RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Suara itu masih bergema kuat di setiap sudut ruangan, seketika menyedot seluruh perhatian yang ada di dalamnya. Pintu terbuka lebar, melangkah masuk sosok wanita paruh baya yang anggun dengan langkah yang tegas namun lembut. Ia mengenakan gaun panjang warna navy yang elegan, dia adalah Maria Mommy Raven.
Maya dan Ricky seketika terpaku seperti patung, wajah angkuh yang tadinya memancarkan kesombongan luntur dalam sekejap.
“Nyonya… Maria? Kok... kok Nyonya datang ke sini juga?” tanya Maya dengan suara sedikit terbata-bata. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya, wanita yang selama ini dikenal sebagai sosok penting di dunia bisnis ternyata datang untuk membela gadis yang mereka anggap tak berharga.
Sara yang sedari tadi menjaga ketenangan dengan wajah datar, kini menatap wanita itu dengan mata yang perlahan berbinar. Ia bergumam pelan, nyaris berbisik pada diri sendiri. “Mommy…”
“Kok Mommy bisa ada di sini? Apa Raven yang menyuruhnya datang?" batin Sara.
Chelsea pun ikut melongo kaget, suaranya tercekat di tenggorokan hingga ia harus menelan ludah dengan sulit. “Tante Maria?” bisiknya pelan.
Maria hanya melirik sekilas pada keluarga Chelsea tanpa menyapa seperti biasanya, matanya yang hangat namun tegas hanya teruju pada satu orang. Ia melangkah tenang mendekati Sara, lalu duduk tepat di samping gadis itu dengan gerakan yang anggun. Tangannya terulur meraih jemari Sara dengan hangat dan penuh perhatian.
“Kamu baik-baik saja kan, Sayang?” tanyanya dengan nada lembut namun jelas, matanya memperhatikan setiap bagian wajah Sara untuk memastikan tidak ada cedera yang terlewatkan.
Sara mengangguk mantap, senyum tulus terukir indah di wajahnya. “Aku baik-baik saja, Mom. Jangan khawatir."
Maria mengusap punggung lembut lalu mengalihkan pandangannya pada Pak kepala sekolah.
“Maaf sebelumnya saya telat datang, Pak Gunawan. Langsung saja saya
di sini sebagai perwakilan dari Savira Aurelia Putri. Boleh saya tahu, apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanyanya dengan gaya bicara yang lugas namun sopan.
“Tentu saja, Nyonya Maria,” jawab Pak Gunawan dengan rasa hormat yang jelas terlihat. Ia segera menjelaskan kejadian secara singkat dan jelas.
Setelah mendengar penjelasan dan memahami seluruh situasi dengan cermat, alih-alih memarahi Sara seperti yang diharapkan oleh keluarga Chelsea, dan yang lainnya, sudut bibir Maria justru terangkat membentuk senyum bangga yang hangat.
“Berarti di sini sudah sangat jelas kan, Pak Gunawan? Jika putri saya Savira tidak melakukan kesalahan. Yang mulai mencari masalah dan melakukan tindakan yang tidak benar adalah Chelsea dan kelompoknya yang sengaja menyekapnya di gudang tua tanpa alasan yang sah." jelas Maria dengan suara yang tegas namun tidak kasar, membuat semua orang di ruangan terdiam mendengarkan.
"Untung saja waktu itu Raven menolak tegas perjodohan itu, jika tidak seumur hidup putraku akan terjebak sama wanita licik ini!" batin Maria penuh rasa syukur.
Mendengar itu, hati Chelsea mendidih penuh rasa iri dan benci yang tak tertahankan. “Kenapa Tante Maria begitu dekat dengan gadis kampung ini?! Terus kenapa cctv-nya masih ada bukannya seharusnya sudah dihapus?! Tunggu saja kau Sara, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkanmu menang begitu saja! Aku akan cari cara untuk membuatmu keluar dari sekolah ini dan juga menjauh dari Rsven!” gerutunya dalam hati, wajahnya memerah karena menahan emosi yang meluap-luap.
Setelah memastikan semua fakta sudah terungkap dan tidak ada kesalahpahaman lagi, Pak Gunawan mengambil keputusan tegas yang tidak bisa ditawar lagi.
“Setelah mempertimbangkan semua bukti dan keterangan dari setiap pihak, maka keputusan yang akan saya ambil adalah sebagai berikut: Chelsea beserta kelompoknya akan dihukum skorsing selama satu minggu, ditambah dengan tugas berupa membersihkan seluruh toilet sekolah selama satu bulan penuh. Sedangkan Savira, meskipun dinyatakan hanya melakukan tindakan membela diri, tetap dikenakan hukuman skorsing selama tiga hari karena tindakan kekerasan yang tidak bisa dijadikan contoh di lingkungan sekolah,” jelas Pak Gunawan dengan suara yang mantap, lalu menatap kedua belah pihak. “Apakah ada yang tidak setuju dengan keputusan ini?”
Sara hanya mengangguk santai menerima keputusan itu tanpa protes sedikit pun. Maria pun tak keberatan, ia mengangguk menyetujui dengan senyum. “Yang penting kebenaran sudah terungkap. Kami menerima keputusan ini dengan lapang dada.”
