NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Membasuh Luka di Rumah Joglo (Awal dari Kebangkitan)

Bab 35: Membasuh Luka di Rumah Joglo (Awal dari Kebangkitan)

​Aroma minyak kayu putih dan rebusan daun serai hangat perlahan-lahan menyusup ke dalam indra penciuman Hana. Ketika kelopak matanya yang terasa seberat bongkahan batu itu terbuka dengan sangat lambat, hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit anyaman bambu tua yang sangat ia kenal. Cahaya temaram dari lampu minyak di sudut ruangan menerangi dinding-dinding kayu jati sebuah kamar di rumah joglo kuno milik Paman Harjo.

​Hana mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang teramat hebat langsung menjalar dari rahimnya hingga ke seluruh persendian. Tubuhnya masih sangat lemas, digerogoti oleh demam tinggi yang belum sepenuhnya reda.

​Di samping ranjang kayu besinya, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang disanggul rapi dan mengenakan kain jarik—Bibi Sumi, istri Paman Harjo—sedang duduk sembari memeras kain kompresan di dalam baskom air hangat. Begitu melihat Hana membuka mata, air mata Bibi Sumi langsung meledak tak tertahankan.

​"Gusti... Hana, Nduk... Kamu sudah sadar?" bisik Bibi Sumi dengan suara bergetar, buru-buru menempelkan kain hangat itu ke dahi Hana yang masih panas.

​Di ambang pintu kamar, Paman Harjo berdiri dengan wajah yang dipenuhi guratan kesedihan yang mendalam. Ia melangkah masuk, lalu duduk di tepi ranjang, menatap keponakan kesayangannya dengan tatapan mata seorang ayah yang hatinya ikut hancur melihat putrinya pulang dalam kondisi sekarat.

​Hana tidak menjawab. Ia hanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Detik berikutnya, ingatan tentang apa yang terjadi di Jakarta kembali menghantam otaknya bagai air bah yang meruntuhkan bendungan. Tanggul pertahanan batin Hana runtuh seada-adanya malam itu.

​Rasa sakit yang teramat dahsyat, rasa jatuh yang paling dalam yang bisa dirasakan oleh seorang manusia, kini meremas-remas dadanya tanpa ampun. Hana membalikkan tubuhnya membelakangi Paman dan Bibinya, meringkuk memeluk lutut di atas kasur kapuk yang tipis, dan mulai terisak. Isak tangis itu semula terdengar sunyi, namun lama-kelamaan berubah menjadi jeritan histeris yang teramat memilukan, memecah kesunyian malam pedesaan.

​"Kenapa... kenapa mereka tega sekali, Paman... Bibi..." raung Hana, suaranya parau dan tercekat di tenggorokan. Air matanya mengalir deras, membasahi bantal kain belacu yang kusam.

​"Hana yang merintis restoran 'Rasa Hana' dari awal... Hana yang bangun jam tiga pagi setiap hari untuk belanja ke pasar basah sendirian... Hana yang tangannya melepuh terkena minyak panas demi mencari resep terbaik agar Adrian bisa bangga punya istri seperti Hana... Hana temani dia dari zaman motornya mogok sampai dia bisa beli mobil mewah, Paman!" Jeritan batin Hana bergema, meluapkan seluruh keringat dan darah yang telah ia korbankan untuk pria tidak tahu diri itu.

​Ia meremas dadanya yang terasa sesak luar biasa, mengingat bagaimana Adrian mencumbui Santi di ruang kerjanya, memalsukan tanda tangannya, dan membuang semua barang-barangnya ke aspal jalanan.

​"Tapi kenapa balasannya seperti ini? Adrian mengkhianati Hana dengan pelayan rumah tangga di rumah Hana sendiri! Mereka merampok ruko warisan terakhir dari almarhum Ayah... mereka membuang buku resep Ayah ke tanah dan menyiramnya dengan air kotor..." Hana terengah-engah, napasnya memburu kasar karena rasa kecewa yang teramat masif.

​Namun, di atas semua kehilangan harta dan harga diri itu, ada satu luka yang paling membuat Hana merasa jiwanya telah mati seutuhnya. Hana memegang perut bawahnya dengan kedua tangannya yang gemetar, meratap dengan nada suara yang teramat rapuh hingga mampu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.

​"Dan anakku... bayiku yang belum sempat melihat dunia... dia pergi karena mereka menyiksaku setiap hari di rumah itu, Bibi! Aku tidak bisa menjaga cucu Ayah... Aku kehilangan anakku, aku kehilangan suamiku, aku kehilangan seluruh harta peninggalan Ayah... Aku pulang tidak membawa apa-apa, Bibi... Aku tidak punya apa-apa lagi sekarang! Aku ini wanita sial dan mandul seperti yang mereka katakan!"

