Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
***
Malam yang seharusnya menjadi waktu istirahat bagi penduduk Jakarta, justru menjadi awal dari mimpi buruk bagi aliansi Wijaya. Di sebuah gudang tua yang terbengkalai di kawasan pelabuhan utara, udara terasa pengap, berbau karat dan air laut yang asin. Suasana di dalam gudang itu begitu mencekam hanya ada satu lampu gantung yang berayun pelan, memberikan pencahayaan remang-remang yang dramatis.
Di tengah ruangan, Dokter Wijaya dan dua orang eksekutor dari firma hukum Leksana duduk terikat di kursi besi. Wajah mereka babak belur, nafas mereka memburu karena ketakutan yang mencekik.
Tap. Tap. Tap.
Suara ketukan pantofel di atas lantai semen yang dingin bergema, memecah kesunyian yang menyiksa. Sosok Raditya muncul dari kegelapan. Ia tidak mengenakan jas eksekutifnya hanya kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang menonjol tanda kekuatan yang mematikan.
Raditya menarik sebuah kursi kayu, membalikkannya, dan duduk tepat di hadapan Dokter Wijaya yang kini gemetar hebat. Wajah Raditya sangat tenang, terlalu tenang, yang justru membuat suasana seribu kali lebih mengerikan daripada teriakan kemarahan.
"Dokter Wijaya," panggil Raditya rendah, suaranya sedingin es kutub. "Seorang pria yang bersumpah untuk menyembuhkan, namun tangan ini justru digunakan untuk merancang kehancuran."
Raditya mengambil sebuah benda dari meja kecil di sampingnya. Itu adalah pisau bedah milik Wijaya sendiri. Ia memainkannya di antara jemarinya dengan gerakan lihai, membiarkan cahaya lampu memantul di mata pisau yang tajam dan berkilau itu.
"Kau tahu, Wijaya? Dalam satu malam, aset-aset medismu di Singapura sudah saya bekukan. Semua rumah sakit yang bernaung di bawah namamu telah disegel. Izin praktikmu? Sudah dicabut secara permanen di seluruh Asia," ucap Raditya dengan nada bicara yang sangat tenang, namun matanya menatap tajam bak elang yang siap mencabik mangsa.
Raditya menjeda, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa. "Kau sekarang hanyalah seorang pria tua tanpa gelar, tanpa uang, dan segera... tanpa masa depan."
Wijaya mencoba menelan ludah, namun tenggorokannya terasa kering dan tersumbat rasa takut yang amat sangat. "K-kau... kau tidak bisa melakukan ini secara sepihak, Raditya! Aku punya koneksi di pemerintahan! Aku punya kartu as para pejabat!"
Raditya terkekeh, sebuah suara yang lebih mirip geraman predator di tengah malam. Ia memajukan wajahnya, memangkas jarak hingga Wijaya bisa mencium aroma maskulin bercampur kedinginan yang mematikan dari tubuh Raditya. Ia menekan ujung mata pisau bedah itu tepat di bawah dagu Wijaya, membuat setetes darah segar mengalir perlahan melewati kerah kemeja sang dokter.
"Koneksimu? Mereka adalah orang-orang yang saya bayar hanya untuk bungkam, Wijaya. Jika saya bisa memberi mereka lebih, mereka akan dengan senang hati menggali kuburanmu sendiri," bisik Raditya, suaranya bergetar oleh kemarahan yang ia tahan di balik topeng ketenangannya.
"Beraninya kau menyentuh perut istri saya dengan tangan malpraktikmu yang kotor itu? Kau pikir saya akan membiarkanmu bernapas lega setelah mencoba menyentuh pewaris saya?"
Raditya menekan pisau itu sedikit lebih dalam. "Saya akan memastikan tangan ini tidak akan pernah bisa memegang bolpoin lagi untuk menulis resep, apalagi pisau bedah untuk menyakiti nyawa orang lain. Kau telah melanggar aturan utama di dunia saya Jangan. Menyentuh. Milik. Raditya. Hadiwinata."
Wijaya, menyadari posisinya sudah berada di ujung tanduk, tiba-tiba tertawa sinis. Tawanya terdengar putus asa dan gila, bergema di ruangan yang luas itu. "Bukankah kau juga benci kakek tua bangka itu, Raditya? Atmaja adalah musuh keluargamu! Dia penghalang bisnismu! Kenapa kau mendadak menjadi anjing penjaga untuk cucunya?!"
"Kau tidak perlu tahu alasannya," jawab Raditya datar.
"Ha ha ha ha!" Wijaya terbahak, ludahnya yang berdarah muncrat ke lantai semen. "Raditya Hadiwinata yang ditakuti di dunia atas maupun dunia bawah, ternyata hanya seorang budak! Kau tunduk kepada wanita lemah yang hanya bisa menangis di sampingmu. Kau sudah kehilangan taringmu karena seorang wanita hamil yang bahkan tidak tahu siapa suaminya sebenarnya!"
BUGH!
Pukulan mentah mendarat telak di rahang Wijaya. Suara tulang rahang yang bergeser terdengar jelas di keheningan malam. Kursi besi itu berderit hebat, hampir terjungkal. Darah segar menyembur dari sudut bibir Wijaya, menodai lantai.
Raditya berdiri tegak, napasnya mulai tidak teratur. Dadanya naik turun. Hinaan terhadap Nadia adalah pemicu yang tidak boleh ditekan oleh siapa pun, bahkan oleh ibunya sendiri sekalipun.
"Jangan sebut namanya dengan mulut busukmu itu, atau aku akan merobek lidahmu sekarang juga," desis Raditya dengan suara yang begitu rendah hingga terdengar seperti bisikan iblis.