Sementara itu, keluarga Chelsea hanya bisa terdiam dan menerima keputusan itu dengan wajah yang memerah karena malu dan marah. Maya dan Ricky tak berani membantah apa pun, terutama setelah mengetahui kebenarannya, di tambah Sara ternyata di dukung oleh sosok berpengaruh seperti keluarga Krisnawardhana.
Tak lama kemudian, Sara dan Maria keluar dari ruangan kepala sekolah bersama-sama.
Di luar koridor, Raven, Alden, Arga, Angga, dan juga Dewi sudah menunggu dengan wajah penuh kekhawatiran sejak tadi. Mereka berdiri berkerumun di dekat pintu dengan ekspresi cemas.
Begitu melihat Sara keluar dengan wajah yang tenang. Dewi langsung berlari ke depan dan memeluknya erat. “Kamu nggak apa-apa kan, Sara?! Gimana nih? Apa geng nenek lampir itu akhirnya kena hukuman yang setimpal?” tanyanya dengan cepat, tak sabar untuk tahu hasilnya.
Sara hanya tersenyum mengangguk, membalas pelukan temannya dengan hangat. “Sudah selesai, Dewi. Mereka mendapatkan hukuman yang layak,” jawabnya singkat namun jelas, membuat Dewi langsung melompat kegirangan.
Raven pun melangkah maju mendekati mereka, matanya pertama kali menatap ibunya dengan rasa terima kasih yang dalam. “Mom, terima kasih sudah datang dan membantunya,” ucapnya dengan suara yang tulus, menyadari bahwa tanpa kehadiran Maria, mungkin situasi akan jauh lebih sulit bagi Sara.
Maria tersenyum lembut menatap putranya, lalu mendekatkan wajahnya dan berbisik pelan agar hanya terdengar oleh mereka berdua. “Mommy datang bukan karena kamu, tapi karena mantu kesayangan Mommy. Dia butuh dukungan keluarga, dan Mommy tidak bisa tinggal diam melihatnya kesusahan.”
Raven mendelik dengan ekspresi sedikit malas, meskipun sebenarnya ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Ia segera tersenyum lega dan mengangguk. “Iya deh, mantu kesayangan Mommy kan. Sudah pasti lebih penting dari anak kandungnya sendiri,” candanya ringan, membuat Maria menepuk bahunya dengan lembut.
“Oh jelas!” jawab Maria sambil merangkul kembali pundak Sara dengan penuh kasih sayang. “Karena semua sudah beres dan keputusan sudah keluar, Mommy harus pulang dulu ya, Sayang. Mommy harus segera kembali ke butik ada desain baru yang harus Mommy pantau proses pembuatannya.”
Sara segera memeluk wanita itu erat-erat, rasa haru yang mendalam menyergap hatinya hingga matanya mulai berkaca-kaca. Sosok ibu yang selama ini ia rindukan, terasa nyata dari sosok Maria yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan memberikan kasih sayang yang begitu tulus tanpa pamrih. “Terima kasih banyak, Mommy… aku sangat menyayangi Mommy. Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan kasih sayang seperti ini lagi,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi.
Maria membalas pelukan itu dengan hangat, mengecup singkat puncak kepala Sara. “Kamu itu sudah seperti putri kandung Mommy sejak pertama kali melihatmu, Sayang. Sudah sewajarnya Mommy membela kamu dengan sekuat tenaga. Jangan pernah merasa sedih atau sendiri lagi ya. Lain kali jika ada masalah atau kamu butuh sesuatu, cepat-cepat kasih tahu Mommy atau Daddy ya. Kamu bukan lagi sendirian,” jelasnya dengan lembut.
Sara mengangguk pelan lalu perlahan melepaskan pelukan, namun masih terus memegang tangan Maria dengan erat. Senyum tulus yang tak lagi dipaksakan kini terpampang jelas di wajahnya, rasa lega dan bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Raven!”
Maria menatap putranya dengan pandangan yang tajam namun penuh kasih. Ia mengangkat satu jari sebagai peringatan lembut. “Jaga putri Mommy dengan baik, ya. Jangan sampai ada orang menyakitinya lagi. Kalau ada yang berani mengganggunya, Mommy tidak akan tinggal diam!”
“Siap, Mom! Raven akan melindunginya,” jawab Raven dengan nada yang mantap dan penuh komitmen.
Tak jauh dari mereka Leon ikut tersenyum haru melihat Nona Mudanya di kelilingi orang-orang baik.
Arga tiba-tiba menyelinap mendekat pada Alden sambil mengusap sudut matanya yang sedikit berkaca-kaca karena terharu. “Wah… aku jadi ikut baper liatnya, Ternyata Tente Maria sayang banget sama Nyonya Bos kita,” ucapnya dengan suara pelan, namun tetap bisa didengar oleh Angga yang berdiri di sebelahnya.
Alden hanya mengangguk setuju, matanya tak lepas dari pemandangan hangat antara Maria dan Sara. “Hmm! Habis ini aku juga mau cari calon mantu buat Bunda!" candanya ringan, membuat Arga, Angga dan Dewi langsung tertawa riang.
Bersambung....
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/