meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sorotan Lampu dan Bayangan Sepi
Dua minggu telah berlalu sejak pertemuan terakhir dengan Andrian di gerbang rumah. Dua minggu di mana Meylani berhasil mengubah rasa sakit menjadi bahan bakar produktivitas. Proyek dengan PT Graha Properti resmi berjalan, dan nama Meylani mulai disebut-sebut oleh manajemen atas sebagai salah satu aset kunci divisi pemasaran.
Pagi itu, suasana di kantor terasa lebih ramai dari biasanya. Meylani sedang asyik menyusun mockup desain kampanye media sosial untuk klien baru ketika Rina, sahabat sekaligus rekan kerjanya, datang dengan wajah berbinar-binar dan secangkir kopi di tangan.
"Mey! Kamu lihat email grup tadi pagi?" tanya Rina sambil duduk di kursi sebelah meja Meylani, suaranya setengah berbisik namun penuh antusiasme.
Meylani mengangkat alis, meletakkan stylus-nya. "Email apa? Aku belum cek inbox sejak rapat pagi tadi."
"Bapak Direktur memuji presentasimu bulan lalu! Dia bilang strategi digital engagement yang kamu usulkan meningkatkan brand awareness klien sebesar 15% dalam waktu singkat. Katanya, kamu punya 'insting pasar' yang tajam," jelas Rina, matanya berkilat bangga. "Bahkan, ada rumor kalau kamu bakal dipromosikan jadi Team Leader untuk akun-akun besar tahun depan."
Meylani tersenyum tipis, meski hatinya berdebar campur aduk. Kebahagiaan karena diakui secara profesional bercampur dengan kecemasan akan tanggung jawab yang lebih besar. "Ah, masih rumor, Rin. Jangan bikin aku sombong dulu. Yang penting klien puas."
"Tapi itu tanda bagus, Lan!" Rina menepuk bahu Meylani. "Lihat kan? Fokus kamu ke kerjaan bener-bener bayar. Kamu kelihatan lebih... bersinar. Beda banget sama dua bulan lalu yang sering melamun."
Meylani mengangguk. Ia tahu perubahannya terlihat. Dulu, pikirannya sering melayang ke Andrian: Apakah dia sudah makan? Apakah kasusnya lancar? Mengapa dia dingin? Sekarang, pikirannya hanya terisi target KPI, analisis kompetitor, dan materi sertifikasi yang sedang ia pelajari setiap malam.
Namun, di balik sorotan lampu keberhasilan itu, ada bayangan yang mulai memanjang saat matahari terbenam.
Sore harinya, setelah sebagian besar rekan kerja pulang, Meylani masih tertinggal di kantor untuk menyelesaikan laporan mingguan. Kantor yang tadinya riuh kini hening, hanya tersisa dengungan AC dan ketikan jari Meylani.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari Instagram. Bukan dari teman, tapi dari akun berita lokal Semarang.
"Jaksa Muda Berprestasi Tangani Kasus Korupsi Besar di Jateng Andrian Alexander Jadi Sorotan."
Jantung Meylani berhenti berdetak sesaat. Jempolnya gemetar saat menekan tautan tersebut. Artikel itu menampilkan foto Andrian yang sedang keluar dari gedung Kejaksaan Negeri, diapit oleh rekan-rekannya. Wajah Andrian terlihat serius, tegas, dan berwibawa. Caption artikel memujinya sebagai salah satu jaksa muda paling potensial di wilayah Jawa Tengah.
Komentar-komentar di bawah postingan itu penuh dengan pujian.
"Ganteng dan pintar!"
"Semangat Mas Andrian, tegakkan keadilan!"
"Idola kaum hawa nih."
Meylani menatap foto itu lama. Pria dalam foto itu tampak begitu jauh, begitu berbeda dari Andrian yang duduk diam di Joglo Langit dua minggu lalu, yang mengatakan bahwa cinta Meylani adalah beban. Di mata publik, Andrian adalah pahlawan hukum. Di mata Meylani, ia hanyalah mantan kekasih yang memilih karier di atas hubungan.
Rasa pahit itu muncul lagi, bukan karena cemburu, tapi karena perasaan tidak adil. Dunia melihat sisi terbaik Andrian, sisi yang ia banggakan, sementara Meylani harus menelan sisi egoisnya sendirian.
"Mey, kok masih di sini?"
Suara Rina membuyarkan lamunan Meylani. Meylani cepat-cepat mengunci layar ponselnya dan menyembunyikannya di laci meja.
"Iya, mau finishing laporan sebentar lagi," jawab Meylani, mencoba tersenyum natural.
"Jangan terlalu keras bekerja, ya. Ingat, kita butuh kamu sehat untuk pesta promosi nanti," goda Rina sambil mengambil tasnya. "Aku duluan ya. Hati-hati di jalan."
"Oke, Rin. Hati-hati juga."
Setelah Rina pergi, keheningan kantor terasa semakin mencekam. Meylani menatap layar komputernya yang gelap, refleksi wajahnya sendiri terlihat samar-samar. Ia merasa lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah emosional yang perlahan merayap masuk melalui celah-celah kesibukannya.