Wijaya terbatuk, memuntahkan satu giginya yang lepas ke lantai. Ia mencoba menstabilkan posisinya meski kepalanya berdenyut hebat. "Ck, apakah kamu tidak takut jika ibumu juga terlibat dalam masalah ini? Nyonya Sekar adalah orang yang menyuruhku! Dia ingin menyingkirkan anak itu! Apa kau mau memenjarakan ibumu sendiri, hah?! Kau akan menjadi anak durhaka yang menghancurkan margamu sendiri!"
Raditya menatap Wijaya dengan tatapan kosong yang mengerikan. Tidak ada kemarahan lagi di matanya, hanya kekosongan hitam yang sangat dalam. "Ibu saya adalah urusan saya. Saya akan membereskannya dengan cara saya sendiri, di balik pintu rumah kami. Tapi kamu... kamu bukan keluarga. Kamu hanya hama yang kebetulan lewat. Dan kamu tidak punya tempat lagi di peta hidup saya."
Raditya berdiri tegak, merapikan kemejanya yang sedikit berantakan. Ia memutar tubuhnya seolah hendak pergi, memberikan harapan palsu bahwa interogasi ini telah usai. Namun, dengan gerakan kilat yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia biasa, tangannya meraih senjata api dari balik pinggangnya.
DOR!
Suara tembakan yang memekakkan telinga bergema, memantul di dinding-dinding gudang yang luas. Gema itu seolah membawa nyawa yang baru saja melayang.
Dokter Wijaya jatuh tersungkur bersama kursinya. Sebuah lubang kecil tepat di keningnya, di antara kedua matanya, mengakhiri segala intrik, keserakahan, dan pengkhianatan yang ia bangun selama puluhan tahun. Matanya masih terbuka, menatap kosong ke langit-langit gudang yang gelap.
Raditya menyimpan senjatanya kembali ke balik pinggang dengan gerakan santai. Tidak ada penyesalan, tidak ada keraguan. Ia mengambil sapu tangan sutra dari sakunya, lalu menyeka noda darah yang menciprat ke sepatu kulitnya yang mengkilap.
"Bereskan sisanya. Bakar tempat ini beserta semua dokumen yang ada di brankasnya. Jangan sisakan satu helai rambut pun," ucap Raditya dingin kepada Aldi yang sejak tadi berdiri dalam kegelapan, menyaksikan kekejaman bosnya.
"Baik, Pak," sahut Aldi, suaranya sedikit bergetar. Ia sudah sering melihat Raditya mengeksekusi musuh, namun aura Raditya malam ini jauh lebih gelap karena melibatkan Nadia. "Lalu... bagaimana dengan Vanya, Pak? Dia masih berada di tangan tim bayangan."
Raditya melangkah menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti sejenak di ambang pintu. Cahaya bulan menyinari separuh wajahnya, menciptakan kesan menyeramkan.
"Buang dia ke dunia gelap di perbatasan utara. Serahkan pada jaringan perdagangan manusia di sana. Jangan pernah biarkan dia muncul lagi ke permukaan bumi yang saya pijak," titah Raditya tanpa sedikit pun belas kasihan. "Suruh mereka menjadikannya pelacur paling rendah. Biarkan dia melayani puluhan pria setiap malam agar dia tahu rasanya menjual diri dan merusak rumah tangga orang lain yang sesungguhnya."
Aldi bergidik ngeri. Ia sudah lama bekerja untuk Raditya, namun ia sering lupa bahwa di balik setelan jas mahal dan senyum tipis untuk istrinya, Raditya adalah seorang mafia sejati. Seorang penguasa yang tidak mengenal kata ampun bagi siapa pun yang berani mencoba merusak apa yang ia cintai.
Raditya melangkah keluar, meninggalkan gudang yang mulai disulut api, kembali menuju mansion untuk menjadi suami yang kaku namun penyayang bagi Nadia yang sedang menunggunya.
**
Pukul tiga pagi. Raditya memasuki kamar utama dengan langkah yang sangat berat. Tubuhnya berbau asap dan sedikit amis darah bau kematian yang selalu menghantuinya setiap kali ia harus turun ke dunia bawah.
Ia melihat ke arah ranjang. Nadia masih terlelap, wajahnya tampak sangat tenang, sangat kontras dengan kekejaman yang baru saja Raditya lakukan beberapa jam lalu. Bayinya yang tadi aktif menendang seolah sudah tenang dalam dekapan mimpi sang ibu.
Raditya segera masuk ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin berkali-kali seolah ingin menghapus dosa dan noda yang menempel di kulitnya. Ia tidak ingin aroma kegelapan itu sampai tercium oleh Nadia.
Setelah merasa bersih dan mengenakan piyama, Raditya merayap naik ke atas kasur dengan sangat lembut. Ia menarik Nadia ke dalam pelukannya, melingkarkan tangannya di perut buncit sang istri.
Nadia merintih kecil, mencari posisi nyaman di dada Raditya tanpa terbangun sepenuhnya. "Mas... dingin..." gumamnya lirih.
Raditya menarik selimut lebih tinggi, membungkus tubuh mereka berdua. Ia mencium puncak kepala Nadia, menghirup aroma vanila yang menenangkan.
"Tidurlah, sayang. Dunia sudah bersih untukmu besok pagi," bisik Raditya sebelum ia sendiri akhirnya memejamkan mata, membiarkan kehangatan istrinya menjadi satu-satunya pelindung bagi jiwanya yang kelam.
***
Bersambung
kl d blangin sm suami tu nurut...
udh tau bnyak msuh,mlah sntai bgt kluar sndrian.....mnimal ingt lh sm perutmu yg ada bayi d dlm,jgn cma mkirin diri sndri......
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor