Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Penaklukan Tanpa Mahkota
Hari kedua kompetisi di Paviliun Giok Surgawi dipenuhi atmosfer yang jauh lebih menegangkan. Penonton yang hadir berlipat ganda, semua penasaran ingin melihat aksi pemuda misterius bernama Chen yang berhasil mengguncang dunia batu giok di hari pertama.
"Hadirin sekalian, ujian babak kedua ini adalah ujian insting murni!" seru sang juri kepala. "Di atas meja telah disediakan seratus buah batu giok. Tugas kedua peserta adalah membedakan mana giok yang asli dan mana yang tiruan (palsu). Namun, ujian kali ini dilakukan dalam kondisi mata tertutup rapat oleh kain hitam!"
Tuan Feng melangkah maju dengan tenang. Meskipun matanya tertutup, tangannya yang telah menyentuh jutaan giok selama puluhan tahun bergerak lincah. Ia menggunakan sensitivitas kulit, berat jenis, dan perubahan suhu batu untuk membedakannya. Akurasi Tuan Feng sangat mengerikan, ia berhasil menebak hampir seluruh batu dengan benar.
Kini giliran Chen. Dengan kain hitam yang mengikat erat matanya, semua orang mengira pemuda itu akan kesulitan. Namun, mereka tidak tahu bahwa kain kain itu sama sekali bukan halangan bagi sepasang mata ajaib milik Chen.
Chen memusatkan pikirannya. Aliran hangat menjalar, dan seketika pandangannya menembus kain hitam tersebut. Tidak hanya itu, ia mengaktifkan kemampuan barunya untuk membedah struktur molekul pembentuk batuan. Giok asli memiliki kepadatan kristal alami yang rapi, sedangkan giok palsu yang terbuat dari kaca atau resin memiliki struktur kimia yang kacau dan berongga.
Chen berjalan di sepanjang meja tanpa keraguan sedikit pun. Setiap kali tangannya menyentuh sebuah batu, ia tidak hanya menebak statusnya.
"Palsu, ini resin."
"Asli, Giok Lavender."
"Asli, Giok Putih Kambing."
"Palsu, ini kaca pekat."
Chen bukan hanya menebak asli atau palsu, ia bahkan menebak warna dan jenis dari setiap batu giok tersebut secara instan! Ketika kain penutup matanya dibuka dan juri memeriksa hasilnya, akurasi Chen adalah 100% sempurna tanpa satu pun kesalahan.
Pengakuan sang Master
Aula pelelangan seketika hening mencekam sebelum akhirnya meledak dalam gemuruh tepuk tangan yang memekakkan telinga. Paman Feng perlahan membuka penutup matanya, menatap papan skor, lalu beralih menatap Chen dengan rasa takjub yang mendalam. Sebagai seorang master legendaris, ia tahu kapan harus mengakui keunggulan lawan. Kemampuan Chen sudah berada di ranah dewa.
"Tidak perlu melanjutkan ke hari ketiga," suara Tuan Feng terdengar berat namun tegas menembus keheningan aula. Ia mengangkat tangannya, menghentikan riuh penonton. "Aku, Feng, menyatakan mengaku kalah dalam perlombaan ini."
Tuan Feng memberi isyarat kepada asistennya, yang segera membawa selembar dokumen resmi. "Sesuai kesepakatan taruhan kita dengan Liu, aku sudah siap menandatangani surat penyerahan aset berupa tanah tambang di wilayah barat dan uang lima puluh juta yuan ini. Ini milikmu, Chen."
Namun, di luar dugaan semua orang, Chen melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya secara halus.
"Maaf, Tuan Feng, saya menolaknya," ujar Chen tenang.
"Bagi saya pribadi, dengan diakui oleh seorang Master Legendaris seperti Tuan Feng saja, saya sudah merasa memenangkan hadiah terbesar. Hadiah materi yang lain itu tidak lagi penting bagi saya."
Wajah Tuan Feng seketika mengeras. Sebagai orang yang memiliki harga diri tinggi, ia merasa tersinggung. "Chen! Aku tidak suka berutang budi, dan aku tidak mau dikasihani oleh anak muda sepertimu! Ambil hakmu!"
Chen tersenyum tipis, tatapannya tetap menghormati sang tetua. "Saya sama sekali tidak bermaksud mengasihani Anda, Tuan Feng. Saya menolak karena dari lubuk hati yang terdalam, saya merasa belum pantas untuk menerima aset sebesar itu di usia saya yang masih muda ini. Saya hanya ingin belajar."
Mendengar ketulusan yang begitu murni dari mulut Chen, amarah Tuan Feng seketika melunak, berganti dengan rasa kagum yang tak terbendung. Pemuda di hadapannya ini tidak hanya memiliki mata yang ajaib, tetapi juga hati yang luar biasa bijaksana dan tidak serakah.
"Hahaha! Baik... baik!" Tuan Feng menghela napas panjang sambil tersenyum lebar. "Jika kamu tidak mau menerima tanah dan uang itu, aku tidak akan memaksa.
Tapi sebagai gantinya, aku memberikanmu hak kebebasan penuh untuk menambang dan mengambil batu mentah kapan saja di salah satu tambang batu giok terbaik milikku. Jangan menolak ini, atau aku akan benar-benar marah."
Chen membungkuk hormat. "Kalau begitu, terima kasih banyak, Tuan Feng."
Perayaan di Malam Hari
Liu yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari pinggir panggung mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah karena bangga. Sahabat yang ia pilih tidak hanya mengharumkan namanya di depan sang paman, tetapi juga menunjukkan kelas yang berbeda di hadapan seluruh elite kota.
Begitu acara selesai dan mereka berada di lobi, Liu langsung merangkul pundak Chen dengan heboh. "Chen! Kamu benar-benar gila! Kamu membuat pamanku yang kaku itu bertekuk lutut! Malam ini, aku mengundangmu untuk minum-minum sepuasnya di bar mewah milikku. Kita harus merayakan kemenangan besar ini!"
Chen terkekeh melihat antusiasme sahabatnya. "Tentu, Liu. Aku setuju. Tapi biarkan aku pulang dulu untuk mengganti pakaianku menjadi lebih santai."
"Siap! Aku tunggu di bar!" seru Liu.
Chen segera kembali ke kosan. Namun, ia tidak berniat pergi sendiri. Kemenangan dan kebahagiaan malam ini tidak akan lengkap tanpa kehadiran sosok yang kini mengisi hatinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan setelan yang rapi, Chen melangkah ke kamar sebelah dan mengetuk pintu, bersiap untuk mengajak Mei, sang kekasih, ikut serta dalam malam perayaannya.