Selama dua minggu ini, ia sibuk hingga lupa merasa sepi. Tapi malam ini, di tengah keheningan kantor yang luas, kesepian itu mengetuk pintu dengan keras. Tidak ada Andrian yang menjemput. Tidak ada pesan "hati-hati pulang" yang masuk. Hanya ada dirinya, kota Semarang yang mulai gelap, dan tumpukan pekerjaan.
Meylani menarik napas panjang. Ia berdiri, merapikan mejanya, dan mematikan komputer. Ia tidak ingin menangis di kantor. Itu tidak profesional.
Di parkiran bawah tanah, udara terasa dingin. Meylani berjalan menuju mobilnya, sebuah hatchback kecil yang ia beli hasil tabungan sendiri sebelum bertemu Andrian. Dulu, Andrian sering menawari untuk mengantarnya pulang atau meminjamkan mobil mewahnya, alasan klasik "kasihan kamu macet-macetan". Meylani sering menerima karena malas dan ingin menghabiskan waktu bersama.
Kini, ia membuka pintu mobilnya sendiri, menyetel playlist musik favoritnya bukan lagu jazz romantis pilihan Andrian, tapi lagu-lagu pop independen yang energik dan menyalakan mesin.
Dalam perjalanan pulang, hujan turun lagi. Hujan deras khas Semarang yang membuat jalanan licin dan pandangan terbatas. Meylani menyetir dengan hati-hati, fokus pada lampu rem mobil di depannya.
Saat berhenti di lampu merah dekat Simpang Lima, matanya tanpa sengaja menangkap sebuah kafe terkenal di seberang jalan. Melalui kaca jendela yang berembun, ia melihat sepasang muda-mudi duduk berhadapan. Pria itu sedang tertawa, memegang tangan wanita itu dengan lembut. Wanita itu tersenyum, matanya berbinar bahagia.
Pemandangan biasa. Pemandangan yang dulu sering ia alami dengan Andrian.
Dada Meylani sesak. Air mata tiba-tiba menggenang, menghalangi pandangannya pada lampu lalu lintas yang berubah hijau. Klakson mobil di belakangnya membunyikan tanda ketidaksabaran.
Meylani tersentak. Ia mengusap air matanya kasar, menarik napas, dan menginjak gas. Mobilnya melaju, meninggalkan kenangan itu di belakang.
"Sudah, Meylani. Sudah," bisiknya pada diri sendiri di dalam mobil yang tertutup rapat. "Jangan lemah. Kamu sudah memilih jalan ini. Jalan mandiri. Jalan tanpa sandaran."
Sesampainya di rumah, Meylani langsung masuk ke kamarnya. Ia melempar tas kerjanya ke sudut ruangan dan ambruk ke kasur. Ia tidak menyalakan lampu. Ia hanya berbaring dalam gelap, membiarkan suara hujan di luar menjadi penghibur satu-satunya.
Ponselnya bergetar di samping bantal. Meylani malas memeriksanya, tapi rasa penasaran menang. Ia mengambilnya.
Bukan dari Andrian. Tapi dari ibunya.
"Lani, Ibu buatkan soto ayam kesukaanmu. Turunlah makan, jangan cuma makan mie instan terus. Kamu kurusan, Nak."
Meylani tersenyum sedih. Di saat dunia luar memujinya sebagai wanita karier yang tangguh, dan mantan kekasihnya sibuk menjadi pahlawan publik, hanya ibunya yang peduli apakah ia sudah makan atau belum. Hanya ibunya yang melihat kelelahan di balik topeng keberhasilannya.
Meylani bangkit, mencuci muka, dan turun ke ruang makan. Aroma soto ayam yang gurih menyambutnya. Ayahnya sedang membaca koran, ibunya tersenyum hangat saat Meylani duduk.
"Makan yang banyak, Ya," kata ayahnya tanpa mengangkat pandangan dari koran, namun nadanya penuh perhatian.
Meylani mengangguk, mengambil sendok. Kuah soto yang hangat mengalir ke tenggorokannya, menghangatkan tubuh yang kedinginan akibat hujan dan kesepian.
Di sini, di meja makan sederhana ini, Meylani menyadari sesuatu. Cinta tidak selalu tentang romansa dramatis atau janji-janji manis di ketinggian Joglo Langit. Cinta kadang berbentuk semangkuk soto hangat, perhatian orang tua yang diam-diam, dan kekuatan untuk bangkit setiap kali jatuh.
Malam itu, Meylani tidur lebih nyenyak. Ia tahu besok akan ada tantangan baru di kantor, mungkin gosip baru, mungkin tekanan baru. Tapi ia juga tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki dirinya sendiri, keluarganya, dan ambisinya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Meylani tidak bermimpi tentang Andrian. Ia bermimpi tentang podium penerimaan penghargaan, dengan namanya terpampang jelas di layar besar. Mimpi yang ia bangun sendiri, batu bata demi batu bata, tanpa bantuan siapa pun.
...****************...