Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.
Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.
Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.
Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 (Vivian hamil)
...HAPPY READING...
...🧸💕...
Arsen mematikan layar ponselnya, lalu menyalakan kembali mesin mobil. Malam semakin larut saat sedan hitam itu melaju membelah jalanan menuju Hotel Arkantha. Sepanjang perjalanan, rahang Arsen terus mengeras. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dibahas Kael malam ini—dan spekulasi itu sukses membuat suasana hatinya kian memburuk.
Beberapa menit kemudian, Arsen tiba di rooftop Hotel Arkantha. Angin malam berembus cukup kencang di area terbuka itu, membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Dari kejauhan, lampu-lampu kota terlihat berkilauan bak hamparan permata di bawah langit malam yang pekat.
Kael sudah berada di sana lebih dulu. Pria itu berdiri membelakangi pintu masuk, tampak tenang menatap pemandangan kota di bawahnya.
"Aku datang," ucap Arsen dingin.
Kael perlahan menoleh, membuat tatapan mereka langsung bertemu di udara. Tidak ada basa-basi. Tidak ada senyum formalitas. Hanya ada atmosfer tegang yang mendadak mencekik waras.
"Kamu mau apa?" tanya Arsen langsung pada intinya.
Kael memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, lalu menghela napas pendek. "Aku mau ngomong soal Elvara."
Nama itu seketika membuat ekspresi Arsen berubah datar, namun tersorot kilat defensif. "Jangan ikut campur."
"Aku juga aslinya nggak mau ikut campur," balas Kael, melangkah beberapa tindak mendekat. "Tapi kamu yang memaksa aku buat peduli, Arsen. Aku lihat sendiri kamu sama Vivian."
Arsen bungkam. Rahangnya mengatup rapat karena tidak ada satu pun kalimat Kael yang bisa dibantah.
"Kamu masih punya kesempatan buat berhenti sebelum semuanya terlambat," tegor Kael lagi.
"Ini urusanku. Dan Elvara."
Kalimat Arsen justru membuat Kael menatapnya lebih tajam. "Dia masih percaya sama kamu! Tapi kamu? Kamu malah bohongi dia terus-menerus!"
Suara Kael mulai meninggi, berkejaran dengan deru angin malam. "Setiap hari dia nunggu kamu pulang. Dia masih mikirin kamu sudah makan atau belum. Dia masih berusaha keras memperbaiki rumah tangga kalian yang hancur, sementara kamu di luar sana sama perempuan lain!"
Arsen memalingkan wajah. Entah kenapa, rentetan kalimat Kael barusan menghantam dadanya dengan telak, menyisakan rasa sesak yang asing.
Kael melangkah maju hingga mereka kini berdiri berhadapan. "Jadi, dengar baik-baik. Akhiri hubungan kamu sama Vivian."
Tatapan Arsen langsung berubah sedingin es. "Itu bukan keputusanmu."
"Kalau nggak kamu akhiri..." Kael menjeda kalimatnya, memberi penekanan yang mutlak, "...aku sendiri yang akan kasih tahu semuanya ke Elvara."
Keheningan mencekam kembali turun. Angin malam berembus di antara mereka, menerbangkan helai rambut kedua pria yang saling mengunci pandangan itu. Arsen menatap Kael lama, mencoba mencari celah keraguan di mata sahabatnya itu.
Namun, Arsen tahu ia kalah. Pria di hadapannya ini tidak sedang menggertak.
"Aku serius, Arsen. Elvara berhak tahu kebenarannya," lanjut Kael dengan nada suara yang melunak, namun justru terasa lebih mengancam.
Rahang Arsen kembali mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. "Jangan lakukan itu."
"Kalau kamu memang masih punya hati buat dia... selesaikan ini dengan benar," balas Kael final.
Untuk pertama kalinya malam itu, Arsen benar-benar merasa tersudut di ujung tebing. Ia sadar, cepat atau lambat, bangkai yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat memang tidak akan pernah bisa bertahan selamanya di dalam kegelapan.
Kael tidak menunggu jawaban lagi. Ia melangkah maju, lalu mendaratkan satu tepukan keras di pundak Arsen—sebuah sentuhan yang terasa lebih seperti peringatan ketimbang salam perpisahan.
Kael mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat terakhir dengan nada yang luar biasa dingin. "Aku harap lo berubah. Kalau enggak... terpaksa Elvara gue ambil."
Setelah mengucapkan itu, Kael berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan rooftop tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya terdengar tegas, bergaung di antara keheningan malam sebelum akhirnya menghilang di balik pintu darurat.