​Mendengar ratapan pilu yang teramat putus asa itu, Bibi Sumi langsung merangkul tubuh kurus Hana dari belakang, memeluknya dengan sangat erat seolah-olah ingin menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwa Hana yang telah hancur lebur. Bibi Sumi ikut menangis tersedu-sedu, menciumi pucuk kepala Hana dengan penuh kasih sayang.

​"Tidak, Nduk... tidak! Kamu bukan perempuan pembawa sial! Jangan pernah katakan itu lagi, Hana," isak Bibi Sumi sembari mengelus punggung Hana yang berguncang hebat. "Kalian yang di kota sana yang iblis, kalian yang tidak punya hati! Kamu anak yang baik, Hana... kamu kebanggaan almarhum ayahmu."

​Paman Harjo yang biasanya keras dan tegap, kini ikut meneteskan air mata. Ia menggenggam jemari tangan Hana yang dingin dan kurus, lalu memijatnya dengan lembut dengan tangannya yang kasar akibat kapalan sawah.

​"Hana, dengarkan Paman," ucap Paman Harjo dengan suara yang berat namun sarat akan ketegasan yang menenangkan. "Kamu salah jika mengira kamu tidak punya apa-apa lagi sekarang. Kamu masih punya Paman, kamu masih punya Bibi, dan yang paling penting... kamu masih berada di tanah leluhurmu. Rumah joglo ini, tanah desa ini, semuanya adalah milikmu. Di sini tidak ada Adrian, tidak ada mertua jahat, dan tidak ada pelayan sialan itu."

​Paman Harjo mengambil tas kain lusuh Hana yang tergeletak di meja, lalu mengeluarkan sisa lembaran buku resep almarhum Baskoro yang sudah ia bersihkan dan keringkan dengan hati-hati. Ia meletakkan tumpukan kertas usang itu di atas telapak tangan Hana.

​"Lihat ini, Hana. Mereka bisa mencuri rukomu, mereka bisa mencuri nama restoranmu di kota. Tapi mereka tidak akan pernah bisa mencuri bakat, ilmu, dan jiwa memasak yang diturunkan oleh ayahmu ke dalam darahmu. Nama 'Rasa Hana' yang mereka pakai di kota itu hanyalah sebuah cangkang kosong tanpa jiwa. Jiwa yang sesungguhnya ada di sini, di dalam tanganmu ini."

​Hana menatap lembaran resep ayahnya yang kini berada di genggamannya. Sentuhan kertas usang itu seolah mengalirkan sisa-sisa kehangatan dan kekuatan dari almarhum ayahnya langsung ke dalam jiwanya yang sedang membeku.

​Bibi Sumi menyuapkan beberapa sendok bubur hangat dengan kuah kaldu ayam kampung buatannya sendiri ke mulut Hana dengan penuh kesabaran, menyeka setiap tetes air mata yang jatuh ke pipi keponakannya. "Mulai malam ini, biarkan Paman dan Bibi yang menjagamu, Hana. Makanlah yang banyak, sembuhkan dulu fisik dan batinmu di desa ini. Jangan pikirkan kota itu dulu."

​Dihibur oleh ketulusan dan kasih sayang murni dari paman dan bibinya, rasa dingin yang membungkus hati Hana perlahan-lahan mulai mencair. Isak tangisnya yang tadinya histeris, lambat laun berubah menjadi redam dan tenang. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu didera siksaan batin di Jakarta, Hana merasakan sebuah pelukan yang tulus, sebuah tempat bernaung yang aman di mana ia tidak perlu takut akan dijatuhkan lagi.

​Malam itu, setelah tangisnya habis tak tersisa, Hana tertidur dalam pelukan Bibi Sumi.

​Namun, di dalam keheningan tidurnya kali ini, tidak ada lagi mimpi buruk tentang kekalahan. Di dalam dada Hana, di atas reruntuhan jiwanya yang paling hancur, sebuah benih baru telah tertanam. Air mata duka yang mengalir deras hari ini telah resmi berubah menjadi bahan bakar dendam yang teramat dingin. Hana bersumpah di dalam batinnya yang paling dalam: ia akan memulihkan tubuhnya, ia akan membangun kembali kerajaannya dari tanah desa ini, dan saat waktunya tiba nanti, ia akan memastikan Adrian, Ibu Broto, dan Santi merangkak di atas tanah untuk memohon ampun kepadanya.

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Anonim
HANA BALASKAN DENDAM MU... BUNUH SEMUA NYA... HABISI SEMUANYA TATAKAE TATAKAE
Anonim
lemah amat anjing 🖕
Anonim
BUNUB SEMUA NYA ANJING ... TUMBALKAN SEMUA NYA
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!