NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12

Malam itu, di dalam ruang kerja pribadinya, Arkan tidak langsung beranjak tidur meski jam sudah menunjukkan angka dua pagi. Di hadapannya, sebuah layar monitor besar menampilkan denah gedung pertemuan tempat pernikahan mereka akan dilaksanakan minggu depan. Titik-titik merah yang merepresentasikan posisi pengamanan bergerak secara real-time, memetakan setiap sudut yang bisa menjadi celah infiltrasi.

Arkan menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. Pikirannya tidak sedang memikirkan angka atau efisiensi korporat. Ia justru teringat sorot mata Milly tadi siang saat ia memberikan tunjangan untuk keluarganya. Senyuman itu... senyuman yang terlalu tulus untuk seseorang yang berada di tengah badai konspirasi sebesar ini.

"Kau benar-benar tidak sadar seberapa besar bahaya yang mengelilingimu, bukan, Millyanita?" gumam Arkan pelan pada ruang kosong. Ia memutar cincin zamrud cadangan di jarinya. Jika Keluarga Wijaya gagal, ia tahu akan ada predator lain yang datang. Dan satu-satunya cara untuk memastikan Milly tetap aman adalah dengan mengunci gadis itu di balik perlindungan absolut Mahendra.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu. Bukan ketukan tegas Bara, melainkan ketukan ragu yang familiar.

"Masuk," perintah Arkan.

Milly melangkah masuk dengan piyama longgar dan kacamata bulatnya yang sedikit miring. Ia tampak tidak bisa tidur. "Tuan, maaf mengganggu. Saya hanya... tidak bisa berhenti memikirkan tentang gladi bersih besok."

Arkan menatap gadis itu. "Apa yang membuat otak cerobohmu sulit beristirahat? Jadwal yang kubuat terlalu lambat untukmu?"

Milly menggeleng. Ia berjalan mendekat ke meja kerja, lalu memberanikan diri duduk di kursi di hadapan Arkan posisi yang biasanya hanya diisi oleh petinggi direksi. "Bukan itu. Saya hanya penasaran... setelah sembilan tahun ini berakhir, setelah musuh-musuh Anda musnah, apa yang akan terjadi pada saya? Apakah saya akan kembali menjadi gadis biasa dan kembali menjadi pelayan di hotel? Atau yang mengedit video di Alight Motion dan berjualan di TikTok, atau apakah Anda sudah memiliki rencana 'likuidasi' untuk tameng yang sudah tidak terpakai?"

Arkan terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras dari tuduhan hukum mana pun. Ia menatap Milly, melihat kejujuran di balik lensa kacamata tebal itu.

"Setelah sembilan tahun, kau akan mendapatkan kebebasanmu kembali," jawab Arkan dengan suara yang sedikit lebih rendah. "Dan saat itu, Mahendra Group tidak lagi memiliki klaim atas satu pun detik waktumu."

"Benarkah?" tanya Milly, suaranya terdengar sedikit sedih.

"Ya," Arkan bangkit dari kursinya, berjalan memutari meja hingga ia berdiri tepat di samping Milly. Ia mencondongkan tubuh, membisikkan sesuatu di dekat telinga gadis itu. "Tetapi, Millyanita... sembilan tahun adalah waktu yang sangat lama. Mungkin dalam kurun waktu itu, kau akan menyadari bahwa berada di sisiku bukanlah sebuah kontrak, melainkan satu-satunya tempat yang benar-benar aman bagimu."

Milly tertegun, wajahnya memanas hingga ke pangkal telinga. Sebelum ia sempat membalas, Arkan sudah menegakkan tubuhnya, kembali ke mode Presdir yang dingin.

"Sekarang, pergilah tidur. Gladi bersih besok dimulai tepat jam tujuh. Jika kau bangun terlambat, aku akan menghitung setiap menit keterlambatanmu sebagai denda satu bulan masa kontrak tambahan."

Milly buru-buru berdiri, hampir tersandung kakinya sendiri, dan berlari keluar dari ruang kerja tanpa menoleh lagi.

Arkan memperhatikan punggung gadis itu hingga hilang di balik pintu. Ia kembali duduk, menatap layar monitor yang menampilkan data keamanan. Di sampingnya, terdapat sebuah dokumen rahasia yang belum ia tunjukkan pada siapa pun, sebuah draf surat pengalihan seluruh aset pribadi dan perlindungan seumur hidup atas nama Millyanita.

"Sembilan tahun," desis Arkan pelan. "Itu lebih dari cukup untuk membuatmu tidak akan pernah ingin pergi."

Pukul enam lewat lima puluh lima menit pagi. Koridor menuju lobi utama mansion Mahendra sudah bergema oleh derap langkah teratur dari tim pengamanan Bara. Milly berlari kecil di sepanjang lorong dengan napas memburu, sesekali menahan kacamatanya agar tidak merosot. Di tangannya, map hitam berisi jadwal gladi bersih tergenggam erat.

Ia melirik jam dinding besar di lobi. Kurang dua menit lagi menuju jam tujuh tepat.