Sementara itu, Arsen mematung di tempatnya.
Kalimat terakhir Kael barusan tidak hanya memojokkannya, tapi juga berhasil memicu pemantik api yang membakar harga dirinya. Rahang Arsen mengatup begitu rapat hingga giginya bergemertak. Tangannya yang terkepal di dalam saku celana kini bergetar menahan amarah yang mendadak meluap.
Arsen tahu kalimat Kael bukanlah gertakan kosong belaka. Pria itu bersungguh-sungguh.
Sebab, Arsen tahu sebuah rahasia yang disimpan Kael rapat-rapat sejak dulu. Jauh sebelum Arsen dan Elvara terikat dalam janji pernikahan, Kael sudah lebih dulu menaruh hati pada wanita itu. Sejak mereka masih mengenakan seragam abu-abu di bangku SMA, Kael mencintai Elvara dalam diam. Kael yang selalu memperhatikan Elvara dari jauh, Kael yang selalu ada di saat wanita itu butuh, namun Kael juga yang tidak pernah memiliki keberanian untuk menyatakan cinta.
Kael memilih mundur dan memendam perasaannya sendiri hanya karena satu alasan: saat itu, Elvara terang-terangan menunjukkan bahwa pria yang disukainya adalah Arsen.
Mengingat hal itu, ego Arsen sebagai seorang suami seketika bergejolak hebat. Rasa bersalah yang sempat menghimpit dadanya kini bersalin rupa menjadi rasa kepemilikan yang egois.
Elvara miliku, batin Arsen menolak keras ancaman sahabatnya.
Namun, embusan angin malam yang menerpa wajahnya seolah menertawakan ketakutan Arsen yang mulai membayang. Kini, dia benar-benar berada di persimpangan jalan. Jika dia tidak segera melepaskan Vivian, dia tidak hanya akan kehilangan rumah tangganya, tapi juga memberikan celah bagi Kael untuk masuk dan merebut Elvara dari pelukannya.
Ketakutan yang membayangi pikiran Arsen malam itu akhirnya memaksa kedua kakinya melangkah ke tempat ini. Apartemen mewah di pusat kota. Tempat yang biasanya menjadi pelarian manis baginya, kini terasa seperti jalan menuju takdir yang mencekik.
Begitu pintu terbuka, Vivian menyambutnya dengan senyuman manis yang biasa wanita itu pamerkan. "Arsen? Tumben malam-malam ke sini?"
Arsen tidak membalas senyuman itu. Ia melangkah masuk dengan wajah sedatar dinding batu, mengabaikan uluran tangan Vivian yang hendak melepas jas kerjanya. "Kita perlu bicara. Berdua saja."
Menyadari atmosfer yang tidak biasa, senyum di bibir Vivian perlahan memudar. Ia menutup pintu rapat-rapat, lalu berbalik menatap Arsen yang sudah berdiri membelakanginya di tengah ruang tamu.
"Ada apa? Kamu kelihatan tegang banget," tanya Vivian, mencoba mencairkan ketegangan sambil melangkah mendekat.
Arsen membalikkan badan, menatap langsung ke dalam manik mata Vivian. Tidak ada kehangatan lagi di sana. Hanya ada kilat ketegasan yang dingin. "Kita harus selesai, Vivian."
Kata-kata itu meluncur begitu saja, memotong keheningan ruangan.
Vivian terpaku di tempatnya. Langkahnya terhenti. "Maksud kamu apa?"
"Hubungan kita. Sampai di sini saja," ulang Arsen, suaranya terdengar tanpa ragu, meski di dalam dadanya bergemuruh hebat. "Aku nggak bisa keliru lebih jauh lagi. Elvara... dia nggak berhak disakiti seperti ini. Aku harus kembali ke rumah tanggaku."
Vivian terkekeh sumbang, menganggap kalimat Arsen sebagai lelucon buruk. "Kamu bercanda, kan? Tiba-tiba datang tengah malam cuma buat bilang kita putus karena Elvara? Arsen, kita udah jalan sejauh ini!"
"Aku serius, Vivian!" nada suara Arsen meninggi, tatapannya menajam. "Aku akan urus semua kebutuhan finansial kamu setelah ini sebagai kompensasi. Tapi untuk hubungan... kita selesai malam ini."
Arsen berbalik, bersiap untuk pergi sebelum hatinya goyah oleh air mata wanita di hadapannya. Ia merasa misinya malam ini sudah selesai. Ia memilih Elvara. Ia memilih mempertahankan rumah tangganya dari ancaman Kael.
