkan tubuh wanita itu untuk melihat wajahnya di bawah temaram cahaya bulan, jantung Paman Harjo seolah berhenti berdetak.

​Wajah pucat pasi, pipi yang tirus hingga tulang pipinya menonjol tajam, serta bibir yang pecah-pecah berdarah. Meskipun dalam kondisi yang sehancur ini, Paman Harjo tidak mungkin melupakan wajah keponakan kesayangannya—putri tunggal almarhum kakak kandungnya yang dahulu pergi ke kota dengan senyuman yang paling manis.

​"Hana?! Gusti Allah... Hana! Kowe ngopo, Nduk? (Kamu kenapa, Nak?)" teriak Paman Harjo dengan suara bergetar karena panik dan terkejut yang luar biasa.

​Ia menyentuh dahi Hana. Panasnya tubuh Hana terasa bagai membakar telapak tangannya yang kasar akibat kapalan. Paman Harjo menatap tas kain yang terbuka di samping Hana, melihat baju-baju kotor yang berbau amis dan lembaran-lembaran kertas resep bertuliskan tangan almarhum kakaknya, Baskoro, yang robek dan ternoda.

​Sebagai seorang pria yang tajam instingnya, Paman Harjo seketika tahu apa yang telah terjadi pada keponakannya di kota sana. Adrian dan keluarganya pasti telah memperlakukan Hana dengan sangat kejam hingga wanita itu harus melarikan diri kembali ke desa dalam kondisi sekarat seperti ini.

​Air mata Paman Harjo spontan menetes, membasahi pipinya yang keriput. Dengan segenap rasa sayang seorang paman yang menggantikan peran ayah, ia langsung merengkuh tubuh kurus Hana yang terasa sangat ringan ke dalam dekapannya.

​"Hana... bangun, Nduk... Ini Paman, Hana..." isak Paman Harjo sembari menepuk pelan pipi Hana yang dingin. Namun, keponakannya itu tetap bergeming dalam pingsannya yang dalam, hanya napasnya yang terdengar sangat pendek dan tersengal-sengal.

​Paman Harjo buru-buru menggendong tubuh Hana dengan kedua lengannya yang kekar, mengabaikan sepeda tuanya yang ia tinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Dengan langkah seribu di bawah naungan langit malam pedesaan yang sunyi, ia membawa Hana pulang menuju rumah joglo tua mereka—tempat di mana semua luka batin ini akan mulai dibasuh secara perlahan sebelum badai pembalasan yang sesungguhnya siap dibangun dari dasar tanah leluhur.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Anonim
HANA BALASKAN DENDAM MU... BUNUH SEMUA NYA... HABISI SEMUANYA TATAKAE TATAKAE
Anonim
lemah amat anjing 🖕
Anonim
BUNUB SEMUA NYA ANJING ... TUMBALKAN SEMUA NYA
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!