Berikut deskripsi novel singkatnya.
Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.
Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.
Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.
Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Kembali ke Jenna’s Bloom Café
Siang itu, rumah baru mereka terasa terlalu sunyi bagi Jenna.
Setelah merapikan beberapa pakaian di lemari kamar utama, Jenna turun ke lantai bawah. Ia sempat berjalan ke dapur, melihat isi lemari, membuka kulkas, lalu menutupnya kembali. Ia berjalan ke ruang tamu, duduk sebentar, kemudian berdiri lagi.
Tidak ada yang benar-benar harus ia kerjakan.
Rumah itu sudah sangat rapi. Para pekerja rumah sudah mengurus hampir semuanya. Taman bunga di samping rumah pun sudah tertata indah. Kebun sayur di belakang rumah juga sudah dirawat dengan baik oleh tukang kebun.
Jenna berdiri di dekat pintu kaca yang mengarah ke halaman belakang.
Matanya menatap deretan tanaman tomat dan daun bawang yang tumbuh rapi. Seharusnya ia merasa senang. Rumah ini memiliki banyak hal yang ia sukai. Taman bunga. Kebun sayur. Ruang yang tenang. Jauh dari bising dunia luar.
Namun justru karena terlalu tenang, pikirannya menjadi terlalu ramai.
Ia teringat ucapan Shaka setelah akad.
Ia teringat malam pertama mereka yang sunyi.
Ia teringat percakapan di kamar tadi pagi.
Dan sekarang, laki-laki itu sedang bekerja di ruang kerjanya, seolah pernikahan mereka bukan sesuatu yang mengubah apa pun.
Jenna menghela napas pelan.
Ia tidak ingin duduk seharian di rumah hanya untuk memikirkan luka yang sama berulang kali.
Tangannya meraih ponsel. Ada beberapa pesan dari Naya, Alya, dan Amanda yang menanyakan kabarnya. Mereka mengirim foto suasana kafe siang itu. Ada buket pesanan pelanggan, ada Kevin yang sedang membuat latte art gagal, dan ada Arya yang tampak kesal karena Amanda memotret dapur tanpa izin.
Tanpa sadar, mata Jenna melengkung kecil.
Ia rindu kafenya.
Rindu aroma kopi.
Rindu bunga-bunga segar.
Rindu suara Naya yang cerewet, Kevin yang bercanda, Alya yang teliti, Arya yang pendiam, dan Amanda yang selalu punya cerita pelanggan.
Jenna menatap ke arah tangga.
Shaka sedang bekerja di ruang kerjanya.
Mereka memang sedang tidak dekat. Shaka sendiri yang memberi batas di antara mereka. Namun bagaimanapun, Shaka tetap suaminya. Dan Jenna tetap seorang istri yang tahu adab.
Ia tidak ingin pergi tanpa izin.
Bukan karena takut.
Tetapi karena ia menghormati ikatan yang sudah ada di antara mereka, meski ikatan itu masih terasa dingin.
Akhirnya Jenna berjalan ke lantai dua.
Di depan pintu ruang kerja Shaka, ia berhenti sebentar. Dari dalam, samar-samar terdengar suara ketikan keyboard dan sesekali nada notifikasi laptop.
Jenna menarik napas pelan, lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Suara Shaka terdengar dari dalam. Rendah dan datar.
Jenna membuka pintu perlahan.
Ruang kerja itu bernuansa gelap dan rapi. Rak buku memenuhi salah satu sisi dinding. Meja kerja besar menghadap jendela, dan Shaka duduk di baliknya dengan laptop terbuka di hadapannya. Beberapa dokumen tersusun rapi di sebelah kanan, sementara secangkir kopi hitam berada di sisi kiri.
Ia tampak serius.
Terlalu serius untuk seseorang yang seharusnya sedang cuti setelah menikah.
Shaka mengangkat wajah ketika Jenna masuk.
“Ada perlu apa?”
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi tetap dingin.
Jenna berdiri tidak jauh dari pintu, tangannya saling menggenggam di depan tubuh.
“Maaf mengganggu, Mas.”
Shaka menutup sedikit layar laptopnya, memberi perhatian meski ekspresinya tidak berubah.
“Bicara saja.”
Jenna menunduk sesaat.
“Jenna ingin pergi ke kafe.”
Shaka terdiam.
“Kafe?”
“Iya. Jenna’s Bloom Café.”
“Kenapa?”
Jenna mengangkat wajah. “Jenna bosan di rumah. Tidak ada kegiatan. Kalau di kafe, Jenna bisa membantu Naya dan yang lain.”
Shaka menatapnya beberapa detik.
Dalam benaknya, muncul beberapa hal yang ingin ia katakan.
Kamu baru menikah kemarin.
Kamu seharusnya istirahat.
Kamu masih terlihat lelah.
Namun mengingat kata-katanya sendiri tentang batas dan tidak ingin hidupnya dicampuri, Shaka menahan semuanya.
Ia tidak berhak melarang Jenna melakukan hal yang membuatnya nyaman.
Apalagi kafe itu adalah dunia Jenna sebelum ia masuk ke rumah ini.
“Pergilah,” ucap Shaka akhirnya.
Jenna sedikit terdiam, seolah tidak menyangka Shaka akan langsung mengizinkan.
“Benar boleh?”
“Iya.”
“Jenna akan pulang sebelum sore.”
“Tidak perlu buru-buru.”
Jenna menatapnya.
Shaka melanjutkan, tetap dengan nada datar, “Saya akan minta sopir mengantarmu.”
“Tidak perlu, Mas. Jenna bisa pesan mobil sendiri.”
“Pakai sopir.”
Nada Shaka tidak keras, tetapi tegas.
Jenna menatapnya beberapa saat. Ia hampir ingin menolak. Namun melihat wajah Shaka yang tidak memberi ruang untuk perdebatan, ia memilih mengangguk.
“Baik.”
Shaka mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.
“Antar Bu Jenna ke kafenya,” ucapnya singkat. “Tunggu di sana sampai dia selesai.”
Jenna menunduk.
Bu Jenna.
Panggilan itu terdengar asing.
Setelah menutup telepon, Shaka kembali menatap Jenna.
“Sopir menunggu di depan dalam lima menit.”
“Terima kasih, Mas.”
Lagi-lagi kata itu.
Sopan.
Rapi.
Berjarak.
Shaka mulai tidak menyukainya, tetapi ia tidak tahu harus menggantinya dengan apa.
Jenna hendak keluar, tetapi Shaka tiba-tiba memanggil.
“Jenna.”
Langkah Jenna berhenti.
“Iya, Mas?”
Shaka diam sebentar.
Ia ingin berkata, jangan terlalu lelah.
Tetapi kalimat itu terdengar seperti perhatian. Dan ia belum tahu apakah Jenna akan menerimanya atau justru mengembalikannya dengan kalimat dingin seperti di pelaminan.
Akhirnya ia hanya berkata, “Kabari kalau sudah sampai.”
Jenna menatapnya sesaat.
“Iya.”
Setelah itu Jenna keluar dari ruang kerja.
Pintu tertutup pelan.
Shaka menatap pintu itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Laptopnya masih menyala, dokumen masih terbuka, tetapi pikirannya tidak lagi sepenuhnya berada pada pekerjaan.
Ia mengizinkan Jenna pergi.
Seharusnya itu hal biasa.
Namun anehnya, rumah yang sejak tadi sunyi terasa akan menjadi lebih kosong saat Jenna benar-benar keluar.
Shaka menatap cangkir kopinya.
Lalu ia kembali membuka laptop, mencoba memaksa dirinya bekerja.
Namun yang muncul di kepalanya justru mata Jenna yang datar ketika meminta izin.
Dulu, mata itu hangat.
Sekarang, ia sendiri yang membuatnya menjadi jauh.
Jenna turun ke lantai bawah dan mengambil tas kecilnya.
Sopir sudah menunggu di depan rumah ketika ia keluar. Ia masuk ke mobil dengan tenang, lalu mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumah baru itu.
Sepanjang perjalanan, Jenna menatap jalan dari balik kaca.
Rasanya aneh.
Baru kemarin ia menikah. Baru tadi pagi ia pindah ke rumah baru. Namun siang ini ia sudah kembali ke kafenya, seolah hidupnya sedang mencari sesuatu yang masih familiar untuk dijadikan pegangan.
Ia tidak menyesal menikah.
Ia hanya belum tahu bagaimana menjalani pernikahan yang dimulai dengan tembok setinggi itu.
Ketika mobil berhenti di depan Jenna’s Bloom Café, hati Jenna terasa sedikit lebih ringan.
Bel kecil di atas pintu berbunyi saat ia masuk.
Aroma kopi langsung menyambutnya.
Di balik mesin espresso, Kevin sedang membuat minuman. Alya berada di kasir, Amanda membawa nampan pesanan, Arya tampak muncul sebentar dari dapur, sementara Naya sedang menyusun bunga di meja rangkai.
Semua orang menoleh hampir bersamaan.
Beberapa detik hening.
Lalu Naya berseru paling dulu.
“Kak Jenna!”
Amanda langsung meletakkan nampan kosong di meja terdekat dan menghampiri Jenna.
“Loh, Kak? Pengantin baru kok sudah datang ke kafe?”
Kevin menyembulkan kepala dari balik mesin kopi. “Kak Jenna kabur dari bulan madu?”
Alya menahan tawa di kasir.
Arya yang biasanya pendiam bahkan ikut mengangkat alis dari pintu dapur.
Jenna menatap mereka satu per satu.
“Nggak ada yang kerja?”
Naya langsung tertawa.
“Ini lagi kerja, Kak. Tapi bosnya datang sehari setelah nikah, ya kami harus kaget dulu.”
Amanda mengitari Jenna dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Kak, serius? Baru kemarin resepsi, hari ini sudah ke kafe. Pak Shaka nggak protes?”
Jenna terdiam sepersekian detik.
Nama Shaka membuat hatinya bergerak tidak nyaman.
Namun ia segera menyembunyikannya.
“Jenna sudah izin.”
Naya langsung menggoda, “Cie, sudah izin suami.”
Kevin ikut menimpali, “Dulu izin ke Bu Zahra, sekarang izin ke Pak Shaka.”
Alya tertawa kecil. “Statusnya sudah beda, Kak.”
Jenna menunduk sedikit, berusaha tampak biasa.
“Jangan berlebihan. Jenna ke sini karena bosan di rumah.”
Amanda menatapnya dengan mata menyipit.
“Bosan atau kangen kami?”
“Kangen kerja,” jawab Jenna.
Kevin meletakkan gelas kopi di meja bar. “Wah, berarti kami kurang penting.”
“Kalian juga,” ucap Jenna akhirnya.
Mereka semua tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, Jenna merasa dadanya sedikit lebih longgar.
Naya mendekat dan memeluk Jenna sebentar, hati-hati agar tidak mengganggu cadarnya.
“Kak, selamat ya. Semalam Kakak cantik banget. Kami semua sampai hampir nangis.”
Alya mengangguk. “Iya, Kak. Acaranya mewah sekali.”
Kevin mengangkat tangan. “Saya nangis karena makanannya enak.”
Amanda menyikutnya. “Dasar.”
Arya dari dapur berkata datar, “Dia nambah tiga kali.”
Kevin langsung membela diri. “Itu bentuk apresiasi terhadap katering hotel bintang lima.”
Jenna tidak bisa menahan tawa kecil.
Suara tawa itu lembut, tetapi cukup membuat karyawan-karyawannya tersenyum lega.
Mereka tidak tahu apa yang sedang Jenna sembunyikan. Mereka tidak tahu bahwa di balik kedatangannya ke kafe, ada rasa kosong yang ia coba hindari. Mereka hanya senang melihat pemilik kafe mereka kembali.
Dan untuk saat itu, Jenna merasa tidak apa-apa membiarkan mereka tidak tahu.
“Kak Jenna mau dibuatkan minum?” tanya Kevin.
“Teh hangat saja.”
“Bukan kopi?”
“Jenna butuh yang menenangkan.”
Kevin sempat menatapnya sebentar, tetapi kemudian mengangguk.
“Siap.”
Jenna berjalan ke meja bunga dan melihat beberapa pesanan yang belum selesai.
“Naya, ini untuk siapa?”
“Buket ulang tahun, Kak. Pelanggan minta warna pastel.”
Jenna mengambil beberapa tangkai bunga, lalu mulai membantu menyusun.
Naya langsung tersenyum.
“Kak Jenna baru menikah, tapi tangannya sudah gatal lihat bunga.”
Jenna menatap bunga di tangannya.
“Bunga lebih mudah dipahami daripada manusia.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Naya yang sedang tersenyum perlahan terdiam.
Amanda yang berdiri tidak jauh juga menoleh.
Jenna sadar suasana berubah, lalu segera mengalihkan pembicaraan.
“Maksud Jenna, bunga kalau kurang air langsung kelihatan. Kalau manusia, kadang diam saja walau ada yang salah.”
Naya menatap Jenna beberapa detik, seolah ingin bertanya lebih jauh. Namun ia memilih tidak memaksa.
“Kak Jenna benar,” ucap Naya pelan. “Tapi bunga juga bisa segar lagi kalau dirawat pelan-pelan.”
Jenna terdiam.
Kalimat sederhana itu justru menyentuh hatinya.
Ia menatap bunga pastel di tangannya, lalu mengangguk kecil.
“Semoga begitu.”
Di rumah baru mereka, Shaka masih berada di ruang kerja.
Namun sejak Jenna pergi, ia semakin sulit fokus.
Ia menandatangani beberapa dokumen, membaca laporan singkat, dan menjawab email penting. Tetapi setiap beberapa menit, matanya bergerak ke arah ponsel.
Menunggu kabar dari Jenna.
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar.
Pesan singkat masuk.
Jenna:
Jenna sudah sampai di kafe.
Shaka menatap pesan itu.
Sederhana. Formal. Tidak ada emotikon. Tidak ada kata tambahan.
Tetapi setidaknya, Jenna mengabari.
Shaka mengetik balasan.
Baik.
Ia menatap layar beberapa saat, lalu menghapusnya.
Terlalu dingin.
Ia mengetik lagi.
Jangan terlalu lelah.
Shaka menatap kalimat itu lama.
Lalu ia mengirimnya sebelum sempat berubah pikiran.
Di Jenna’s Bloom Café, ponsel Jenna bergetar di samping meja bunga.
Ia melihat pesan dari Shaka.
Mas Shaka:
Jangan terlalu lelah.
Jenna terdiam.
Hanya empat kata.
Datar.
Sederhana.
Namun berbeda dari biasanya.
Naya yang memperhatikan perubahan kecil pada wajah Jenna langsung mendekat.
“Dari siapa, Kak?”
Jenna segera mengunci layar ponselnya.
“Tidak apa-apa.”
Naya tersenyum jahil. “Dari Mas Shaka, ya?”
Jenna menatapnya.
“Naya.”
“Iya, iya. Aku diam.”
Namun senyum Naya sudah terlalu jelas.
Jenna kembali menatap bunga di hadapannya, berusaha mengabaikan debar kecil yang tidak ia izinkan tumbuh terlalu jauh.
Ia masih kecewa.
Masih terluka.
Masih ingin menjaga jarak.
Tetapi pesan singkat itu seperti setitik air di atas tanah yang terlalu kering.
Belum cukup untuk menumbuhkan apa pun.
Namun cukup untuk membuat Jenna sadar, mungkin Shaka tidak sepenuhnya sedingin yang ia tunjukkan.
Atau mungkin, ia hanya sedang belajar.
Pelan-pelan.
Sama seperti Jenna yang sedang belajar menjadi istri dari laki-laki yang belum ia pahami.