Namun, baru dua langkah Arsen mengayun, kalimat Vivian berikutnya berhasil menghentikan seluruh kerja saraf di tubuhnya.
"Aku hamil, Arsen."
Langkah Arsen terkunci. Ruangan itu seketika terasa kehilangan seluruh oksigennya. Sunyi yang amat pekat mendadak turun, menyisakan suara detak jantung Arsen yang berpacu gila-gilaan.
Arsen perlahan membalikkan tubuhnya kembali, menatap Vivian dengan pandangan tidak percaya. "Kamu... bicara apa?"
Vivian berdiri di sana, air mata kini benar-benar menetes di pipinya, namun ada kilat kemenangan yang samar di balik matanya yang basah. Ia menyentuh perutnya yang masih rata dengan kedua tangan yang gemetar.
"Aku hamil anak kamu," ucap Vivian lirih, mengulangi kalimatnya dengan penuh penekanan. "Sudah dua minggu. Kamu mau buang aku dan anak ini begitu aja demi kembali ke Elvara?"
Dunia Arsen seolah runtuh seketika. Guntur fiktif seolah menyambar tepat di atas kepalanya. Ancaman Kael di rooftop tadi belum sempat ia selesaikan dengan benar, dan kini takdir baru saja melemparkannya ke dalam jurang yang jauh lebih dalam dan mematikan.
"Hah, kamu bercanda, kan?!" Arsen mendengus syok, tawa hambar lolos dari belahan bibirnya yang mendadak pias. Ia melangkah maju, menatap Vivian dengan tatapan menuntut penjelasan. "Kamu baru kembali ke Indonesia belum lama ini, Vivian.
Hubungan kita baru berjalan kurang lebih dua bulan, dan sekarang kamu tiba-tiba bilang kalau kamu hamil?!"
Suara Arsen bergetar hebat. Ada penolakan besar-besaran yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia tidak ingin mempercayai ini. Tidak boleh.
Vivian balas menatap Arsen dengan air mata yang kian deras mengalir, defensif. "Arsen, pernahkah kamu sekali saja tidak menyentuhku?! Selama dua bulan ini kita berhubungan, kamu selalu menyentuhku setiap kali kita punya waktu! Jadi wajar jika sekarang aku hamil anak kamu!"
Kalimat Vivian menghantam telinga Arsen bak godam berat.
"Hiks... Kamu benar-benar tega, Arsen," tangis Vivian pecah, ia meremas kemeja di dadanya sendiri dengan dramatis. "Kamu ingin membuang aku dan anak ini? Kamu mau anak kita lahir tanpa ayah? Kamu mau anak kandung kamu sendiri dicap sebagai anak haram?!"
Isakan Vivian memenuhi ruang tamu yang sepi itu.
Melihat wanita di hadapannya menangis histeris, benteng pertahanan Arsen seketika runtuh. Rasa bersalah, panik, dan tanggung jawab mendadak bercampur aduk menjadi satu, melumpuhkan akal sehatnya. Keraguan besar menyergap benak Arsen.
Arsen melangkah mendekat, lalu menarik Vivian ke dalam pelukannya. Ia mendekap tubuh wanita itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Vivian sementara pikirannya bimbang setengah mati.
Logikanya menjerit untuk menyudahi hubungan terlarang ini demi Elvara dan ancaman Kael. Namun, fakta bahwa ada darah dagingnya yang kini tumbuh di rahim Vivian mengikat kedua kakinya untuk tetap tinggal.
Selama dua bulan terakhir, ingatan-ingatan tentang bagaimana mereka menghabiskan malam bersama terus berputar di kepala Arsen. Vivian memang selalu ada di sisinya, memberikan kehangatan yang egois. Dan demi malam-malam panas itu pula, Arsen rela menyusun seribu satu kebohongan di ponselnya—mengirimkan pesan singkat pada Elvara bahwa ia harus menghadiri meeting dadakan atau urusan bisnis di luar kota yang tidak bisa ditinggal.
Elvara yang malang selalu mempercayainya tanpa curiga.
Kini, Arsen benar-benar terjebak di dalam labirin yang ia bangun sendiri. Di satu sisi, ada Elvara, istri sahnya yang tulus menanti di rumah. Di sisi lain, ada Vivian yang tengah mengandung anaknya. Keputusan apa pun yang ia ambil setelah ini, dipastikan akan menghancurkan hidup salah satu dari mereka.
Bersambung…..