Di ujung anak tangga terbawah, Arkan sudah berdiri tegak. Setelan kasual formalnya kemeja linen hitam dan celana berpotongan presisi membuat auranya tetap seintimidatif biasanya. Pria itu mengangkat pergelangan tangannya, menatap jam tangan kronograf mewahnya dengan ekspresi sedatar dinding beton.

"Enam puluh detik tersisa, Millyanita," suara bariton Arkan menggema, memotong keheningan lobi.

Milly melakukan langkah seribu, menyetop gerakannya tepat satu meter di hadapan Arkan dengan napas terengah-engah. "S-Saya... tidak terlambat, kan? Masih ada sisa waktu!"

Arkan menurunkan tangannya, menatap Milly dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang sangat hemat emosi. "Tepat waktu. Toleransi nol detik terpenuhi. Kau baru saja menyelamatkan satu bulan dari sisa kontrak sembilan tahunmu."

Milly bertumpu pada lututnya sebentar, mengembuskan napas lega. "Tuan ini benar-benar tidak punya tombol santai di otaknya ya. Pagi-pagi sudah menodong saya dengan stopwatch."

"Efisiensi adalah fondasi dari keselamatan, Gadis Ceroboh," sahut Arkan ketus sambil melangkah mendahuluinya menuju pintu keluar mansion, di mana sebuah mobil sedan antipeluru hitam sudah menunggu dengan pintu terbuka. "Masuk. Kita punya waktu persis dua puluh empat menit untuk sampai di katedral sebelum rombongan vendor dekorasi memulai sterilisasi area."

Katedral Santo Wijaya berdiri megah di bawah langit pagi yang sedikit mendung. Arsitektur gotik dengan pilar-pilar batu raksasa dan kaca patri berwarna-warni memberikan kesan sakral sekaligus dingin sangat cocok dengan konsep pernikahan yang dirancang oleh seorang Arkananta Mahendra.

Milly melangkah masuk ke dalam aula utama katedral yang luas, gaun kasualnya bergeser pelan mengikuti irama langkahnya. Di belakangnya, Bara dan beberapa personel keamanan langsung berpencar, memeriksa kolong bangku jemaat dan area di balik altar dengan alat pendeteksi logam.

"Milly," panggil Arkan, menunjuk ke arah pintu masuk utama di ujung lorong altar. "Gladi bersih pertama. Kau akan berjalan dari sana. Ingat konversi waktu yang ada di map?"

Milly membuka map hitamnya, membaca ulang catatan tertulis Arkan. "Dua menit empat puluh detik dari pintu utama sampai ke undakan altar."

"Benar. Jangan terlalu cepat, jangan terlalu lambat. Kecepatan langkahmu harus konstan, seolah kau sedang melakukan kalkulasi berjalan," ucap Arkan, mengambil posisinya sendiri di depan altar, tempat di mana pengantin pria seharusnya menunggu.

Milly berjalan mundur menuju pintu utama. Begitu pintu kayu raksasa katedral ditutup setengah, ia menarik napas dalam-dalam, membetulkan letak cincin zamrud di jarinya, lalu mulai melangkah maju menyusuri karpet merah panjang.

Satu langkah... dua langkah...

Suasana katedral yang sunyi membuat suara ketukan sepatu Milly terdengar berirama. Di ujung lorong, Arkan berdiri diam dengan tangan terselip di saku celananya. Mata elang pria itu tidak lepas dari pergerakan Milly, memperhatikan bagaimana cahaya dari kaca patri katedral jatuh menerpa wajah gadis itu secara bergantian.

Ada sesuatu yang aneh dalam dada Milly saat jarak di antara mereka semakin mengikis. Sandiwara ini terasa terlalu nyata. Ketika ia akhirnya menapakkan kaki di undakan terakhir dan berdiri tepat di hadapan Arkan, jam tangan Arkan berbunyi bip pelan.

"Dua menit tiga puluh delapan detik. Dua detik lebih cepat dari kalkulasi," ucap Arkan, matanya menatap lekat ke dalam manik mata Milly. "Tapi untuk ukuran amatir sepertimu, ini bisa ditoleransi."

Milly tersenyum tipis, mendongak menantang tatapan dingin sang Presdir. "Jadi, apakah kinerja saya ini bisa memotong kontrak sembilan tahun lagi, Tuan?"

Arkan terdiam sejenak, wajahnya mengeras dalam ekspresi yang sulit dibaca sebelum ia memalingkan wajah ke arah Bara yang baru saja mendekat. "Jangan melunjak, Milly. Perlindungan untuk tujuh anggota keluargamu di paviliun barat sudah memakan bunga kompensasi yang cukup besar untuk minggu ini."

Bara membungkuk hormat di samping Arkan, memotong percakapan mereka dengan raut wajah serius. "Tuan Arkan, sistem pengawas perimeter luar baru saja menangkap sinyal frekuensi radio yang tidak dikenal di sekitar area parkir belakang katedral. Tampaknya, sisa pengikut Keluarga Wijaya mulai bergerak lebih cepat dari perkiraan kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!